
“Ayah, kau baik-baik saja?” tanya Benggala Cokro, wajahnya begitu khawatir karena sang ayah tidak merespon ucapannya, malah mata Darma Cokro tetap terpejam tanpa terbuka sedikitpun. “Aku mohon bertahan ayah, aku akan...”
Darma Cokro mengeluarkan darah merah dari matanya, dari lubang telinga dan dari hidung. Ketika Benggala Cokro melirik ke bagian bawah tubuh sang ayah, rupanya luka sangat parah telah terjadi di bagian tersebut.
Seluruh kaki Darma Cokro terlihat hancur sampai ke pangkal paha. Benggala Cokro bersegera memeriksa bagian kepala sang ayah, dan dia tidak bisa percaya dengan pemandangannya. Dunia seolah galap gulita, pemuda itu tidak bisa terima.
Ada lubang sebesar ibu jari menembus dari bawah tubuh hingga ke bagian kepala. Energi yang dikeluarkan Brangasan ternyata lebih kuat dari penampilannya, tidak tapi lebih tajam.
“Ma..afkan...aku...” Darma Cokro bergumam kecil sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
“Tidak...tidak, jangan pergi Ayah, jangan pergi...!” Benggala Cokro menggerakkan tubuh sang ayah, tapi percuma saja, Darma Cokro sudah mati.
Pria itu harusnya tidak mati begitu mudah, tapi teknik pelindung emas memfokuskan semua energi untuk membuat tameng pelindung dari segala arah, kecuali dari arah bawah dalam artian dari dasar tanah.
Karena serangan Brangasan memiliki ketajaman yang lebih besar dibandingkan dengan serangan yang lain, tubuh bagian bawah Darma Cokro yang tidak berpelindung tidak bisa menahan kuatnya serangan itu.
“Ini adalah kekuatanku...” terkekeh kecil Brangasan melihat kematian Darma Cokro. “Ku pikir dia lebih kuat dari yang kuduga, tapi rupanya tidak tahu akan kelemahan ilmunya sendiri, sayang sekali. Pertarungan ini menjadi sedikit membosankan!”
“Apa yang terja...” Mahesa baru sampai, dia hendak bertanya tapi pertanyaannya terhenti setelah melihat tubuh Darma Cokro terbujur tak bernyawa, darah keluar dari seluruh pangkal kakinya. “Tidak mungkin, apa yang terjadi sebenar...”
Belum sempat Mahaesa menyelesaikan ucapannya, satu larik cahaya cepat menuju ke tengah dadanya. “Tubuh dewa perang!” secara reflek Mahesa mengeraskan otot tubuhnya, seketika kulitnya sekeras baja.
Serangan Brangasan tidak berhasil membunuh pria itu, tapi demikian meski sudah memiliki kulit sekeras baja, Mahesa masih terluka karena serangannya.
Teman Sungsang Geni tersebut tepukul mundur sejauh sepuluh depa, ada lubang kecil di tengah dadanya, tapi tidak terlalu dalam dan tidak sempat menembus tulang dadanya.
__ADS_1
“Wah, kau memiliki tubuh yang keras!” ucap Brangasan, matanya menyipit tapi senyumnya masih terlihat merendahkan. “Aku ingin lihat apakah tubuh kerasmu itu bisa mengalahkan jurus terkuatku.”
Mahesa melirik ke arah mayat Darma Cokro, pria itu sudah paham jika salah satu dari lima orang terkuat di Surasena itu mati pasti karena meremehkan penampilan senjata Brangasan. Ya, ada lebih banyak pendekar mati hanya karena terlalu meremehkan musuh.
“Kibasan kematian dari langit!” Brangasan melakukan sarangan kuat ke arah Mahesa.
Mahesa sejatinya bukanlah pendekar yang lincah, bahkan dia tidak memiliki ilmu meringankan tubuh sampai saat ini. Jadi mendapatkan serangan secepat itu, tidak mungkin membuat pria itu menghindar. Satu-satunya yang dia lakukan adalah menyalurkan banyak tenaga dalam di tubuhnya, membuat kulit berada pada tingkat kekerasan maksimal.
Ting..ting...ting...tiga larik cahaya itu meledak sebelum sampai di tubuh Mahesa. Dua larik cahya yang melaju dari arah depan, berhenti seketika setelah pedang naga emas menancap tepat di hadapan Mahesa.
Baik Mahesa dan Brangasan sama-sama menoleh ke samping, melihat Benggala Cokro berdiri dengan senyum kecil yang mengerikan, seolah sekarang dia telah kerasukan setan.
“Mahesa, aku akan melayani pria ini sendirian...” ucap Benggala Cokro. “Carilah lawan yang lain, aku akan balaskan kematian ayahku.”
