
Satu sosok kera besar tinggi dengan tubuh dipenuhi bulu berwarna hitam dan taring putih tajam yang mengintip keluar dari bibirnya seketika telah berada tepat di hadapan Sungsang Geni.
Mata mahluk itu semerah darah, nanar menatap pemuda itu dengan bengis. Dia berdiri layaknya manusia, membawa sebuah senjata berupa gadah besar yang berduri tajam.
Sungsang Geni sedikit mendongak keatas melihat mahluk itu, sebab tingginya mungkin dua kali dari tubuh dirinya.
Tidak selang beberapa lama, sekitar 20 lagi siluman kera turun dari atas pohon dengan berbagai macam senjata. Sungsang Geni yakin mereka mendapatkan senjata itu dari hasil rampasan pendekar yang melewati tempat ini.
“Aku adalah Mambang, penjaga jalan ini.” Kera besar itu berkata. “Jika kau ingin melintasi pegunungan ini, kau harus mengalahkan kami semua!”
Kemudian kera itu tertawa terbahak-bahak bersamaan dengan 20 ekor siluman kera yang maju menyerang Geni dan yang lainnya.
Sungsang Geni segera memilih pimpinannya sebagai lawan sepadan. Pemuda itu mengayunkan pedang, tapi Siluman Kera itu berhasil menangkisnya dengan cukup mudah.
Baru beberapa menit saja, telah terjadi pertukaran serangan puluhan kali antara Sungsang Geni dengan Siluman kera. Melihat kemampuan manusia yang dihadapinya, mendadak senyum di wajah Mambang hilang.
Sungsang Geni sangat mudah menghindari ayunan gadah mahluk itu yang terkesan lebih berat. Sementara gerakan Sungsang Geni setiap detiknya semakin lebih cepat, dan lebih mematikan.
Setiap benturan yang terjadi antara gadah dan pedang menciptakan gelombang kejut bertekanan kecil, tapi demikian beberapa kali Siluman itu terpundur setelah beradu senjata dengan Sungsang Geni.
Di sisi lain, Cempaka Ayu memainkan semua benda yang ada disekitarnya dengan arahan tangan dan jari jemari. Bahkan siluman kera-kera kecil itu tidak bisa mendekati gadis itu lebih dari 1 meter.
Ada semacam pelindung tak kasat mata yang mengelilingi Cempaka Ayu. Ketika salah seorang siluman kera berusaha mencari celah untuk menyerang, Panglima Ireng menerengkamnya dan melemparkan pada pohon kayu.
Cempaka Ayu menyerang mahluk itu pada serangan selanjutnya, kali ini semua batu dan kayu melayang berkeliling disekitar tubuhnya, seperti sebuah cincin. Dengan jentikan jari, benda-benada itu berhasil membunuh semua siluman kera tanpa tersisa.
"Tidak mungkin!" Pekik Mambang.
__ADS_1
Mendapati semua bawahannya mati seketika, wajah Mambang menjadi panik. Hilang sudah rasa percaya diri di raut wajahnya, bentuknya yang seram tiba-tiba terlihat menyedihkan.
“Celahmu terbuka lebar!” Sungsang Geni menebaskan pedang dan berhasil mengenai lengan kanan mahluk itu hingga putus.
Siluman kera berteriak kesakitan sementara potongan tangannya menggelepar beberapa saat. Gadahnyapun sudah terlepas bersamaan lengannya yang putus.
Belum sempat Sungsang Geni kembali menebaskan pedangnya, Siluman itu memutuskan untuk melarikan diri dengan kembali masuk ke dalam alam lelembut.
Namun sayang, sebelum dia selesai membaca mantra, sebuah pedang berwarna hitam menembus tepat di jantungnya.
Siluman itu hendak menoleh ke belakang, mengetahui siapa gerangan orang yang sudah menikamnya, tapi niatnya tidak kesampaian. Dia meregang nyawa dengan darah yang bercucuran.
“Apa aku ketinggalan pesta kalian?” Pramudhita tersenyum sinis menatap wajah mahluk jelek itu. “Nampaknya pestanya sudah berakhir.”
“Paman Pramudhita?” Sungsang Geni menggaruk kepalanya. “Kenapa kau tiba-tiba saja datang tanpa di undang? Bukankah kau sedang...”
“Sudah, sudah!” Pramudhita menepiskan tangannya. “Siluman ini bukan pemimpin di pegunugan ini, masih ada lebih banyak siluman kera yang bersarang di tempat ini.”
