
Jauh di tengah sungai, sebuah kapal megah mengambang. Warkudara dengan menggunakan sampan kecil terlihat sedang menuju kapal itu, dia ditemani oleh dua orang yang mengenakan pakaian serba putih. Sungsang Geni yakin, mereka adalah prajurit Tombok Tebing.
‘Jadi mereka telah merencanakan ini dengan matang, tujuan mereka sebenarnya menguasai keris panca dewa, kemudian mencoba mengkudeta.’ Rencana yang picik, pikir Sungsang Geni.
Sungsang Geni mulai menebas, menyapu musuhnya tanpa kesuliatan. Beberapa orang yang memiliki aura membunuh yang pekat, terpaksa tewas ditangannya, tapi beberapa yang aura membunuhnya tidak ketara, Sungsang Geni hanya melumpuhkan kemampuan bertarungnya saja.
Pemuda matahari itu bagai kuda hitam yang melaju tanpa halangan, tujuannya sudah nampak, yaitu melumpuhkan sebanyak mungkin prajurit Tombok Tebing seraya mendekati pertarungan Karang Dalo.
“Siapa orang itu?” prajurit Tombok Tebing menjadi panik, sebelumnya mereka merasa diatas angin, bukan hanya jumlah mereka lebih banyak, kekuatan mereka juga lebih besar dari prajurit Surasena yang tersisah.
“Menjauh darinya!”
Sungsang Geni masih menebaskan pedangnnya, beberapa terlihat tewas tertusuk, sedangkan yang lainnya dibiarkan hidup.
Dalam sekejap, pasukan yang dipimpin oleh Karang Dalo berkurang setengah, kekuatannya.
Teriakan-teriakan mereka menggema, memekakan telinga. Rakyat yang berada disana, hanya tinggal pasrah, merelakan bangunan mereka jadi medan pertempuran yang besar.
Beberapa rumah hancur, atap-atap yang berterbangan, serta api yang berkobar. Sungsang Geni menyesalkan pertempuran ini, berada di kediaman para penduduk.
Dilain sisi, Warkudara yang sebentar lagi merapatkan perahu sampannya pada kapal besar di tengah Sungai, menjadi panik.
Sampan itu telah berlobang dibanyak sisi, oleh pedang yang terbang tanpa tuan. Pedang hitam yang pendek, kemudian menyerang bagian lambung kapal membuat air terpaksa memasuki setiap rongga yang ada dikapal itu.
“Itu adalah Mahapati Darma Guru!” Warkudara menjelit menatap seseorang yang mengambang di atas air sambil memainkan jari jemari mengendalikan pedang hitamnya dari kejauhan.
“Sial, kita tidak akan sempat ketempat Ayahanda!” ratap Warkudara, setelah pedang itu meluncur kearahnya.
Pedang hitam Darma Guru tiba-tiba terpental sesaat sebelum memotong leher Warkudara. Seseorang telah menangkis pedang itu. Raja Puntura, raja dari Kerajaan Tombok Tebing, ayah dari Warkudara.
__ADS_1
“Ayahanda, terima kasih!” ucap Warkudara dengan mata masih terjelit, kemudian dia menyerahkan sesuatu yang dibalut kain putih, “Ini adalah keris pusaka panca dewa!”
“Kerja yang bagus putraku,” jawab Puntura, riang.
Setelah Puntura mencabut keris panca dewa, tiba-tiba suasana di pelabuhan mendadak hening beberapa saat, kemudian disusul hembusan angin dingin yang kencang. Ada aura dingin yang luar biasa besar keluar dari keris itu, membuat air beriak tak karuan.
“Hahaha....” Puntura tertawa kegirangan ditengah sungai, sampai lupa bahwa sampan yang dinaiki putranya telah tenggelam, “Kekuatan yang luar biasa, dengan keris ini, aku bisa menaklukan Surasena!”
“Ayahanda!bi..bisakah kau menyelamatkan aku?” ucap Warkudara lirih.
Puntura mengernyitkan keningnya, kemudian menoleh pada sampan di dekatnya, tapi sampan itu tidak ada lagi di tempatnya, kecuali menyisahkan sepuluh jari-jemari bergerak- gerak di permukaan air. Jari-jemari itu setiap detiknya semakin tenggelam.
“Warkudara!” pekik Puntura, bergegas meraih sepuluh jari itu. Mengakat Warkudara yang hampir saja tenggelam. “Anakku, kau baik-baik saja? maafkan aku yang tidak sadar akan kondisimu.”
Warkudara terbatuk-batuk, memuntahkan air yang mengisi rongga mulutnya, “aku baik-baik saja Ayahanda.”
