PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertempuran Besar


__ADS_3

“Kenapa kau melakukan hal itu Sriyu Kuning? Mengendalikan Mahluk Hasrat dan menyebarkan teror berkepanjangan. Kenapa Sriyu Kuning?” tanya Resi Irpanusa.


“Kenapa aku harus menjawabnya? Bukankah kau sudah mengetahui semua alasanku, Guru!”


“Dari semua orang yang pernah ku latih, hanya kau yang tidak pantas menyebutku guru!”


Sriyu Kuning menaikkan alisnya, kemudian tersenyum sinis, dia memandangi Resi Irpanusa cukup lama sebelum akhirnya menatap Sungsang Geni, “Jadi kau mau menyerahkan kitab pedang bayangan pada pemuda asing ini, dibanding dengan muridmu?”


“Aku rasa kau lupa sesuatu Sriyu Kuning!” Timpal Resi Irpanusa, “Kitab itu bukan miliki siapapun, setelah dia disegel. Siapapun yang berhasil melepaskan segel, kitab itu menjadi miliknya.”


Mendengar perkataan Resi Irpanusa, pria itu tertawa terbahak-bahak untuk beberapa saat, kemudian mendadak berhenti dan kembali menghadap pada Gurunya, bukan tapi mantan gurunya.


“Yang kau katakan benar!” ucap Sriyu Kuning, mengeluarkan sebilah pedang, “Kenapa aku tidak membunuh kalian semua di tempat ini? Dan mengambil kitab pedang bayangan dengan segala cara!”


Setelah mengatakan hal demikian, 6 bayangan Sriyu Kuning terbagi di posisi-posisi musuhnya. Seperti hendak mengepung, salah satu dari bayangan itu bahkan berada tepat di depan Sungsang Geni.


Pertarungan nampaknya tidak dapat dihindari sekarang. Pramudhita mengeluarkan sebilah pedang, dan menyerang Kudusia lebih dahulu.


Pramudhita sebenarnya berniat sekali bertarung dengan Prama Londro dalam keadaan prima, tapi Prama Londro sudah tidak sadarkan diri setelah terkena serangan Sungsang Geni. Jadi terpaksa, lawan sepadan Pramudhita ada Kudusia.


Mendapat serangan tiba-tiba dari Pria Kekar itu, Kudusia mundur sepuluh langkah kebelakang hingga dia mengeluarkan sebilah pedang dan menyambut serangan Pramudhita.


Kondisi Kudusia yang tidak begitu baik setelah mendapat beberapa pukulan dari Resi Irpanusa sebelumnya, membuat pertarungan ini menjadi berat sebelah. Beberapa kali Pramudhita nyaris saja menggores tubuh pria itu.


Di sisi lain, Tabib Nurmanik juga mencari lawan sepadan. Kali ini seorang wanita yang tidak jauh umur dan bentuk tubuhnya. Wanita itu adalah Tabib di pihak Sriyu Kuning, sebenarnya merupakan teman karib Tabib Nurmanik.


“Kau memilih lawan yang salah Nurmanik!” ucapnya.

__ADS_1


“Prawati! Kita tuntaskan masalah kita hari ini!” Sanggah Tabib Nurmanik, menyerang lebih dahulu.


Prawati dan Nurmanik adalah teman dulunya, dulu sekali teman waktu yang sangat lama. Pertemannan yang terjaga sejak mereka masih kecil tiba-tiba hancur karena Prawati mulai menyukai Suami Nurmanik 120 tahun yang lalu.


Puncaknya adalah, suami Nurmanik tertangkap tangan sedang bercumbu mesra dengan Prawati, membuat wanita itu naik pitam dan menghabisi suaminya sendiri.


Tidak sampai disitu saja, Dia berniat menghabisi Prawati tapi Sriyu Kuning menjadi pelindung wanita itu hingga sekarang. Jadi pertarungan ini, adalah sebuah penantian panjang yang selalu di harapkan Tabib Nurmanik.


Mereka berdua mulai bertukar puluhan jurus. Sejauh ini mereka dalam keadaan imbang. Padahal 120 tahun yang lalu, kekuatan Prawati jauh dibawah Tabib Nurmanik. Nampaknya dalam beberapa tahun terakhir, Prawati rutin melakukan ritual tenaga dalam.


Setiap jurus yang dikeluarkan Tabib Nuramanik selalu dibalas dengan jurus yang sama. Sekarang ini yang akan menentukan kemenangan adalah tingkat pengalaman bertarung dan keberuntungan saja.


