
Sungsang Geni membuka kantong yang tergantung di pinggangnya, 11 tumbuhan yang telah terkumpul saat ini. Diantara tumbuhan itu, beberapa tumbuhan dikenalnya seperti mawar dan melati, tapi ada satu tumbuhan yang berbentuk buah.
Buah ini tadi adalah tumbuhan yang paling sulit untuk diambil, bukan para hasrat yang melindunginya tapi dua ekor macan tutul yang menjaganya. Buah berwarna kuning yang besarnya hanya seukuran ibu jari, dan bertekstur kasar dan memiliki ukuran batang seperti lada.
Panglima Ireng cukup kesulitan menghadapi mahluk yang sama-sama besar sepertinya, sedangkan Sungsang Geni terpaksa menggunakan pedang energi untuk menanggalkan kepala macan itu.
Di berniat menjinakkan salah satu macan seperti yang dilakukan Resi Irpanusa, tapi rupanya tidak berhasil. Bukannya jinak, macan itu berniat mengunyah kepala Sungsang Geni.
“Aku akan mencicipi buah ini...” ucap Sungsang Geni menimang-nimang buah itu yang terlihat nikmat, “Apa ini tidak beracun?”
“Ger...” Panglima Ireng menggelengkan kepala.
“Sudah kuduga, ini bukan racun.” Ucap Sungsang Geni dengan santainya menggigit satu buah, “Rasanya sedikit masam, tapi cukup segar.”
Karena cukup enak, Sungsang Geni mengambil beberapa buah lagi hingga akhirnya 5 buah telah habis dilahapnya, sedangkan srigala hitam besar mulai khawatir saat ini.
“Gerr...Gerr...Gerr...” Geram Panglima Ireng, sambil menirukan gerakan orang memuntahkan isi perutnya.
“Ada apa denganmu kawan, kau juga menyukai buah ini.” Ucap Sungsang Geni, “Tapi sayang sekali....”
“A'a apa yang terjadi?” Sungsang Geni merasakan tiba-tiba saja seisi perutnya seakan disayat pedang tajam, rasa sakit itu semakin lama semakin hebat dan menyebar keseluruh tubuhnya.
Luka dalam atau apapun itu, belum pernah sesakit ini. Pemuda itu nyaris tidak mengeluarkan suara, dia hanya mencengkram erat perut dan leher sementara Panglima Ireng menjadi gusar tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Lengan kanan Sungsang Geni bercahaya terang, mendadak aura panas di dalam tubuh ular menghilang seketika.
Panglima Ireng mengaum keras, mungkin berniat memanggil Pramudhita tapi didalam perut ular suara apapun tidak akan terdengar.
Keadaan Sungsang Geni semakin parah, pemuda itu bergulingan tapi tentu saja rasa sakit itu tidak akan berhenti.
__ADS_1
Matanya mulai merah barah, cahaya lengan kanannya menjadi terang dan pada puncak kesakitan yang dialaminya Sungsang Geni sudah tidak sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian, pemuda itu mulai membuka matanya pemandangan pertamanya adalah moncong hidung Panglima Ireng yang mengendus, “Kau tidak menciumku barusan?”
“Gerr...” Srigala itu melompat kegirangan, kemudian mengaum dengan keras.
Sungsang Geni segera duduk, dia tidak merasakan lagi sakit di sekujur tubuhnya malah kini mungkin dia menjadi lebih bugar dari sebelumnya. Ini nampak seperti mimpi, jika bukan lalu apa lagi?
Sekarang segala luka di tubuhnya benar-benar sembuh. Sungsang Geni tidak tahu apa penyebabnya, tapi jika dalam keadaan fisik sesehat ini, dia tidak perlu lagi bersembunyi dari para mahluk hasrat.
“Pramudhita mengatakan bahwa ini akan sakit,” ucap Sungsang Geni teringat dengan ucapan pria kekar itu, “Tapi tidak kusangka sakitnya nyaris membawa nyawaku pergi dari dunia ini.”
Tapi ini masih belum seberapa, Sungsang Geni yakin itu. Memakan tumbuhan yang memiliki energi kehidupan besar tidak akan berpengaruh banyak untuk dirinya, mungkin hanya 1 % dari khasiat sesungguhnya.
Tumbuhan yang dia makan tadi hanya menyembuhkan seluruh luka fisiknya dan luka dalamnya. Tapi bukan berarti meningkatkan jumlah tenaga dalamnya.
“Sudah kuduga, tenaga dalamku tidak bertambah. Ini berbeda dengan menyerap energi dari sebuah mustika siluman, menyerap energi kehidupan bukanlah hal yang mudah untuk di pelajari.”
