PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Topeng Beracun Bertindak


__ADS_3

Kabar mengenai kehancuran pasukan yang dikirim setelah tiga hari akhirnya sampai ke telinga Topeng Beracun. Saat ini di istana Kelelawar, dia memimpin musyawarah darurat yang dihadiri oleh dua Komandan Kelelawar Iblis, lima raja penghianat beserta Maha Senopati.


Mereka semua tiada yang menyangka, bahwa sebelum penyerangan Nyai Siwang Sari beserta Jaka Balabala, rupanya Pendekar Pemabuk beserta markas utamanya telah di serang oleh seorang pemuda.


Kabar itu datang setelah beberapa prajurit yang menjadi saksi atas pertempuran Pendekar Pemabuk melawan pendekar bercahaya emas, memberi informasi. Ya, tentu saja mengenai Perginya Pendekar Pemabuk tidak di ketahui oleh Topeng Beracun. Mereka menganggap bahwa pak tua itu sudah tewas.


“Aku yakin, orang yang mengalahkan Jaka Balabala beserta Nyai Siwang Sari adalah orang yang sama, dengan yang mengalahkan Pendekar Pemabuk.” Komandan Pertama membuka suara.


Topeng Beracun sudah mengetahui orang itu, tapi dia tidak menyangka pemuda matahari yang menjadi musuh alaminya, telah selangkah lebih maju dari yang dia pikirkan. Jadi saat ini, dia mengernyitkan keningnya dari balik topeng hitam, tampak berpikir keras.


“Berapa jumlah kerugian kita?” Bertanya Wingkar, ayah dari Topeng Beracun. Wajah pria itu tiga hari ini menjadi buruk dan memerah, tentu saja, rencana yang dia bangun selama ini hancur karena satu orang pemuda. Pemuda yang tidak pernah di perhitungkannya.


“Sisa pasukan kita sekitar 30% lagi untuk saat ini.” menjawab Komandan Pertama.


Mendengar perkataan itu, wajah Wingkar menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Dia menghantamkan kepalan tinju kirinya ke telapak tangannya sendiri. Menahan emosi.


“Itu berarti, kita kehilangan 70% pasukan hanya untuk menaklukkan Pasukan Surasena yang tidak seberapa itu?”


“Mohon ma'af Paduka, menurut informasi yang kita peroleh, Surasena dibantu oleh kerajaan Swarnadwipa. Bukan hanya itu, mereka menciptakan sebuah senjata yang bisa meledakkan satu markas dengan sangat mudah.”


“Bodoh, ***** kalian semua!” Wingkar tidak kuasa lagi menahan amarah, jadi dia melemparkan makian dan sumpah serapah kepada Komandan pertama. “Kalian memiliki kekuatan tak terkira, kenapa kalah dengan benda buatan manusia?”


“Tapi benda itu....”


“Tutup mulutmu! Jangan membantah!” Berteriak keras Wingkar di dalam aula rapat. Semuanya terdiam, tiada yang berkutik tiada pula yang berani bergerak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Sementara itu, Maha Senopati alias Lemah Abang tidak memberikan satu masukan di dalam rapat itu. Semenjak dia kembali dari Negri Sembilan, menemukan Nini Sebelas Tenung sang peramal ulung memberi tahu jika anaknya Wulandari telah pergi dan tidak mungkin kembali lagi, pikiran Pria itu menjadi sedikit kacau.


Bukan hanya itu, kali ini dia menyadari satu hal dalam setiap pertempuran yang terjadi di Tanah Java, pasukan Negri Sembilanlah yang paling banyak mendapatkan kematian. 500 pendekar Tanpa Tanding yang dia miliki, hanya tertinggal 100 orang lagi.


Dan jika saja, Topeng Beracun mengerahkan satu pasukan besar lagi untuk menaklukkan Surasena, dan jika kalah maka semua pasukan dari Negri Sembilan akan lenyap.


Satu hal yang mengganggu pikiran Lemah Abang adalah, aliansi Surasena yaitu Swarnadwipa. Terlihat hanya kebetulan, tapi Pangeran Minak Singo telah hilang di Negri itu. Ini gawat, benar-benar gawat.


“Paduka Raja, hamba mohon pamit...” meminta izin Lemah Abang untuk mundur dari rapat itu. Sebelum Topeng Beracun berkata pria itu sudah pergi lebih dahulu.


“Lemah Abang tampaknya memiliki masalah lain...” Komandan Pertama bergumam kecil.