Di lain sisi Sungsang Geni mulai bertarung melawan murid Sriyu Kuning yang memiliki dua garis jule ke bawah. Meski tenaga dalamnya sudah habis, tapi berkah api membuat dia bertarung dengan pola yang berbeda dengan sebelumnya.


Tanpa disadari Sungsang Geni cara bertarungnya saat ini mulai terasa aneh. Dia melakukan tebasan dan tusukan, tapi juga melempar beberapa pedang dengan cepat pada lawannya.


Benar, dia mengeluarkan sebilah pedang kemudian melemparkan pada musuh yang berada jauh dari dirinya. Hal itu selalu dia lakukan seraya menghadapi lawan yang berada di dekatnya.


Sungsang Geni bergerak lincah, dia berusaha melawan pendekar yang lebih rendah dari yang lainnya. Terkadang dia berlari dan melompat sambil melepaskan beberapa pisau kecil, kemudian mendarat pada kumpulan lawannya, merusak formasi mereka.


Satu hal yang di sadari Sungsang Geni adalah, ada banyak dari mereka belum menguasai jurus tertinggi pedang bayangan, jadi pemuda itu tidak terlalu kesulitan untuk menghadapinya.


Tiga orang pada tingkat yang sama dengan Sungsang Geni tiba-tiba menyerang secara bersamaan. Sekarang ada 6 bayangan yang keluar dari mereka bertiga.


Pemuda itu mundur beberapa langkah, dia mulai masuk kedalam pepohonan yang rapat. Sedangkan tiga orang musuhnya mulai menekan dirinya dengan serangan membabi buta.


Sungsang Geni melepaskan 1 buah pedang ketika lawan, berusaha mengejar dirinya. Satu serangan dapat menghancurkan satu bayangan, sedangkan mereka bertiga tidak dapat menyerang Sungsang Geni karana pemuda itu selalu menghilang di balik pohon-pohon besar.

__ADS_1


Meski sangat kuat, tapi bayangan yang tercipta sangat lambat jika dibandingkan dengan teknik pedang emas. Jadi saat ini Sungsang Geni memanfaatkan kecepatannya dalam setiap serangan, datang tiba-tiba dan menyerang cepat.


Cara ini rupanya berhasil menghabisi 6 bayangan, melihat hal itu ketiga orang tersebut berniat melarikan diri dari dalam hutan.


“Dia menjebak kita!” ucap salah satu dari mereka, “Dia menggunakan seisi hutan sebagai senjata...”


Perkataan pria itu terhenti setelah sebilah pedang bercahaya menancap tepat di jantungnya, membuat ke dua temannya ketakutan setengah mati.


Mereka berdua tanpa berpikir panjang membalikkan badan untuk pergi, tapi sialnya Sungsang Geni berada tepat di hadapan mereka dengan lemparan pisau dan tebasan pedang.


Satu kepala tanggal dari badannya, dan satu pisau tertancap tepat di tengah dada. Sungsang Geni kembali menuju pusat pertarungan.


Ketika dia tiba, beberapa puluh orang dari pihak Sriyu Kuning tampak bergelimpangan. Nampaknya kemapuan murid Resi Irpanusa lebih kuat dari Sriyu Kuning.


Tidak berpikir lebih panjang lagi, Sungsang Geni melemparkan pisau kecil pada beberapa orang yang terlihat lebih kuat. Pemuda itu sekekali merusak pertarungan antara Panglima Ireng dengan lawan-lawannya.


“Gerr...” geram Panglima Ireng ketika Sungsang Geni tersenyum ke arahnya.


“Aku hanya membantu, jangan terlalu sungkan!”


Hal yang paling kuat saat ini mungkin bayangan Sriyu Kuning yang dihadapi puluhan Pendekar Padepokan Cabang Selatan.


6 bayangan yang sangat kuat, satu bayangan mungkin setara dengan Pramudhita, tidak mungkin lebih kuat dari Pramudhita.


Satu-satunya cara mengalahkan bayangan itu adalah dengan bayangan Resi Irpanusa, tapi kakek tua itu memiliki rencana lainnya, hingga saat ini dia belum mengeluarkan satupun jurus tingkat tinggi.


Salah satu bayangan Sriyu Kuning berhasil memukul mundur beberapa pendekar Cabang Selata.

__ADS_1


Sementara itu puluhan orang kubu Sriyu Kuning mulai melihat harapan untuk menang dengan bertarung di belakang bayangan, dan ini membuat Sungsang Geni menjadi sangat kesal.


Ketika mereka mulai berteriak, melakukan tekanan dan intimidasi, Sungsang Geni melepas aura membunuh luar biasa membuat mereka berkeringat dingin.


__ADS_2