PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Murka Pramudhita


__ADS_3

Pramudhita berputar ke kanan, kemudian berhasil mendaratkan gagang pedang tepat di wajah lawannya. Gagang pedang Pramudhita sebenarnya berbentuk runcing, jadi luka yang didapatkan musuhnya cukup dalam.


Lawan pria itu memegang wajah karena luka tepat di bagian pipinya. Darah merah tentu saja mengalir membasahi wajah, tapi dikeremangan malam seperti ini darah itu terlihat berwarna hitam, tapi tetap anyir.


Tidak berhenti disitu, melihat celah terbuka lebar, Pramudhita menukik ke bawah kemudian memijak batu lompatan dan melesat keatas. Serangan itu cukup cepat, lawannya tidak sempat menghindari sebuah tebasan yang sekarang berhasil menggores bagian perutnya.


“AHKK!” pekik Lawannya, tangannya bergantian memegang perut lalu kemudian memegangi wajah.


Baru kemudian Pramudhita melompat pada salah satu atap bangunan, dia menghentikan serangannya. Memberi kesempatan kepada lawannya untuk menikmati rasa sakit yang semakin perih.


“Bagaimana rasanya?” tanya Pramudhita, pandangan lawannya tidak senanar ketika dia bertarung bersama teman-temannya. “Jika kau meminta baik-baik mungkin aku bisa membunuhmu dengan sangat cepat.”


Prajurit dari Kelelawar Iblis itu tidak berkata banyak selain rintihan, dia mengalihkan pandangan pada 8 orang temannya yang berhadapan dengan Sungsang Genial, berharap salah satu dari mereka ada yang membantu, tapi tidak ada. 8 orang itu juga mengalami kesulitan saat berhadapan dengan pemuda yang bisa mengeluarkan pedang bercahaya terang.


Dengan tangan bergetar, Prajurit itu meraih pedang yang sudah lama terlepas dari tangan kananya. Dia lalu melakukan beberapa gerakan jurus, terlihat jurusnya tidak akan sempurna dengan kondisi tubuh seperti itu.


5 detik dia melakukan gerakan, kemudian disusul dengan mengangkat pedang di hadapan wajah dengan posisi horizontal. Pedang itu seketika mengeluarkan cahaya ke hijauan, dan tekanan yang bisa menepiskan semua debu di sekitar tubuhnya.


“Kilatan Sewu!” dia berteriak, kemudian mengarahkan mata pedang pada Pramudhita.


Seketika dari mata pedang itu, keluar seperti petir yang menyambar, tapi Pramudhita bisa menghindar tanpa kesulitan berarti. Serangan itu berhasil meledakkan tanah, atap rumah dan tiang-tiang bangunan.


Serangan yang cukup hebat, dua kali dari bubuk setan yang diciptakan oleh Empu Pelak. Tapi efeknya tidak membakar seperti bubuk setan.


Suara dari serangan itu luar biasa memekakkan, membuat telinga beberapa orang yang berada di dekat lokasi, berdenging.


9 kali dia melancarkan serangan seperti itu, dan serangan ke 10-nya berhasil mengenai sasaran. Pramudhita tersambar petir yang diciptakan Prajurit Kelelawar Iblis itu.


“Sekarang bagaimana rasanya terkena serangan terkuatku?” ucapnya dengan bangga. “Kau tidak akan sanggup bertahan dengan serangan itu, sudah kujamin...”

__ADS_1


“Apa yang bisa kau jamin?” Sungsang Geni menyambung perkataan pria itu. “Kau baru saja membangunkan seekor naga yang sedang tidur.” Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian kembali melanjutkan pertarungannya dengan Branjang Musti.


Tiba-tiba tekanan energi besar merayap dengan cepat, membuat semua debu yang bertebaran di tempat ini tertepiskan.


Pria yang berhasil mendaratkan serangan di tubuh Pramudhita terpaksa mundur lalu menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi diri dari debu yang mungkin akan mengenai wajahnya.


9 orang Prajurit terkuat Kelelawar Iblis menghentikan serangan, Sungsang Geni juga melakukan hal yang sama. Mereka terfokus pada titik yang mengeluarkan tekanan maha dahsyat.


“Sudah kubilang, kau akan membangunkan seekor naga.” Sungsang Geni menggelengkan kepala.


“Apa maksudmu.” Branjang Musti keheranan.


“Lihatlah!”


Belum kering air liur Sungsang Geni, sosok Naga Bayangan meliuk-liuk dari pedang hitam Pramudhita. Naga itu mungkin tidak terlalu besar seperti Naga Bayangan yang biasa digunakan Pramudhita, tapi itu adalah pemandangan pertama yang pernah lawannya lihat.


