
Sekarang sudah sangat tengah malam, Cawang Wulan menarik busur panahnya yang telah terikat dengan bubuk setan. Jarak gadis itu dengan benteng Markas Petarangan sekitar 300 meter, dia ditemani Sungsang Geni.
“Lepaskan!” Sungsang Geni memberi perintah.
Anak panah melesat dengan cepat, arah dari serangan itu bukan kepada dinding markasnya tapi kepada menara pengintai yang berdiri dengan obor yang menyala.
4 anak panah kemudian mengiringi dan berhasil meledakkan 5 menara pengintai di sisi barat markas itu.
Dari tempat ini kobaran api membumbung tinggi sekali, seperti sebuah api unggun diatas tembok yang besar.
“Bidikan yang benar-benar bagus Cawang Wulan.” Sungsang Geni memuji gadis itu, sekarang kita akan kembali besok malam, dengan serangan lain. “Kita akan membuat mereka percaya bahwa ini adalah serangan dadakan.”
***
“Ada serangan tidak terduga!” para prajurit yang berada didalam Markas Petarangan menjadi panik, ada 10 korban jiwa ketika ledakan itu terjadi. “Padamkan api, musuh menyerang dari arah timur.”
Semua orang yang terlelap dalam tidur, tidak menyangka akan ada serangan dimalam hari dan lebih tidak menyangka lagi ada orang yang berani menyerang markas Petarangan.
Wulandari yang tidak pernah tidur setelah bertemu dengan Sungsang Geni segera pergi keluar di iringi dengan Saraswati yang baru saja terjaga setelah ada ledakan kedua.
Kemudian 9 orang pendekar level tanpa tanding juga mengiringi langkah kaki gadis itu untuk melihat situasi yang terjadi.
“Serangan apa barusan itu?” tanya Saraswati kepada salah satu prajurit yang melaporkan situasinya. “Siapa yang memiliki tenaga dalam begitu hebat, hingga bisa melepaskan pukulan energi dan menghancurkan 5 menara pengintai?”
“Kami belum bisa menemukan pelakunya, Nona.” Orang itu membungkuk beberapa kali, terlihat begitu ketakutan. “Serangan itu begitu mendadak, bahkan kami tidak bisa melihat dari mana datangnya."
“Dasar bodoh, itu adalah pukulan tenaga dalam!” salah satu dari 9 orang pendekar tanpa tanding membuka suara. “Pelakunya pasti masih disekitar kita, jangan terkecoh periksa semua orang ditempat ini dan jangan sampai ada orang yang keluar dari benteng, tingkatkan penjagaan!”
Dari semua orang ditempat ini tidak pernah ada yang menyadari bubuk setan yang dikembangkan Empu Pelak. Tentu saja mereka akan menilai serangan ini sebagai pukulan tenaga dalam, dan pukulan tenaga dalam tidak memiliki jarak serangan yang jauh. Jadi pelakunya pasti ada di dalam markas ini, pikir mereka.
__ADS_1
Wulandari belum bisa mencerna situasinya, tapi dia bisa menyimpulkan bahwa serangan ini ada kaitannya dengan pemuda itu, ya pemuda yang sudah membuat pikirannya kaca balau dan lebih mengedepankan perasaan.
“Jika dia bisa terbang? Maka dia akan melewati atas tembok ini.” Wulandari berkata. “Tapi mungkin dia tidak akan melakukan hal itu, jadi mungkin saja itu bukan sebuah pukulan tenaga dalam,” Wulandari masih berpikir beberapa lama. “Itu bukan sebuah serangan, tapi sebuah peringatan. Mulai malam ini, perketat pejagaan, dia tidak ada lagi di tempat ini.”
Wulandari tidak yakin itu sebuah pukulan tenaga dalam, tapi dia juga tidak tahu benda apa yang digunakan Sungsang Geni untuk meledakkan 5 menara pengintai.
'Apa mereka bisa menyalurkan tenaga dalam melalui panah?' Wulandari berpikir keras. 'Itu bisa saja terjadi jika mereka mengincar obor minyak, tapi pemanah macam apa yang bisa membidik obor minyak dengan sangat akurat?'
Malam itu mereka semua tidak bisa menemukan pelaku peledakan 5 menara pengintai, selama itu pula Wulandari tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Semua prajurit sudah mengenakan pakaian perang sejak dari ledakan tadi malam hingga pagi ini. Pakaian itu cukup berat, beberapa orang berniat melepaskannya karena tidak ada apapun yang terjadi setelah ledakan.
Wulandari kemudian meminta 9 orang bawahannya untuk memeriksa tawanan. “Mungkin hanya dugaanku saja, tapi kita harus lebih berhati-hati lagi aku ingin semua tawanan bersiap dihukum mati.”
