PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Surasena


__ADS_3

Bak semut hitam, musuh berbaris rapi melewati hutan rimba. Salah seorang dari mereka berdiri diatas kuda paling besar dan hitam, menggunakan baju perang lengkap dengan topi yang menutupi wajahnya.


Orang itu menggunakan tombak panjang yang menjuntai hingga matanya menyentuh tanah.


Wira Mangkubumi melayang di atas tembok, segera memperhatikan pasukan besar itu untuk memberi aba-aba pada prajurit yang lain. “Itu adalah sekutu mereka, pasukan dari Negri Sembilan!”


Darma Cokro menoleh langsung ke arah Wira Mangkubumi yang berdiri di dekat dirinya. “Negri sembilan?” dia bertanya.


“Ya, salah satu putra dari Negri itu dalam tahanan Swarnadwipa, mereka merencanakan penaklukan besar-besaran dengan bersekutu bersama Kelelawar Iblis. Mereka memiliki pikiran licik seperti rajanya," sambung Wira Mangkubumi.


“Aku hanya perlu membunuh orang itu, bukan?” tanya Darma Cokro.


Wira Mangkubumi tersenyum kecil, dia bisa merasakan tenaga dalam milik pria itu lebih besar dari semua orang di tempat ini. Tentu saja ada banyak pemilik tenaga dalam besar, tapi pria di dekatnya mungkin memiliki tenaga dalam sebesar 5 jule atau mungkin 6 jule.


Pandangan Wira Mangkubumi juga jatuh pada pria tua berpakaian serba putih yang berdiri pada tiang pengintai paling tinggi, Ki Alam Sakti.


Dibanding dengan Darma Cokro tenaga dalam pak tua itu memang lebih rendah, tapi Wira Mangkubumi yakin ada sesuatu yang membuat pak tua itu sangat kuat.


“LEPASKAN BUBUK SETAN!” teriak seorang pria yang bertugas menjaga 20 kereta iblis yang berbaris rapi. "Kirim api pada lawan!"


Sontak saja, ratusan panah melesat meledakkan barisan para musuh. Gelegar letupan berhasil memporakporandakan pasukan paling depan musuh, ada lebih dari 2000 orang mati dalam kobaran api, atau dalam keadaan tubuh hancur karena letupan.


Wira Mangkubumi nyaris saja muntah darah melihat benda itu, baru kali ini dia melihat ada senjata yang bisa meledak. Apa lagi tidak ada energi yang bersarang di dalam kereta iblis, menunjukkan itu bukanlah sebuah pusaka.


Tapi sayangnya kereta iblis hanya sanggup menyerang sebanyak 2 kali karena ketersediaan bubuk setan yang terbatas. Tapi sudah cukup membunuh hampir 4 ribu pasukan lawan.

__ADS_1


“Itu adalah karya dari seorang pria tua.” Darma Cokro tersenyum kecil, menjawab kegundahan di wajah Wira Mangkubumi. “Tapi sayang, kita kehabisan bubuk setan, jadi benda itu sudah tidak berguna lagi.”


Wira Mangkubumi berniat menanyakan banyak hal mengenai benda itu, tapi segera menyadari bahwa situasinya saat ini tidaklah tepat. Benda itu adalah evolusi terbaik, Wira Mangkubumi berniat mempelajarinya lebih jauh lagi.


Bukan hanya Wira Mangkubumi, rupanya pemimpin dari pasukan besar itu menunjukkan ekspresi yang sama. Krangka Ireng nama dari pemimpin pasukan musuh, terkejut bukan main melihat 4 ribu pasukannya habis dengan begitu cepat.


Ledakan itu hanya menyisakan bau sangit dan tubuh gosong. Jika saja dia tidak mundur lebih cepat, maka pria bertopang itu yakin akan mati dengan percuma.


“Telik Sandi bodoh!” Dia mengupat panjang pendek. “Kenapa tidak memberi tahu ada senjata sehebat ini di sarang musuh.”


Melihat musuh menjadi panik, Wira Mangkubumi tidak membuang kesempatan. Musuh mungkin sedang berpikir bahwa kereta iblis masih memiliki amunisi, jadi mereka mulai bergerak mundur, mental mereka jelas turun.


“SERANG MUSUH!” teriak Wira Mangkubumi.


