PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ramalan Nini Sebalas Tenung


__ADS_3

Sungsang Geni segera melirik ke arah Wulandari, kemudian memberi isyarat untuk pergi meninggalkan ruangan ini selekasnya. Pemuda itu memiliki firasat yang tidak baik, mungkin akan ada hal buruk sesat lagi.


Tidak butuh waktu lama, Wulandari segera menghambur keluar melewati pintu kamar yang telah terbuka lebar. Pada saat yang sama, sekelebat bayangan berniat menghentikan gadis itu tapi Sungsang Geni segera mencegahnya.


Bayangan hitam bermata merah lantas kembali lagi pada dua patung yang sekarang bergetar hebat.


“Ahgh...aghg...” suara aneh menggema di dalam ruangan, Sungsang Geni merasakan tengkuknya terasa dingin, bulu-bulu roman berdiri.


Nini Seblas Tenung melayang satu depa dari lantai, nyaris saja kepalanya menyentuh langit-langit. Rambut panjangnya mekar, kemudian dua taring panjang keluar dari gigi-gigi merah hitam di balik bibir keriput.


Beberapa menit kemudian, wanita tua itu berteriak histeris, memekakkan telinga Sungsang Geni yang begitu sensitif. Anehnya suara itu hanya ada di dalam ruangan tersebut, tidak terdengar di ruangan sebelahnya.


Wanita itu menggeram hebat, menatap Sungsang Geni dengan kebencian. Tapi beberapa menit kemudian, dia menyipitkan mata melayang mundur.


“Siapa kau anak manusia, kenapa tubuhmu terasa panas luar biasa?” Suara geram keluar dari mulut keriput Nini Sebalas Tenung, tapi suara itu bukan lagi miliki wanita tua itu, lebih parau dan terdengar seperti suara seorang pria besar.


“AH?” Sungsang Geni menggaruk kepalanya beberapa kali, kemudian tersenyum sinis, “Siapa aku? Tidak perlu kau tahu siapa namaku, sekarang apa kau mau bertarung atau tidak?”


Nini Sebalas Tenung yang saat ini sedang kerasukan setan berpikir sejenak, kemudian dia menyeringai memberi sebuah gertakan tapi Sungsang Geni sama sekali tidak merasa takut.


“Jika kau pikir bisa mengalahkan aku dengan memasuki raga manusia, kau salah besar iblis terkutuk.” Sungsang Geni mengeluarkan aura api membuat wanita itu kembali menyeringai penuh ketakutan, kuku-kuku hitam yang tajam mencoba menutupi matanya kemudian sekali lagi dia berteriak.


“Aku merasa seperti berada didalam bara api, apa yang kau inginkan dariku? Kenapa kau datang mengusik anak manusia, padahal kita tidak memiliki satu permusuhan?”

__ADS_1


“Aku hanya mengambil ini!” Sungsang Geni menyodorkan botol kecil yang telah berhasil dia rebut dari telapak tangan Nini Sebalas Tenung. “Tiba-tiba wanita itu, memanggil dirimu, mungkin saja meminta pertolongan agar kau bisa membunuhku. Sekarang aku tanya sekali lagi, apa kau akan melawanku?”


Bersegeralah wanita tua yang di dalamnya terdapat bangsa lelembut, bersujud di kaki Sungsang Geni. “Aku tidak berani, kau memiliki kesaktian luar biasa, kau memiliki ajian ciung wanara membuat bangsa lelembut tunduk kepadamu, lelembut seperti diriku tidak akan sanggup berhadapan dengan dirimu, mohon ampuni aku...”


Sungsang Geni tertawa cekikikan, dia menggelengkan kepala beberapa kali. Meski sebenarnya dia tadi merasa khawatir akan hal buruk yang terjadi, tapi rupanya dugaan pemuda itu salah.


Dan lagi, sepertinya mahluk yang bersemayam di dalam tubuh Nini Sebelas Tenung bukan berasal dari bangsa lelembut yang memiliki kesaktian seperti Pramudhita atau Siluman Naga di pesisir pantai. Belum pula di baca mantra Ciung Wanara, mahluk itu sudah takluk lebih dahulu.


Sumpah serapah terdengar dari dalam mulut Nini Sebalas Tenung, tapi sumpah itu bukan tertuju pada Sungsang Geni lebih tepatnya tertuju pada wanita tua itu sendiri.


“Sekarang apakah aku boleh pamit?” Nini Sebalas Tenung bertanya.


“Siapa yang telah mengundang dirimu? Tentu saja kau boleh pergi sebelum sesuatu buruk kulakukan padamu.” Sungsang Geni tersenyum sinis. “Kau tidak mau pergi...?”


