PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Keraguan Sungsang Geni


__ADS_3

Kelima orang yang


berada didekat Sungsang Geni merasa terintimidasi, Sungsang Geni bisa merasakan


kekuatan Nyai Bidara berada pada level berbeda dengan kelima orang didekatnya.


Pangeran Widura menatap


Sungsang Geni dengan perasaan kesal, kalau bukan pertanyan Sungsang Geni


mungkin Nyai Bidara tidak akan menjadi semarah ini.


“Dengan segala hormat,


tolong tenangkan dirimu Nyai Bidara?” Sungsang Geni menundukan kepala memberi


hormat.


Nyai Bidara baru sadar,


ternyata Sungsang Geni sama sekali tidak terpengaruh dengan aura membunuh yang


dimilikinya, bahkan terkesan biasa saja.


“Sepertinya kita telah


dijebak,” lanjut Sungsang Geni.


Nyai Bidara menatap


Sungsang Geni dengan heran, “Apa maksudmu anak muda?”


“Perkenalkan saya


adalah Sungsang Geni, pengawal Putra Mahkota Kerajaan Majangkara.” Sungsang


Geni melepaskan aura api matahari, membuat aura membunuh Nyai Bidara tiba-tiba


menghilang, “Seperti pangeran Widura, kerajaan kami juga mendapat surat perihal


lamaran kepada Putri Kerajaan Surasena.”


Wajah Nyai Bidara


tiba-tiba menjadi merah, dia tidak mengerti apa maksud semua ini.


Pangeran Widura


tampaknya telah pasrah jika putri Kerajaan Surasena tidak menjadi miliknya, dia


sudah cukup pesimis sebelumnya, ditambah lagi informasi yang baru saja


didengarnya.


“Surat itu asli,


terdapat segel Kerajaan Surasena.” Sungsang Geni melanjutkan ucapnnya, “Tapi


kita tidak tahu sebenarnya apa yang direncanakan Kerajaan Surasena dengan


mengumpulkan seluruh Putra Mahkota dari Kerajaan yang dikuasainya.”


“Anak muda, perkataanmu


membuatku merasa tidak nyaman, jika ada sesuatu yang penting harusnya lebih


bijak jika mereka mengatakannya dengan jujur.” Nyai Bidara kembali duduk dan


menenangkan diri.


Sementara Widura, dia


nampak gelisah dengan situasi ini, mereka tidak memiliki apapun jika ternyata Kerajaan


Surasena berniat menaikan upeti, dengan menyandra putra mahkota.


“Menurutmu apa yang


harus kita lakukan?” Nyai Bidara bertanya kepada Sungsang Geni, nampaknya dia


mulai menyukai pemuda matahari itu.


“Jika mereka berniat


untuk membunuh Pangeran Mahkota tentu tidak mungkin, itu sama saja mereka


melepaskan kerajaan kecil yang menopangnya.” Sungsang Geni menggaruk dagunya,


“Kita telah datang sejauh ini, perjalanan ke Surasena tidak begitu jauh lagi,


alangkah baiknya kita tanyakan langsung kepada Raja Cakra Mandala.”


Nyai Bidara berpikir


sejenak, semenjak mengetahui masalah ini tidak terdengar lagi suara tawa dari


mulutnya.


“Aku setuju denganmu


anak muda!” Nyai Bidara menganggukan kepalanya, “Kita harus cari tahu


kepastiannya!”


“Sebaiknya anda mencari


tahu keberadaan Pangeran Miksan Jaya,” ucap Sungsang Geni, “Meski surat dari


Kerajaan Surasena asli, tapi bukan ber-arti itu tidak palsu. Bagaimana jika

__ADS_1


memang ada yang mengincar Putra Mahkota?”


“Kau benar sekali anak


Muda.” Nyai Bidara segera berdiri, “Aku harus menemukan pangeran bodohku


secepat mungkin.”


Kemudian Nyai Bidara


segera melayang meninggalkan penginapan Cempaka Putih. ‘ilmu meringankan tubuh


yang cukup baik’ pikir Sungsang Geni.


“Pangeran Widura, aku


tidak bisa menyarankan apapun untuk anda?” ucap Sungsang Geni, “Anda punya hak


untuk kembali menuju kerajaan Pancala, atau ikut bersama kami menuju Kerajaan


Surasena untuk mencari tahu kebenarannya.”


“Kami akan kembali saja


ke Pancala setelah bermalam ditempat ini.” Ucap Pangeran Widura, “Kami tidak memiliki


apapun untuk dipertaruhkan disana.”


Trenggolo dan Cengkreng


yang tadi hanya tertunduk tertawa kecil, namun kembali ketakutan menyadari


Sungsang Geni menatap mereka dengan dingin.


“Jika kalian mengganggu


Pangeran Widura, aku akan mencari kalian.” Ucap Sungsang Geni, “Pergilah,


sekarang!”


