
Semua orang mulai berjalan perlahan mengikuti Brewok Hitam yang memimpin barisan panjang tersebut. Dari tempat ini, butuh waktu sekitar 2 minggu hingga tiba di titik pengungsian.
Brewok Hitam sebenarnya ingin tetap tinggal bersama Sungsang Geni. Jikapun harus mati, dia lebih baik mati ketika sedang berperang, tapi Sungsang Geni mengatakan bahwa rakyat saat ini lebih penting dari segalanya.
Di sisi lain Siko Danur Jaya tersenyum kecil, perkataan Sungsang Geni selalu saja membuat seluruh tubuhnya merinding. “Dia tidak berubah, dia bisa memimpin semua orang sama seperti ketika dia memimpin pasukan Lembah Ular satu tahun yang lalu.”
Sekarang pasukan musuh mungkin akan tiba 15 menit lagi, atau mungkin 10 menit lagi. Perlengkapan mereka sangat baik, jadi mungkin mereka akan tiba lebih cepat dari perkiraan semua orang.
Siko Danur Jaya mengumpulkan seluruh pasukannya. Wajah-wajah mereka terlihat sangat tegang, beberapa memang sudah pernah terjun dalam peperangan dan berhasil selamat, jadi mereka sudah paham sekuat apa lawan yang akan dihadapi.
“Aku ingin tim pemanah berada di atas sana!” Sungsang Geni berkata, menunjuk pada 4 menara pengintai. “Mereka juga harus memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup baik, karena menara pengintai adalah sasaran utama para musuh.”
Maksud Sungsang Geni adalah, jika musuh tiba-tiba menyerang menara pengintai maka mereka bisa pergi dari sana dengan ilmu meringankan tubuh.
“Tidak perlu takut, kita masih diuntungkan karena medan pertempuran berada di tengah lahan gambut.”
Benar, satu-satunya permukaan yang bisa dipijaki adalah tempat mereka saat ini, atau jalan setapak yang akan dilewati pasukan kelelawar iblis.
Satu-satunya kendala adalah, jika saja ada pihak dari musuh yang memiliki teknik meringankan tubuh, maka mungkin bisa mengacukan rencana.
Sungsang Geni meminta setiap prajurit yang belum pernah bertarung menggunakan tombak yang panjang. Bahkan rakyat biasa bisa membunuh prajurit dengan sebilah tombak.
Pungsi dari tombak bukan terletak pada jangkauannya, tapi dengan tombak semua orang menjadi cukup berani melawan. Ya, Sungsang Geni bisa melihat beberapa orang adalah prajurit baru yang bahkan mungkin belum pernah membunuh lawan.
Siko Danur Jaya berniat mengangkat kembali jembatan, tapi Sungsang Geni melarangnya. Jembatan adalah umpan yang bagus, menurut Sungsang Geni lebih baik mengorbankan satu jembatan untuk membunuh 100 orang.
“Ranjau yang kalian pasang di dalam air tidak akan berhasil, mereka pasti menyadari hal itu.” Sungsang Geni memberi alasan, “Tapi jika tulang jembatan ini kita patahkan, maka semua orang yang melewatinya akan jatuh dan ranjau yang kalian ciptakan akan berhasil.”
__ADS_1
'Orang ini! Dia menjadikan apapun sebagai senjatanya.' Beberapa orang bergumam di dalam hati.
Dengan kekuatan yang dimiliki Sungsang Geni, tentu saja pemuda itu bisa mengalahkan mungkin 80% dari pasukan mereka dan sisanya akan di kalahkan oleh pasukan Siko Danur Jaya. Namun itu tentu saja bukanlah cara mereka berperang berperang.
Sekali melakukan perang, maka tidak ada cara untuk kembali, lagi pula tidak ada perang yang bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari. Jadi siapapun orang yang memimpin sebuah pasukan, menghemat tenaga adalah keputusan paling bijak.
“Ingatlah kalian semua, satu perang hanya akan menyeret perang yang lain. Perang ini adalah awalan, jadi pastikan kalian tetap hidup untuk perang selanjutnya.” Sungsang Geni kemudian berjalan perlahan menghadap barisan pasukan musuh yang tinggal beberapa ratus meter lagi. “Dengan berjalan berbaris dan terang-terangan.... mereka terlalu meremehkan kita.”
Sungsang Geni telah menginstruksikan tugas masing-masing orang. Dia melayang sesaat dan menghadang tepat di sebrang jembatan sambil melepaskan sebilah tombak di depannya. Ini adalah taktik menyerah bertujuan membuat musuh menjadi lengah.