***
Pancur Lara yang terpaku melihat Sungsang Geni tidak dapat memikirkan satu katapun kecuali, Mengerikan. Selama karirnya di Surasena menjadi Senopati, belum ada yang memecahkan rekor pembantaian terbanyak Darma Guru, tapi Sungsang Geni nampaknya akan melampaui kakek itu.
Beberapa prajurit Surasena yang melihat tindakan Sungsang Geni, menjadi bersemangat setelah sebelumnya tersudut pasukan Karang Dalo.
“Ikuti pemuda itu!” mereka berteriak, kemudian mengiringi Sungsang Geni di belakang.
Pancur Lara tidak melarang pilihan prajuritnya, mengikuti Sungsang Geni nampaknya pilihan yang paling baik saat ini. Tapi dia tidak melakukan seperti apa yang prajuritnya lakukan, mengikuti Sungsang Geni. Tugas Pancur Lara adalah menghabisi prajurit Surasena yang telah berkhianat.
“Maafkan saya Senopati, Pancur Lara! Kami terpaksa melakukannya, Karang Dalo mengatakan Surasena tidak akan bertahan lama setelah kehilangan Raja Cakra Mandala, beserta keris panca dewa. Sedangkan Karang Dalo menjanjikan kehiduapan kepada kami, setelah kehancuran Surasena itu terjadi.” Nampak seorang prajurit berkata ketakutan, setelah pedang Pancur Lara berada di lehernya.
“Baiklah aku mema’afkan dirimu!” ucap Pancur Lara, “Tapi...”
__ADS_1
“Tapi apa Senopati?”
“Kau juga harus meminta maaf kedapa Yang Mulia Raja Cakra Mandala, di alam baka.” Setelah berkata demikian Pancur Lara tersenyum bengis, kemudian memotong leher prajurit itu. “Berikan Salamku kepada dewa kematian.”
Pancur Lara, segera menghabisi prajurit penghianat sebanyak mungkin, tanpa ampun. Baginya tidak ada kata maaf, untuk orang yang berkhianat, mereka akan melakukan hal yang sama jika suatau saat nanti berada pada kondisi ini kembali.
Setelah beberapa saat, akhirnya Pancur Lara menemukan pengkhianat yang seimbang. Sang Algojo. Pria kekar itu, sedang mengyunkan gadahya, memukul prajurit Surasena sambil tertawa.
“Kalian bukan lawanku, kalian hanya prajurit ingusan!” ucap Sang Algojo selalu mengulaing kalimat itu, setiap kali gadahnya meremukan tengkorak musuhnya.
“Kulihat kau sangat bergembira membunuh teman-temanmu sendiri!” ucap Pancur Lara.
Sang Algojo berhenti mengayunkan gadahnya, melirik kearah Pancur Lara yang menatapnya dengan tajam.
“Senopati Pancur Lara!” ucap Sang Algojo, “Kegembiraanku akan bertambah jika bisa membunuhmu, tapi aku akan mengampuni nyawamu jika kau mengizinkan aku mencicipi tubuhmu.”
“Bahkan didalam mimpi sekalipun, kau tidak akan sanggup membunuhku.” Pancur Lara segera menyerang Sang Algojo lebih dahulu.
Pedang dan gadah beradu, membuat gelombang kejut yang cukup besar, dan juga suara, ‘Ting’.
Mereka telah bertukar ratusan gerakan, serta belasan jurus mematikan, tapi Pancur Lara dan Sang Algojo masih terlihat baik-baik saja. Sekekali Pancur Lara dipaksa berada pada posisi bertahan, tapi tak jarang Sang Algojo harus berusaha keras menghadapi ilmu pedang Pancur Lara.
Beberapa menit kemudian, Pancur Lara berhasil memberikan luka sayatan di lengan Sang Algojo. Kemudian beberapa menit lagi, Senopati itu berhasil melumpuhkan kaki pria kekar itu, membuat Sang Algojo tersungkur ketanah.
Dengan bantuan gadahnya dia berusaha untuk berdiri tapi usahanya gagal.
“Sia-sia saja, kakimu tidak akan mampu menopang tubuh besarmu itu?” ucap Pancur Lara, ujung mata pedangnya terletak di pangkal leher Sang Algojo.
Sang Algojo meringis kesakitan, tapi tatapannya masih tajam. Dia tersenyum kecil, sebelum kembali mengayunkan gadahnya dengan sekuat tenaganya.
__ADS_1
Pancur Lara yang seketika mendapat serangan itu, sontak menusukan pedangnya. Membuat Sang Algojo, meregang nyawa dengan mata julingnya yang masih terjelit.