
Rupanya tindakan kecil yang dilakukan Ki Alam Sakti barusan telah membuka sudut pandang Bangau Putih. Atau mungkin juga memecahkan keras hati yang merasa paling angkuh dan sombong.
Jika perang ini selesai, entah kapan waktunya, dan jika dia diberi kekuatan untuk melewati perang ini, Bangau Putih berniat menjalin hubungan dengan Ki Alam Sakti. Ya, sesama orang tua mereka sebaiknya akur dan menjadi penasehat bagi yang muda.
Selama ini Bangau Putih terlalu sombong, menganggap dirinya terlalu kuat. Merendahkan perguruan Lembah Ular, Sabdo Jagat terkhususnya. Bahkan orang tua itu, dalam beberapa kali berniat melawan Sungsang Geni selaku murid Ki Alam Sakti.
Di sisi lain, pertarungan yang terjadi antara Sabdo Jagat menghadapi musuh-musuhnya semakin sengit. Pemimpin Perguruan Lembah Ular kini menunjukkan level berbeda dari sebelumnya.
Sudah seharusnya, Sabdo Jagat adalah petinggi terkuat dari Perguruan Lembah Ular. Selama ini Perguruan Lembah Ular dipandang rendah, dan mendapat perlakuan berbeda jika dibandingkan Perguruan lain.
Lelaki itu sudah mulai terbiasa dengan Tongkat Pusaka di tangannya. Selama ini dia sudah berlatih keras secara diam-diam untuk menguasai Tongkat Penghancur Gunung. Dan hasilnya cukup memuaskan, mungkin saat ini dia tidak terpaut jauh jika harus bertarung satu lawan satu menghadapi Ki Lodro Sukmo.
Di kiri kanan Sabdo Jagat ada dua orang yang selalu setia mengikuti segala keputusannya. Siapa lagi jika bukan Jelatang Biru dan Tiraka. Biasanya ada Sesepuh Gentar Bumi yang membuka pertarungan, tapi pria itu sekarang bejibun bersama dengan Wira Mangkubumi di sisi berbeda.
“Pengunci Raga!” Guru Tiraka mengeluarkan jurus dimana semua orang akan mematung beberapa saat begitu bersentuhan dengan kulitnya. Jurus tidak berbahaya tapi sangat merepotkan.
Pada saat seperti ini, Sabdo Jagat memukulkan tongkat Penghancur Gunung dan tamatlah riwayat mereka semua, dengan tubuh remuk bak ditindih pohon besar.
Namun Jelatang Biru tidak kalah mengerikan, jarum-jarum kecil miliknya mungkin tidak membunuh lebih cepat dari senjata tajam jenis lainnya. Namun barang siapa yang tergores jarum beracun itu, dapat dipastikan hanya hitungan menit saja akan mati mengenaskan.
Mula-mula akan terasa sakit teramat sangat di bagian yang terkena jarum beracun, beberapa detik kemudian racun itu membuat seluruh sendi menjadi lumpuh. Lalu panca indra mulai hilang fungsinya.
__ADS_1
Lima menit setelah itu, akan keluar darah kental dari mulut mereka bersama dengan buih putih yang menebar bau racun yang menyengat. Jelatang Biru seakan pencipta 'kesakitan' paling mengerikan sebelum musuh menemui kematian.
Jikalah musuh bisa memilih antara mati terpenggal leher, atau mati karena terkena Racun Jelatang Biru, pastilah mereka memilih mati dengan terpenggal.
Tiga sesepuh Perguruan Lembah Ular itu bertarung lebih agresif dari Sesepuh perguruan lainnya, mereka juga membunuh lawan lebih banyak dan terlihat yang memiliki level diatas rata-rata.
3 orang itu menyadari satu hal, dari pertarungan mereka di Lembah Ular bersama dengan Sungsang Geni, kerja sama akan bisa mengalahkan segalanya baik itu seorang iblis. Lagipula, tiga orang itu adalah tim yang sangat cocok.
Sabdo Jagat bisa memanfaatkan kelebihan teman-temannya dan menjadikan hal itu senjata yang paling berbahaya. Sayang sekali Sesepuh Gentar Bumi tidak bersama mereka. Jika ada, maka korban nyawa di pihak musuh mungkin tiada lagi terkira.
