PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ritual


__ADS_3

Waktu dimana ritual pemberian nama pada putra Wira Mangkubumi pada akhirnya tiba pula. Mereka mengadakan upacara adat yang luar biasa mewah di halaman depan Istana Swarnadwipa.


Terletak pada panggung yang tinggi, di kelilingi dengan bendera-bendera Swarnadwipa.


Tarian-tarian adat, dan suara tabuhan gendang serta suara alat-alat musik berbahan kuningan yang dipukul dan berbunyi nyaring. Bersamaan dengan itu, ratusan rakyat berdesak-desak untuk menyaksikan ritual itu.


Seorang Sesepuh adat, memimpin jalan ritual itu sejak dari 2 jam yang lalu. Wajahnya tua, pakaian yang lebih mencolok dari orang lainnya, dengan kain pendek dan topi berbentuk segitiga.


Taburan bunga juga menjadi pemandangan menarik saat ini, tapi yang tak kalah menarik bagi para rakyat adalah: Ada seorang pemuda asing yang duduk di barisan para Keluarga kerajaan. Membuat pemuda itu menjadi sedikit risih.


Sedangkan Cempaka Ayu dan Panglima Ireng berada di kursi tamu-tamu Kerajaan. Tidak ada yang berani mendekati Srigala besar, jadi dia di letakkan pada tempat paling ujung tapi juga paling dekat dengan kursi Kerajaan.


Beberapa menit kemudian, pemimpin ritual berujar “ Ini adalah Cucu Saylendra, Putra dari Wira Mangkubumi.” Dia mengangkat tubuh mungil bayi itu tinggi sekali, “Dia akan menjadi Putra Mahkota, penerus, pejuang dan penanggung jawab atas Negri Ini. Dia diberi nama, Maharajo Lelo.”


“Hidup Maharajo Lelo!”


“Hidup!”


Setelah dua puluh menit melakukan ritual itu, Saylendra berdiri dari Sempat duduknya. Semua orang terdiam, tidak ada yang bersorak. Kemudian berdiri pula Rindang Sari dari tempat duduknya, mereka lalu berjalan mendekati pemuda asing yang duduk di barisan Keluarga Kerajaan.


“Dia ini,” Saylendra berkata. “Adalah Sungsang Geni, seorang pendekar yang datang dari dataran Java. Dia ini, pemuda yang telah menaklukkan pegunungan Kerakatau yang tidak tertandingi itu. Dan dia, orang yang telah berhasil mengambil obat untuk Istriku Rindang Sari.”


Beberapa orang bergumam pelan, memberikan tanggapan mereka masing-masing. Sungsang Geni bisa menangkap wajah kecewa beberapa pendekar yang tidak berhasil mendapatkan kelapa gading.


“Dia akan menjadi Adipati?”


“Beruntung sekali,” gumaman para pendekar.


“Atas jasa yang di lakukannya, maka aku akan mengangkatnya menjadi putraku.” Tutup Saylendra.


Seketika situasi menjadi pecah dengan suara para rakyat. Mereka mengatakan ini dan itu. Serentak menatap wajah Sungsang Geni dengan penuh tanda tanya, tapi tidak ada yang berani membantah keputusan Saylendra.


“Aku kira hadiahnya menjadi pemimpin Kadipaten?” Salah satu dari pendekar berkata kecewa. “Tapi tidak kusangka, Yang Mulia Raja mengangkatnya menjadi Pangeran.”

__ADS_1


“Andai saja kita memiliki cukup kekuatan melawan para Siluman lebah...”


“Kita masih sangat lemah, menurutmu bagaimana kekuatan pemuda itu?”


“Aku yakin lebih kuat dari para Hulubalang, mungkin saja lebih kuat dari Pangeran Wira Mangkubumi.” Tutup para pendekar itu.


Saylendra berniat mengatakan bahwa Sungsang Geni adalah anak kandungnya, tapi Sungsang Geni tidak mengizinkan. Menurutnya semua orang tidak akan percaya, jika seorang bocah yang tiba-tiba hilang dua puluh tahun silam sekarang telah tumbuh menjadi dewasa.


Akan ada banyak tanggapan miring di antara rakyat Swarnadwipa.


Lagipula, dia tidak terlihat mirip dengan Windur Hati, tidak! Tapi memang wajah pemuda itu tidak mirip dengan siapapun di keluarga Saylendra.


Sungsang Geni kemudian di persilahkan untuk duduk di tengah panggung, lantas Sesepuh adat menyirami sekujur tubuhnya dengan air putih yang sudah diberi dengan doa-doa.


Itu adalah ritual pengangakatn anak, jarang sekali dilakukan.


Pada akhirnya ritual itu berjalan seperti seharusnya.


