
Pada akhirnya pembentukan aliansi pendekar putih hari ini akan segera di resmikan. Lakuning Banyu, raja dari Surasena mewakili beberapa kerajaan lain juga mendatangi pembentukan organisasi besar ini. Sayangnya Darma Guru tidak punya cukup keberanian untuk datang.
'Sayang sekali, padahal aku ingin mengetahui seperti apa raut wajahnya,' batin Darma Cokro setelah menyadari Darma Guru tidak ikut dalam rombongan Raja Surasena.
“Kami sebagai Pemerintahan hanya akan menjadi pengawas dalam organisasi yang kalian bentuk, kami juga akan memberi masukan dalam setiap tindakan yang kalian ambil.” Ucap Lakuning Banyu setelah dia dipersilahkan untuk mengambil posisi kata sambutan, “Bagaimanapun, organisasi yang akan dibentuk harus memenuhi hukum yang telah ditetapkan di wilayah Surasena.”
Beberapa orang berpikiran untuk apa lagi mengikuti kemauan Surasena karena Kerajaan ini telah mengalami kemunduran, tapi mereka tidak cukup berani menyatakan perang karena beberapa kerajaan masih memiliki kesetiaan yang besar.
Semua orang tidak menduga, jika pergerakan aliansi ini harus berada dalam pengawasan Surasena dan kerajaan yang lainnya. Padahal mereka berharap ada sedikit ruang gerak.
“Tidak masalah!” ucap Darma Cokro, “Kami tidak keberatan, dengan ini kami membuktikan bahwa tidak ada niat selain untuk menumpas kejahatan.”
“Tapi kalian tidak perlu khawatir, kami akan ikut menyumbang kebutuhan sumber daya untuk organisasi ini.” Tutup Lakuning Banyu, dia mengetahui persis setiap pendekar bekerja untuk upah.
Setelah hampir satu hari, akhirnya mereka berhasil mengesahkan organisasi aliansi yang mereka namakan 'Serikat Pendekar.'
Tujuan dari serikat pendekar sudah jelas, untuk melindungi setiap anggota aliansi dari ancaman Kelelawar Iblis ataupun pihak yang mencoba untuk membuat kekacauan.
Pimpinan dari Serikat Pendekar adalah Darma Cokro itu sendiri yang didampingi oleh Sabdo Jagat sebagai wakilnya.
mereka berdua sebenarnya tidak menyetujui hal itu, hingga pada akhirnya semua orang kecuali Bangau Putih tetap menunjuk mereka sebagai pimpinan wakil pimpinan tertinggi.
Wajah Bangau Putih terlihat masam, dia berharap menjadi wakil dari Darma Cokro tapi nampaknya setiap orang tidak setuju karena pembawaan kasar pria tua itu.
***
Sungsang Geni mendapati pada jam 1 siang, danau itu yang tiba-tiba tadi malam mengalami pasang sekarang berangusur-angsur surut. Jika dugaannya benar, maka surutnya air akan menampakkan pintu masuk ke Perguruan Pedang Bayangan.
Dan ternyata apa yang dipikirkan pmuda itu benar, air danau mengalami surut yang cukup jauh. Dia sekarang dapat melihat sebuah lubang goa mulai nampak.
“Itu adalah pintu masuknya?” ucap Sungsang Geni.
Tanpa menunggu lama, dia bergegas berlari, jika dugaannya benar maka puncak surutnya air hanya akan berlangsung selama 5 menit saja, dan kemudian akan kembali mengalami pasang.
__ADS_1
Jika hari ini dia gagal memasuki pintu itu, maka kesempatannya akan kembali datang bulan depan pada saat bulan purnama.
Dia berlari dengan sedikit bantuan tenaga dalamnya yang beberapa waktu lalu berhasil dihimpun, tapi mungkin hanya 4% saja. Dan pada akhirnya diapun berhasil memasuki goa itu.
Perasaan pertamanya adalah, suasana gelap dan hangat. Tidak pernah terbayangkan bahwa ada udara didalam goa ini, tapi kelegaan hanya berlangsung singkat sebab air danau kembali pasang.
Sungsang Geni menjentikkan jarinya, kembali mencoba untuk menciptakan lampu obor dari jari telunjuk, tapi sekali lagi tidak ada yang terjadi. Tidak ada api dan tidak ada cahaya, semuanya gelap.
Pemuda itu melanjutkan perjalanan dengan meraba-raba, di dasar goa yang mendaki dan juga licin sementara air danau sudah mulai menjilat kakinya.
Sungsang Geni berusaha melakukan apapun saat ini, yang mungkin keluar dari lengan kanannya.
Namun tiba-tiba dia berhasil mengeluarkan sebuah pisau energi, cukup membantu karena pisau itu memancarkan cahaya kuning kemerahan yang cukup terang.