Mahesa hendak membantah, tapi tidak jadi setelah merasakan energi yang keluar dari tubuh Benggala Cokro meluap-luap tak terkendali. Bahkan energi itu telah melewati energi yang dimiliki Darma Cokro.
“Membunuhku, jangan...”
Perkataan Brangasan berhenti setelah satu pedang melesat dengan cepat ke arahnya. Pedang pusaka milik Benggala Cokro sejatinya hampir mirip dengan pedang yang dipakai oleh kakeknya terdahulu, Darma Guru. Pedang itu bisa membelah diri menjadi tiga bagian, dan karena teknik yang dikuasai Benggala Cokro, pedang itu bisa dikendalikan dengan mudah.
Serangan Benggala Cokro cukup akurat, Brangasan hanya sanggup bergerak sedikit membuat wajahnya terluka tips cukup panjang. “Ahkkk...”
Tangan kiri Benggala Cokro mengangkat ke langit, seketika pedang naga emas miliki ayahnya mengikuti gerakan tangannya. Pedang naga emas adalah pusaka yang mampu berubah menjadi besar, tapi sayangnya pedang itu lebih berat dari pedang pusaka milik Benggala Cokro.
Bukan hanya itu, karena pedang cukup berat gerakan pedang itu menjadi sedikit lebih lambat dari seharusnya.
__ADS_1
“Apa kau yakin?” tanya Mahesa, terlihat ragu akan keputusan Benggala Cokro.
“Ya, aku tidak akan mati...” jawabnya singkat.
Mahesa menelan ludahnya, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan pertarungan Benggala Cokro melawan Brangasan. Ada banyak orang yang harus di tolong pria itu, dan ada banyak musuh yang harus dikalahkan. Sekarang musuh yang dia maksud ada di ujung matanya, sedang berhadapan dengan Rerintih, kekasihnya.
“Rerintih,” ucap pria itu. “Kurang ajar, kau pikir aku tidak bisa marah.” Mahesa berlari seperti badak, menuju seorang pria yang menjadi lawan kekasihnya.
“Membiarkan temanmu pergi begitu saja!” ucap Brangasan. “Kau sungguh percaya diri bisa mengalahkan diriku, asal kau tahu aku ini...”
Brangasan terpukul mundur sekali lagi, setelah satu pedang Bengala Cokro hampir menikam batang lehernya. Jika dia tidak menangkis serangan itu dengan ranting bambunya, lehernya pasti sudah tanggal.
“Kau!” geram Brangasan.
“Jangan banyak bicara...” Benggala Cokro bergerak cepat, setiap pedang yang dia arahkan hampir membuat Brangasan mati seketika. Sementara itu, pedang naga emas sekali menyerang dapat membelah tanah dengan dalam.
Gerakan Benggala Cokro semakin acak dan susah untuk di prediksi kedatangannya. Tanpa disadari, sekarang levelnya sudah menembus puncak tanpa tanding, dan kini telah berada pada awal pendekar iblis. seluruh cakra di dalam tubuhnya terbuka karena amarah yang bergelora di dalam tubuh.
Tenaga dalam pemuda itu seperti dipompa, dan terus mengalir deras membuat permainan pedangnya semakin mengerikan.
Dia melepaskan serangan tiga pedang secara bersamaan, satu serangan bisa dihindari dengan mudah, tapi serangan kedua terpaksa ditahan oleh Brangasan dengan segenap kemampuan dirinya. Dan serangan ketiga berhasil mematahkan ujung ranting bambunya. Bukan hanya itu, serangan tersebut masih melaju dan berhasil mengiris manis telinga Brangasan.
“Tidak mungkin...” Brangasan hampir tidak percaya dia bisa terkena serangan dua kali oleh pemuda di depan matanya. “Kau....”
Brangasan membuka matanya lebar-lebar, setelah menyadari level pemuda yang dilawannya telah mencapai pendekar iblis. Rupanya kesedihan, amarah dan dendam telah membuat kekuatan Benggala Cokro bangkit.
__ADS_1
Buat para pembaca, kalian sudah bisa menebak bukan kalau cerita PDM sudah memasuki pase akhirnya? Hanya menunggu beberapa minggu lagi, cerita ini akan tamat. Tapi yang menyukai gaya tulisan ‘biasa saja’ author, kalian bisa suport cerita yang berjudul YOGA KELANA. Genre yang sama dengan PDM, tapi memiliki tema yang cukup unik. Itu adalah cerita yang baru-baru ini author tulis, dan akan mulai fokus setelah PDM tamat. Jika kalian penasaran, silahkan cek profil author. Yoga Kelana salah satu pembrontak, yang berniat menghancurkan kerasnya kebijakan Dua Negara.