
Kelima orang yang
berada didekat Sungsang Geni merasa terintimidasi, Sungsang Geni bisa merasakan
kekuatan Nyai Bidara berada pada level berbeda dengan kelima orang didekatnya.
Pangeran Widura menatap
Sungsang Geni dengan perasaan kesal, kalau bukan pertanyan Sungsang Geni
mungkin Nyai Bidara tidak akan menjadi semarah ini.
“Dengan segala hormat,
tolong tenangkan dirimu Nyai Bidara?” Sungsang Geni menundukan kepala memberi
hormat.
Nyai Bidara baru sadar,
ternyata Sungsang Geni sama sekali tidak terpengaruh dengan aura membunuh yang
dimilikinya, bahkan terkesan biasa saja.
“Sepertinya kita telah
dijebak,” lanjut Sungsang Geni.
Nyai Bidara menatap
Sungsang Geni dengan heran, “Apa maksudmu anak muda?”
“Perkenalkan saya
adalah Sungsang Geni, pengawal Putra Mahkota Kerajaan Majangkara.” Sungsang
Geni melepaskan aura api matahari, membuat aura membunuh Nyai Bidara tiba-tiba
menghilang, “Seperti pangeran Widura, kerajaan kami juga mendapat surat perihal
lamaran kepada Putri Kerajaan Surasena.”
Wajah Nyai Bidara
tiba-tiba menjadi merah, dia tidak mengerti apa maksud semua ini.
Pangeran Widura
tampaknya telah pasrah jika putri Kerajaan Surasena tidak menjadi miliknya, dia
sudah cukup pesimis sebelumnya, ditambah lagi informasi yang baru saja
didengarnya.
“Surat itu asli,
terdapat segel Kerajaan Surasena.” Sungsang Geni melanjutkan ucapnnya, “Tapi
kita tidak tahu sebenarnya apa yang direncanakan Kerajaan Surasena dengan
mengumpulkan seluruh Putra Mahkota dari Kerajaan yang dikuasainya.”
“Anak muda, perkataanmu
membuatku merasa tidak nyaman, jika ada sesuatu yang penting harusnya lebih
bijak jika mereka mengatakannya dengan jujur.” Nyai Bidara kembali duduk dan
menenangkan diri.
Sementara Widura, dia
nampak gelisah dengan situasi ini, mereka tidak memiliki apapun jika ternyata Kerajaan
Surasena berniat menaikan upeti, dengan menyandra putra mahkota.
“Menurutmu apa yang
harus kita lakukan?” Nyai Bidara bertanya kepada Sungsang Geni, nampaknya dia
mulai menyukai pemuda matahari itu.
“Jika mereka berniat
untuk membunuh Pangeran Mahkota tentu tidak mungkin, itu sama saja mereka
melepaskan kerajaan kecil yang menopangnya.” Sungsang Geni menggaruk dagunya,
“Kita telah datang sejauh ini, perjalanan ke Surasena tidak begitu jauh lagi,
alangkah baiknya kita tanyakan langsung kepada Raja Cakra Mandala.”
Nyai Bidara berpikir
sejenak, semenjak mengetahui masalah ini tidak terdengar lagi suara tawa dari
mulutnya.
“Aku setuju denganmu
anak muda!” Nyai Bidara menganggukan kepalanya, “Kita harus cari tahu
kepastiannya!”
“Sebaiknya anda mencari
tahu keberadaan Pangeran Miksan Jaya,” ucap Sungsang Geni, “Meski surat dari
Kerajaan Surasena asli, tapi bukan ber-arti itu tidak palsu. Bagaimana jika
__ADS_1
memang ada yang mengincar Putra Mahkota?”
“Kau benar sekali anak
Muda.” Nyai Bidara segera berdiri, “Aku harus menemukan pangeran bodohku
secepat mungkin.”
Kemudian Nyai Bidara
segera melayang meninggalkan penginapan Cempaka Putih. ‘ilmu meringankan tubuh
yang cukup baik’ pikir Sungsang Geni.
“Pangeran Widura, aku
tidak bisa menyarankan apapun untuk anda?” ucap Sungsang Geni, “Anda punya hak
untuk kembali menuju kerajaan Pancala, atau ikut bersama kami menuju Kerajaan
Surasena untuk mencari tahu kebenarannya.”
“Kami akan kembali saja
ke Pancala setelah bermalam ditempat ini.” Ucap Pangeran Widura, “Kami tidak memiliki
apapun untuk dipertaruhkan disana.”
Trenggolo dan Cengkreng
yang tadi hanya tertunduk tertawa kecil, namun kembali ketakutan menyadari
Sungsang Geni menatap mereka dengan dingin.
“Jika kalian mengganggu
Pangeran Widura, aku akan mencari kalian.” Ucap Sungsang Geni, “Pergilah,
sekarang!”
