PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
4 Unsur Dalam Jiwa


__ADS_3

Malam itu hujan tidak reda-reda, Sungsang Geni berdiri sendiri di depan Gubuk membayangkan nasip Bayangkara ke depannya. Kelompok ini belum lama terbentuk, tapi perjuangannya sudah mendapatkan hadangan badai yang luar biasa berat.


Dia tidak yakin Wulandari menepati janjinya untuk mengobati racun di dalam tubuhnya dan teman-temannya. Apapun bisa terjadi, dan mungkin gadis iblis yang sedang tidur di atas dipan jerami di dalam gubuk hanya memanfaatkan dirinya saja.


Sial sekali, semua kelebihan yang dia miliki tidak bisa digunakan lagi. Itu artinya dia tidak bisa membaca pikiran, tidak memiliki mata yang tajam dan juga pendengaran yang baik. Entahlah bagaimana caranya, jika dalam perjalanan kelak bertemu dengan pasukan Kelelawar Iblis?


Pemuda itu berpikir lama sekali, hingga tepat di tengah malam ketika hujan semakin deras saja, pemuda itu membuka salinan kitab pedang bayangan. Satu-satunya cara agar dia bisa bertahan mungkin saja dengan mempelajari energi alam.


“Benar sekali.” Gumam Pemuda itu, menemukan secercah harapan dengan membaca perlahan bagian terakhir salinan kitab itu. “Mungkin dengan tanpa tenaga dalam, aku bisa mempelajari penghimpunan energi alam.”


Dia mulai duduk bersila, mengatur tarikan napasnya selama 60 detak jantung kemudian menahannya selama 60 detak jantung pula lalu kembali menghembusnya.


Sukur saja, dia tidak merasakan aliran energi di dalam tubuhnya, jadi sekarang dia bisa merasakan aliran energi yang ada di luar tubuh.


“Dari api terciptakan angin, dari angin terciptalah air dan dari air yang mengalir terbentuklah tanah. Setiap unsur menyatu didalam jiwa, bersumber pada pokok yang satu.” Pemuda itu mengeja kalimat-demi kalimat di halaman terakhir kitab Pedang Bayangan.


Dua jam dia menghayati semua keadaan dunia saat ini, angin yang berhembus kencang, hujan turun dengan deras dan batang-batang pohon yang bergemuruh diterpa angin. Entah ini hanya perasaannya saja, tapi pemuda itu mendengar suara gemuruh badai semakin mendekat.


Sungsang Geni tidak peduli lagi, jadi misalkan memang benar badai akan menghantam gubuk reot ini atau juga bumi akan mengguncang tanah hingga terbelah, dia tidak akan bergeming dari laku ritualnya.


Hingga akhirnya, setelah dua jam lagi dia mengalami hal itu -dan tidak menghentikan perbuatannya dia kehilangan akan tubuh zahirnya. Tidak terasa lagi apakah tubuhnya bernapas atau pula masih hidup.


Semuanya senyap dan hampa, tidak merasakan apapun kecuali kekosongan.


Namun meski tidak begitu tahu selama apa dia mengalami hal itu, sekarang dia mendengar tetesan air digelap malam. Dari tetesan itu, dia bisa mengetahui desiran angin dan hangatnya tungku.

__ADS_1


“Sekarang aku ada dimana?” Pemuda itu bergumam, suaranya memantul-mantul seolah sekarang sedang berada dia sebuah ngarai. “Ini sangat gelap, apa aku masih hidup?”


Sungsang Geni mencoba menarik napasnya, tapi nyatanya dia lupa caranya bernapas. “Tidak, apa aku juga tidak memiliki bentuk tubuh? Dimana semua zahirku?”


“Kau sudah mati anak muda?” terdengar suara berat lagi menggelegar di sekitarannya, Sungsang Geni sekali lagi berniat menutup telinga, tapi dia tidak tahu caranya.


“Ya, kau sudah mati!” Salah satu lagi suara menyambung, meski nadanya sedikit berbeda tapi gelegar suara tetap memekakan.


“Begitulah seharusnya kau itu, bukan?”


Sekarang perlahan-lahan di tempat itu mulai diterangi dengan cahaya, semakin lama-semakin terang sekali hingga akhirnya menunjukkan penampakan yang tidak pernah dilihat Sungsang Geni sebelumnya.


