
Sekarang waktu tinggal beberapa jam lagi menuju pagi, Mungkarna menyadari satu hal yaitu jika pagi datang maka kekuatan lelembut akan berkurang seiring waktu. Jadi sekarang dia mencari selah bagaimana caranya agar bisa mengulur waktu.
Mungkarna memutuskan untuk melarikan diri. Ya, menurutnya itulah satu-satunya cara agar bisa mengalahkan Resi Irpanusa. Jika pagi mulai datang, dia akan kembali lagi untuk memberi perhitungan
Mungkarna tersenyum kecil, dia telah merencanakan beberapa hal dengan otaknya. Membuat sketsa sederhana, dan serta membayangkan betapa rencananya akan berhasil, dan lawannya pasti akan tewas.
Pasti? Mungkarna tidak sadar jika Resi Irpanusa sudah berada di depannya saat ini, melepaskan satu tapak kuat di bagian dadanya yang terdapat hampir 8 luka tebasan. Ketika telapak tangan pak tua itu menyentuh dada, Mungkarna membuka mata karena jelas dia sadar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tekanan energi maha dahsyat keluar dari telapak tangan Sesepuh Pedang Bayangan itu, menerobos masuk ke dalam dada lawan dan merusak organ dalam.
Untuk kedua kalinya Mungkarna terkena teknik yang sama, hanya karena kelengahan. Sekarang dari mulut dan hidung keluar darah hitam, bahkan mata Mungkarna hampir saja keluar dari kelopaknya karena tekanan kekuatan itu.
Pupus sudah rencana untuk melarikan diri, dan menjalankan rencana licik. Jangankan untuk kabur, sekarang untuk bernafas saja rasanya sakit bukan kepalang.
Resi Irpanusa mundur 10 depa dari tubuh Mungkarna, kemudian melakukan kuda-kuda akan segera melakukan jurus terkuat dari teknik Pedang Bayangan, Murka Naga Bayangan.
Satu menit kemudian, aliran energi keluar dari telapak tangannya, menjalar menyelimuti pedang dan membentuk naga bayangan bermata merah dan kristal hijau tepat di keningnya, antara dua tanduk seperti rusa.
Mungkarna merapatkan rahangnya, tampak jelas raut wajah pria itu penuh dengan ketakutan. Tentu saja, satu tangannya buntung karena menahan jurus tersebut yang pernah Sungsang Geni lakukan. Dan kali ini jurus itu kembali muncul di depan matanya.
Naga Bayangan meliuk-liuk sebelum akhirnya menerkam tubuh Mungkarna bulat-bulat. Komandan Kelelawar Iblis paling kuat, tidak kuasa menahan serangan itu. Terlalu banyak sudah cedera luka yang didapatnya, kekuatan Resi Irpanusa hampir saja mirip dengan Sungsang Geni.
__ADS_1
Prajurit Surasena hanya bisa merasakan pekik panjang, dan getaran hebat dari tepi zona pertempuran. Untuk beberapa lama, getaran itu hampir meretakkan dinding-dinding bangunan Markas Petarangan. Hingga akhirnya, perlahan menyurut dan lenyap.
Lenyapnya getaran itu, bersamaan dengan lenyapnya tubuh Komandan Pertama Kelelawar Iblis.
Resi Irpanusa menghela nafas yang tersengal-sengal, bagaimanapun dia hampir melepaskan semua energi yang ada pada serangan itu. Bahkan dia yakin, jika serangan tadi gagal, maka bukan mustahil nyawanyalah yang akan terancam.
Kemudian, di ufuk timur, -paling timur sekali-, cahaya kemerahan berusaha menerobos tepi awan hitam. Itu adalah tanda matahari mulai datang, malam telah berlalu. Resi Irpanusa masih ingin berada di alam manusia cukup lama. Pertarungan belum usai, tapi waktunya sebagai lelembut sudah habis di alam ini.
“Aku harus kembali ke alam Lelembut, ma'afkan aku Geni...” Berkata demikian, Resi Irpanusa lenyap dari alam manusia. Bersyukur dia datang dan berhasil mengalahkan lawannya.
***
Hari benar-benar beranjak pagi, mata mulai bisa melihat kondisi di sekeliling meski pandangan masih sangat terbatas, dan semua prajurit Surasena mulai bersiap melakukan perlawanan.
