PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni Vs Surjadi


__ADS_3

Di dalam tembok utama, yang berdinding beton. Pendekar Pemabuk alias Kakek Segala Tahu mengelus-ngelus lesung batu yang sudah berhasil dijinakkan. Dengan benda ini dia sekarang bisa menjelajah dunia.


Seperti yang selalu diidam-idamkan, lesung batu itu bisa melayang di udara dan membawa pemiliknya kemanapun yang hendak dituju.


Di dekat Pendekar Pemabuk berdiri salah satu pemuda berwajah seram dengan rambut gondrong tapa berpakaian, Surjadi. Dia selalu membuntuti kemanapun perginya Kakek Pemabuk itu.


Tangannya yang kekar dan tanpa memiliki jari kelingking, memegang bumbung bambu yang berisi arak. Itu bumbung bambu kuning milik Pendekar Pemabuk.


Dua langkah dari Surjadi, berdiri pula dua orang gadis yang mengenakan pakaian sama dan mirip meski bentuk wajah mereka berdua sama sekali tidak mirip. Cukup cantik, dan berisi.


Pakaian itu berwarna merah jambu, berselendang kain sutra yang dililitkan di pinggang dengan ujungnya dibiarkan tergerai sampai lutut. Kedua gadis itu menyanggul sebagian rambutnya, ada tusuk konde emas yang terpasang di sela-sela sanggulan rambut.


Ketiga orang itu bukan berasal dari Kelelawar Iblis, melainkan dari Sekutu, Negri Sembilan. Tapi semenjak terjadi pertempuran 8 bulan yang lalu, tiga orang itu malah menjadi pengikut setia orang yang gemar meminum arak itu.


Tidak lain dan tidak bukan, itu disebabkan karena Pendekar Pemabuk telah menyelamatkan ke tiga orang itu dari amukan kekuatan Teknik Pedang Awan Berarak milik Ki Alam Sakti. Semenjak itu, Surjadi dan dua gadis itu lebih setia kepada Pendekar Pemabuk, bahkan sebaliknya orang tua itu sudah menurunkan beberapa jurus andalannya.


Ya boleh dikatakan Surjadi adalah murid dari Pendekar Pemabuk. Meski ilmu Mabuk Memutar Angkasa yang di pelajari Surjadi masih belum sempurna, tapi sudah menunjukkan tingkatan berbeda dengan Pendekar Tanpa Tanding di dataran Java.


Sementara itu, dua wanita yang mengenakan pakaian merah Jambu, Jambon Timur dan Jambon Barat juga mempelajari ilmu lain yang diturunkan langsung oleh Pendekar Pemabuk, jurus Dewi Mabuk Dari Langit.


Pendekar Pemabuk bahagia bukan main mendapatkan mereka bertiga, bukan hanya jurusnya begitu cocok digunakan oleh Surjadi, Jambon Timur dan Jambon Barat tapi memang tidak ada yang sudi untuk belajar dengannya.


Surjadi mendekati Pendekar Pemabuk, “Guru! Aku membawa pesan dari Saraswati, Wanita dari Markas Petarangan datang meminta izin untuk meneruskan perjalanannya ke Markas Sekutu, Markas Negri Sembilan.”


“Biarkan saja dia lewat.” Pendekar Pemabuk terlihat tidak peduli. “Wanita berambut putih itu, mungkin ada satu hal yang harus disampaikan langsung kepada Maha Senopati, aku tidak berniat mencampuri urusan mereka.”

__ADS_1


“Guru, memang rendah hati.” Surjadi membungkuk memberi hormat, lalu pergi meninggalkan orang tua itu.


“Tunggu!” Pendekar Pemabuk menegur. “Tinggalkan bumbung arakku, apa kau mau mencurinya dariku dasar Murid tengik.”


Surjadi terkekeh kecil, dikiranya Pendekar Pemabuk telah melupakan arak terkuat di tanah jawa itu, dia berniat mencicipinya sedikit tapi Pendekar Pemabuk tidak pernah mengizinkan.


Setelah pergi meninggalkan Pendekar Pemabuk, Surjadi menemui Saraswati di dalam ruangan yang besar. Wanita berambut putih itu sudah menunggu lama untuk meminta izin dari Pendekar Pemabuk.


“Surjadi bagaimana? Aku memintamu secara langsung untuk melanjutkan perjalananku ke Markas Utama.” Saraswati tampak kesal.


“Sayang sekali,” Surjadi menggaruk kepalanya, bertingkah seperti orang bodoh. “Guruku tidak mengizinkan kau lewat.”


“Surjadi, aku tidak butuh izin dari Gurumu. Kau pasti bisa membawaku melewati markas ini, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Markas Negri Sembilan.” Saraswati menunjukkan wajah simpatinya. “Kita sudah berteman sangat lama, apakah kau tidak sudi membantuku?”


