PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sistem Baru


__ADS_3

Butuh beberapa lama bagi Sungsang Geni untuk berteduh di bawah pohon besar, hujan masih mengguyur dengan deras. Suasana cukup dingin bagi pria yang terbiasa dengan aura panas. Dia duduk di dekat Panglima Ireng, di sampingnya Wulandari duduk pula membenamkan tubuhnya pada bulu-bulu hangat srigala itu.


“Semoga saja, Tumenang akan kembali berjaya seperti sedia kala,” Wulandari bergumam kecil.


“Ya, aku berharap semua kembali seperti sebelumnya,” sahut Sungsang Geni. “Setelah kematian Tiga Pendekar Iblis Malaka, apakah mungkin pasukan Negri sembilan akan bergerak?”


“Aku pikir mustahil, ayah akan bergerak sendirian. Dia memang memiliki kemampuan yang cukup, tapi mustahil akan menyerang Surasena. Bisa dibilang, Negri Sembilan sudah kalah di dataran ini, hanya saja aku tidak tahu apa yang akan dilakukan ayah, mungkinkah dia akan tetap tinggal di sini atau kembali lagi ke Negri Sembilan?”


“Pertanyaannya adalah, bisakah Topeng Beracun melepaskan ayahmu begitu saja? Aku rasa tidak, ambisi topeng beracun menguasai seluruh negri. Dia tidak akan membiarkan satu orangpun berkhianat.”


Wulandari hanya terdiam mendengar hal itu, barangkali yang dikatakan Sungsang Geni ada benarnya. Tapi saat ini, gadis itu tidak memiliki sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.


“Hari sudah reda...” Wulandari menadahkan telapak tangan, terasa rintik hujan tidak sederas sebelumnya. “Bagaimana kalau kita lanjutkan kembali perjalanan? Gubukku cukup jauh dari tempat ini.”


Sungsang Geni hendak berkilah, tapi gadis itu sudah beranjak berdiri meninggalkan pohon rindang. Hanya mendesah nafas berat, pemuda itu terpaksa mengiringi langkah Wulandari.


“Gerr...” bujuk Panglime Ireng, menyodorkan kepalanya ke arah gadis itu, mungkin maksudnya agar Wulandari mau menaiki punggungnya. “Gerr...gerr...”


“Naiklah! Ini akan menjadi perjalanan cukup panjang,” sambung Sungsang Geni.


Wulandari tersenyum pahit, dengan berat hati dia naik keatas punggung Panglime Ireng membawa tubuhnya berlari kencang mengarah ke jalan setapak. Sungsang Geni mengiring di belakang gadis itu dengan ilmu meringankan tubuh.


Butuh waktu seminggu agar tiba di padang bunga di atas dataran tinggi, tempat Cempaka Ayu terbaring tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Sementara itu pada hari yang sama, Surasena berhasil tiba di markas Petarangan. Sebuah markas cabang yang cukup besar, cukuplah menampung ribuan pasukan yang dibawa Lakuning Banyu.


“Aku tidak percaya, kalian Bayangkara berhasil menduduki Markas ini? bahkan terlihat tidak ada retakan pada bagian dinding temboknya...” ujar Lakuning Banyu.


“Anda terlalu memuji Paduka Raja,” kilah Mahesa, kemudian bersiul keras.


Sekitar beberapa detik setelah siulannya, dua orang muncul di atas tembok Markas Petarangan. Dua prajurit yang ditugaskan untuk berjaga di tempat ini. Ah, sebenarnya ada lebih dari 10 orang yang tinggal di sini, Sungsang Geni sudah menduga markas ini akan berguna suatu saat nanti. Jadi 10 orang tersebut ditugaskan untuk mengurusnya.


“Paduka Raja Lakuning Banyu telah datang!” berteriak salah satu dari dua prajurit di atas Tembok Markas. “Angkat pintu gerbang!”


Tidak beberapa lama, gerbang bergetar kecil kemudian terangkat tinggi menyambut kedatangan Surasena.


Lakuning menjadi cukup terpukau dengan bangunan yang ada di dalam Markas tersebut, tidak ada yang hancur, pikirnya. Dia masih bertanya-tanya, bagaimana gerangan cara Bayangkara merebut tembok ini tanpa menyentuh bangunannya.


“Ya...ya...ini benar-benar tempat yang hebat.”