Dia menoleh ke arah Panglima Ireng, menanyakan kenapa tiba-tiba saja ular berhenti berdetak, tapi srigala besar itu menjawab dengan geramannya.
“Berkah matahari pasti menyerap seluruh panas di tempat ini, dan mungkin karena itu asam lambung menjadi beku dan dia mati kedinginan.” Ucap Sungsang Geni.
Dia mengeluarkan sebuah pedang energi, dan dengan mudah membuat jalan keluar bagi mereka berdua.
Panglima Ireng sangat terkejut dengan kemampuan pemuda itu, membuat dia belum melangkah beberapa lama sebelum Sungsang Geni memanggilnya.
Setelah keluar nampaknya hari sudah siang. Sisa kabut tipis masih berterbangan, tapi energi para mahluk hasrat sudah pergi menjauh.
Panglima Ireng memperhatiakan tubuh ular yang telah menelannya hidup-hidup, sangat besar dan panjang. Jika bagian kepala saja sebesar dua kali roda kereta kuda, sekarang bagian perutnya nyaris sebesar rumah.
__ADS_1
Dia tidak melihat ujung ekornya dan juga tidak melihat pangkal kepalanya, sebab pohon berbatang putih melengkung di sepanjang tubuh dan menutupi tubuh ular itu.
'Jika bukan karena pohon-pohon ini menguncinya, dia pasti menjadi masalah besar bagi kehidupan hewan ditempat ini.' Gumam Sungsang Geni.
Pada akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, Sungsang Geni menaiki tubuh Panglima Ireng.
Srigala itu nampak lebih akrab dari sebelumnya. Dia berjalan dengan sedikit congkak, menyadari bahwa orang yang menaiki punggungnya akan dapat membantu jika tiba-tiba ada musuh yang menghadang.
Seperti sebelumnya, Sungsang Geni dan Panglima Ireng saling bertukar cerita, meski sebenarnya hanya Sungsang Geni sendiri yang berbicara kecuali geraman pelan hewan itu yang terdengar menakutkan.
Sungsang Geni menemukan beberapa telaga berwarna putih yang panas, jika diperhatikan mungkin ini adalah belerang yang keluar ke permukaan.
Tidak ada tumbuhan yang hidup disekitar itu, tanah gersang asap tipis dan bau menyengat seperti bau kotoran srigala. Panglima Ireng menaikkan alisnya ketika bau belerang disamakan dengan kotoran srigala, tentu saja berbeda pikirnya.
Benar, kawah puncak gunung semeru berada tepat di depan mereka. Menjulang tinggi dan mengeluarkan asap putih yang tebal.
Penuh dengan bebatuan besar dan gersang, hanya ada sebatang dua batang tumbuhan yang hidup di sekitarnya. Dan jika mereka melangkah sekitar 50 meter lagi, maka vegetasi tumbuhan berbeda akan mereka temukan.
Ini adalah batas dari hutan kehidupan, setelah ini nampaknya tidak akan ada lagi tumbuhan yang hidup kecuali mungkin tumbuhan yang sedang dia cari. Tapi tidak ada tumbuhan yang dia cari disana, Sungsang Geni baru saja memperhatikan dengan mata tertajamnya.
Sungsang Geni dapat merasakan energi yang melindungi puncak itu semakin pekat. Nampaknya cerita 3 kristal suci memang benar adanya. Dan bukan hanya itu saja, aura yang keluar dari dalam kawah sekekali membuat Panglima Ireng ketakutan.
Sungsang Geni tidak berniat pergi ke tempat itu sebelum tenaga dalamnya meningkat, dia tidak yakin akan sanggup. Mungkin ada banyak perangkap yang terpasang di sana, selain luapan magma yang panas.
Bisa jadi ada banyak mahluk hasrat yang berada disana, atau mungkin itu adalah tempat mereka. Sarang para hasrat, jika bukan lalu dimana lagi sarangnya? Sungsang Geni telah berjalan cukup jauh, tapi tidak menemukan apapun yang menunjukan bahwa itu sarang para mahluk putih mengerikan itu.
“Kita harus kembali!” ucap Sungsang Geni, menepuk kepala Srigala Hitam dengan pelan, “Kita bisa melewati jalan lain, siapa tahu menemukan sesuatu yang lebih baik.”
Mohon untuk mendukung terus PDM sampai titik darah pengabisan, enggak...enggak! sampai capter pengabisan maksudnya. Hikhikhik.
__ADS_1