PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Mata-mata


__ADS_3

Pada akhirnya Sungsang Geni kembali ke tempat Pramudhita setelah 2 hari berada di kediaman Resi Irpanusa. Ada beberapa hal yang perlu diketahui Sungsang Geni dari Rasi itu, salah satunya adalah mengendalikan indra pendengarannya.


Selama 2 hari dua malam tersebut Sungsang Geni tidak terlelap tidur atau melakukan meditasi. Suara-suara dari semua mahluk hidup terasa jelas di telinganya, bahkan terkadang dia mendengarkan suara dari detak jantung orang yang sedang bertamu ke rumah Resi Irpanusa.


Namun setelah mendapat pelatihan dari Resi Irpanusa, Sungsang Geni nampakanya mulai dapat mengurangi suara-suara yang selalu mengusik telinganya.


Satu hal yang Resi Irpanusa katakan adalah, dengan telinga itu bahkan Sungsang Geni bisa mengetahui gerakan dari otot lawan sebelum mereka berniat menyerang.


Jika Sungsang Geni bisa menyempurnakan hal itu, maka bukan hal mustahil Sungsang Geni bisa memprediksi setiap tindakan lawan hanya dengan mendengar gerakan tubuhnya.


“Ini adalah ramuan yang diberikan Resi Irpanusa untuk kau minum,” ucap Pramudhita seraya menyodorkan beberapa bungkus bubuk, “Ramuan itu berfungsi untuk menekan indra pendengaranmu, sebelum akhirnya kau bisa menguasainya dengan baik.”


“Terima kasih, Paman.” Ucap Sungsang Geni.


Di rumah Pramudhita dia bisa melihat Panglima Ireng menatapnya dari bawah sana. Srigala itu telah menunggu Sungsang Geni semenjak pemuda itu masuk ke dalam tembok Padepokan Pedang Bayangan.


Sekarang, sifatnya membuat Sungsang Geni sedikit bersimpati. Dia berniat membawanya suatu saat nanti, Panglima Ireng bisa menjadi tunggangan yang bagus ketika dia malas berjalan kaki. Lagipula nampaknya srigala itu juga menyukai dirinya.


“Apa kau merindukan aku?” Tanya Sungsang Geni, kemudian melompat dari rumah Pramudhita keluar pagar Padepokan, “Oh, kau benar-benar merindukan aku, pria hebat?”


“Siapa bilang dia pria?” Sanggah Pramudhita di atas rumahnya, “Karena dia berjulukkan panglima ireng, bukan berarti dia pria?”


“Apa, jadi dia adalah betina?” ucap Sungsang Geni terkejut, “Walah, aku telah bersikap buruk denganmu, jangan sampai kau menggodaku srigala betina?”


“Gerr...” jawab Panglima Ireng.


“Kondisiku sedikit lebih baik, kita akan mengelilingi tempat ini.”


"Gerr...gerr..."


“Jangan khawatir tenaga dalamku sudah meningkat sebanyak, 1 jule.” Sungsang Geni mengangkat satu jarinya ke arah Panglima Ireng, “Aku tidak akan kalah dengan mahluk hasrat apapun saat ini.”


“Gerr...gerr...ger...” Panglima Ireng menyunggingkan gigi di balik bibirnya, mungkin tersenyum riang, tapi bagaimanapun senyumnya tetap saja menakutkan.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni berjalan lebih dahulu diiringi Panglima Ireng. Pemuda itu berniat pergi ke suatu tempat, hanya untuk memastikan sesuatu, Padepokan Pedang Bayangan cabang utara.


Dia tidak menunggangi Panglima Ireng, mengetahui bahwa srigala itu berjenis kelamin betina dia jadi enggan.


Setelah berjalan selama 30 menit, Sungsang Geni dapat melihat sebuah bangunan lain di depan matanya. Rumah-rumah yang lebih bagus dari Padepokan cabang selatan, dan juga penjagaan yang lebih ketat.


Pemuda itu tidak berniat lebih mendekati tempat tersebut, takut jika mereka akhirnya mencium keberadaannya. Jika dilihat sepintas, ada lebih banyak orang yang memiliki garis putih dikening lebih dari satu.


“Tenaga dalam mereka semua setara denganku!” ucap Sungsang Geni.


Tapi hal tak terduga menarik Sungsang Geni untuk lebih mendekat hanya beberapa meter. Pemuda tersebut mendengar beberapa orang penjaga mengatakan sesuatu yang sangat penting. Berkenaan dengan si kembar.


“Tidak mungkin!” ucap Sungsang Geni.


Dia telah mendengar bawah si kembar berhasil ditangkap oleh Sriyu Kuning, ketika kedua gadis itu sedang memata-matai mereka.


Sebelumnya kedua gadis itu terbang pelan di dahan pohon dan melihat situasi Padepokan cabang utara dari kejauhan. Mata mereka yang tajam dapat melihat apapun yang dilakukan Sriyu Kuning di dalam sana.


