
Mereka melewati atap rumah satu ke rumah yang lain, tujuan mereka jelas sebuah bangunan paling besar yang berdiri di tengah-tengah. Bangunan yang menjadi pusat Lembah Ular, dan sekarang menjadi pusat dari Komandan Kelelawar Iblis. Sekali lintas mirip seperti Istana kecil.
Bangunan itu dikelilingi ribuan pasukan Kelelawar Iblis, berbaju hitam dengan pedang besar dan kapak besar. Sungsang Geni merasakan aura hitam yang pekat dari tubuh mereka, beberapa diantaranya terasa sebagai pendekar pilih tanding.
Dia tidak ingin membuat masalah sebelum dapat membebaskan Empu Pelak. Jadi dengan sangat hati-hati, mereka bersembunyi di antara bangunan rumah yang tak terpakai.
Sebenarnya Sungsang Geni menyadari, bahwa mustahil baginya untuk memasuki bangunan itu tanpa menciptakan keributan. Tidak ada celah baginya untuk tiba di sana, lagipula nampaknya pasukan itu tidak akan tertidur.
“Geni, ikut aku!” ucap Cempaka Ayu, lalu melayang ke arah barat bangunan besar yang sedikit sepi.
Cempaka Ayu berhenti pada sebuah patung besar, tampak seperti patung seorang pria besar yang gagah dengan tongkat penghancur gunung di tangannya. Sungsang Geni yakin itu adalah guru Suaraya, tapi sebenarnya ada banyak patung seperti itu sebagai simbol pimpinan Lembah Ular dari generasi-kegenerasi. Hanya saja, banyak patung yang telah hancur saat ini.
Cempaka Ayu meraba kaki patung besar, dia menemukan sebuah tombol yang ditekan, kemudian patung besar itu bergeser sedikit. Dari bawah patung besar itu, sekarang terlihat tangga bawah tanah.
“Cepat masuk!” Cempaka Ayu turun ke dalam lebih dahulu.
Mereka berdua tiba di sebuah ruangan gelap, jadi Sungsang Geni menjentikan jarinya untuk membuat obor. Dan ternyata itu adalah ruangan rahasia yang cukup luas, ada banyak buku tersusun rapi di dalam sana.
“Hanya ayah dan Kakang Sabdo yang mengetahui tempat ini!” ucap Cempaka Ayu, “Aku diberi tahu oleh Kakang Sabdo, bahwa ruangan ini akan membawa kita ke dalam penjara rahasia Empu Pelak.”
Sekarang Cempaka Ayu memimpin jalan, mereka keluar dari dalam dinding beton. Menyusuri jalan lorong, dan melewati beberapa ruangan bawah tanah yang lain. Setiap ruangan terlihat menyimpan sesuatu yang berbeda-beda.
Setidaknya Sungsang Geni telah melihat ruangan buku, ruangan harta dan sekarang ruangan senjata. Ada banyak senjata di ruangan yang sekarang dia lewati, pedang, tombak, baju zirah, gadah dan beberapa kapak besar.
Akhirnya mereka tiba pula di ruangan yang paling dalam dan paling pengap, terasa tidak banyak oksigen di dalam ruangan ini. Cempaka ayu kembali mencari sesuatu di dinding tembok, cukup lama akhirnya dia menemukan sesuatu yang bisa ditekan.
__ADS_1
Setelah kunci itu ditekannya, pintu besar dari batu besar bergeser perlahan. Cempaka Ayu masuk kedalam lebih dahulu, suasananya sangat gelap. Tapi setelah sungsang Geni menciptakan api, belasan tungku perapian tiba-tiba menyala di sepanjang jalan.
Setelah menyusuri jalan itu, sekarang mereka menemukan belasan orang sedang berada di dalam penjara dengan rambut kusut dan mata terpejam.
“Sudah 15 hari, tidak ada yang membawakan kami makanan!” Suara serak terdengar menggema dari seorang pria yang dirantai pada besi besar. Setelah diamati ternyata wajahnya terlihat sangat menakutkan. “Dimana Suaraya, apa dia menginginkan kami semua mati kelaparan?”
“Empu Pelak, ma'afkan kami, tapi Mahaguru Suaraya telah tewas.” Ucap Cempaka Ayu.
Empu pelak menarik rantai di tangannya, suara bergemericing terdengar. Wajahnya menjadi merah dengan mata melotot. Pria itu berkali-kali menarik rantai, sambil sekekali bergumam tak karuan.
“Jika kalian mendengarkan ucapanku dua tahun yang lalu, semua ini tidak akan terjadi!” ucap Empu Pelak marah, “Kalian terlalu naif, dengan mudahnya kalian berpikir aku telah membunuh istriku sendiri. Padahal wanita itu...? Benarkan Cempaka Ayu, Ibumu yang melakukan hal ini?”
Cempaka Ayu tertunduk di kaki Empu Pelak, dua tahun dulu dia tidak begitu memahami situasinya. Tapi sekarang, dia mempercayai peringatan yang Empu Pelak katakan.