Sementara itu, ribuan prajurit bergerak cepat menyelusuri tiap bangunan, hanya untuk berjaga-jaga jika ada penyusup yang sudah lama mengakar di tempat ini. Mereka juga memeriksa bangunan paling besar di tempat itu, sebelum Lakuning Banyu beserta sesepuh Serikat Pendekar masuk ke dalamnya.


“Tidak ada tanda-tanda musuh!” lapor salah satu prajurit.


“Tempat ini aman, Paduka Raja.”


“Bagus, sekarang aku printahkan kepada kamu.” Yang dimaksud adalah Mahesa. “Bawa semua prajurit pada posisi mereka masing-masing, kau adalah sahabat Sungsang Geni, jelas memiliki pikiran yang sama dengan pemuda itu.”


Mahesa terdiam sejenak, secara tidak langsung Lakuning Banyu memberikan mandat agar pria itu memimpin prajurit Surasena. Ini adalah mandat yang cukup berat karena prajurit sekarang tergabung dari banyak golongan, tapi pria itu tidak dapat mengelak, terpaksa dia pamit undur diri.

__ADS_1


Pada bagian lain, Empu Pelak beserta putranya Raka Buana melihat gudang senjata beserta beberapa pendekar dari Lembah Ular. Ditangan pemuda itu ada pedang cercaran air terjinjing, Ki Alam Sakti telah mengembalikan pusaka itu setelah perang berakhir.


Tidak ada apapun di tempat itu, kecuali beberapa senjata rapuh dan juga zirah-zirah perang yang usang.


“Ayahanda, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Raka Buana. “Tempat ini tidak akan bertahan lama, jika kita tidak memiliki pertahanan yang kuat.”


“Tentu saja, kita akan membuat Kereta Iblis lebih banyak dari sebelumnya.” Empu Pelak terkekeh kecil. “Seratus, dua ratus atau mungkin tiga ratus.”


“Mengenai benda yang bisa meledak? Aku tidak pernah mempelajari hal itu, bagaimana Ayahanda bisa menemukan racikannya?”


“Ahahaha... mulai hari ini kau harus belajar banyak, anakku. Sebagai putra dari Empu, kau harus mengembangkan senjata yang bisa menghancurkan musuh. Kita berdua akan membuat benteng ini tetap berdiri, ketika musuh menyerang.”


Permintaan Empu Pelak sudah dikabulkan oleh Lakuning Banyu. Dia ingin sebuah tim, pasukan khusus yang akan bertugas membuat senjata, mengembangkan kereta iblis dan menciptakan zirah-zirah perang. Jadi mulai hari ini, gudang senjata ini akan menjadi markas utama Empu Pelak. Bersama tim yang terdiri dari 50 orang, dia akan bekerja keras.


Dua hari setelah menduduki markas ini, Lakuning Banyu membuat sebuah keputusan yang mungkin akan sedikit menggegerkan semua orang. Ada beberapa point yang raja Surasena itu jelaskan.


Point pertama adalah, pembubaran Serikat Pendekar. Ini benar-benar mengejutkan, tapi keputusan pria itu sudah dipertimbangkan dengan sangat matang. Sebelumnya, serikat pendekar memiliki markas tersendiri, tapi kali ini karena mereka berada pada satu payung dengan Surasena, maka sudah sepatutnya Serikat Pendekar dihapuskan dan menjadi bagian dari Kerajaan.


Point kedua, Lakuning Banyu menamai Bayangkara sebagai nama dari pasukan Surasena. Dengan kata lain, Bayangkara yang dibentuk oleh Sungsang Geni sudah dihapuskan, dan sebagai gantinya, pemuda itu akan diangkat sebagai Mahapatih Hamangkubumi di Surasena.


“Tapi Paduka Raja...” Mahesa berkata ragu. “Apakah tidak masalah dengan keputusan ini, maksudku bagaimana tanggapan Sungsang Geni? Bukankah kita harus membicarakannya terlebih dahulu.”


'Tidak masalah, Nak mas Mahesa...” ki Alam Sakti menyahut. “Keputusan Yang Mulia Raja Lakuning Banyu untuk menciptakan tatanan kerajaan sudah sangat bagus, ini adalah langkah awal yang baik. Sistem yang ada didalam Surasena sudah hancur, maka hari ini kita membuat sistem yang baru. Geni akan menyetujui hal ini, dia tidak akan menolak.”


“Aku setuju saja,” tandas Ki Lodro Sukmo. “ Kita butuh sebuah nama besar yang membuat musuh ciut nyalinya, hanya dengan mendengar namanya saja. Dan nama itu adalah Sungsang Geni.”

__ADS_1


__ADS_2