“Ini sama dengan pedang yang keluar dari telapak tanganku, ketika menghadap i Banduwati.” Ucap Sungsang Geni.
Entah apa yang terjadi, tapi nampaknya Sungsang Geni tidak akan lagi dapat mengeluarkan api, dan sebaliknya berganti dengan senjata. Dia yakin, senjata ini keluar karena roh pedang watu kencana berada di lengannya.
Sungsang Geni dapat melihat sekarang, dia memutuskan berlari mendaki sekuat tenaganya menghindari air yang mulai naik dengan cepat.
Dia kembali memperhatikan mulut goa, rupanya mulut itu berada di bidang datar dengan permukaan batu terjal.
Sekarang mulut goa telah dipenuhi air yang menjilat sampai bibir goa. Nampak seperti kolam kecil yang sangat dalam.
Sungsang Geni membalikkan badan, sebuah hutan mati menyambut kedatangannya. Di tengah hutan ada jalan setapak yang terbuat dari susunan batu putih yang rapi.
Sungsang Geni kembali menatap peta dibalik lenca kemudian kembali memperhatikan hutan mati, “Aku rasa sekarang telah tiba di wilayah perguruan pedang bayangan.”
Pemuda itu memutuskan menyusuri jalan setapak yang gelap dan dipenuhi kabut putih sesuai dengan peta yang tertulis di lencana.
Ini adalah hutan mati yang cukup mengerikan, beberapa kawanan burung gagak nampaknya juga menyambut kedatangan pemuda itu.
Setelah cukup lama melewati jalan setapak, akhirnya dia menemukan persimpangan, dimana kabut putih telah hilang.
__ADS_1
Dia kembali menatap peta, tapi tanpa diduga petunjuk didalam peta hanya terhenti dipersimpangan ini, selebihnya tergantung dengan Sungsang Geni
Sungsang Geni melihat ada cahaya terang jika menyusuri jalan ke kiri, tapi jika menyusuri jalan ke kanan, maka yang ada hanya kegelapan.
Perasaan Sungsang Geni sedikit dilema, dia tidak yakin ada hal baik jika belok ke kiri, tapi juga mungkin sebaliknya.
Pemuda itu menimbang rasa cukup lama, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk belok ke kanan, menyusuri kegelapan.
Dia sendiri tidak begitu paham kenapa dia menyusuri kegelapan, tapi instingnya mengatakan ini adalah jalan yang benar. Lagipula sederhananya, bayangan adalah gelap bukan terang.
Setelah hampir 1 jam lamanya dia berjalan, akhirnya menemukan tombok besar yang tersusun dari bebatuan.
Seekor srigala hitam yang tingginya hampir dua meter terlihat sedang mengendus hidungnya.
Mendapati seorang tamu tak diundang, srigala itu mengaum dengan keras lalu bergegas berlari untuk menyerang Sungsang Geni.
pemuda itu tidak bergeming, dia tidak bergerak ketika Srigala itu mulai mendekat dan mungkin hanya menyisakan 5 meter darinya.
“Tunggu!” ucap Sungsang Geni datar, kemudian meraba saku bajunya dan menunjukkan sebuah lencana hitam “Kau penjaga tempat ini? Kalau begitu pasti mengenal lencana ini.”
Srigala itu kembali mengedus kearah Sungsang Geni, wajahnya belum membaik. Tapi Sungsang Geni yakin, srigala itu tidak akan menyerangnya setelah melihat tanda pengenal yang dia tunjukkan, dan ternyata dugaannya benar.
Srigala hitam mengaum beberapa kali, kemudian membalik badan dan berjalan beberapa langkah, kemudian kembali menatap Sungsang Geni.
“Kau ingin aku mengikutimu?” tanya Pemuda itu, menangkap ekspresi yang dikeluarkan srigala itu, “Baiklah...baiklah, tapi jangan terlalu cepat karena sekujur tubuhku dipenuhi dengan luka parah.”
Srigala itu membawa Sungsang Geni menuju sebuah gerbang besar, setelah memasuki gerbang itu hal yang tak terduga tiba-tiba mengejutkan Sungsang Geni.
Ada cahaya terang di tempat ini tidak gelap seperti yang dia duga, bahkan terlihat matahari terang yang sekarang sedikit condong ke barat.
Sebuah jalan luas dengan batu putih tersusun rapi dipenuhi dengan manusia yang sibuk berjualan nampaknya menjadi pemandangan yang tak pernah diduga pemuda itu.
“Kau pasti tidak berasal dari sini?” tiba-tiba saja seorang pria menepuk pundak Sungsang Geni, “Baumu seperti orang asing, kau pasti orang asing yang tersesat?”
__ADS_1
Jika kurang up, ada baiknya baca juga novel teman saya pendekar batari mahadewi. Dijamin seru.
Dan jika menyukai romanca ada novel cinta mafia..