Sebelum kejadian itu, tepat siang harinya, Empu Pelak tanpa sengaja melihat Nyai Serindit Emas sedang berbicara dengan seseorang di luar pagar beton Perguruan Lembah Ular. Seseorang yang memiliki energi yang maha dahsyat. Nyai Serindit Emas memanggil orang itu, “Prabu Topeng Beracun.”
Tapi tanpa diduga Empu Pelak peringatan mengenai bahayanya Nyai Serindit Emas malah mengundang bencana terhadap keluarganya. Setelah dia diusir oleh Suaraya dari rumahnya, tiba-tiba tubuh Empu Pelak menjadi kejang dan mulai melukai beberapa orang di dekatnya.
Tanpa dia sadari, Nyai Serindit Emas telah meletakkan susuk pada terompa sandal yang dia gunakan. Berbentuk jarum kecil yang jika terpijak, akan segera masuk kedalam daging dan energinya akan segera mempengaruhi pikiran Empu Pelak.
Empu Pelak kembali ke rumahnya dalam keadaan gila, mengambil pedang yang di ciptakannya lalu tragedi itu terjadi. Empu Pelak membunuh istrinya sendiri.
Namun putranya Raka Buana berhasil merebut pedang itu. Antara sadar dan tidak sadar, Empu Pelak memerintahkan Raka Buana untuk membunuhnya, tapi pemuda itu dapat merasakan sumber energi yang bersarang di tubuh ayahnya.
Raka Buana terpaksa menebas pergelangan kaki Empu Pelak. Selanjutnya, pria itu di hukum seumur hidup beserta para pembantunya. Sedangkan Raka Buana menyelamatkan pedang pusaka dari kejaran Nyai Serindit Emas.
__ADS_1
“Paman Pelak!” ucap Sungsang Geni menebas rantai yang melilit seluruh tangan dan kakinya, “Kedatangan kami kesini untuk membebaskan dirimu!”
Empu Pelak memperhatikan Sungsang Geni dengan seksama, dia tidak pernah melihat pemuda itu sebelumnya di Lembah Ular. Dia juga merasakan aura hangat yang memancar dari tubuh pemuda itu, mulai menenangkan pikirannya.
Jika dia pikir kembali, Sosok Sungsang Geni mengingatkan dirinya akan anaknya yang tidak tahu lagi kabar keberadaannya, masih hidup atau sudah di bunuh kelompok Kelelawar Iblis.
“Paman, sekarang kami membutuhkan bantuan dirimu untuk menciptakan senjata untuk mengalahkan Kelelawar Iblis,” ucap Sungsang Geni.
“Aku tidak punya lagi pusaka yang bisa aku berikan padamu. Pedangku telah dibawa putraku. Dan Brahmasta, pusaka itu telah kutenggelamkan ke dalam kawah gunung Merapi. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa menggunakan benda itu.” Empu Pelak berkata pelan, seperti menyesali perbuatannya.
“Aku tidak butuh pedang pusakamu Paman Pelak, aku memiliki pusakaku sendiri.” Ucap Sungsang Geni, “Yang kuharapkan darimu adalah lebih dari sekedar membuat pusaka.”
Cempaka Ayu mulai membebaskan 8 orang yang lain yang masih bertahan hidup, tapi ada lebih 10 orang yang telah meregang nyawa, dengan tubuh kering keronta.
Empu Pelak memperhatikan sesuatu sekarang, dia tadi tidak menyadarinya tapi sekarang mata pria tua itu mulai berbinar-binar melihat pedang watu kencana.
“Anak muda darimana kau mendapatkan pedang ini?” tanya Empu Pelak, telunjuknya mengarah pada pedang yang tersandang di belakang Sungsang Geni, “Boleh aku melihatnya!”
Sungsang Geni menancapkan pedang itu pada lantai beton, Empu Pelak memperhatikan dengan teliti. Sebagai seorang Empu dia lebih mengetahui mengenai benda itu dari pada Sungsang Geni.
“Batu Bintang Kemulung! Ataga baru kali ini aku melihat batu ini. Aku telah mencari batu ini seumur hidupku.” Empu Pelak meraba setiap bagian pedang, “Batu yang penuh misteri, tidak hancur dilebur api, tidak patah dihantam gunung. Bahkan hanya sebesar kuku, kita bisa membuat pusaka tingkat tinggi.”
“Kalau begitu, aku akan menunjukan padamu serpihan dari batu ini di suatu tempat.” Ucap Sungsang Geni, “Serpihan itu akan menjadi milikmu, asalkan kau mau membantu kami membuat senjata, tidak mesti pedang atau tombak, namun tetap bisa di gunakan oleh rakyat biasa sekalipun.”
“Kalau begitu aku setuju, aku punya ide bagus mengenai rencanamu itu!” Empu Pelak terlihat bersemangat.
__ADS_1