“Awasi pergerakan Lemah Abang!” ucap Wingkar. “Dia mungkin menyembunyikan sesuatu dari kita.”


“Ayahanda, apakah sebuah masalah? Aku melihat wajahmu dipenuhi dengan banyak pertanyaan?” tanya Tanjung Benawa.


“Kita bicara nanti saja, setelah tiba di markas utama...” Lemah Abang memberi isyarat untuk menutup mulut sampai mereka benar-benar keluar dari Istana Kelelawar Iblis.


Kembali lagi di dalam Aula rapat, Wingkar masih memikirkan cara licik untuk menjatuhkan Surasena, tapi untuk saat ini dia tidak memiliki satu solusipun hingga tiba-tiba satu orang pria Telik Sandi mengatakan sesuatu.


“Pemuda itu dibantu oleh seorang wanita dengan kekuatan yang sangat mengerikan, dari tubuhnya memancarkan cahaya putih yang terang benerang.”


“Dewi Bulan...” Topeng Beracun segera terperanjat. “Dia adalah kekuatanku, jika saja aku bisa mendapatkan kekuatan itu, tentulah hari ini aku bisa menghancurkan Surasena sendirian.”


“Ya...ya...ya...Selama ini kita melupakan hal itu.” Wingkar mengelus dagunya. “Tidak kuduga Dewi Bulan malah muncul dan mengacaukan rencana yang telah kita buat? Hem...aku rasa untuk saat ini kita harus bertindak sedikit lebih jauh.”

__ADS_1


“Apa yang Ayahanda maksud?” tanya Topeng Beracun.


“Temukan Dewi Bulan secepatnya, jangan menggunakan pasukan besar dua Komandan harus bergerak cepat menemukannya, dan aku rasa sudah saatnya kau keluar dari persembunyian.”


Topeng Beracun terlihat sangat setuju. Sudah sekian lama dia ingin keluar dan bertarung, tapi pria itu memiliki satu kelemahan. Topeng Beracun tidak bisa jauh dari gerbang kegelapan, semakin dia jauh semakin lemah pula kekuatan dirinya. Tapi kelemahan itu bisa diatasi, jika dia berhasil mengambil Dewi Bulan.


Ya, dengan bergabungnya kekuatan kegelapan dan Dewi Bulan maka kelemahan dia akan segera hilang. Pada saat itu, pria itu tidak akan mengatur pasukan di balik layar, dia akan menjadi penguasa sesungguhnya di Negri ini, tidak tapi di seluruh jagat.


Siapa yang menentang aturan, akan dibinasakan. Kiranya dia akan menjadi dewa yang menguasai bumi, oh...ambisi yang benar-benar mengerikan.


“Sekarang aku tugaskan kalian berdua mencari Dewi Bulan!” Topeng Beracun memberi perintah. “Perlahan-lahan, dan jangan sampai diketahui oleh musuh.. Selain itu, kalian bisa menghadapi semua pendekar Surasena, jangan khawatir aku akan turun tangan jika terjadi masalah.”


“Sebaiknya kalian menghindari pertarungan terhadap pemuda yang mengeluarkan cahaya panas, dia bukan tandingan!” Wingkar mengingatkan dua Komandan itu.


“Meskipun bertemu, tidak masalah, kali ini aku akan menghadapinya!” Topeng Beracun terlihat begitu semangat. “Untuk mengalahkan dua Komandan, Dewi Bulan masih membantunya, itu artinya kekuatan Dewa belum bangkit seutuhnya, aku bisa mengalahkan pemuda itu.”


Komandan pertama dan juga Komandan ke empat membungkukkan badan memberi hormat, kemudian pergi meninggalkan aula rapat. Tersisa di tempat itu adalah Topeng Beracun bersama dengan 5 raja penghianat.


“Tidakkah sebaiknya kita menunggu Dewi Bulan bersatu dengan dirimu Paduka Raja, baru kemudian kau boleh pergi meninggalkan gerbang kegelapan?” salah satu dari lima raja penghianat bertanya.


“Kami takut jika terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari.”


Mendengar hal itu, wajah Topeng Beracun menjadi buruk, begitu pula ayahnya. Wingkar menampar empat raja bergantian sebagai peringatan, tidak ada yang boleh membantah perkataan dari seorang Raja, itu adalah aturan di kerajaan Kelelawar Iblis.


“Aku akan bertindak, dan siapapun yang tidak setuju akan kukirim ke neraka!” Suara Topeng Berancun menjadi berat lagi dingin.

__ADS_1


__ADS_2