
Waktu Pramudhita dan Resi Irpanusa tidak cukup banyak saat ini. Benar langit tertutup awan hitam, seolah malam remang-remang tapi ini tetaplah membuat energi mereka terserap cukup banyak. Pertarungan harus selesai secepatnya. Pramudhita dan Resi Irpanusa sepakat akan hal itu.
Teman Sungsang Geni itu melompat dua kali, pertama dari atap bangunan markas paling tinggi dan sekarang melompat di atas tembok Markas. Pria itu bergerak cepat, karena Lemah Abang melepaskan serangan beruntun dengan aura sedingin es.
Wush...wush... tiga serangan bergerak cepat, mirip seperti salju. Pramudhita melompat ke atas angin, tiga serangan Lemah Abang mengenai dinding markas, satu menit kemudian dinding diselimuti es dan runtuh tanpa tersisa.
Beberapa prajurit Surasena segera berlari untuk menghindari reruntuhan es. Serangan yang sangat langka, kekuatannya sebenarnya tidak sedahsyat itu, tapi karena energi kegelapan, serangan itu terlihat seperti bencana alam.
Lemah Abang menyeringai, serangannya tidak berhasil mengenai sasaran, tentu saja dia menjadi kesal. Pramudhita begitu licin bak belut, bahkan sampai saat ini Lemah Abang tidak berhasil melukai tubuhnya meski hanya segores.
“Tikus kecil, kau mau berlari sampai kapan?” Lemah Abang berkata serak. “Sampai kapan energimu akan bertahan, alam ini akan membuat kekuatanmu lenyap.”
'Ya, tapi sebelum membunuhmu, aku tidak akan kehabisan tenaga.' Gumam Pramudhita dalam batinnya.
Jalur pergerakan Pramudhita berubah, dari yang selalu menjauh untuk menghindar kali ini dia berani untuk mendekat. Sambil menghindari serangan tentunya. Kurang ajar sekali, melawan pria dengan kemampuan serangan jarak jauh memang cukup merepotkan, pikir pria itu.
Dia menebaskan pedang, tapi satu serangannya mendarat pada tubuh berlapis es yang keras. Lemah Abang selain memiliki serangan yang sangat dingin, rupanya juga memiliki pertahanan yang sangat bagus.
Pramudhita bergerak cepat, menghindar dua serangan dari telapak tangan Lemah Abang. Hampir saja serangan itu mengenai dadanya, jika kurang dari satu detik untuk bergerak menghindar.
Ketika Pramudhita berada dibelakang tubuh Lemah Abang, hendak melepaskan serangan, lawannya berhasil melepaskan serangan yang cukup menipu. Bagaimana tidak, dari pundak Lemah Abang bisa melepaskan satu larik cahaya tipis yang hampir mengenai mata Pramudhita.
Untuk sesaat teman Sungsang Geni itu tidak siaga, jadi kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Lemah Abang untuk menyerang.
Dari tiga kuku jari Lemah Abang keluar energi putih ke unguan yang bergerak lambat, tapi karena Pramudhita cukup dekat dengannya, energi itu tidak bisa dihindari.
__ADS_1
Tubuh Pramudhita melayang hampir 40 depa jauhnya, bajunya terkoyak tapi kulit luarnya tidak terluka. Cukup beruntung pemuda itu jatuh di tumpukan mayat.
Masih berusaha berdiri, satu serangan lagi datang dengan cepat.
Pramudhita menoleh ke atas, gumpalan mirip salju menderu seperti panah. Ada tiga, tidak tapi ada lima gumpalan yang datang beriringan. Pramudhita melompat sekali, serangan itu melobangi tanah sebesar roda gerobak, kemudian melompat lagi dan lagi.
Setiap serangan berhasil dihindari cukup mudah. Tapi ketika dia melihat ke atas, Lemah Abang berniat sekali lagi melepaskan serangan yang sangat besar.
“Kau akan mati karena serangan ini!” ucap Lemah Abang, dia mengangkat dua tangan ke atas, energi berwarna putih keunguan menggumpal tepat di atas telapak tangannya. Besar energi itu hampir seukuran kepala, tapi tekanan yang dikeluarkan mampu membuat udara terasa dingin dalam radius lima ratus depa.
Baru saja ingin melepaskan serangan itu, tiba-tiba perasaan Lemah Abang ada beberapa orang yang menghentikan tangannya. Energi itu masih menggumpal, tapi saat ini tidak bisa di lepaskan, karena dua bayangan Pramudhita menahan kedua tangan Lemah Abang.
