PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Keberhasilan


__ADS_3

Seperti ratusan duri yang ditusuk pada setiap urat di dalam tubuh, Sungsang Geni merasakan sakit demikian hebat. Dia menggelepar, meronta-ronta dengan kuat tapi akar sulur tidak membiarkan tubuh pemuda itu lepas dari jeratan.


Setiap energi yang masuk seakan memecahkan urat dalam tubuhnya, dan sialnya dia selalu tersadarkan diri, seolah Sungsang Geni diharuskan menikmati rasa sakit setiap detiknya. Yang dikatakan Pramudhita ternyata benar, ini adalah neraka.


Selama dua jam lamanya, ritual itu dilakukan hingga seluruh cahaya yang tersebar masuk ke dalam tubuh Sungsang Geni seutuhnya. Tapi bukan berarti telah selesai, memang tugas Resi Irpanusa telah rampung tapi tidak bagi sakit yang dialami Sungsang Geni.


Sungguh aneh kenapa orang-orang di Padepokan Pedang Bayangan banyak yang menggunakan teknik ini jika ternyata sakitnya luar biasa?


Setelah menunggu beberapa saat kemudian rasa sakit mulai hilang dari tubuhnya, tapi bersamaan dengan itu pemuda matahari tersebut langsung tak sadarkan diri.


Akar sulur melepaskan lilitannya, tubuhnya diantar ke permukaan kembali. Pramudhita segera menarik Sungsang Geni keluar telaga, memakaikan pakaian pada pemuda itu dan membaringkannya.


“Pemuda ini benar-benar kejam...” ucap Pramudhita seraya menggelengkan kepala, “tidak ada yang pernah menggunakan 30 tumbuhan sekaligus, kecuali dirinya.”


Pada dasarnya karena sakit yang luar biasa ini, Resi Irpanusa hanya mengizinkan 1 tumbuhan saja yang di gunakan. Kemudian sang muridnya boleh melakukan kembali ritual setelah satu bulan lamanya.


Alasan menunggu hingga sebulan adalah karena energi dari tumbuhan butuh penyesuaian dengan badan manusia itu.


Hanya Pramudhita yang berhasil memasukkan 10 tumbuhan pada ritual ke tiga, yang dia awali dengan 3 tumbuhan di ritual pertama. Umumnya satu tumbuhan hanya membutuhkan waktu 1 hingga 3 menit lamanya.


Jadi Sungsang Geni memecahkan rekor dengan waktu terlama dan tumbuhan terbanyak. Tapi kekuatan yang didapatkan Sungsang Geni memang cukup besar, setidaknya dia berhasil meningkatkan 1 jule tenaga dalamnya.


Jika Sungsang Geni selalu menggunakan 30 tumbuhan, maka dia setidaknya harus melakukan 4 kali ritual tenaga dalam lagi.


Tapi kebanyakan Pendekar Pedang Bayangan melakukan ritual hingga puluhan kali karena takut dengan sakit yang di derita. Yang paling cepat di generasi muda adalah Pramudhita, dia membutuhkan 5 tahun dengan 60 kali ritual tenaga dalam.


Dan pada ritual ke 60 Pramudhita menggunakan 60 tumbuhan pula, dan berhasil membuka seluruh cakra dan 4 jule tenaga dalam.

__ADS_1


Jika ditanya apakah sanggup untuk mengulangi lagi? Pramudhita merasa tidak akan sanggup lagi melakukan ritual itu. Dia harus rela tidak sadarkan diri selama satu bulan penuh setelah menyelesaikan ritual ke enam puluh.


Beberapa saat kemudian Sungsang Geni membuka matanya perlahan, hal pertama yang dia rasakan adalah sesuatu yang mengalir di seluruh tubuhnya dengan deras. Itu adalah aliran energi yang kuat.


Dia bisa merasakan tenaga dalamnya mungkin meningkat dua kali lipat dari sebelumnya, jikapun kurang maka tidak akan banyak.


Sungsang Geni melihat Resi Irpanusa dan Pramudhita masih sibuk berbicara, suara mereka terdengar jelas bahkan seakan memekakkan telinga.


Entah apa yang terjadi, Sungsang Geni bahkan bisa mendengar gerakan semut yang berjalan di pundak Pramudhita.


Dia juga bisa mendengar suara kepakan sayap nyamuk nakal di luar rumah batu. Ini aneh menurutnya, selama ini indra pendengaran tidak pernah setajam ini sebelumnya.


Sebenarnya setiap kelebihan dari meningkatkan tenaga dalam dengan teknik ini tidak pernah sama, Pramudhita misalnya.