5 detik setelah dia berteriak, pasukan Swarnadwipa keluar dari dalam markas seperti semut merah yang keluar dari dalam sarangnya. Semuanya berteriak, pasukan pertama yang keluar adalah penunggang kuda.


Melihat hal itu, darah Darma Cokro mendidih, mana mungkin dia membiarkan sekutunya bergerak lebih dahulu. Jadi dia segera terbang dengan cepat, dan mulai membabat musuh dengan pedang bercahaya emas yang besarnya hampir sepohon kelapa.


Akhirnya perang besar pecah pula, jumlah keseluruhan musuh tinggal 11 ribu lebih menghadapi pasukan Surasena dan Swarnadwipa yang hampir berjumlah 16 ribu pasukan.


Pedang bertemu pedang, tombak menikam tubuh, kuda meringkih menendang dan melompat. Mayat-mayat bergelimpangan antar kedua belah pihak. Darah berbau anyir, tanah, rumput batu-batu berwarna merah karena darah.


Wira Mangkubumi memainkan tombknya dengan sangat lincah, dari atas kuda dua menikam tubuh lawannya. Seolah memiliki akal, kuda milik Wira Mangkubumi bisa menghindari setiap serangan yang tertuju pada dirinya.


Pria itu menghabisi lawan-lawan yang terlihat lebih unggul dari pasukannya, tapi juga tidak langsung berhadapan melawan orang-orang yang memiliki kemampuan bertarung cukup mumpuni.

__ADS_1


Dia memiliki tanggung jawab untuk melindungi bawahannya, ya meski ini adalah perang tapi dia masih memiliki hati untuk melindungi semua bawahan sebanyak mungkin.


Namun di sisi lain, Darma Cokro langsung saja berhadapan dengan pria berzirah perang yang menggunakan tombak panjang. Dia tidak menghiraukan para prajurit-prajurit yang bertarung di sekelilingnya, tujuan pria itu hanya satu memenggal kepala pemimpin musuh.


Dengan jentikan jari, pedang besar bercahaya melesat tepat ke arah Krangka Ireng. Pria itu menghentakan kakinya dari atas kuda, kemudian melayang ke udara menghindari serangan dari Darma Cokro.


Pedang itu membelah tubuh kuda menjadi dua bagian secara rapi, terus menancap ke permukaan tanah hingga terbentuk sebuah siring besar.


“Tidak buruk!” Kerangka Ireng bergumam dari balik topeng hitamnya.


Dia melepaskan dua kilatan energi mengarah pada Darma Cokro, kilatan energi itu berukuran kecil tapi berkecepatan tinggi. Nyaris saja Darma Cokro terkena serang jika satu detik saja dia tidak melompat mundur.


“Senjatamu besar sekali, tapi bergerak lambat.” Kerangka Ireng berkata datar, lalu melepaskan kembali dua serangan hingga dua larik cahaya keluar dari mata tombaknya, melesat cepat.


Darma Cokro harus rela merebahkan tubuhnya, menopang dengan telapak tangan kanan. Dua larik cahaya tipis itu lewat satu jengkal di atas wajah, terus nyasar dan mengenai 5 tubuh di belakang Darma Cokro.


5 detik setelah tubuh orang itu dilewati cahaya -meledak seperti terpanggang.


Darma Cokro berdecak kesal, dia memutar tubuhnya kemudian secara bersamaan menjentikkan jari telunjuk. Pedang cahaya miliknya melesat ke arah Krangka Ireng, tapi pria itu memiliki tubuh yang licin, dengan mudah dia menghindari serangan Darma Cokro.


Tidak menarik kembali pedangnnya, Darma Cokro terus melajukan pedang hingga menembus 20 orang bawahan Kerangka Ireng. 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan serangan Pria berzirah perang itu.


Baru dalam beberapa menit saja, telah terjadi pertukaran ratusan serangan antara kedua orang itu. Mereka tampaknya pandai bertarung dalam jarak jauh, tapi sayang setiap serangan yang mereka lakukan selalu saja menyasar pada orang-orang di sekitarnya. Membuat semua orang menjadi takut.


“Menjauh dari mereka berdua!” teriak para prajurit antar kedua belah pihak. “Serangan mereka bisa membunuh kita kapanpun.”

__ADS_1


Sontak saja, semua orang menjauhi Darma Cokro dan Krangka Ireng. Dalam jarak radius 100 meter tidak ada orang yang berani mendekati pertarungan mereka berdua.


__ADS_2