Memang rambut Saraswati telah memutih seluruhnya, tapi umurnya baru beranjak dari 30 tahun. Jika dilihat dengan seksama, dia cukup cantik dan memiliki lesung pipi kecil menyekung di kedua pipinya yang tembem.


“Aku bisa menolongmu.” Surjadi tersenyum aneh. “Tapi biarkan aku mencicipi tubuhmu malam ini, hanya kita berdua saja. Setelah itu aku berjanji akan mengantarmu hingga tiba di Gerbang Markas Sekutu?”


“Jahanam, apa yang ada dalam pikiranmu!” Saraswati segera melompat tiga langkah ke belakang. “Kita sudah berteman cukup lama, beginikah perlakuanmu terhadap temanmu?”


Surjadi terkekeh kecil, “Justru itu, karena kita berteman jadi boleh kan, aku mencicipnya sekali saja? Sangat disayangkan tubuhmu yang mulus tidak terjamah tangan lelaki, jadi biarkan aku yang mendapatkannya untuk pertama kali.”


Saraswati ingin muntah mendengar perkataan Surjadi. Begitu piciknya mata pria itu semenjak menjadi murid dari Pendekar Pemabuk. Dulu dia adalah laki-laki baik, ya setidaknya cukup baik dibanding prajurit-prajurit yang ada di Negri Sembilan.


Tapi mungkin karena terlalu sering menegak arak, seperti yang dilakukan guru barunya. Surjadi menjadi kehilangan akal, bahkan teman mau dia embat.

__ADS_1


Surjadi menghambur dengan cepat, berusaha menubruk Saraswati tapi gagal. Gadis itu bisa menghindar ke samping, sehingga cengkraman Surjadi hanya mendarat pada bantal di atas ranjang tidur.


“Hentikan hal ini!” Saraswati menggeram bukan kepalang. “Jika kau masih bertingkah seperti itu, aku akan menarik pedang untuk membunuhmu.”


“Silahkan saja, Saraswati.” Surjadi semakin kelinjangan, nafasnya semakin memburu menahan nafsu. “Dulu kau mungkin bisa mengalahkan aku, tapi saat ini sangat mustahil. Aku memiliki guru yang hebat, dan Kelelawar Iblis memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk meningkatkan kekuatanku.”


Tampak tidak ada jalan lain, Saraswati segera mencabut pedangnya. Perkelahian antara dua teman terjadi di dalam kamar. Saraswati beberapa kali melayangkan ujung pedangnya pada bagian leher, tapi gerakan Surjadi bisa dengan mudah untuk menghindar, berkat jurus mabuk yang dikuasainya.


Kali ini, Saraswati melompat satu depa dari lantai dengan pedang terhunus kedepan. Serangan itu disambut dengan gerakan yang menyerupai tarian, dan pada saat yang sama Surjadi menjatuhkan tubuhnya dengan kaki berada di posisi atas, berhasil menghantam dada Saraswati.


“AHKK.” Saraswati melewati ranjang tidur, dan jatuh menimpa lemari dari kayu jati hingga pecah berantakan.


Wanita itu meringis kesakitan, dia meraba kepalanya yang nyeri, sukur saja tidak terluka. Namun kejadian itu membuat pedangnya terlepas beberapa jauh dari dirinya, tertancap di permukaan lantai.


Berniat mengambil pendang itu, Surjadi telah menendangnya hingga menancap di langit-langit ruangan. “Daripada kau terus merasa sakit, lebih baik menyerah dan kita bersenang-senang bersama.”


“Sampai matipun aku tidak sudi menuruti akal iblismu, kau sudah menjadi manusia berhati setan.”


“Jangan berkata seperti itu , Saraswati!” Surjadi membentak wanita itu hingga tubuhnya bergetar. “Kita semua di tempat ini adalah iblis, jika tidak kenapa kita menyerang negri lain demi memenuhi nafsu atasan kita. Daripada itu, kenapa kita tidak menikmati sedikit kehidupan ini.”


Dengan napas memburu, Surjadi berhasil pula mencengkram dada wanita itu, masih berniat mendaratkan ciuman tapi tiba-tiba kepalanya terhenti, ada seseorang yang mencengkram rambutnya dengan kuat.


Belum sempat Surjadi menoleh siapa gerangan yang berani menghentikannya, dia sudah terlempar beberapa puluh meter dari tempatnya semula.


“Pemuda Asing...” Saraswati tersentak mendapati Sungsang Geni sudah berdiri di depannya, pemuda matahari itu tidak menoleh ke arah Saraswati, hingga wanita itu membetulkan pakiannya.

__ADS_1


__ADS_2