Dia lebih peka terhadap indra penciuman, karena itu dia bisa mengetahui bau Sungsang Geni dari jarak puluhan meter.


Pramudhita juga bisa mencium bau darah seseorang untuk membedakan orang itu jahat atau baik ketika bertemu dengan dirinya untuk pertama kali.


“Baru saja paman, tapi ada yang aneh kenapa indra pendengaranku menjadi sangat tajam seperti ini?” Keluh Sungsang Geni, “ini memang tidak buruk, tapi aku bisa mendengar suara serangga apapun yang membuatku sangat terganggu.”


“Itu karena kau belum terbiasa, Geni.” Ucap Resi Irpanusa seraya tersenyum kecil, “Belajarlah melatih pendengaranmu, dengan begitu kau bisa memilih hal apa yang harus kau dengar dan tidak harus didengar.”


“Aku mengerti Resi.” Ucap Sungsang Geni.


Pada akhirnya mereka bertiga kembali menuju kediaman Resi Irpanusa. Sungsang Geni sangat penasaran dengan koco paisan, untuk melihat berapa jule tenaga dalamnya saat ini.


Tapi rupanya koco paisan tidak diletakkan di kediaman Resi Irpanusa, ada tempat dimana benda besar itu diletakkan. Wihara Siwa, itu adalah tempat dimana segala ilmu pengetahuan dan catatan di simpan di Padepokan ini.

__ADS_1


Di mata Sungsang Geni bangunan itu begitu artistik, dengan banyak ukiran indah di depan pintu masuk. Warna bangunan cendrung hitam, dengan atap serap dari kulit pohon. Bangunan itu memiliki 3 lantai, sehingga lebih menjulang dari rumah yang lain.


Sungsang Geni memasuki lantai pertama dimana ada banyak pendekar muda sedang menulis dan menciptakan buku dengan menggunakan kulit kambing hutan. Meja besar yang panjang dan juga tinta hitam dari getah pohon.


Sungsang Geni sangat terpukau, meski padepokan ini sangat kecil dan tersembunyi tapi mereka tetap giat belajar ilmu pengetahuan.


“Mereka meneliti banyak tumbuhan dengan khasiat berbeda-beda,” ucap Pramudhita menunjuk pada sisi kanan yang terdapat banyak pendekar sedang memperhatikan akar yang tidak diketahui Sungsang Geni, “Mereka adalah murid dari tabib Nurmanik, anak-anak itu telah berhasil meneliti 1% dari tanaman di wilayah ini."


"kira-kira 1000 tanaman." Sambung Resi Irpanusa.


Sungsang Geni kembali diajak menaiki tingkat selanjutnya, dimana ada banyak buku kulit kambing hutan tersusun rapi saat ini.


“Pengetahuan di dunia kami mungkin sedikit tertinggal jauh dengan kalian,” Resi Irpanusa berucap sambil membuka salah satu buku di dekatnya, “Tapi mungkin ada beberapa hal yang tidak di ketahui dunia kalian tapi justru diketahui di dunia kami.”


“Resi buku apa yang kau baca?” ucap Sungsang Geni sangat penasaran.


“Ini adalah buku yang menjelaskan mengenai ramuan obat-obatan, kau harus mempelajarinya suatu saat nanti,” uap Resi Irpanusa, “Pendekar hebat juga harus berguna bagi orang yang membutuhkan.”


Dan setelah itu mereka akhirnya tiba pula di lantai ke tiga. Tidak ada apapun di atas sana, kecuali sebuah benda tinggi yang tertutup tirai berwarna putih. Nampaknya tirai itu terbuat dari sesuatu yang unik, sebab terlihat cantik dan tidak lusuh.


Ketika tirai itu dibuka, sebuah cermin besar terpampang di depan Sungsang Geni. Pemuda itu yakin bahwa itu adalah koco paisan.


Bentuknya sangat indah, cermin yang bersih dan motif kayu yang menawan, tidak itu bukan kayu tapi mungkin perunggu.


Di atas gagang cermin, ada sebuah patung ular kobra, simbol dari peliharaan dewa siwa yang yang perkasa.


Setelah Sungsang Geni berada cukup dekat di depan koco paisan, benda itu bersinar sesaat lalu perlahan menampakkan bayangan Sungsang Geni.

__ADS_1


Ada dua bayangan saat ini, menandakan bahwa Sungsang Geni berhasil menaikkan level tenaga dalamnya menjadi 2 jule. Atau 4 cakra yang terbuka.


Mohon like capter ini....!


__ADS_2