PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Energi Yang Menyatu


__ADS_3

Sabdo Jagat datang mendekati Sungsang Geni. Dengan ilmu meringankan tubuh yang telah sempurna, Dia tidak kesulitan untuk bergerak dari satu tempat ketempat yang lain, dan itu membuat Sungsang Geni sedikit iri.


Sabdo Jagat sedikit takjub, mendapati lelaki di dekatnya masih sangat muda. Dia tidak pernah melihat sosok Sungsang Geni sebelumnya, namun dia memang pernah mendengar jika Sekar Arum selalu datang ke gubuk Indragiri untuk menemui seorang pemuda.


Pria itu kemudian menatap dimana arah Sungsang Geni tidak menurunkan pandangannya, selalu waspada dan sangat tajam. Sabdo Jagat menyipitkan mata tapi belum melihat apa yang diperhatikan Sungsang Geni. Namun beberapa saat kemudian, dia akhirnya bisa menemukan bayangan hitam mendekat di balik hembusan debu.


“Anak muda, ternyata matamu sangat jeli!” ucap Sabdo Jagat terkagum, “dari jarak sejauh ini, aku bahkan kesulitan melihat mereka. Tidak ada yang menyadari mereka menembus pertahanan kami, melewati jalur hitam.”


Sungsang Geni tersenyum mendengar perkataan pria di sampingnya, pemuda itu bisa merasakan tenaga dalam Sabdo Jagat sangat besar.


“Aku tidak bisa melihatnya paman,” jawab Sungsang Geni, “Aku tidak memiliki mata seperti itu, aku hanya bisa merasakan kehadiran mereka.”


“Kepekaanmu luar biasa anak muda!” puji Sabdo Jagat.


Beberapa saat kemudain Gentar Bumi juga telah tiba, napasnya terlihat tidak beraturan. Berlari di tengah terik matahari, membuat peluh membanjiri seluruh bajunya. Sekitar 100 meter di belakang, terlihat ke 10 muridnya berjalan terseok-seok.


“Melihat dirimu berlari lebih dahulu kesini, apa kau mempunyai rencana, anak muda?” tanya Sabdo Jagat, dia melirik pasukan Kelelawar Iblis berjumlah hampir 200 orang, atau mungkin 300 orang, tidak ada yang begitu tahu pasti jumlah mereka pada jarak sejauh ini.


“Tidak paman, aku tidak mempunyai rencana kecuali membakar mereka semua.” Jawab Sungsang Geni.


Mendengar ucapan pemuda itu, Sambdo Jagat menaikan alisnya, “Bagaimana caranya?”


“Dengan api, tidak ada cara lain.” Tutup Sungsang Geni, kemudian segera berlari menuju ratusan kelompok kelelawar iblis yang jaraknya tinggal 50 meter lagi.


Sungsang Geni mengeraskan rahangnya, dia tidak bisa bertarung tanpa pedang, namun tidak ada pilihan lain. Sabdo Jagat yang mengikuti Sungsang Geni dari belakang, tiba-tiba terperanjat. Pria itu belum pernah melihat ataupun mendengar seseorang yang mampu menyalakan api dari lengannya.


“Mungkin dia memiliki sumbu obor?” gumam Sabdo Jagat, “astaga! apa yang kulakukan? bukan saatnya aku memikirkan hal sekonyol ini.”


Ledakan besar terdengar, Sungsang Geni melepaskan tembakan api ke arah musuh-musuhnya. Membuat tubuh mereka dipenuhi dengan kobaran api yang besar. Meski tidak serta merta hancur menjadi abu, tapi api itu sudah cukup untuk membakar mereka sampai mati.


“Ini seperti waktu itu,” Kenang Sungsang Geni, “Sebelum aku bertemu dengan Eyang Guru.”

__ADS_1


Disisi lain, Sabdo Jagat tidak mau ketinggalan, dia mengeluarkan teknik bertarung tongkat membelah jiwa membuat musuhnya tidak sempat memberi perlawanan. Tongkat itu kemudian bercahaya kuning, lalu setiap menyentuh tubuh musuhnya, mereka hancur berkeping-keping.


Gentar Bumi nampaknya terbakar emosi melihat kedua orang di depannya saling unjuk gigi, jadi dia segera menghantam bumi dengan kapak besarnya. Membuat tanah merekah besar dan mengubur belasan pasukan Kelelawar Iblis.


Sungsang Geni tersenyum kecil melihat perbuatan Gentar Bumi, beberapa kali tarasa gempa ketika pria berkapak itu mengayunkan senjatanya ke tanah.


“Ini tidak baik, bisa-bisa aku juga ikut terkubur ke dalam tanah.” Sungsang Geni lantas berlari ketengah kumpulan musuhnya.


Dia melepaskan energi matahari dengan jumlah besar, membuat lingkaran api seperti cincin yang meluas. Hampir 40 orang berada pada level pendekar tingkat 1 dan 2 tewas seketika dengan luka bakar mengerikan.


Tanpa pedang, Sungsang Geni tidak bisa memfokuskan api di lengannya. Tapi untuk sekarang, ini sudah cukup baik, setidaknya dia telah membakar hampir 200 lawannya seorang diri, dan kebanyakan dari mereka tidak berhasil selamat.


Pemandangan itu hampir membuat Sabdo Jagat tersedak debu yang berhamburan. Api bergelora di sekitarnya, sedikit membuat dia kesulitan bernapas.