Trenggolo dan Cengkreng
hanya mengangguk, mereka tak memiliki keberanian untuk membantah.
Setelah memberi hormat, mereka lalu bergegas
meninggalkan penginapan.
“Terima kasih tuan muda,
kau telah membela kami,” ucap Pangeran Widura, kemudian memberi hormat diikuti
dua pengawal lainnya.
“Tidak masalah
Pangeran. Sebaiknya anda berhati-hati diperjalanan besok pagi, sejauh ini belum
mengerutkan keningnya, tampak berpikir keras. “Aku berharap ini bukanlah perbuatan
kelompok Kelelawar Iblis.”
***
Setelah matahari mulai
menyinari bumi, Sungsang Geni beserta rombongannya segera melanjutkan perjalan.
Perihal tadi malam, dia
tidak berniat memberi tahu Dewangga, khawtir jika Pangeran itu melakukan
perbuatan yang membahayakan nyawanya.
Sebelum berjalan,
Sungsang Geni menanyakan kabar Pangeran Widura kepada gadis pelayan, namun
ternyata mereka telah pergi bahkan sebelum pagi datang.
Sungsang Geni
tersenyum, memang sebaiknya mereka pergi dipagi buta untuk menghindari para
bandit yang menghadang.
Akhirya Sungsang Geni
beserta rombongan melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan kerajaan Tombok
Tebing.
“Geni, aku melihat kegelisahan diwajahmu?” Mahesa mendekati
Sungsang Geni yang duduk di atas atap kereta kuda, “Apa kau sedang memikirkan
sesuatu?”
“Memang benar aku
sedang berpikir,” jawab Sungsang Geni, “Tapi aku belum menemukan jawaban
sebelum kita tiba di kerajaan Surasena.”
Mahesa menjadi
penasaran, namun tidak berniat bertanya lebih jauh takut menyinggung perasaan
__ADS_1
Sungsang Geni.
“Durada bisakah kita
lebih cepat ?.” Pangaeran Dewangga nampaknya mulai jenuh dengan perjalanan
panjang ini.
Durada hanya
mengangguk, kemudian mencambuk punggung kuda, dan membawa kereta kuda berlari
cepat.
Sungsang Geni menatapi
jalan didepannya, berharap tidak ada lagi rintangan yang mengganggu perjalanan.
Semakin cepat tiba di Surasena,
maka pertanyaan yang mengganggu pikirannya akan semakin cepat terjawabkan.
Setelah dua hari
perjalannan, akhirya mereka tiba disebuah sungai besar. Sungai itu dinamakan
sungai Kapuas, setiap hari akan selalu ramai pedagang yang berjualan di pinggir
Dermaga itu.
Dermaga yang cukup
besar. Dari jalur ini, Dermaga ini adalah satu-satunya yang memiliki rute ke
Kerajaan Surasena.
Beberapa kereta kuda
terlihat sedang menunggu antrian untuk
masuk kedalam kapal, dan beberapa pedagang berebutan naik ketangga kapal.
Diantara mereka adalah
pedagang kaya, terlihat dari pakaianya yang rapi dan bersahaja, sisahnya adalah
pedagang biasa yang menjual hasil ternak dan pertanian mereka.
Durada mengahampiri
petugas dermaga, menanyakan kapal yang menuru Kerajaan Surasena.
“Ma’af tuan, kapal
menuju kerajaan Surasena baru saja berangkat.” Petugas tampak sibuk dengan
beberapa kertas diatas mejanya.
“Apa tidak ada kapal
lain yang akan pergi ke sana?” Durada melirik beberapa kapal besar yang sedang
memuat barang.
“Semua kapal telah
berangkat tuan, jika tuan mau menunggu 3 hari lagi, baru ada kapal yang menuju
Kerajaan Surasena?” jawab Petugas dermaga.
“Trima kasih tuan,”
Durada segera kembali menemui Dewangga.
Akhirnya mereka
terpaksa memutuskan untuk mencari penginapan terdekat, menunggu selama tiga
hari lagi.
“Dewangga aku akan
berkeliling sebentar.” Sungsang Geni berkata.
“Aku akan menemanimu!” ucap
Mahesa.
Dewangga terlihat
berpikir sebentar, dia kemudian menoleh kearah kiri , “Disana! kami akan ke
penginapan Dermaga Biru, temui kami disana!”
Sungsang Geni hanya
tersenyum, kemudian berlalu didalam kerumuman para pedagang, yang dibuntuti
Mahesa.
“Geni, apa yang terjadi?”
Mahesa yang dari kemarin menyadari tingkah Sungsang Geni, akhirnya angkat
bicar.
“Kita akan
membicarakannya di tempat sepi, kita cari rumah makan yang sedikit jauh.” Ucap
__ADS_1
Sungsang geni, lalu tersenyum seperti biasanya, tapi Mahesa mengerti senyuman itu
sedikit terpaksa.