
8 jam sebelum Asura berada di hadapan Sungsang Geni.
Di Istana Laut Dalam, ketika pasukan Nogo Sosro baru saja kembali dari pertarungan. Tempat itu sudah berantakan, ada banyak mayat bergelempangan di dalam Istana. Panglima Ireng terluka parah di depan teras Istana, tapi bersyukur tidak mengancam keselamatannya.
Sementara itu, di dalam Istana lebih mengerikan dari teras luarnya. Ratusan prajurit yang bertugas berjaga sudah mati dengan kulit membusuk bak terkena racun ganas yang mengerikan.
“Apa yang kau lakukan?” Nada suara Nogo Sosro menjadi keras setelah melihat satu sosok pria berada tepat di dalam kamar Cempaka Ayu. Di sudut ruangan, Wulandari terseok jatuh tidak sadarkan diri. Nogo Sosro belum tahu pasti apakah gadis itu sudah tewas atau masih bernyawa.
Namun satu hal yang paling jelas terlihat adalah, pria itu mengangkat leher Cempaka Ayu dan meletakan sebuah benda tepat di tengah keningnya. Ya, itu adalah Asura.
“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”Nogo Sosro menyerang Asura, tapi dia malah terkena serangan balik. Dengan kondisi tubuh yang belum pulih karena baru saja bertempur di alam manusia, Nogo Sosro jelas bukan lawan Asura.
Asura menghempaskan tubuh Cempaka Ayu ke lantai, setelah susuk hitam ditangannya memancarkan aura dingin dan warna ke unguan.
“Menemukan tempat ini? itu bukan hal yang sulit.” Asura terkekeh kecil kemudian menyerang semua orang termasuk empat anak Nogo Sosro. Tidak butuh usaha keras, empat orang itu kalah hanya dengan sentuhan jari telunjuknya. Bahkan untuk melindungi Sancani, Nogo Sosro harus rela kehilangan tangan kanannya.
Seperti yang dijelaskan dahulu, Asura memiliki kemampuan paling mengerikan dari 6 komandan yang lain. Pembusukan. Ya, dia bisa membusukan semua mahluk hidup dengan hanya sentuhan jari telunjuknya.
Setelah puas menghancurkan sebagian besar prajurit di tempat itu, Asura menerobos gelembung air dan pergi seperti ikan. Kekuatan pria itu tampakanya mampu menahan tekanan dasar laut yang dalam.
Dengan rintihan kecil, Nagini segera menghampiri Cempaka Ayu yang tergeletak penuh dengan luka. Tubuh gadis itu sedingin es, seperti sudah kehabisan darah dari dalam tubuhnya.
“Apa...apakah dia masih hidup?” tanya Nagini, dengan susah payah gadis itu mendekati Wulandari. “Wulandari tampaknya masih hidup, hanya saja dia terluka parah.”
“Cempaka Ayu tidak kalah parah, aku khawatir dia akan...”
__ADS_1
“Cepat bawa mereka berdua ke pembaringan.” Nogo Sosro berusaha mengatur nafasnya, jelas naga tua itu mengalami kesakitan yang teramat sangat, bagaimana tidak sekarang lengan kanannya sudah hancur karena serangan Asura tadi. Bahkan seperti tidak berdarah, tangan itu membusuk dan hilang begitu saja dari tubuh Nogo Sosro.
“Bagaimana dengan Ayahanda?” salah satu anaknya bergegas membantu Nogo Sosro. “ Aku akan membalasnya, aku akan...”
“Hentikan!” ucap Nogo Sosro. “Kita bukan tandingannya, setidaknya untuk saat ini. Cepat pergi cari Eyangmu! barangkali dia juga terluka parah saat ini. Dan segera beri tahu Pramudhita di Padepokan Pedang Bayangan, pinta dia membawa semua obat mujarab, Nyawa Cempaka Ayu dan Wulandari harus sgera di selamatkan.”
***
Empat jam kemudian, Tabib Nurmanik datang dengan banyak muridnya. Membawa apapun obat-obat yang ada di Padepokan Pedang Bayangan.
Dengan buru-buru, wanita itu memperhatikan kondisi Cempaka Ayu terlebih dahulu. Gadis itu tampakanya yang paling parah diantara yang lainnya. Sementara Wulandari mengalami luka dalam yang cukup mengkhawatirkan, beruntung dia tidak terkena jurus pembusukan Asura.
