
Bubuk setan berhasil menghancurkan ribuan orang dengan waktu singkat, dan itu adalah pencapaian terbaik sejauh ini. Lemah Abang tidak bisa mengganggu kereta iblis, karena lima orang pendekar Surasena tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Jika digabungkan kekuatan lima orang itu barangkali sedikit dibawah Sungsang Geni. Dan itu cukup untuk menahan serangan Lemah Abang.
“Tembak!” teriak Raka Buana.
“Tembak!”
Sejauh ini belum ada satu orangpun pasukan Surasena kontak fisik secara langsung dengan kelompok Kelelawar Iblis.
“Lapor Empu, persediaan bubuk setan tinggal setengah lagi.” Salah satu pria yang memimpin pasukan kereta iblis berseru dibawah menara.
“Kalau begitu, serang kumpulan musuh! Jika memungkinkan gunakan panah untuk menyerang musuh yang bergerak sendiri.” Empu Pelak memberi instruksi.
Dengan perintah pak tua itu, arah kereta iblis menjadi berubah. Sekarang Surasena lebih memfokuskan pada musuh yang berkumpul.
Bomm...bomm...bomm...tiga ledakan berturut-turut membumi hanguskan musuh yang bergerak di sisi timur tembok markas. Kemudian ada beberapa ledakan lagi yang mengiring dan berhasil membuat satu barisan rapi berantakan.
Cawang Wulan mengambil satu bubuk setan, memicingkan matanya dan melepaskan busur panah. Mata panah membentuk setengah bulan, dan jatuh tepat di tengah hutan. Gadis itu cukup yakin ada banyak musuh masih menahan diri di dalam hutan tersebut.
Dan benar, terdengar suara teriakan di dalam hutan bersamaan dengan api yang berkobar kecil. Berkat busur panah pusaka ditangannya, serangan Cawang Wulan lebih jauh sepuluh kali dari panah biasa. Itu artinya dari tempat ini dia bisa memanah pasukan musuh tanpa membahayakan nyawanya.
“Bagus!” ucap Benggala Cokro. “Kau bisa melakukan hal itu, luar biasa.”
Pemuda itu melompat tepat di samping Cawang Wulan. Ketika dia melihat kelihaian gadis itu, entah kenapa perasaannya menjadi sedikit terpukau.
Kenapa aku baru menyadari ada gadis berbakat seperti dirinya? Pikiran Benggala Cokro melayang kemana-mana. Cawang Wulan melirik sesaat sebelum melepaskan busur panahnya.
“Mereka mulai mendekat!” uap gadis itu.
__ADS_1
“Oh, aku akan mengurusnya!”
Benggala Cokro melepaskan serangan ke arah belasan prajurit Kelelawar Iblis yang berhasil mendekati gerbang Markas Petarangan. Pedang bercahaya emas bergerak lebih cepat, dan berhasil menanggalkan kepala mereka.
Pedang yang sangat tajam, Cawang Wulan tersenyum kecil. Jika di negri ini tidak ada Sungsang Geni, gadis itu yakin Benggala Cokro adalah pemuda terhebat. 20 kali Cawang Wulan melepaskan serangan ke tengah hutan, tiba-tiba dia merasakan desiran angin begitu cepat menuju ke arahnya.
Cawang Wulan bisa melihat ada benda bergerak, berwarna sedikit kehitaman. Secara spontan dia tahu, itu adalah mata panah. Tapi untuk menghindari serangan itu, tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.
“Menghindar!” Benggala Cokro menarik tubuh Cawang Wulan hingga mereka terjatuh di dasar tembok. Panah hitam itu hampir saja menanggalkan leher gadis itu, jika satu detik saja Benggala Cokro tidak bereaksi.
Anak panah masih melesat cepat dan tertancap di dinding bangunan. Satu detik setelah anak panah tertancap, ledakan energi terjadi membuat bangunan itu runtuh dan menjatuhi belasan orang di bawahnya.
“Menghindar! Menghindar!” teriak prajurit Surasena.
Benggala Cokro terkejut bukan kepalang, dia menoleh ke hutan dan menemukan ada dua panah hitam kembali melesat ke arahnya. “Tidak akan kubiarkan!” ucap pemuda itu.
Menarikan jari telunjuknya, tiga pedang naik keatas dan berhasil menghadang laju panah tepat dua puluh depa dari tembok markas. Pedang Benggala Cokro bergetar kecil ketika ledakan terjadi.
