PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sang Budak


__ADS_3

Sungsang Geni mulai mendatangi beberapa pedagang, melihat beberapa pedang dan tombak, tapi dia segera mengetahui senjata itu berada pada tingkat terendah.


“Pantas saja murah,” gumam Sungsang Geni.


Beberapa pedagang berteriak, mengkalim senjatanya dapat membunuh gajah dalam satu kali tebas, beberapa yang lain mengklaim obat-obatan yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Namun, apapun yang mereka katakan semuanya adalah bohong belaka.


Sungsang Geni hanya tersenyum mendengar bualan mereka semua, dia bisa merasakan aura dari setiap senjata, hanya sekali lihat. Namun senjata yang mereka tawarkan sama sekali tidak memiliki aura itu.


Pemuda itu lalu berjalan sedikit jauh, suasananya mulai sedikit berat, karena beberapa orang memiliki aura membunuh yang cukup pekat.


Sungsang Geni melihat 3 orang dengan aura membunuh memilah beberapa pedang, beberapa tombak lalu mulai menawar. Beberapa saat kemudian mereka mulai membentak sang pedagang, namun sialnya sang pedagang mengeluarkan aura membunuh yang lebih besar dari mereka, membuat 3 orang itu ciut tak punya nyali.


“Dikiraa kucing, yang dibentak ternyata anjing.” Sungsang Geni tersenyum kecil.


Semenjak Sungsang Geni memasuki Jalur Kelabang, dia mulai merasakan beberapa orang memiliki aura membunuh, juga beberapa orang yang memiliki tenaga dalam. Namun ada satu manusia yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi, hampir setara dengan dirinya.


Sejauh ini Sungsang Geni belum dapat memastikan seberapa besar aura membunuh yang dimiliki orang tersebut, karena itu dia penasaran dan mencari siapa gerangan orang itu?


Langkah Sungsang Geni terhenti pada pedagang yang menjual budak manusia. Ada belasan budak yang lehernya dirantai, beberapa diantaranya adalah gadis belia.


“Dua keping emas!” ucap sang Pedagang, menyodorkan 3 budak wanita yang cukup cantik.


Mendengar tawaran itu, lelaki hidung belang berebutan untuk membelinya.


“Paman, berapakah harga budak laki-laki yang berada dibelakangmu,”tanya Sungsang Geni.


Melihat Sungsang Geni, wajah pedagang tiba-tiba tegang.


“Dia tidak di jual!” ucapnya ketus.


“Ini, aku akan membelinya dengan 10 keping emas.” Sungsang Geni meletakan 10 keping emas diatas meja. “Dan kutambah lagi sekantong keping perak, aku tidak tahu berapa jumlahnya, kau bisa menghitungnya sendiri!”

__ADS_1


Melihat uang didepannya, membuat Pedagang itu tergiur, dia segera menarik paksa Budak pria itu. “Budak bodoh, sekarang dia adalah tuanmu!”


Sungsang Geni membawa Budak baru saja dibelinya pergi sedikit lebih jauh, berada di pinggir Jalur Kelabang yang dekat dengan hutan belantara. Kakinya yang dirantai berjalan terseok-seok.


“Tuan apa yang ingin kau lakukan kepadaku, jika kau menyuruhku menebang pohon aku jelas tidak mampu?” Budak itu bertanya, suaranya sangat berat dan parau, tubuhnya sedari tadi hanya membungkuk, berjalan laksana budak pada umunya.


Sungsang Geni menggelengkan kepalanya, “Printah pertamaku adalah, lepaskan rantai dileher dengan kekuatanmu sendiri. Tenaga dalammu sangat besar, tentunya kau bisa menghancurkanya sendirian.”


Mendengar ucapan itu, Budak pria yang umurnya sekitar 30 tahun menjadi terkejut, hampir saja dia tersedak karena napasnya sendiri. Tak disangkanya, pemuda yang baru saja membeli dirinya dari pedagang budak mengetahui identitasnya.


Seperti dugaan Sungsang Geni, budak itu langsung berdiri normal. Dia meremas rantai besar, seperti meremas kentang goreng, memutuskan rantai dengan sangat mudah.


“Darimana kau mengetahui kekuatanku, anak muda?” dia cukup yakin telah menyembunyikan seluruh tenaga dalamnya.


“Tentu saja itu mudah bagiku. Namun, aku belum mengetahui alasanmu dengan menjadi budak? Oh, mungkin saja kau akan merampok harta majikanmu?” selidik Sungsang Geni.


