PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tawaran


__ADS_3

Kejutan luar biasa Perguruan Bukit Emas mau membantu Lembah Ular, tapi kejutan yang paling besar adalah mengetahui bahwa selama ini pemuda yang telah bertarung bersama mereka adalah seorang raja.


“A'a...Apa kau bilang, Sungsang Geni?” Sabdo Jagat tidak bisa menutup mulutnya beberapa saat, bahkan matanya yang melotot nyaris keluar dari kelopaknya sementara Guru Tiraka merasakan seluruh sendi kakinya hampir lepas saking terkejutnya.


“Benar, dia adalah Raja Tombok Tebing. Dialah orang yang telah mengirim informasi mengenai keadaan Lembah Ular melalui Elang Hitam. Dia juga meminta kami mendatangi Perguruan Bukit Emas untuk memohon bantuan, dan dia juga yang telah meminta kami menyelamatkan para pengungsi Lembah Ular.” Perkataan Dirga membuat pimpinan Lembah Ular itu hampir tak sadarkan diri.


“Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?” gumam Pria itu, lalu tersandar kembali di pembaringannya.


“Kenapa dia tidak memberi tahu identitasnya?' tanya Guru Tiraka, “Dengan begitu mungkin kita akan bersikap lebih baik kepadanya.”


“Itu karena Yang Mulia Sungsang Geni membenci kasta dan perbedaan,” jawab Dirga santai, meski sebenarnya dia juga tidak begitu paham dengan sifat asli Sungsang Geni, selain dari apa yang disampaikan oleh Mahesa. “Lagipula, kedatangan saya ke sini untuk menjemputnya pulang.”


“Ma'afkan kami Senopati?” ucap Guru Tiraka wajahnya menjadi lesu. “Tapi Geni sudah tidak ada lagi disini, dia mengejar Komandan Kelelawar Iblis kearah timur, dan hingga saat ini belum kembali.”


Dirga menghela napas kecewa, padahal pertemuan dengan Sungsang Geni adalah harapan terbesarnya datang ke Lembah Ular. Pria itu berniat mengucapkan beberapa patah kata secara pribadi, tapi niatnya itu untuk sekarang tidak mungkin tersampaikan.


'Apa yang akan dikatakan patih Mahesa jika aku tidak berhasil menemukan Yang Mulia Sungsang Geni.' Dirga mengurut keningnya yang mulai terasa sakit.


Dia ingat dengan perkataan Mahesa sebelum berangkat meninggalkan Tombok Tebing, untuk tidak terlalu berharap bisa menemukan Sungsang Geni, karena Raja mereka itu lebih licin dari seekor belut. Dan perkataan Patih itu, ternyata benar.


“Sekarang apa yang akan kalian lakukan? Para pendekar Lembah Ular?” tanya Dirga segera mengalihkan topik perbincangan.


Sabdo Jagat dan Guru Tiraka tampak saling tatap, sejujurnya mereka juga tidak tahu harus melakukan apa setelah berhasil merebut kembali Lembah Ular. Jikapun mereka tetap tinggal di tempat ini, kemungkinan mendapat serangan balasan dari Kelelawar Iblis juga sangat besar.


“Jika begitu kenapa tidak tinggal dulu di Perguruan Bukit Emas?” Darma Cokro memberikan penawaran yang membuat Pimpinan Lembah Ular itu terkejut bukan kepalang, “Kalian pasti menyadari situasi ini belum sepenuhnya baik. Jika kalian keberatan tinggal didalam Tembok Bukit Emas, kalian boleh tinggal di tanah-tanah kami yang lainnya. Wilayah kami cukup luas.”

__ADS_1


Sabdo Jagat kembali menatap Guru Tiraka, wanita itu terlihat setuju dengan tawaran yang di berikan Darma Cokro. Bagaimanapun, untuk sekarang mencari makanpun akan kesulitan, sebab tanah pertanian mereka telah menjadi medan pertempuran.


Satu-satunya yang bisa mereka lakukan ditempat ini hanya menangkap ikan ataupun berburu, dan harusnya Sabdo Jagat mengetahui bahwa tidak setiap hari dapat menangkap seekor rusa. Selama ini mereka memakan ubi-ubian yang tumbuh liar di tengah hutan, tapi nampaknya alam juga sudah kehabisan stock ubi-ubian itu.


“Ma'afkan kami karena merepotkan kalian.” Ucap Sabdo Jagat tersenyum kecil, “Mungkin kami akan menyewa tanah kalian untuk beberapa lama.”


“Tidak perlu, kalian boleh tinggal gratis di tanah kami?” ucap Darma Cokro.


“Kami masih memiliki beberapa harta simpanan,” ucap Sabdo Jagat mengingat ruang bawah tanah yang disembunyikan ayahnya, “Kalian bisa mengizinkan tanah kalian untuk ditempati, tapi kami tetap akan membeli beras yang kalian jual! Itu adalah caranya hidup ini berjalan.”