“Apa ini? bayangan?” Lemah Abang cukup terkejut, barangkali ketika dia masih menjadi manusia biasa, keterkejutan pria itu akan lebih besar lagi dari sebelumnya, kenapa tidak? Sekarang tepat dihadapan dirinya, muncul naga bayangan yang meliuk-liuk.
Naga bayangan dua kali lebih besar dari naga bayangan pendekar yang lain, bahkan hampir setara dengan anak terkecil Nogo Sosro.
“Ini adalah akhir riwayatmu!” Pramudhita berteriak keras, mengerahkan naga berwarna bening dengan mata merah menyala.
Mahluk bayangan itu menggeliat, berputar-putar di udara seperti angin puyuh kemudian menukik cepat ke arah Lemah Abang.
Tekanan yang dihasilkan oleh serangan itu luar biasa dahsyat, bahkan seluruh pendekar Surasena merasakan tengkuk mereka dingin dan kaku. Lakuning Banyu yang di dalam tubuhnya terdapat ruh keris panca dewa, naga berkepala lima, tidak menyangka kekuatan naga itu lebih mengerikan dari siluman naga asli yang baru saja pergi.
“Itu adalah energi bukan?” tanya Benggala Cokro, mengedipkan matanya beberapa kali karena tidak percaya dengan pandangannya saat ini. ya, terlalu banyak pandangan yang aneh dalam pertempuran ini.
“Tentu saja itu adalah energi, tapi kekuatannya melebihi siluman naga yang sesungguhnya...” balas Pramudhita, terkagum-kagum.
__ADS_1
Suara gemuruh semakin terdengar keras, ketika taring mahluk itu berhasil mencengkram tubuh Lemah Abang. Itu menyakitkan, karena Lemah Abang saat ini berteriak dan menggelepar. Dua tangannya tidak bisa bergerak, karena bayangan Pramudhita masih membelenggu sampai hancur pula di terkam naga bayangan.
Kilatan energi menyambar-nyambar mata. Ada percikan dari mulut naga itu. Tampaknya Lemah Abang masih berusaha bertahan, kedua tangannya terbebas setelah bayangan Pramudhita hilang.
Energi di telapak tangannya masih ada, jadi dia melepaskan energi itu tepat di moncong naga bayangan yang berkumis panjang.
“Sial, dia masih memiliki kekuatan sehebat ini?” Pramudhita muntah darah ketika naga miliknya mendapatkan perlawanan.
Namun pria itu tidak akan kalah, dia masih bertahan. Selangkah lagi kemenangan akan didapatkan. Jadi jika hanya setetes dua tetes darah keluar dari mulut, bagi Pramudhita tidak masalah.
“Aku tidak akan kalah dari mahluk sepertimu!” pekik Pramudhita, berteriak dan mengerahkan semua energi yang dia miliki.
Naga yang sebelumnya berwarna bening perlahan memiliki motif warna hijau di antar cula di kenginnya. Pramudhita tidak tahu kekuatan apa yang telah keluar dari dalam tubuhnya, tapi saat ini serangan Murka Naga Bayangan terasa lebih kuat setiap waktunya.
“Kalahkan dia!” Pekik Gadhing, sambil membuka matanya penuh harap.
“Benar, berusahalah!Kalahkan dia!” disahut dengan Dirga.
Kemudian ada banyak pekikan harapan yang keluar dari mulut manusia.
“Kami mohon kalahkan dia...” salah satu prajurit Surasena berkata dengan air mata berurai, di tubuhnya sudah penuh dengan lilitan perban.
Paramudhita berteriak keras, kemudian terjadilah ledakan dahsyat tepat di ujung moncong naga bayangan.
Pria itu terpukul mundur dua puluh depa jauhnya, dan mendarat kasar di dekat Ki Alam Sakti dan Lakuning Banyu. Sementara itu, tubuh Lemah Abang melayang di udara beberapa saat dan terhempas tepat di pinggir reruntuhan tembok Markas.
__ADS_1
Buukk, suara benda jatuh terdengar cukup jelas.
Selagi menunggu PDM rilis, kalian bisa membaca novel karangan teman kita ‘AL Divo Febrian’ dengan judul Legenda Pendekar Garuda. Dari judulnya kalian udah tahukan, kalo ini temanya nusantara banget. Yuk di kepoin, beri semangat dan dukungannya.