Tapi tidak masalah, Sabdo Jagat menyadari Gentar Bumi pasti dapat membantu Wira Mangkubumi.
***
Saat ini, hari sudah memasuki waktu subuh. Matahari mulai terbit di ufuk timur, memancarkan sinar emas yang indah. Menepiskan kabut putih yang ternoda karena bau anyir darah merah.
Sekitar 1000 orang lagi pasukan musuh yang masih bertahan hidup -ya hanya bertahan hidup tanpa memberi perlawanan lagi. Tentu saja tubuh dan tenaga dalam sudah terkuras habis-habisan dalam perang ini.
Surasena dan Sekutu membentuk lingkaran besar, dengan tombak terhunus ke depan mengelilingi 1000 orang itu.
Bak tikus di hadapan para kucing buas, mereka ciut nyali lalu melepaskan pedang dan tombak, menanggalkan pelindung kepala dan bersujud di tanah.
__ADS_1
Di sisi lain, Darma Cokro sudah dari 5 jam yang lalu menanggalkan kepala Krangka Ireng dari tubuhnya. Setelah bertarung lebih kurang sehari semalam, Krangka Ireng kehabisan tenaga dalamnya.
Kematian Krangka Ireng adalah pukulan terbesar di pihak musuh. Mereka kehilangan arah dan pedoman, bertarung hanya sekenanya dan akhirnya menimbulkan kematian.
“Kami menyerah...” Salah satu dari mereka berkata serak, air matanya menetes karena menahan sakit atau pula menahan tangis ketakutan. “Kami rela menjadi tawanan perang.”
“Tawanan?” Ki Lodro Sukmo berkata geram. Wajah pak tua itu terlihat tergores tipis akibat panah yang melesat ke arah kepalanya. “Aku akan membunuh kalian semuanya, semuanya!” Dia berteriak keras.
“Musuh sudah mengaku kalah, tidak ada yang berhak untuk membunuh mereka.” Ki Alam Sakti membantah keputusan Ki Lodro Sukmo.
“Tua Bangka, kau bukan orang suci yang bisa menentukan siapa yang layak dan tak layak hidup di sini.” Ki Lodro Sukmo beteriak kesal, ya diantara Sesepuh tua hanya dia yang terluka, bagaimana wajah orang itu tidak merah karena marah, atau pula karena malu?
“Tidak ada yang boleh membunuh siapapun yang mengaku kalah, menyerah dan mengangkat bendera putih” Ki Alam Sakti berkata lagi, menegaskan bahwa ucapannya tidak main-main.
Orang tua itu melirik beberapa pendekar hebat yang berada di hadapannya satu persatu, bahkan Darma Cokro selaku ketua Serikat Pendekar. Terlihat tiada orang yang membantah keputusan orang tua itu, kecuali Ki Lodro Sukmo.
“Meski kita dalam medan perang, tapi toleransi hidup harus ditegakkan.” Lanjut Ki Alam Sakti. “Jiwa ksatria harus tegak di tengah dunia kacau ini, jika tidak maka apa bedanya kita dengan Kelelawar Iblis. Sekarang, katakan padaku apa kau sama dengan Kelelwar Iblis, Ki Lodro Sukmo?”
Tiba-tiba aura di tempat itu berubah dingin, semua orang hanya terdiam menatap Ki Lodro Sukmo dan Ki Alam Sakti secara bergantian. Darma Cokro sudah memiliki firasat buruk andai kata Ki Lodro Sukmo membantah ucapan Ki Alam Sakti. Kekuatanya belum tentu bisa mencegah amuk murka Guru Sungsang Geni itu, meski umurnya sudah begitu tua.
Namun sebelum situasi menjadi lebih panas, Wira Mangkubumi segera datang menengahi kedua orang tua itu.
__ADS_1
“Negri Java memiliki pemerintahan yang masih sah dan peraturan yang di taati, bukan?” dia tersenyum kecil, membungkukkan tubuhnya pada dua sesepuh tua sebagai rasa hormat. “Bukankah segala kebijakan di tangan, Sang Raja? Tiadalah kami datang ke tanah Java jika tidak karena surat undangan dari Kerajaan Surasena. Baiknya semua ini diserahkan pada paduka Raja Lakuning Banyu, dalam sidang perhakiman yang biasa dilakukan?”