PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siluman Kera


__ADS_3

Perjalanan Sungsang Geni beserta Cempaka Ayu telah berlangsung selama beberapa hari. Ada banyak hal yang mereka lalui dengan waktu selama itu. Hubungan mereka tampak lebih akrab dari sebelumnya, ya, meski terkadang sifat pemarah Cempaka Ayu kerap kali menyulitkan pemuda itu.


Pada sela-sela waktu tertentu, Sungsang Geni mempelajari penghimpunan energi alam yang ada didalam kitab pedang bayangan. Semenjak dia kembali dari alam lelembut, menemukan waktu senggang rupanya lebih sulit dari menghajar musuh.


Sejauh ini tidak ada tanda-tanda pemuda itu bisa menguasainya, ini lebih sulit dari yang dia pikirkan.


“Geni, nampaknya kita sudah mendekati puncak gunung karakatau...Lihatlah!” Cempaka Ayu menunjuk pada puncak tinggi yang berada di depan mereka. “Aku merasakan energi siluman berasal dari wilayah sana.”


Sungsang Geni mendongak, memperhatikan gumpalan asap yang keluar dari lubang kawah. Gunung itu lebih besar dari gunung Mahameru, dan juga terlihat lebih menakutkan. Namun tenang, mereka tidak akan melewati puncak gunung.


Sungsang Geni membuka selembar kertas yang di buat oleh cendikiawan kerajaan Surasena. Itu adalah sebuah peta perkiraan yang disusun berdasarkan dari catatan Aji Saka. Tidak begitu akurat memang, tapi cukup menjadi pedoman perjalanan mereka.


Peta itu nampak seperti titik-titik yang bersambung-sambung, dengan lingkaran besar sebagai pedoman penunjuk arah. Itu adalah peta bintang, dimana arah ditentukan oleh pergerakan matahari dan bintang-bintang di malam hari.


“Geni, lihatlah! Ini seperti jejak dari para pendekar yang diutus ke Swarnadwipa.” Cempaka Ayu melirik pada bekas jalan yang sedikit menurun di sebelah kanannya.


Sungsang Geni kembali membaca petanya beberapa saat, memandang matahari kemudian memandang puncak gunung secara bergantian. “Hem...sepertinya jalan ini benar.” Dia mengelus dagunya.


Panglima Ireng juga tidak ketinggalan, dia mengendus lebih dahulu melewati jalan itu. Moncong hitamnya melacak jejak-jejak kaki manusia yang mungkin melewati jalan ini.


“Gerr...” hewan itu terhenti. Ini adalah sebuah pohon besar dengan akar yang juga besar dan sangat panjang, tumbuh tepat di bibir jurang yang dalam.


Sungsang Geni melirik dasar jurang, terlihat gelap tak berbatas. Lantas dia memperhatikan sebuah jembatan yang tersusun dari akar-akar pohon yang berlilitan hingga ke seberang sana.


Jembatan yang terbuat dari proses sangat alami, Sungsang Geni tidak mengetahui pasti kenapa akar dari pohon besar seperti beringin ini menyerberangi jurang.

__ADS_1


Tapi di seberang jurang sana, juga terdapat pohon yang serupa dengan akar pajang yang menyeberang hingga ke sini.


Jadi jembatan itu terbuat dari dua buah pohon besar yang akar-akarnya saling melilit dan berseberangan.


Sungsang Geni berjalan lebih dahulu, meniti jembatan yang selalu bergoyang jika tertiup angin kencang. Mereka berjalan beriringan dengan Panglima Ireng berada di tengah-tengah barisan.


Tidak butuh waktu lama, karena memang jembatan itu tidak terlalu panjang, mereka pada akhirnya memijakkan kaki di tanah seberang.


Jika Sungsang Geni perhatikan sekali lagi, jurang itu nampak membelah pegunungan Kerakatau. “Ini seperti batas wilayah tanah Swarnadwipa dengan tanah java.”


“Atau mungkin ini adalah batas manusia dan siluman kera,” tambah Cempaka Ayu.


Panglima Ireng kembali berjalan lebih dahulu, setelah beberapa lama dia menggeram di balik jalan yang sedikit berliku. Sungsang Geni segera berlari menyusul srigala itu, tapi apa yang terjadi? Pemandangan di depan mereka hampir saja membuat Cempaka Ayu muntah.


“Bau tanah ini sama seperti tanah pada umumnya.” Sungsang Geni berkata. “Itu tandanya, mereka memakan semua daging ini.”