“Mungkin ini adalah ke ajaiban, tapi tampaknya Cempaka Ayu bisa kita selamatkan.” Tabib Nurmanik menarik nafas lega setelah berhasil menyalurkan tenaga dalamnya. “Tapi Dewi Bulan sudah hilang dari tubuhnya, pria yang kalian maksud bukan Topeng Beracun? Bagaimana dia bisa menyerap Dewi Bulan?”
“Jadi begitu, rupanya selain Topeng Beracun, ada sebuah benda yang bisa menarik keluar kekuatan Dewi Bulan? Kabar baiknya, Cempaka Ayu selamat karena yang menyerap dewi bulan bukan Topeng Beracun, itu satu-satunya alasan yang masuk akal saat ini kenapa gadis ini masih bernyawa.”
“Kabar buruknya?” tanya Nagini.
“Kabar Buruknya, mungkin pria itu adalah utusan Topeng Beracun.”
“Dewi Bulan akan utuh didapatkan oleh iblis itu?” Nogo Sosro meremas kepalanya yang terasa sakit. Hal buruk akan terjadi, kesempatan mengalahkan Kegelapan semakin berkurang. Dengan Dewi Bulan seutuhnya, Topeng Beracun akan mendapatkan 100 bagian kegelapan, dan itu benar-benar mengerikan. “Kegelapannya akan sempurna, kegelapan mahluk itu akan menjamah semua alam manusia, bahkan alam lelembut sekalipun.”
***
Sekarang di tempat pertarungan.
__ADS_1
Asura meletakkan susuk itu di tengah perutnya, memasukan benda itu seperti memasukan batu kedalam air, terlihat begitu mudah. Sekali lagi pria itu terpekik keras, kemudian aura hitam keluar lebih pekat, lebih berat dan lebih hitam. Untuk sesaat, tubuh Asura diselimuti oleh kepompong hitam.
Sungsang Geni melirik ke arah Ki Alam Sakti dan dua orang yang lain. “Guru, dan semuanya. Aku ingin kalian pergi dari sini, pergilah ke timur disana kalian akan menemukan gerbang kegelapan. Jika dugaanku tidak salah, dari gerbang itu akan muncul banyak mahluk kegelapan, jangan biarkan hal itu terjadi. Atau dunia benar-benar jatuh dalam cengkraman mereka.”
Ki Lodoro Sukmo berpikir sejenak, terdengar ucapan Sungsang Geni seperti bualan belaka. Namun dia juga sepenuhnya menyadari tidak ada bualan saat ini. Melihat mahluk seperti Asura saat ini, membuktikan bahwa sesuatau yang tidak mungkin terjadi telah terjadi tepat di depan matanya.
Sementara itu, Lakuning Banyu kembali dirasuki oleh keris Panca Dewa. “Itu bukan duggan lagi, ada lebih seratus mahluk kegelapan berukuran kerdil keluar dari gerbang tersebut.” Ruh Panca Dewa menatap jauh ke timur, terliat dia bisa merasakan kehadiran mahluk lain di bumi ini.
“Cepatlah!” ucap Sungsang Geni. “Apapun yang terjadi, kalian harus menghancurkan gerbang itu.”
“Bagiamana dengan dirimu?” KI Alam Sakti menyadari bahwa kekuatan Sungsang Geni belum kembali sepenuhnya.
“Aku akan baik-baik saja, tapi mungkin akan sedikit lebih nekat dari sebelumnya. Ada magma diatas gunung, aku akan menyerap semua energi panas saat ini.”
“Itu bahaya, bagaimana jika tidak berhasil.” Ki Lodoro Sukmo berkata dengan wajah panik.
“Kita tidak bisa membiarkan rasa takut menyelimut hati.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Apapun yang terjadi, kita harus mengalahkan kegelapan untuk selamanya, bahkan jika harus mengorbankan raga dan nyawa.”
“Kami mengerti,” Lakuning Banyu menggengam satu belati kecil di telapak tangannya, kemudian menarik belati itu hingga darahnya menetes ke tanah. “Bahkan sampai darah ini habis, aku akan tetap berjuang.”
***
**Ok teman-teman, untuk saat ini Novel PDM mungkin akan sedikit terlambat rilis. Barangkali hingga 5 hari kedepan, Author belum bisa melanjutkan updatenya. Harp maklum, karena ada banyak kerja yang harus di selesaikan di dunia nyata. Bagi yang belum pernah baca karya Author yang berjudul Yoga Kelana, ada baiknya kalian baca dan beri dukungan selagi menunggu PDM rilis.
Selamat Menunaikan Ibadah Hari Raya id adha, bagi teman teman muslim**
__ADS_1