PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Dewi Bulan


__ADS_3

Dua saudaranya tiba-tiba mewujud menjadi manusia, nampaknya mereka juga kehabisan energi. Tapi raut wajah ketiga lelembut itu menjadi tegang setelah mendapati tubuh Nyai Siwang Sari perlahan-lahan pulih.


Mula-mula luka di perutnya bergerak-gerak, usus yang terbuyar masuk lagi ke dalam dan luka lebar dengan sangat cepat sembuh seketika. Begitu pula dengan dua tangannya yang hancur, perlahan-lahan tumbuh tangan baru.


Beberapa menit setelah itu, mata hitamnya terbuka lebar. Dia berdiri seperti berdirinya patung.


Pramudhita menelan ludah pahit, dia menoleh ke arah Saudara iparnya dengan wajah khawatir. Belum pernah mereka menemukan lawan seperti Nyai Siwang Sari sebelumnya.


“Dia tidak bisa mati?” Pramudhita menggigit bibirnya. “Kita harus bagaimana?”


“Ini adalah pengalaman pertamaku, tidak pernah kuduga ada orang hidup kembali setelah kematian.”


Sebelum panjang lebar Pramudhita bertanya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang teramat kuat mengenai dadanya. Selendang iblis miliki Nyai Siwang Sari baru saja menghantam pria itu, membuatnya terpental puluhan depa dan hilang di telan laut dalam.


“Selamatkan Pramudhita, Cepat!” Priantah Nogo Sosro kepada dua putranya.


Sungsang Geni mengeraskan rahang melihat sahabatnya terluka parah, tapi saat ini dia tidak bisa melakukan banyak hal karena Jaka Balabala menjadi sedikit liar setelah terkena tebasan.


“Dia memiliki ilmu rawa rontek.” Terkekeh kecil Jaka Balabala. “Kau tidak bisa mengalahkan dirinya, tidak bisa dibunuh bahkan jika dia mati dia akan bangkit lagi seperti sedia kala.”


Kekuatan yang menjengkelkan, pikir Sungsang Geni. Harus ada cara untuk membunuh wanita itu, tapi saat ini pemuda itu tidak bisa memikirkan satu solusi dalam situasi seperti ini.


“Dia sudah pernah melihat maut.” Jaka Balabala melanjutkan. “Dan rupanya maut lari terbirit-birit, tak mau mendekatinya.”


Melirik sekali lagi Sungsang Geni ke tengah laut, wajahnya cukup lega melihat Pramudhita berhasil diselamatkan. 'Maafkan aku Geni, aku malah menjadi beban untukmu.' Suara Pramudhita bergema di dalam kepala pemuda itu.

__ADS_1


Ini adalah kekalahan pertama yang dialami Pramudhita selama dia menjadi seorang pendekar pedang. Raut wajahnya begitu terpukul, dengan sedikit perasaan malu dia hilang dari alam manusia bersama dengan dua saudara iparnya.


“Aku tidak menyalahkanmu, paman Pramudhita.” Sungsang Geni menghela nafas berat. “Jika saja wanita itu tidak memiliki ilmu yang aneh, dia sudah mati karena serangan kalian.”


Pada akhirnya Sungsang Geni harus berhadapan dengan Komandan Kelelawar Iblis sendirian. Atau tidak, tampaknya Nogo Sosro masih ada di dalam laut mengintai dari dalam air untuk serangan kejutan.


Beberapa saat tadi naga tua itu hilang dari pandangan, tiba-tiba sudah kembali dengan peti besar berwarna biru.


“Kakek Naga tampaknya merencanakan sesuatu?” Sungsang Geni berpikir keras. “Begitu rupanya, aku tahu apa yang harus dilakukan.”


***


Tinggalkan dahulu pertarungan Sungsang Geni, sekarang lihatlah bagaimana Cempaka Ayu menghadapi semua wakil komandan sendirian. Mengerikan sekali, kekuatan gadis itu bahkan lebih tinggi dari Sungsang Geni.


7 wakil Komandan yang tersisa kali ini berusaha sekuat tenaga, bukan untuk membunuh Cempaka Ayu tapi untuk melarikan diri dari cengkramannya.


“Edan...Bisa-bisa kita juga terkena dampak serangan gadis itu.” Ki Lodro Sukmo bukan satu-satunya orang yang panik, dan selalu bersiap siaga jika tiba-tiba saja Cempaka Ayu menyerang mereka.