Setelah beberapa menit berlalu, kemudian beberapa menit lagi pasukan itu telah tiba tepat di depan Sungsang Geni. Jaraknya mungkin hanya 10 langkah lagi.
Sungsang Geni bisa merasakan bahwa musuhnya tidak memiliki aura kegelapan, itu artinya mereka semua adalah sekutu Kelelawar Iblis.
Hanya saja dia bisa merasakan satu orang berada di tengah barisan memiliki energi gelap yang sangat pekat. Tentu dia adalah pimpinannya.
“Apa kau tuli?”
“Kau pasti mencari mati, atau mungkin kau menyerahkan diri sebagai tawanan?” yang lainnya mulai menghardik.
Hingga tiba-tiba seorang diantara mereka mendekat dengan seekor kuda yang sangat tinggi. Dia adalah pimpinan dari pasukan besar ini, atau mungkin wakil dari pimpinan. Pria itu menggunakan perlengkapan perang yang sangat baik, dengan pelindung kepala yang hanya menunjukkan matanya saja.
“Bunuh orang ini, dia telah membuang waktu...”
“Apakah kau pemimpin dari pasukan ini?” tanya Sungsang Geni. “Jika benar, aku memiliki sebuah tawaran bagus untukmu.”
Dari balik pelindung kepala, pria itu tertawa terbahak-bahak. “Apa yang bisa kau tawarkan kepadaku? Bahkan nyawamu sama sekali tidak berharga.”
__ADS_1
“Aku menawarkan sebuah pedang, untuk memenggal kepalamu.” Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni bergerak sangat cepat, dan berhasil menanggalkan satu kepala pimpinannya.
Para prajurit tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut sekaligus khawatir, melihat pimpinan mereka mati dengan sangat mudah. Seketika, mereka menoleh kearah Sungsang Geni tapi pemuda itu berlari melewati jembatan.
“Kurang ajar!” mereka berteriak. “Serang tempat ini hingga rata dengan tanah.”
Teriakan mereka menggema, satu persatu dari mereka mulai mengejar Sungsang Geni. Ketika mereka mulai melewati jembatan, deritan kayu retak mulai terdengar, tapi mereka sudah sangat marah tanpa sempat berpikir lebih jauh lagi.
Sungsang Geni tersenyum kecil ketika hampir 50 orang menaiki jembatan itu. Kemudian beberapa orang dari Serikat Pendekar memutuskan tali tambang jembatan, sementara Sungsang Geni menghentakkan kaki dengan keras.
“Celaka, jembatan ini akan runtuh!” mereka berteriak, berniat kembali tapi sayangnya jembatan langsung runtuh, dan ratusan bambu runcing yang tertanam di dasar parit menyambut tubuh-tubuh mereka.
“Gawat, mereka semua sudah merencanakan ini!” teriak salah satu dari musuh.
Dan pada saat yang sama, ketika mental mereka sudah hancur belasan panah dengan bubuk setan meledakkan barisan itu dengan mudah.
"Jalan setapak adalah medan yang menguntungkan," ucap Sungsang Geni.
Dan itu benar adanya, mereka tidak bisa leluasa menghindari serangan yang datang karena tidak memiliki ruang gerak yang luas.
Sekarang tanpa pemimpin mereka seperti ular tanpa kepala. Sungsang Geni tersenyum sinis, melihat pasukan besar itu mulai kehilangan akal.
Siko Danur Jaya menelan beberapa kali ludahnya, beberapa saat tadi Sungsang Geni mengatakan sesuatu yang masih terngiang di benaknya. “Apa kau ingat? Jika kau bisa menguasai mental mereka, maka kau bisa mengalahkan musuh dengan mudah.”
Hanya saja Siko Danur Jaya baru tahu, bahwa untuk menjatuhkan mental musuh salah satunya dengan memenggal kepala pemimpinnya. Mereka akan kehilangan arah, yang takut akan mundur sedangkan yang berani bertindak tanpa pikir panjang.
“Tapi tidak aku duga, dia bisa memenggal kepala pemimpinnya semudah itu.” Siko Danur Jaya berkata.
__ADS_1
“Itu karena mereka meremehkan kita.” Sungsang Geni tiba-tiba telah berada di dekat pemuda itu. “Sebab merasa hebat, pemimpin pasukan itu menurunkan kewaspadaan terhadapku, dan itulah kesalahannya.”