Sungsang Geni nyaris terpekik, menyadari dia tidak berbentuk manusia lagi. Melainkan seperti sebuah cahaya yang redup, berbentuk bulat dan melayang-layang tidak karuan. Pantas saja dia tidak merasakan lagi semua tubuhnya.


“Apa ini adalah nyawaku?”


Itu adalah unsur api, angin air dan tanah. Api seperti kobarannya yang begitu menyengat berbentuk seperti manusia, Sungsang Geni pernah bertemu dengan mahluk seperti itu ketika dia melakukan tapa brata, tapi ukurannya tidak sebesar saat ini. Ruh dari api.


Tapi 3 mahluk lain baru kali ini dia melihatnya, yang berbentuk seperti air selalu menunjukkan kegagahan dengan riak ombak yang mengelilingi seluruh tubuh. Yang berbentuk angin memusar seperti badai dan angin ribut, siap menghempaskan jiwa Sungsang Geni kapanpun.


Hanya ruh bumi atau tanah yang paling tenang diantara ke 4 unsur alam. Dia seperti gunung yang perkasa, dimana 3 unsur yang lainnya berdiri diatas tubuhnya yang tenang.


“Apa kau bisa seperti ku?” Ruh bumi berkata penuh wibawa, tidak menggelegar seperti tiga unsur yang lainnya. “Bersamaku semua unsur bisa saling bersatu. Aku adalah ketenangan dan kemantapan jiwa, aku adalah diam dan aku adalah unsur yang paling bijaksana.”


Sungsang Geni tidak mengerti maksud perkataan Ruh Bumi itu.

__ADS_1


“Sekarang siapa namamu anak manusia?” dia bertanya.


“Aku tidak memiliki nama...” Sungsang Geni menjawab lirih, dia sudah berusaha untuk mengingat-ingat siapa namanya, tapi percuma saja dia melupakan semua hal yang pernah dia jalani.


“Apakah kau seorang pria atau wanita?”


“Aku lupa.”


“Apakah kau memiliki keluarga?” Setiap unsur mulai bertanya, tapi jawaban yang keluar dari diri Sungsang Geni hanyalah -aku lupa.


“Ya, tentu saja kau lupa sebab sekarang otak berada di dalam jasadmu sedangkan Ini adalah bagian tersembunyi dari dalam jiwamu, kau adalah ketiadaan kemudian kau diadakan lalu sekarang kembali ketiadaan.” Empat unsur berkata serentak pula, suara mereka bergema kian memekakkan sehingga seluruh tubuh Sungsang Geni bergetar hebat dan entah apa yang terjadi dia merasakan sedih dan sakit.


“Tapi aku aku tidak melupakan tujuanku.” Sungsang Geni berkata takjim. “Aku berniat menguasai energi alam.”


“Kau melupakan sesuatu, anak manusia.” Ruh Bumi kembali berkata. “Manusia diciptakan dari 4 unsur alam, bukankah jika kau bisa menguasai seluruh 'diri' kau juga bisa menguasai energi alam. Karena sejatinya, kau ada bersama dengan 4 unsur alam. Jika kau sebijak sana Bumi, maka 3 unsur yang lain akan dapat kau kendalikan.”


Setelah mengatakan hal itu, 4 unsur itu berlahan-lahan lenyap berganti pula dengan pemandangan yang berubah-ubah. Sungsang Geni terkadang dihadapkan dengan padang pasir yang luas, kemudian entah kenapa telah berdiri di atas lautan biru lalu berubah lagi pada awan-awan tipis di atas langit.


Ketika dia berada di luapan api, pemuda itu kepanasan bukan kepalang. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan api adalah hal yang paling dia sukai. Pemuda itu berteriak, hingga seluruh jiwanya lenyap terbakar tanpa sisa.


“Geni...Geni!” Sayup-sayup pemuda itu mendengar suara seorang gadis, semakin lama suara itu tampak begitu jelas di telinga. “Geni! Apa kau baik-baik saja, Geni?”


Pemuda itu tidak berniat membuka matanya, lebih jelasnya takut jika apa yang dia lihat adalah hal yang paling menakutkan. Namun tamparan pelan semakin terasa jelas di pipinya, dan itu menandakan dia masih hidup.


Ketika dia membuka mata, Wulandari telah berurai air matanya hingga jatuh di pipi Sungsang Geni. Dia baru sadar jika kepalanya berada di pangkuan gadis itu.

__ADS_1


“Tenanglah! Tenanglah!” Wulandari berkata di telinganya.


__ADS_2