“Dia adalah Paman Pramudhita, orang yang telah menolongku.” Sungsang Geni kemudian memperkenalkan Cempaka Ayu kepada Pramudhita begitu pula sebaliknya.
Pada saat yang sama, Panglima Ireng segera mendekati Pramudhita dengan riang. Rupanya srigala itu juga merindukan tuan pertamanya dulu.
Pramudhita sudah sejak dua hari yang lalu keluar dari Istana Laut Dalam. Awalnya Nogo Sosro tidak mengizinkan menantunya itu keluar dari Istana Laut Dalam, tapi malah sebaliknya Sancani yang selalu membujuk Pramudhita untuk segera menemani perjalanan Sungsang Geni.
Pramudhita tidak enak hati, ketika menyadari Sungsang Geni tidak pernah membaca mantra Ciung Wanara untuk memanggilnya. Tentu saja, dia tahu bahwa pemuda matahari itu sangat menghargai dirinya.
Namun demikian, perjanjian yang telah dibuat oleh Pramudhita dengan Sungsang Geni seperti sebuah akar yang selalu mengusik pikiran mana kala dia merasa Sungsang Geni dalam masalah.
__ADS_1
“Jadi paman ini bukan manusia?” Cempaka Ayu hampir terpekik, dia belum bisa menerima bahwa orang yang baru saja datang tiba-tiba itu adalah bangsa lelembut. “Kenapa wajahmu mirip sekali dengan manusia? Kenapa tidak mirip dengan....?”
“Beberapa dari kami bangsa lelembut pada dasarnya juga memiliki wajah yang mirip dengan kalian bangsa manusia. Hanya saja ketika kami keluar dari alam lelembut harus mewujud pada bentuk binatang tertentu agar bisa bertahan hidup di alam manusia.”
Sebenarnya hanya ada dua bangsa di dunia ini, tidak lebih. Bangsa lelembut atau jin dan bangsa manusia. Di alam gaib, bangsa lelembut yang berperangai buruk tidak akan memiliki tubuh sempurna layaknya manusia.
Beberapa diantara mereka terkadang hanya kepala saja, atau juga hanya bagian badan saja, atau berbentuk seperti ular dan anjhing hitam.
Ketika mereka menyadari hakikat hidup yang sebenarnya, maka bentuk tubuh mereka perlahan-lahan menjadi lebih sempurna.
Sedangkan bangsa lelembut yang memiliki kemampuan untuk merubah tubuhnya ke bentuk binatang, di sebut sebagai siluman begitu pula sebaliknya jika manusia bisa mewujud menjadi seekor binatang.
Umumnya manusia memiliki ilmu tertentu dan laku ritual yang sangat sulit, hingga akhirnya memiliki kemampuan untuk merubah wujudnya menjadi binatang seperti harimau.
Dan karenanya orang itu akan dinamai sebagai siluman harimau, tapi pada dasarnya dia adalah manusia yang memiliki ilmu menjadi harimau.
“Tapi kenapa kau tidak mewujud menjadi binatang...?” Cempaka Ayu bertanya pelan, khawatir jika pertanyaannya malah menyinggung pria kekar itu. “Seperti burung misalnya, atau ular atau juga buaya...”
“Ini karena aku dan Geni memiliki sebuah ikatan.” Jawab Pramudhita dia kemudian menjelaskan secara garis besarnya.
“Apa sekarang kau sudah paham?” tanya Pria itu.
“Aku sudah paham, hanya saja belum bisa menerima kenyataan bahwa kau adalah seorang Lelembut.”
Cempaka Ayu memperhatikan kembali tubuh Pramudhita, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada yang berbeda, pikirnya. Hanya saja pakaian yang Pramudhita kenakan memang terkesan sangat mencolok.
“Tidak penting membahas hal ini sekarang, sebaiknya kita lanjutkan kembali perjalanan!” Sungsang Geni mengganggu percakapan Cempaka Ayu, membuat gadis itu kembali manyun.
__ADS_1
“Yang kau katakan benar Geni,” ucap Pramudhita sambil berjalan lebih dahulu. “Jika kau mau! Aku bisa menunjukkan rute jalan yang tidak terlalu berbahaya, hanya saja sedikit lebih jauh dari tujuanmu, Swarnadwipa.”
“Pegunungan ini akan dilewati ribuan para pengungsi, Paman.” Sungsang Geni tampak berpikir beberapa saat. “Menurutku sebaiknya kita kalahkan semua siluman kera ini, agar tidak lagi ada jatuh korban nyawa.”