“Nona, Apa mungkin ada diantara kita mata-mata?”
“Tidak mungkin, pemuda itu bukan hanya ingin menunjukkan kekuatan dirinya saja, tapi juga kekuatan kelompok yang dia pimpin. Dia ingin menulis sejarah, dan aku yakin dia memiliki sesuatu yang tidak pernah kita perhitungkan, selain kekuatannya.” Wulandari tersenyum pahit.
Wulandari mengetuk keningnya dua kali, “Tentu saja otaknya, dia tahu siapa lawannya karena itu dia mengirit tenaga.”
***
Malam selanjutnya, Sungsang Geni meminta Cawang Wulan melakukan hal yang sama, dan untuk kali ini sedikit lebih dikurangi intensitas serangannya. Semua prajurit sudah menunggu serangan malam ini, jadi mereka tidak ada yang tidur sekejappun.
Semua mata mulai mengawasi, patroli sangat ketat dilakukan dan 9 orang pendekar tanpa tanding sudah menunggu di penjara, karena Wulandari yakin para budaklah prioritas Sungsang Geni dan kelompoknya.
Tapi malam ini juga tidak ada hal yang terjadi, ini sangat aneh. Belum pernah ada orang yang menyerang kucing-kucingan. Beberapa prajurit mulai menggerutu, mereka kesal bukan kepalang.
9 orang pendekar tanpa tanding mulai meragukan kekuatan pemudua yang dikatakan Wulandari. Benarkah dia itu hebat? Atau hanya ingin menggertak saja.
__ADS_1
“Jika seperti ini, aku yakin dia sudah mengetahui bahwa kekuatan kita sangat hebat.” Salah satu dari 9 orang pendekar tanpa tanding bergumam dengan temannya. “Jadi dia berusaha menakut-nakuti kita, memberi teror agar kita selalu waspada dan mungkin tidak akan menyerang karena dia hanya pemuda lemah yang memiliki sedikit keberanian.”
“Yang kau katakan memang benar, teman.” dua malam ini dia hanya bersembunyi dan menghancurkan benda-benda yang tidak terlalu penting.”
Serangan kedua sudah membuat keraguan di hati para Prajurit Kelelawar Iblis. Siang harinya, semua prajurit tampak kelelahan harus berjaga dua malam berturut-turut tanpa arak, dengan baju perang yang berat.
***
Ini adalah malam ketiga, Sungsang Geni tidak melakukan lagi serangan jarak jauh, sebagai gantinya dia menyuruh Cempaka Ayu untuk memimpin pasukan menyerang langsung gerbang utama.
“Mereka tidak akan berpikir serangan ketiga adalah serangan besar-besaran,” Sungsang Geni sudah meletakkan beberapa titik-titik pada peta. “Aku ingin kalian menjauhkan semua musuh dari markas Petarangan, aku akan menyelamatkan Para tahanan.”
“Jebak mereka did alam hutan.” Empu Pelak begitu riang memikirkan lautan api yang akan terjadi sesat lagi.
Setelah malam benar-benar larut, Sungsang Geni melayang sendirian melewati tembok di sisi utara. Pemuda itu mulai membantai semua orang yang ditemuinya dengan pelan-pelan, tanpa ada keributan.
“Jika salah langkah maka semua budak akan mati.” Sungsang Geni kemudian mengenakan pakaian ala prajurit Kelelawar Iblis, berjalan seperti biasa mendekati penjara yang sekarang ada 9 orang pendekar tanpa tanding pemilik 4 jule tenaga dalam berada di sana.
Belum kering air liur pemuda itu berkata, ledakan besar tiba-tiba menghantam gerbang tembok hingga hancur, kemudian ada lebih banyak lagi serangan.
“SIAL mereka melakukannya lagi!” Beberapa prajurit terjaga seketika, mengambil apapun untuk dijadikan senjata.
“Musuh berjumlah 50 orang lebih berada di depan Gerbang Utama!” teriak salah satu dari prajurit Kelelawar Iblis. “Bunuh mereka!”
9 orang pendekar buru-buru meninggalkan penjara tahanan para budak, pada saat yang sama Sungsang Geni menyelinap masuk dan menghancurkan semua sel tahanan.
“Paman Pramudhita,” pemuda itu bergumam setelah kelebat bayangan Pramudhita mulai mengejar 9 orang pendekar itu.
“Geni, selamatkan para budak terlebih dahulu. Aku akan memancing 9 orang itu untuk tidak mengganggu Cempaka Ayu.”
__ADS_1
Hayo siapa yang menduga author mengganti nama tokoh utama? Yang diganti itu tokoh yang bernama Nona Wulandari yang sebelumnya bernama Cindur Mata, dan rupanya itu adalah tokoh terkenal di tanah minang.