Darma Cokro tersenyum kecil, sebenarnya dia mengetahui hati Sabdo Jagat sedikit berat untuk menerima bantuan Cuma-Cuma darinya. Lembah Ular lebih terkenal sebagai pendekar keras kepala dan berharga diri tinggi, jadi pimpinan Bukit Emas itu tidak ingin membuat prinsip yang mereka pegang menjadi runtuh.


“Baiklah aku menerima pembayaran itu.” Ucap Darma Cokro sambil menghela napas berat, “Kita akan berangkat setelah keadaan pendekar Lembah Ular cukup pulih, sekarang kami akan mencari beberapa ekor ikan di sungai air deras sebagai makanan kita hari ini.”


***


“Empu, aku menemukan ini sebelum Geni pergi dari reruntuhan.” Cempaka menyodorkan beberapa keping batu hitam dengan urat-urat merah, serpihan pedang watu kencana atau juga serpihan batu bintang kemulung. “Hanya ini yang tersisa. Beberapa serpihan batu hancur menjadi butiran debu, saat cahaya terang keluar dari dalam pedang miliknya”


Empu Pelak cukup kaget mendapati sekitar 15 batu seukuran ibu jari tangannya, jika ada beberapa serpihan yang hancur menjadi debu, berarti serpihan ditangan Cempaka Ayu adalah inti paling keras dari pada batu itu.


“Aku melihat cahaya kuning itu masuk kedalam lengannya, aku tidak tahu cahaya apa itu. Tapi cahaya itu berasal dari pedang yang selalu dibawanya...” sambung Cempaka Ayu, matanya terlihat berkaca-kaca jika mengingat puluhan luka yang diderita Sungsang Geni.


“Itu adalah roh pedang, kita tidak mengetahui kenapa roh pedang bisa bersatu dengan pemuda itu, karena memang Sungsang Geni adalah manusia unik dan penuh misteri.” Empu Pelak mengambil satu dari 15 serpihan batu, lalu mengamatinya dengan teliti, “ Aku akan membuatkan dirimu senjata dengan seluruh benda ini, sebuah pusaka yang cocok dengan gaya bertarungmu. Ini akan menjadi senjata terakhir yang ku buat, setelah itu aku akan mengembangkan bubuk setan sebagai senjata utamaku.”


“Empu, apa kau mendengarnya mengenai latar belakang Sungsang Geni?” tanya Cempaka Ayu, sebenarnya dia mengetahui jawaban dari pertanyaannya, karena berita itu. Lembah Ular menjadi heboh seharian ini.

__ADS_1


“Yah...aku mendengar berita itu,” Empu Pelak terkekeh kecil sambil diselingi batuk-batuk pelan, “Pemuda itu, benar-benar mengejutkan kita. Kau harus berlatih lebih keras agar selalu bisa bersama dirinya.”


Mendengar ucapan itu, Cempaka Ayu tersipu malu. Tapi setelah pertempuran tadi malam, gadis itu memang bertekad untuk berlatih menguasai dewi bulan.


***


Pada lusa harinya, mereka yang tergabung dari Lembah Ular dan Bukit Emas mulai bergerak ke sisi Tenggara, dimana Perguruan Bukit Emas berada. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, mereka akan tiba di Pusat Bukit Emas 5 hari kemudian.


Mereka tidak bisa bergerak cepat, karana banyak orang yang masih dalam pemulihan. Lagipula ada beberapa pendekar Lembah Ular yang tidak memiliki kemampuan meringankan tubuh.


Sedangkan Darma Cokro beserta 9 orang bawahannya yang terkuat berniat pergi lebih dahulu, sebab mereka tidak bisa meninggalkan Bukit Emas dengan waktu yang lama.


Meninggalkan Bukit Emas bisa membuat perguruan itu menjadi sasaran Kelompok Kelelawar Iblis selanjutnya, meski sebenarnya itu tidak mungkin.


“Kalian akan baik-baik saja, aku akan menunggu di Bukit Emas.” Ucap Darma Cokro, “Aku hanya akan membawa 9 orang pendekar, selebihnya akan menjaga perjalanan kalian.”


“Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih banyak.” Jawab Sabdo Jagat.


Setelah berpamitan, 10 orang dari pendekar Bukit Emas segera pergi meninggalkan Lembah Ular lebih dahulu.


“Cempaka, aku akan menunggu dirimu di sana, dan akan kutunjukkan tempat terindah yang ada di Bukit Emas.” Ucap Benggala Cokro tersenyum manis.


Cempaka Ayu tidak menjawab perkataan pemuda itu, dia hanya membalasnya dengan senyum kecil yang terkesan dipaksakan, membuat Benggala Cokro sedikit kesal. 'apa pemuda itu, benar-benar memikat hatinya?'


**Beberapa hari kedepan author sedikit sibuk, tapi masih akan berusaha menulis buat teman teman.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, jangab kapok jadi pembaca setia**.


__ADS_2