Jepit rambut yang diciptakan Empu Pelak dari serpihan pedang watu kencana milik Sungsang Geni, berputar-putar di kepala gadis itu. Ketika dia mengerlitkan mata, satu persatu benda kecil itu menyerang 7 orang wakil komandan secara bergantian.


Singo Gurung menelan ludah pahit, tangannya bergetar setiap kali menangkis serangan gadis itu. Pedang kutukan miliknya, terlihat retak di banyak bagian, mungkin hanya butuh 30 kali benturan pedang itu akan menjadi serpihan besi tua biasa.


“Wanita ini, jangan-jangan adalah orang yang selalu di bicarakan oleh Paduka Topeng Beracun,” gumam Singo Gurung. “Jika benar, tiada yang bisa mengalahkan dirinya kecuali Tuanku sendiri.”


Belum pula kering air liur pria itu, satu jepit rambut berhasil menghantam tubuhnya hingga terseok puluhan depa di tanah anyir. Siring besar tercipta karena serangan itu. dari mulut dan hidung Singo Gurung menetes darah kental dan hitam.

__ADS_1


“Kesempatan kita untuk kabur.” Lili Suri mengingatkan teman-temannya, tapi nasib buruk juga menimpa wanita itu setelah satu batang besar datang tiba-tiba dari langit dan tertanam ke tanah bersama dengan tubuhnya. Lili Suri mati seketika.


“Larilah kalian, kemanapun kalian suka!” Bergema suara Cempaka Ayu. “Belenggu maut akan datang pada siapapun. Sakit hati tiada terobati, kesepian adalah ironi, siapa? Siapa yang bisa menahannya?”


“Apa yang dia katakan? Apa maksudnya itu?” Darma Cokro berkata pelan di telinga Sabdo Jagat.


“Aku tidak tahu, bentuk seperti ini baru kali ini aku lihat.” Menjawab pelan pula Sabdo Jagat di telinga Darma Cokro.


Mereka tidak ada yang berani berkata keras, takut jika suara mereka malah menyinggung gadis itu dan puluhan benda akan datang menghantam tubuh mereka.


“Dewa takdir menentukan nasip, siapa?Siapa yang bisa membantahnya?” Suara Cempaka Ayu begitu dalam, tapi mirip seperti sebuah kidung yang menakutkan, disela-sela ratapan syairnya, dia terisak seperti menangis tapi tidak ada air mata yang keluar dari mata putihnya, atau mungkin dewi bulan tidak memiliki air mata?


“Jangan dengarkan ratapan gadis itu?” Berteriak salah satu wakil Komandan Kelelawar Iblis. “ Suara Dia pasti membuat kita menjadi gila, tutup! Tutup telinga kalian, dan tanamakan tujuan untuk melarikan diri.”


Cempaka Ayu menangis terisak, di tengah malam gulita itu entah mengapa tiba-tiba bulan bersinar terang. Padahal sebelumnya malam gelap gulita. Seolah awan baru saja menyingkir dari singa sana purnama saking takutnya.


“Siapa yang bisa lepas dari belenggu maut?” ratap Dewi Bulan.


“Ada...ada yang bisa lepas dari belenggu maut?” Singo Gurung memberanikan diri menjawab perkataan wanita itu. Ketika Dewi Bulan menoleh ke arah dirinya, wajah pria itu seputih kapas saking takutnya. Pedang kutukan terlepas dari tangan, seolah seluruh sendi di tangan tidak berfungsi dengan benar.


“Lancang! Apa kau adalah dewa takdir?”


“Sungguh ada orang yang bisa lepas dari belenggu maut.” Singo Gurung kepalang tanggung, dia menunjuk ke arah laut. “Ada orang tidak bisa mati, kau bisa menemukannya di sana.”


Cempaka Ayu belum bergerak dari tempatnya, dia melayang mendekati Singo Gurung hingga tubuh pria itu langsung jatuh ke tanah saking takutnya. 5 jepit rambut menghujani tubuh pria itu hingga mati mengenaskan.

__ADS_1


Dia menoleh pada Sesepuh Surasena yang memaku bak patung, tidak ada yang berani bergerak bahkan juga Lakuning Banyu. Ketika tatapan Lakuning Banyu bertemu dengan Cempaka Ayu, gadis itu menyunggingkan senyum kecil yang merendahkan.


“Tidak bisa mati? Apa dia dewa takdir?” Cempaka Ayu terbang dengan cepat menuju pesisir pantai.


__ADS_2