Ki Alam Sakti menyelesaikan tugasnya, dengan keberhasilannya menusuk dada lawan. Guru Sungsang Geni itu, adalah orang pertama yang kembali ke Markas Petarangan. Bersama dengan dirinya, Sabdo Jagat berjalan dengan bantuan tongkatnya.
Ki Alam Sakti sendiri mendapati beberapa luka di sekujur tubuhnya, tapi tidak ada satu luka yang benar-benar membahayakan tubuhnya. Hanya saja, dengan pedang usang Ki Alam Sakti harus mengeluarkan lebih banyak tenaga dalam untuk mengalahkan musuhnya.
“Guru...” Dewangga cepat-cepat menyambut Ki Alam Sakti. “Syukurlah Guru baik-baik saja...”
“Ya, aku hanya cukup beruntung...” Ki Alam Sakti tersenyum kecil.
__ADS_1
Guru Tiraka dan pendekar yang berasal dari Perguruan Lembah Ular juga menyambut kedatangan Sabdo Jagat dengan wajah berbinar. Benar-benar terharu, seperti ini adalah akhir perang tapi sebenarnya pertempuran masih sangat panjang.
Setelah mata mulai beradatasi di antara remang-remang, mereka bisa melihat beberapa pendekar Surasena masih bertarung dengan sengit. Mereka adalah Lakuning Banyu, Ki Lodro Sukmo dan juga Bangau Putih.
Ketika melihat pertarungan Bangau Putih, Gentar Bumi adalah orang pertama yang datang menyusul pak tua itu. Bangau Putih dipenuhi dengan luka di sekujur tubuhnya, sementara itu dia masih bertarung sendirian, menghadapi ribuan musuh.
Di belakang tubuh Bangau Putih,sudah lebih dari seribu orang tewas di tangannya. Hanya Sendirian. Sementara itu, sekarang yang dihadapi berjumlah sekitar dua ribuan lagi. Terlihat jelas wajah Bangau Putih yang lelah dan letih, tapi semangat bertempurnya tidak pernah sirna.
“Kepung pak tua ini!” salah satu prajurit Kelelawar Iblis memberi instruksi. “Dia sudah lelah, energinya tentu sudah habis. Kita bisa mengalahkan dia saat ini...”
Bangau Putih terkekeh kecil. “Ya, tapi mungkin harus ada ratusan orang yang menemaniku lagi.” Bangau Putih seolah tahu, bahwa dia tidak akan selamat kali ini. Tapi itu justru membuat dia semakin berani, kalimat Sungsang Geni masih terngiang di telinga. Hidup adalah perjalanan untuk mati, dan matilah sebagai cahaya.
“Ya, kematian ini tidak akan terlalu buruk...” ucap Bangau Putih kemudian menyerang lagi ribuan lawan di depannya. “Ini adalah bentuk pengabdianku sebagai pendekar dan bentuk pengabdianku sebagai manusia...MAJULAH KALIAN SEMUA!”
Waktu terasa begitu singkat. Ki Lodro Sukmo tersentak, seolah jiwanya terhubung dengan sahabtanya itu ketika satu tombak tertanam di tubuh Bangau Putih. Buru-buru Ki Lodro Sukmo berpaling, dan hal yang tidak ingin terjadi telah terpampang jelas di ujung matanya.
“Sahabatku!” gumam Ki Lodro Sukmo, seolah hanya satu patah kata itu saja yang sanggup keluar dari dalam mulutnya. Ki Lodro Sukmo meneteskan air mata, merasakan bahwa Bangau Putih mencari kematiannya di tempat ini, dan itu adalah pilihannya.
Ada lima tombak menancap di tubuh Bangau Putih saat ini, membuat dia mati berdiri dengan tertopang gagang tombak. Gentar Bumi datang terlambat, jarak pertarungan Bangau Putih dengan Markas Petarangan cukup memakan waktu, dan dia tidak memiliki ilmu meringankan tubuh.
Setelah tiba, tiga kali Gentar Bumi menebas tanah, menciptakan siring besar yang memisahkan mereka berdua dengan prajurit Kelelawar Iblis. Ketika Gentar Bumi mendekati Bangau Putih, pak tua itu sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
'Kau tersenyum, ya?' Gentar Bumi menelan ludah pahit, ketika melihat senyum kecil masih menghiasi pak tua yang dipenuhi warna putih itu. ' Selamat jalan,selamat jalan.' Batin Gentar Bumi bergumam.