Namun meski demikian, Benggala Cokro tidak bisa melihat siapa gerangan orang yang telah menyerang mereka. Setelah jarak cukup dekat, pemuda itu baru mengetahui bahwa panah musuh hampir sampai.
“Konsentrasi!” ucap Pemuda itu. “Wulan, kau harus melepaskan bidikan ke tengah hutan apapun yang terjadi. Jangan khawatir, aku akan menahan semua serangan yang mengarah ke tempat ini.”
Cawang Wulan masih terlihat takut, tapi sekejap kemudian dia memantapkan diri dan mempercayai perkataan Benggala Cokro. Gadis itu mengambil tiga mata panah yang ujungnya terdapat bumbung bambu berisi bubuk setan. Ditariknya busur panah hingga membentuk setengah bulan.
Bersamaan dengan itu, Cawang Wulan mulai menyalurkan tenaga dalamnya pada busur pusaka. Dia tidak ingin anak panahnya bergerak lambat, jadi dengan menyalurkan tenaga dalam panah akan melesat dua kali lebih cepat.
Wushh...panah melaju dengan cepat.
Dari ujung matanya, Cawang Wulan bisa melihat anak panah menukik ke tengah hutan. Sesaat lagi akan meledak, hingga tiba-tiba sebelum panah itu sampai pada tujuan. Sebuah benda mirip seperti payung berputar cepat di udara, berhasil menghalau serangannya.
__ADS_1
Bubuk setan meledak tepat di atas payung, dan sialnya benda berbentuk payung hitam itu tidak rusak terkena ledakan.
Sekarang Benggala Cokro dan Cawang Wulan tahu, didalam hutan merupakan pasukan inti Kelelawar Iblis. Kekuatan mereka beraneka ragam, dan tampaknya Topeng Beracun sengaja belum mengeluarkan kartu as-nya.
“Mereka cerdas...” lirih Benggala Cokro, kali ini dia tidak hanya menghadapi dua atau tiga anak panah, tapi 10 anak panah, 11 anak panah, kemudian 15 anak panah. Serangan lawannya semakin banyak setiap saat, dan juga semakin cepat.
Tiga pedang emas miliknya berdenting setiap berbenturan dengan panah-panah mereka.
Benggala Cokro memasang kuda-kuda, wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Kali ini dia tidak menggunakan jari telunjuknya, tapi menggunakan lima jari tangannya.
Gerakan tiga pedang emas semakin cepat dan menjadi bertenaga. Benggala Cokro mulai menyalurkan banyak tenaga dalam pada pedang itu, karena itulah dia bisa mengimbangi anak panah yang tertuju padanya.
“Bubuk Setan telah habis!” pekik pria di bawah menara tertinggi.
“Gawat!” Empu Pelak tidak menyangka bubuk setannya kali ini tidak berhasil membunuh semua musuh.
Ada beberapa penyebab kenapa benda itu tidak efektif digunakan saat ini, empu pelak menyadari hal itu sepenuhnya.
Yang pertama, musuh mulai menyadari bahwa berkumpul hanya akan menjadi sasaran empuk Surasena. Jadi mereka memutuskan untuk berpencar ke segala arah, dan itu benar-benar efektif untuk mengurangi korban jiwa akibat ledakan bubuk setan.
Yang kedua ada beberapa prajurit musuh yang memiliki perlengkapan perang lebih keras dari dugaan Surasena. Bubuk setan tampaknya tidak sanggup membunuh mereka, kecuali hanya membuat luka-luka ringan saja.
Dan yang terakhir, ada banyak prarjurit puncak level pilih tanding bisa menyalurkan tenaga dalam pada zirah perang mereka. Dan itu membuat pertahanan musuh dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
Empu Pelak menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Pak tua itu belum bisa memikirkan sebuah benda yang bisa menghancurkan zirah perang musuh selain dengan bubuk setan.
Atau mungkin bubuk setan harus sedikit berevolusi, tapi untuk saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan.
Pasukan kelelawar Iblis sudah sampai di depan pintu gerbang Markas Petarangan.
__ADS_1
“Bersiap siaga!” pekik Mahesa. “Formasi Kura-kura!”
“Bersiap siaga!” menyahut Sabdo Jagat. “Formasi elang hitam!