“Kau sungguh kurang ajar! aku bukan orang serendah itu!” ucap Sang Budak, wajahnya merah karena marah.


Dari tadi Sungsang Geni telah beberapa kali mencoba masuk kedalam pikiran sang Budak. Tidak begitu lama, hanya beberapa saat saja dan itu membuat kepalanya menjadi sakit.


Teknik itu sedikit rumit, hanya dengan membuka cakra ajna seseorang akan mampu menyempurnakan ilmu membaca pikiran. Ini adalah pertama kalinya Sungsang Geni berusaha masuk kedalam pikiran seseorang, dan ternyata banyak menguras tenaga dalam.


‘andai cakra ajnaku telah terbuka, aku tidak perlu berusaha memancing pria ini untuk membuka mulutnya’ batin Sungsang Geni menggerutu.


Namun usahanya tidak sia-sia. Sungsang Geni mendapatkan sedikit informasi penting, membuat dirinya sedikit simpati. Kisah sang budak tidak terlalu jauh dengan dirinya.


Namun yang lebih penting adalah, informasi mengenai Kelelawar Iblis. Informasi yang sedang dicari oleh Sungsang Geni.


Tapi sebelum sempat Sungsang Geni mengetahui lebih jauh, tenaga dalam sang budak tanpa disadari oleh dirinya, telah melakukan perlindungan pada pikirannya.


“Apa kau mengetahui tentang Kelelawar Iblis?” selidik Sungsang Geni.

__ADS_1


“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?” sang Budak berkata ketus, dia mulai terlihat waspada, Sungsang Geni dapat melihat kakinya mulai melakukan kuda-kuda.


“Bukankah aku adalah tuanmu?” Sungsang Geni mengingatkan, lalu dirinya tersenyum kecil.


“Kenapa kita tidak bertarung saja, lalu tentukan siapa yang lebih pantas menjadi budak? Aku, atau dirimu.” Tantang sang Budak, geram.


“Aku setuju, bertarunglah dengan caramau, dan aku akan bertarung dengan pedangku, apa kau keberatan?” Tanya sungsang Geni, dia merasa ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan informasi dari budak itu.


“Aku tidak keberatan kau menggunakan pedangnmu,” dia kemudian mengambil sebuah pisu kecil dari bajunya, lalu menusuk lehernya, ternyata pisau itu patah berkeping-keping. Sang Budak lalu tersenyum bangga.


‘Ilmu pengeras kulit’ Sungsang Geni ingat beberapa kali menghadapi orang yang memiliki kekuatan itu, ketika dia masih menjadi pemuda gila, hanya saja ilmu pengeras kulit milik sang Budak berada ditingkat yang berbeda.


“Kita juga harus menambahkan taruhan?”ucap Sungsang Geni, dia kemudian mencabut pedang dari sarungnya.


“Apa yang menurutmu lebih baik ditaruhkan, selain menjadi budak?” Sang Budak berkata bengis.


“Hidup! kita akan mempertaruhkan hidup. Jika kau menang kau bebas melakukan apapun kepada hidupku, termasuk membunuhku, namun jika aku menang, aku juga bebas melakukan apapun terhadap hidupmu, termasuk mengetahui informasi mengenai Kelelawar Iblis.” Sungsang Geni menjelaskan taruhannya, lalu menunjuk wajah Mahesa dengan ujung pedang “Apa kau sanggup?”


“Aku sanggup, dan aku menambah peraturannya. -tidak ada aturan dalam pertarungan ini-”


“Pria berjanji layaknya pria, janji adalah hutang, siapa yang ingkar akan menderita sampai 7 kelahirannya.” Sungsang Geni berucap, membuat Budak itu sedikit tegang.


Tidak menunggu lama, setelah melakukan beberapa gerakan jurus, sang Budak segera menyerang Sungsang Geni dengan tangan kosog.


Terjadi benturan kekuatan ditepi Jalur Kelabang, membuat seluruh penghuni hutan didekat Jalur Kelabang berlarian menjauh.


“Tapak Naga Emas.” Dia mengeluarkan jurusnya dan disambut dengan jurus bisikan kematian oleh Sungsang Geni.


Pertempuran mereka berdua berlangsung sengit, meskipun kecepatan Sungsang Geni telah dua kali lipat berkat jubah kilatan naga, namun rupanya tidak serta merta membuat dia berada di atas angin.


Beberapa kali Sungsang Geni berhasil menebaskan pedangnya, tapi tubuh budak itu sangat keras dan tidak menimbulkan luka.

__ADS_1


“Apakah pedangmu tumpul tuan pendekar?”


__ADS_2