Tapi tiba-tiba saja, seseorang mengetahui keberadaan mereka dan terjadi pertarungan sengit antara si kembar melawan penjaga Padepokan Cabang Utara. Semulanya Si kembar mendominasi pertarungan, hingga pada akhirnya gadis itu harus menghadapi 11 penjaga sekaligus.


Dan pada puncaknya, kedatangan Kudusia berhasil mengalahkan kedua gadis tersebut dengan mudah.


“Sebenarnya ini bukan urusanku,” gumam Sungsang Geni, di menimbang rasa dan pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi ke Padepokan Cabang Selatan, “Panglima Ireng, kita harus melaporkan masalah....”


“Mau kemana kau?” tiba-tiba saja seseorang telah berada dibelakang Sungsang Geni, seorang pria dengan 4 garis jule di keningnya, “Kau tidak memiliki garis jule? Jika begitu kau pasti manusia tersesat yang selalu dibicarakan itu, bukan?”


Orang itu tak lain adalah anjing setia Sriyu Kuning, Prama Londro. Ternyata tubuhnya lebih ramping dari yang diduga Sungsang Geni, dengan mata jendol dan gigi kecil yang jarang.


Namun kemampuan tidak dihitung dari penampilan, pria itu tidak berniat menyembunyikan tenaga dalamnya sedikitpun.


“Sesepuh kami ingin berbicara denganmu?” ucap pria itu lagi berkata berat berusaha mengintimidasi Sungsang Geni.


Sungsang Geni tersenyum kecil, “Kenapa aku harus mengikuti perkataanmu?”

__ADS_1


Prama Londro mengeluarkan senjata dari telapak tangannya, sebuah pedang besar berwarna gelap.


“Jika kau menolakku, maka aku akan membuatmu tidak dapat berjalan lagi!” Ucapnya bangga, sebab menyadari tenaga dalam Sungsang Geni jauh dibawah dirinya.


“Aku selalu bertarung dengan orang yang tenaga dalamnya lebih besar dariku,” ucap Sungsang Geni kemudian mengeluarkan pedang energi bersinar kuning dari telapak tangan kanannya, “Tapi percayalah, kemampuan bertarung seseorang tidak hanya dilihat dari tenaga dalamnya saja.”


Mendapati Sungsang Geni mengeluarkan pedang tersebut, membuat Prama Londo sedikit terkejut. Dia berpikir bahwa pemuda itu telah mempelajari teknik pedang bayangan, tapi dia tidak cukup yakin sebab energi pedang Sungsang Geni berbeda dengan miliknya.


“Pergilah lebih dahulu, Panglima Ireng! Aku akan menyusulmu kelak.” Sungsang Geni memberi isyarat kepada Srigala Hitam Besar.


“Kalian masih berpikir...”


Perkataan Prama Londro terhenti seketika setelah pedang energinya terpotong menjadi dua, tapi pada saat yang sama Sungsang Geni berhasil mendaratkan tendangan keras tepat di hulu hatinya. Membuat pria itu terpental puluhan meter.


Sungsang Geni tidak berhenti disana, dengan kecepatannya dia mencengkram leher pria itu dan membawa terbang menjauhi Padepokan Cabang Utara mendekati Cabang Selatan.


Pria itu berhasil melepaskan diri dari cengkraman Sungsang Geni dan mendarat kasar di permukaan tanah. Dia batuk kecil beberapa kali, wajahnya meringis tidak percaya Sungsang Geni mampu menandingi dirinya hanya dengan tenaga dalam sebesar 2 jule.


Sungsang Geni lebih menguasai pertarungan, karena pemuda itu selalu berada pada situasi hidup dan mati setiap saat. Insting bertarungnya terasah secara alami, seluruh tubuhnya seperti bergerak sendiri tanpa diperintah.


Dibandingkan pria itu yang bertarung ketika sedang latih tanding, atau mungkin menghajar adik seperguruannya. Dia tidak pernah berada pada pertarungan sesungguhnya, dan itu adalah kelemahan Prama Londro.


Lagipula, Sungsang Geni tidak harus membagi tenaga dalamnya saat menciptakan pedang energi.


Tidak demikian dengan Prama Londro yang menciptakan pedang energi dari tenaga dalamnya sendiri. jika harus kuat, maka harus lebih banyak tenaga dalam yang dibutuhkan untuk menciptakan pedang.


'Musthahil! Kecepatan pemuda ini...? Aku tidak menyangka dia bisa melukaiku dengan mudah.' batin Prama Londro menggrutu.


“Kau tidak punya kesempatan untuk menang?” ucap Sungsang Geni, “Ku akui kau memiliki tenaga dalam yang lebih besar dariku, tapi itu saja tidak cukup. Mau tahu apa yang pendekar Dunia luar miliki selain tenaga dalam?”


Setelah mengatakan itu, Sungsang Geni melepas aura membunuh bertekanan besar membuat pria itu pucat pasai dan terpaku ketakutan.


Ada yang mau bantu author masuk 20 besar. Hikhikhik

__ADS_1


__ADS_2