“Aku tidak menduga, pemuda yang diselamatkan Indragiri sekuat ini!” gumam Sabdo Jagat diiringi batuk ringan.


Setelah satu jam mereka bertempur, akhirnya yang tersisah hanya seorang pria gondrong yang kekuatannya terasa menggebu-gebu.


Mendengar pertanyaan Sungsang Geni, pria gondorong samakin geram. “Benar, tapi jangan kau pikir bisa mengalahkan diriku dengan api murahan itu!”


Sungsang Geni terkekeh, kemudian melepaskan aura panas yang luar biasa. Membuat Sabdo Jagat dan Gentar Bumi kesulitan bernapas, mereka segera menjauhi Sungsang Geni, jika tidak mungkin mereka akan jadi ikan kering.


Seperti dugaan Sungsang Geni, aura panansnya tidak cukup berpengaruh terhadap pria gondrong. Aura hitam yang menyelimuti tubunya memang berkurang, tapi tidak terlalu besar. Jadi Sungsang Geni tidak ingin menunggu waktu lama, dia segera menyerang pria itu dengan hujan api.


Mendapati serangan itu, pria gondrong berkelit dengan lihai. Cukup mudah bagi dia untuk menghindari serangan Sungsang Geni yang terkesan lambat, membuat pemuda matahari itu menjadi kesal.


“Aku tidak bisa bertarung dengan gaya ini!” Sungsang Geni bergumam, “Aku harus mencari sesuatu.”


“Kemana arah kau memandang, anak muda?” Pria itu telah berada di sebelah Sungsang Geni, kemudian mendaratkan pukulan cukup keras. Pemuda itu masih memiliki cukup waktu untuk menangkis, namun tubuhnya masih terpental cukup jauh.


“Ayo!” ucap Sabdo Jagat mengajak Gentar Bumi, “Kita harus membantunya!”

__ADS_1


Sabdo Jagat beserta Gentar Bumi menyerang pria gondrong dengan bersamaan, cukup untuk membuat wakil komandan Kelelawar Iblis itu kerepotan. Baru lima menit, telah terjadi pertukaran hampir seratus jurus antara mereka.


“Aku tidak akan kalah, hanya dengan serangan seperti ini!” Pria gondrong berteriak keras, kapak Gentar Bumi telah menghujam dadanya, tapi tidak terjadi sesuatu.


Mendapati kapak miliknya tertahan, Gentar Bumi hampir tidak percaya. Belum sempat dia menarik kapak itu, sebuah energi hitam segera lepas dari tubuh pria itu bersamaan dengan dadanya yang membusung, membuat Gentar Bumi melayang beberapa saat dan mendarat kasar di tanah gersang.


Gentar Bumi segera berdiri, pandangannya sedikit rabun tapi tubuhnya masih bisa bertarung. Dia menatap 10 muridnya yang datang terlambat, mereka hendak membantu Gentar Bumi, tapi pria itu tidak cukup bodoh untuk mengizinkan muridnya mati sia-sia.


Melihat ada kesempatan, Sabdo Jagat melepaskan pukulan tongkat penghancur gunung tepat di kepala pria itu. Kali ini berhasil, pria itu terkena serangan telak. Lalu hampir 100 meter pria gondrong terpental dengan darah membanjiri hidung dan telinganya.


Mereka pikir bisa mengalahkan? Tidak, pria itu bangkit seperti sedia kala. Membalas pukulan Sabdo Jagat hampir dua kali lipat.


Sabdo Jagat memutahkan darah, “Apa kau sudah menemukan sesuatu?”


Pandangannya tertuju pada sosok pemuda di belakang pria gondrong, Sungsang Geni. Pemuda itu sekarang menggenggam sebilah kayu.


“Ini akan menjadi pedangku,” ucap Sungsang Geni, “kurasa cukup keras, dibanding ranting yang berterbangan.”


Sungsang Geni mengalirkan tenaga dalamnya, membuat kayu berwarna biru dan menjadi keras. Tidak sampai disitu, dia mengalirkan energi matahari dengan jumlah banyak untuk membuat pedang kayunya semakin kuat.


Ini adalah hal pertama bagi Sungsang Geni, menyatukan dua energi secara bersamaan. Namun seperti yang dia duga, hasilnya tidak mengecewakan. Pedang kayunya sekarang sekeras kapak gentar bumi, namun lebih tajam dari sebilah pedang.


“Kuku Iblis penipu, api kemarahan.” Sungsang Geni bergerak cepat, diantara debu dan asap yang membumbung tinggi, membuat pria itu kesulitan melihat gerakannya.


Tidak sempat menghindar, Sungsang Geni berhasil menusuk jantungnya hingga tembus.


Pria gondrong meringis kesakitan, dia dengan kekuatanya yang tersisah berniat meremuk wajah Sungsang Geni.


Namun lalu ledakan besar terjadi, tubuh pria itu hancur menjadi serpihan daging dan tulang yang hangus, menimbulkan bau gosong yang menyengat bulu hidung. Tanpa sempat menunaikan niatnya.


Sabdo Jagat tidak dapat mengedipkan matanya, antara terpukau dan terkejut. Dia ingat sesuatu, ingatan ketika dia berusia 15 tahun, seseorang yang mampu mengimbangi ayahnya dalam bertarung.

__ADS_1


“Teknik pedang awan berarak! Pemuda ini adalah murid pendekar hebat itu.”


__ADS_2