Trenggolo dan Cengkreng


hanya mengangguk, mereka tak memiliki keberanian untuk membantah.


 Setelah memberi hormat, mereka lalu bergegas


meninggalkan penginapan.


“Terima kasih tuan muda,


kau telah membela kami,” ucap Pangeran Widura, kemudian memberi hormat diikuti


dua pengawal lainnya.


“Tidak masalah


Pangeran. Sebaiknya anda berhati-hati diperjalanan besok pagi, sejauh ini belum


mengerutkan keningnya, tampak berpikir keras. “Aku berharap ini bukanlah perbuatan


kelompok Kelelawar Iblis.”


 


***


Setelah matahari mulai


menyinari bumi, Sungsang Geni beserta rombongannya segera melanjutkan perjalan.


Perihal tadi malam, dia


tidak berniat memberi tahu Dewangga, khawtir jika Pangeran itu melakukan


perbuatan yang membahayakan nyawanya.


Sebelum berjalan,


Sungsang Geni menanyakan kabar Pangeran Widura kepada gadis pelayan, namun


ternyata mereka telah pergi bahkan sebelum pagi datang.


Sungsang Geni


tersenyum, memang sebaiknya mereka pergi dipagi buta untuk menghindari para


bandit yang menghadang.


Akhirya Sungsang Geni


beserta rombongan melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan kerajaan Tombok


Tebing.


“Geni, aku melihat  kegelisahan diwajahmu?” Mahesa mendekati


Sungsang Geni yang duduk di atas atap kereta kuda, “Apa kau sedang memikirkan


sesuatu?”


“Memang benar aku


sedang berpikir,” jawab Sungsang Geni, “Tapi aku belum menemukan jawaban


sebelum kita tiba di kerajaan Surasena.”


Mahesa menjadi


penasaran, namun tidak berniat bertanya lebih jauh takut menyinggung perasaan

__ADS_1


Sungsang Geni.


“Durada bisakah kita


lebih cepat ?.” Pangaeran Dewangga nampaknya mulai jenuh dengan perjalanan


panjang ini.


Durada hanya


mengangguk, kemudian mencambuk punggung kuda, dan membawa kereta kuda berlari


cepat.


Sungsang Geni menatapi


jalan didepannya, berharap tidak ada lagi rintangan yang mengganggu perjalanan.


Semakin cepat tiba di Surasena,


maka pertanyaan yang mengganggu pikirannya akan semakin cepat terjawabkan.


Setelah dua hari


perjalannan, akhirya mereka tiba disebuah sungai besar. Sungai itu dinamakan


sungai Kapuas, setiap hari akan selalu ramai pedagang yang berjualan di pinggir


Dermaga itu.


Dermaga yang cukup


besar. Dari jalur ini, Dermaga ini adalah satu-satunya yang memiliki rute ke


Kerajaan Surasena.


Beberapa kereta kuda


terlihat sedang menunggu antrian  untuk


masuk kedalam kapal, dan beberapa  pedagang berebutan naik ketangga kapal.


Diantara mereka adalah


pedagang kaya, terlihat dari pakaianya yang rapi dan bersahaja, sisahnya adalah


pedagang biasa yang menjual hasil ternak dan pertanian mereka.


Durada mengahampiri


petugas dermaga, menanyakan kapal yang menuru Kerajaan Surasena.


“Ma’af tuan, kapal


menuju kerajaan Surasena baru saja berangkat.” Petugas tampak sibuk dengan


beberapa kertas diatas mejanya.


“Apa tidak ada kapal


lain yang akan pergi ke sana?” Durada melirik beberapa kapal besar yang sedang


memuat barang.


“Semua kapal telah


berangkat tuan, jika tuan mau menunggu 3 hari lagi, baru ada kapal yang menuju


Kerajaan Surasena?” jawab Petugas dermaga.


“Trima kasih tuan,”


Durada segera kembali menemui Dewangga.


Akhirnya mereka


terpaksa memutuskan untuk mencari penginapan terdekat, menunggu selama tiga


hari lagi.


“Dewangga aku akan


berkeliling sebentar.” Sungsang Geni berkata.


“Aku akan menemanimu!” ucap


Mahesa.


Dewangga terlihat


berpikir sebentar, dia kemudian menoleh kearah kiri , “Disana! kami akan ke


penginapan Dermaga Biru, temui kami disana!”


Sungsang Geni hanya


tersenyum, kemudian berlalu didalam kerumuman para pedagang, yang dibuntuti


Mahesa.


“Geni, apa yang terjadi?”


Mahesa yang dari kemarin menyadari tingkah Sungsang Geni, akhirnya angkat


bicar.


“Kita akan


membicarakannya di tempat sepi, kita cari rumah makan yang sedikit jauh.” Ucap

__ADS_1


Sungsang geni, lalu tersenyum seperti biasanya, tapi Mahesa mengerti senyuman itu


sedikit terpaksa.


__ADS_2