***


Tapi pada akhirnya, pemuda itu tidak berniat membawa apapun.


“Perjalananmu sangat jauh nak, kenapa kau tidak ingin membawa bekal?” Rindang Sari terlihat heran dengan sikap Sungsang Geni.


“Tidak ibu, itu akan merepotkan.”


Kali ini Sungsang Geni tidak berniat melakukan perjalanan melewati daratan, akan butuh waktu beberapa hari untuk tiba di Dataran Java. Dia memutuskan untuk terbang.


Jadi dia sudah meminta beberapa pelayan menyiapkan sebuah alat untuk mengangkut Panglima Ireng. Mungkin sebuah gerobak.


Rindang Sari tidak berkata lebih lanjut, melainkan menyodorkan sebuah baju perang berwarna merah dengan ukiran kuning di bagian lengannya.


“Ini adalah pakaian leluhurmu, digunakan ketika Negri Bambu menghadapi perperangan puluhan tahun yang lalu. Bentuknya memang sedikit lebih kuno, tapi menurutku akan cocok jika di pakai olehmu.”

__ADS_1


Sebenarnya bentuk pakaian itu tidak sama seperti zirah perang pada umumnya, lebih seperti jubah. Ketika Sungsang Geni memakainya, rupanya benar jubah itu tampak begitu pas di tubuhnya. Seolah memang ditempa untuk pemuda itu.


“Kau benar-benar gagah.” Rindang Sari menepuk kedua pundak Sungsang Geni. “Jika tugasmu sudah selesai, apakah kau akan kembali ke sini?”


Sungsang Geni tidak menjawab selain anggukan kecil yang tidak begitu menenangkan Ibunya.


Di sisi lain, Cempaka Ayu mendapatkan beberapa pakaian baru dari Windur hati, beberapa perhiasan dan juga selendang. Gadis itu sempat menolak, tapi Windur Hati bersikeras meminta Cempaka Ayu membawa semuanya.


“Seorang gadis harus memiliki sedikit pakaian bagus, itulah yang membedakan kita dengan laki-laki,” ucap Windur Hati.


Setelah semuanya rampung, Sungsang Geni beserta teman-temannya sudah berada di halaman belakang Istana. Kereta besar tanpa atap yang cukup indah juga telah berada di sana, dengan Panglima Ireng berada di atasnya.


Puluhan prajurit, belasan pelayan dan beberapa Hulubalang tampaknya juga sudah menunggu dengan wajah-wajah penasaran. Mereka mulai mengira-ngira bagaimana caranya Sungsang Geni dan temanya pergi dengan kereta tanpa kuda.


Diantara banyaknya orang itu, Surailarang berjalan mendekati Sungsang Geni.


“Teman, aku akan tinggal sedikit lebih lama di sini aku memiliki caraku sendiri untuk kembali ke rumahku.” Surailarang sudah tahu bahwa pemuda itu akan terbang, tentu akan menarik melakukan perjalanan melintasi atap-atap rumah warga dan itu akan menjadi cerita menarik. Namun, pria itu takut ketinggian.


“Gerr...” Panglima Ireng menggeram sedikit, mungkin mengatakan 'selamat tinggal' dan mendapat tepukan pelan di moncongnya yang hitam.


“Jaga dirimu baik-baik, Srigala Hitam,” jawab Surailarang.


“Gerr...”


Saylendra memeluk Sungsang Geni cukup lama, kemudian bergantian dengan Rindang Sari dan terakhir Wira Mangkubumi.


Setelah semuanya selesai, Cempaka Ayu mengerahkan tenaga dalamnya pada kereta kuda yang mengangkut Panglima Ireng, pakaian-pakaian dan banyak sekali makanan. Seketika semua mata terpana, kereta itu diliputi cahaya putih kehijauan dan mulai terangkat bersamaan dengan tubuh gadis itu.


“Aku sedang bermimpi.” Salah satu prajurit menepuk wajahnya sendiri, “Aw.” Dia terpekik.


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, lantas beberapa debu di dekatnya mulai berhamburan terkena sayap energi yang dia ciptakan. Sekali lagi, tentu saja hanya orang yang memiliki cakra ajna yang bisa melihat sayap itu.


Setelah sudah cukup puas memandangi keluarganya, Pemuda itu melesat dengan cepat dan diiringi Cempaka Ayu. Seperti melesatnya bintang jatuh di malam hari.

__ADS_1


Beberapa orang hanya terpelongo saking kagumnya, tidak berkutik sedikitpun. Beberapa yang lain tidak sadar sudah membuka mulut terlalu lebar, hingga lalat menjagakan mereka.


"Berhati-hatilah Putraku." Rindang Sari menutup wajahnya di dada Suaminaya.


__ADS_2