Yang dimaksud Sungsang Geni adalah, jika saja tulang-belulang ini akibat dari mayat manusia dan binatang yang membusuk tentu saja ada bau yang tidak sedap pada tanahnya akibat daging yang mengurai.


Tapi kenyataanya tidak ada bau sendawa di dalam tanah, itu artinya mereka mengambil semua daging tanpa terkecuali juga bagian organ dalam untuk dimakan. Terlihat juga ada tulang yang masih terlihat baru, menandakan mereka baru saja memangsa sesuatu di sini.


“Jika diperhatikan, jalan ini memang tempat yang paling baik menyergap mangsa...” Sungsang Geni memandangi keadaan di sekelilingnya. “Binatang dan manusia pasti akan melewati jalan ini, dan pada saat itu siluman kera akan menyergap mereka, membunuh dan mengambil daging-daging mereka tanpa tersisa.”


“Kalau begitu kita harus berhati-hati mulai dari sini!” Cempaka Ayu mengingatkan. “Kita sudah masuk ke dalam wilayah mereka, mungkin saat ini mereka sedang memata-matai pergerakan kita dan menunggu kesempatan untuk membunuh.”


“Salah jika mungkin mereka sedang memata-matai, tentu saja saat ini mereka memang sedang memperhatikan gerak-gerik kita. Aku merasakan keberadaan energi siluman hampir di setiap sisi hutan ini.” Ucap Sungsang Geni.

__ADS_1


Kemudian mereka bertiga berjalan berbarengan, menyusuri jalan setapak yang dipenuhi dengan tulang-tulang binatang dan manusia dengan hampir sepanjang 100 meter.


Setiap langkah mereka berjalan, maka keberadaan energi siluman semakin terasa kuat. Pohon-pohon tinggi yang menjulang berderu diterpa angin, membuat bulu kuduk Cempaka Ayu berdiri. Situasi saat ini benar-benar mengerikan.


Setelah melewati barisan panjang jalan penuh tulang, akhirnya mereka dikejutkan dengan suara seperti dahan-dahan patah di atas pohon besar. Suara-suara itu setiap detiknya semakin terdengar jelas.


Mereka bertiga menghentikan langkah kaki, memperhatikan setiap pohon-pohon kayu yang rindang di atas kepala. Sungsang Geni belum menunjukan reaksi apapun, dia masih menahan diri untuk tidak bertindak gegabah, sementara Cempaka Ayu mulai menyalurkan tenaga dalam pada ratusan tulang di belakangnya.


Setelah beberapa saat kemudian, lesatan potongan kayu terbang cepat dari atas pohon menukik ke arah Sungsang Geni, tidak tapi kearah mereka bertiga tanpa terkecuali.


Pada serangan itu, Sungsang Geni berhasil menjadi tameng bagi Cempaka Ayu dan Panglima Ireng, tapi kemudian serangan-serangan lain mulai datang bertubi-tubi.


“Ini bukan hanya kayu biasa!” Cempaka Ayu berkata. “Mereka menyalurkan energi untuk membuat kayu ini menjadi cukup keras, tapi bagiku itu bukan masalah.”


Gadis itu kemudian melepaskan sebuah serangan, dan seketika ratusan tulang meluncur bak mata panah dengan cepat menghantam setiap dahan pohon yang brgerak.


Sungsang Geni menjadi sedikit terkejut, serangan Cempaka Ayu ternyata sudah lebih kuat dari setahun yang lalu. Gadis itu juga beberapa kali terlihat mengendalikan serangan dengan pola tertentu, membuat laju tulang-tulang tampak bervariasi.


Selesai. Nampaknya serangan Cempaka Ayu membuat mahluk itu tidak melanjutkan kembali aksinya. Atau mungkin saja ada beberapa dari mahluk itu yang terkena serangan Cempaka Ayu, pikir Sungsang Geni.


“Kalian telah memasuki wilayah kami!” suara berat dan serak tiba-tiba bergema di setiap sisi hutan rimba. “Jangan harap kalian bisa kembali pulang hidup-hidup!”


“Tunjukkan wujudmu!” ucap Sungsang Geni. “Kenapa kau harus sembunyi-sembunyi? Apakah begitu jeleknya, hingga kau malu untuk menujukkan wujudmu?”


“Nyalimu besar juga anak manusia!” Suara itu kembali bergema, kemudian terdengar tawa terbahak-bahak. “Aku harap ilmu kanuraganmu lebih tajam dari pada lidahmu.”

__ADS_1


__ADS_2