“Apa itu?” Beberapa orang yang melihat Naga Bayangan tidak bisa menutup mulutnya saking terkejut, beberapa pendekar yang telah diselamatkan Sungsang Geni hanya menelan ludah dan mata mereka seperti akan keluar dari kelopaknya.


Mata merah dan taring yang besar, kemudian Mahluk itu meraung dengan keras membuat lawannya menjadi ciut karena takut hingga setelahnya dia menyerang dengan cepat.


Lawan Pramudhita menyadari bahwa dia tidak akan mampu untuk menghadapi serangan itu, jadi hal terbaik yang dia lakukan adalah; melarikan diri. Kabur adalah solusi terbaik untuk bertahan hidup, mungkin saja.


Jadi dia segera terbang secepat mungkin, tapi sayangnya kecepatan Naga Bayangan bukan tandingan pria itu.


Taring dari mahluk itu berhasil menggigit kakinya hingga putus, tapi serangan itu akan terus berlanjut hingga seluruh tubuh orang itu benar-benar masuk ke dalam mulut Naga Bayangan dan menjadi lenyap, seperti lenyapnya debu ditiup angin.


Yang tersisa hanya ngiangan teriakan yang keluar dari mulut pria itu, dan teriakan itu berhasil menciutkan nyali 8 orang teman-temannya.


Naga itu kemudian lenyap seketika, menunjukkan Pramudhita yang menopang tubuhnya dengan gagang pedang. Dia sudah bertarung cukup lama, jadi Sungsang Geni membiarkan dirinya kembali ke alam lelembut.

__ADS_1


“Paman, kau benar-benar mengerikan...” gumam Sungsang Geni.


Branjang Musti belum bisa mengontrol tubuhnya setelah melihat serangan Pramudhita tadi, 7 orang temannya juga lebih parah dari dirinya. Salah satu dari mereka bahkan tanpa sadar menjatuhkan senjata, tapi tentu saja buru-buru mengambilnya kembali dan bersikap sebaik mungkin di depan Sungsang Geni.


Branjang Musti mulai meragukan kemampuannya untuk mengalahkan Sungsang Geni. Jika Pramudhita yang memiliki tenaga dalam sebesar 4 jule saja bisa mengeluarkan kemampuan sehebat itu, lalu bagaimana dengan pemuda di depannya.


'Anak muda ini sebenarnya bukan tandinganku.' Branjang Musti berpikir keras. 'Dia adalah tandingan para Komandan Kelelawar Iblis, atau mungkin tandingan dari tuanku Maha Senopati.'


Branjang Musti mencari-cari cara untuk bisa melarikan diri dari pemuda yang bisa mengeluarkan senjata dari tangannya. Tapi kemudian Sungsang Geni segera tertawa kecil.


“Kau sedang merencanakan untuk melarikan diri dari tempat ini?” Pemuda itu kemudian menoleh ke arah 7 orang teman Branjang Musti. “Mengorbankan mereka semuanya?! Kau tidak hanya jahat tapi juga kejam.”


“Kau!” teriak Branjang Musti.


“Branjang Musti! Apa benar yang dikatakan pemuda itu?”


“Kau ingin menumbalkan kami semua, agar kau bisa selamat dari maut?”


Branjang Musti tersenyum pahit ke arah Sungsang Geni, berusaha bersikap sedemikian rupa untuk meyakinkan para teman-temannya. “Tentu saja tidak temanku, jangan percaya dengan pemuda itu. Dia ingin agar kita saling membunuh, dengan begitu dia akan mengirit tenaganya. Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu, kita akan hidup dan mati bersama-sama.”


Sungsang Geni tersenyum kecil, tidak masalah pria di depannya berkata manis kepada teman-temamnya, tapi satu-satunya ucapan pria itu yang benar adalah 'mati bersama-sama.'


“Aku akan mewujudkan keinginan kalian, Mati Bersama-sama?” Sungsang Geni segera lenyap dari pandangan mereka menyisakan 7 bayangannya.


“Dimana, dimana dia?” tanya Branjang Musti. “Ini gawat, ini benar-benar gawat! Aku...aku akan pergi dari tempat ini.”


Branjang Musti melompat dengan cepat, melewati atap demi atap rumah di dalam Markas Petarangan.


“Rupanya kau memang berniat meninggalkan kami! Sialan Terkutuklah kau!” teriak teman-temannya, mereka ber tujuh tentu saja ingin melakukan hal yang sama, melarikan diri jika bukan karena 7 bayangan Sungsang Geni menghalangi niat mereka.

__ADS_1


Ayo dong dukung terus Author dengan kasih like dan vote sebanyak-banyaknya. Hikhikhik.


__ADS_2