“Tentu saja aku akan segera pergi?” dia menimpali.


Sontak saja wanita tua itu menjadi terkejut, dia segera mundur cukup jauh hingga tubuhnya menyadung meja yang dipenuhi dengan sesaji dan bejana perunggu dengan bunga tujuh rupa.


Bejana tumpah ruah bersama dengan bunga-bunga, kemudian dia jatuh berjungkir balik di bawah kolong meja yang tingginya mungkin hanya dua jengkal.


“Kenapa...kenapa kau masih baik-baik saja?” Wanita itu menunjuk-nunjuk Sungsang Geni dari bawah kolong meja berhamburan. “Kenapa kau masih hidup, Kalong Ijo! Kalong Ijo? Apa kau tidak datang?”


“Oh, jadi dedemit itu bernama Kolong Ijo?” Sungsang Geni berjalan mendekati wanita tua itu, kemudian mengeluarkan sebilah pedang dan memotong meja menjadi dua bagian, perbuatan Sungsang Geni bahkan memutuskan tusuk konde emas yang terselip di gelungan rambut wanita itu. “Jika mahluk itu yang kau katakan, dia sudah lari terbirit-birit.”

__ADS_1


Bertambah pucat wajah Nini Sebalas Tenung mendengar ucapan Sungsang Geni. Mulutnya komat-kamit, mungkin sedang membaca mantra tapi tidak ada sesuatu yang datang. Hal ini membuat dia semakin khawatir saja.


“Jangan bunuh...jangan bunuh...” Wanita itu terseok-seok menghindari pemuda itu, tapi kemudian dia membuka mata lebar-lebar sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sungsang Geni. “Aku melihat kau, aku melihat kau berlumuran darah, tapi aku juga melihat kau mati.”


Sungsang Geni menaikkan alisnya.


“Ya...aku melihat kau mati, mereka tidak akan membiarkan dirimu. Mereka....” Nini Sebalas Tenung menutup matanya dengan dua telapak tangan. “Kabut hitam pekat, mereka penguasa malam dan kegelapan, akan menyelimuti tubuhmu dengan siksaan.”


Sungsang Geni segera menghilangkan pedang energi di tangannya, kemudian duduk berjongkok di hadapan wanita tua itu. Terlihat tidak ada kebohongan di otak Nini Sebalas Tenung.


“Dibanding dengan 'mereka' apakah aku sangat menakutkan bagimu?” Sungsang Geni bertanya.


“Ya, kau memang menakutkan tapi 'mereka' lebih menakutkan lagi.” Nini Sebelas Tenung lantas tersungkur di tanah. “Celaka, celaka...” dia meracu tidak karuan. “Aku bisa melihat hamparan mayat, aku bisa melihat di matamu.”


Sungsang Geni mendesah berat, dari yang didengarnya dari Wulandari wanita tua ini adalah peramal ulung. Dia bisa melihat masa depan seseorang hanya dengan menatap matanya saja. Mungkinkah masa depan Sungsang Geni begitu buruknya? Ya tentu saja, Sungsang Geni bahkan telah menyadari hal itu.


Dia kembali teringat mimpi masa kecilnya ketika kabut hitam mencekik tubuhnya, entah kenapa ingatan mengenai hal itu membuat pemuda itu merasa sedih.


“Wanita tua, kau bisa melihat banyak nasip di masa depan. Tapi aku tidak peduli dengan hal itu, aku mati atau tidak itu bukan sebuah masalah. “Sungsang Geni kemudian membalikkan badan. “Bahkan jika semua ramalanmu adalah benar, aku tidak akan mundur satu jengkalpun untuk melawan Kelelawar Iblis.”


Mendengar hal itu, bergoncang seluruh tubuh Nini Sebalas Tenung. Wanita tua itu segera berdiri seolah tiada merasa ketakutan lagi, kemudian dia mengambil satu botol lagi dari balik bajunya yang lusuh.


“Kau memiliki hati yang kuat, itu adalah kekuatan dirimu sebenarnya.” Berkata wanita itu. “Botol yang ada ditangan kananmu adalah racun, ini ambilah penawar racun yang asli.”

__ADS_1


Sungsang Geni memperhatikan botol di tangannya beberapa kali, kemudian memperhatikan botol kecil yang ada ditangan Nini Sebalas Tenung, lantas pemuda itu menyipitkan mata memandangi wanita tua itu. Tidak ada kebohongan di kepalanya.


“Aku ingin melihat pertarungan besar di depan mata beberapa saat lagi.” Nini Sebelas Tenung berkata lagi. “Ku harap aku masih hidup untuk menyaksikannya.”


__ADS_2