
Tidak begitu terasa waktu yang di tunggu kini telah tiba. Di seberang hutan luas, pasukan gajah sedang membabat ratusan pohon dengan gading dan belalainya. Gemuruh pohon tumbang seirama dengan teriakan para musuh, membuat tengkuk terasa dingin.
Puluhan prajurit bergetar seluruh tubuh mereka, hampir-hampir saja kehilangan nafsu bertarung. Kabut hitam dan awan di atas langit, membuat nyali ratusan Prajurit Surasena semakin ciut. Seolah gelapnya kabut hitam akan menghisap segala benda di alam ini.
Rupanya bukan dari sisi timur saja, pasukan itu mulai merambah ke sisi utara dan selatan, barangkali berniat mengepung Kerajaan itu. Jika mereka berjalan pula ke sisi barat, tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri. Tapi untungnya mereka tidak melakukan hal itu, sisi barat sedikit terjal, gajah tidak akan sanggup berjalan di bukit yang terjal.
Sungsang Geni menyipitkan pandangan pada setiap pohon tumbang. Pemuda itu berdiri tepat diatas gerbang istana. Memperhatikan setiap detik apa yang akan terjadi, serta memperhitungkan pergerakan lawan. Analisa pemuda itu lebih tajam dari sebelumnya, dia membuat beberapa kemungkinan dan mencoba mencari jalan keluarnya.
Tepat di atas lantai tertinggi Istana, Lakuning Banyu beserta tiga penasehat tua berdiri dengan menelan ludah pahit.
“Mereka sudah tiba?” tanya Lakuning Banyu, mencengkram erat keris panca dewa yang mulai mengeluarkan aura dingin. “Ini akan menjadi pertarungan panjang, musuh benar-benar banyak sekali.”
“Tidak kuduga, mereka menggunakan gajah dan badak untuk membabat hutan,” sambung Ki Lodro Sukmo.
Sementara itu Ki Alam Sakti tidak memberi tanggapan. Dia sudah lebih dari dua puluh kali terlibat dalam perang antar negri selama Majangkara masih berdiri, jadi tahu persis korban jiwa tidak akan terelakkan hanya saja kondisi kali ini sedikit lebih berat. Pandangan pak tua itu malah jatuh ke bawah, pada dua orang muridnya yang baru menjejak level tanpa tanding.
Dewangga dan Gadhing tidak memiliki kecerdasan seperti Sungsang Geni. Pak tua itu sedikit lebih khawatir, karena Dewangga adalah satu-satunya orang yang tersisa dari garis keturunan Majangkara.
Ki Alam Sakti merasa tidak punya muka menghadap Raja Airlangga di alam baka, jika sampai Dewangga mati dalam perang ini.
Lamunan pak tua itu buyar dengan adanya ledakan keras yang mulai menyambut kedatangan para musuh. Ranjau yang dipasang Empu Pelak mulai mengenai sasaran.
Ada banyak sekali ranjau yang di ciptakan oleh pria itu bersama dengan anaknya, Raka Buana. Semua ranjau dipasang dengan bubuk setan, sehingga siapapun yang menyentuh tali akar yang melintang, percikan api akan menyambar bumbung-bumbung bambu yang tertanam di dalam tanah. Bumbung bambu yang menyimpan bubuk setan.
__ADS_1
Satu ledakan berhasil membuat satu kaki kuda hancur menjadi serpihan. Binatang itu meski sangat besar tetaplah saja seekor hewan yang memiliki daging dan darah.
Kaki besarnya tetap akan hancur terkena ledakan bubuk setan, bahkan bukan hanya itu satu tubuh hewan itu bisa menjadi bubur daging.
Kepulan asap putih ketara jelas diantara kabut hitam. Terdengar teriakan musuh, jeritan suara gajah riuhnya suara biantang yang ada di sana.
Sungsang Geni tidak bergeming dari tempatnya bersama semua prajurit pemanah yang berada tepat diatas tembok markas Petarangan, dengan busur yang siap melepaskan anak panahnya. Disamping itu, kereta iblis terlihat sudah bersiap siaga akan memuntahkan semua amunisi, menggiring ledakan besar yang barang kali akan membunuh setengah pasukan musuh. Mungkin!
Letupan ranjau mengundang letupan yang lain, sehingga saat ini gendang telinga semua orang pekak karena suara ledakan. Asap putih berkeliling, yang artinya setiap sisi ranjau sudah mengenai sasaran.
Jaraknya mereka dengan pasukan Kelelawar Iblis hanya sekitar dua ratus meter. Setelah melewati hutan penuh ranjau, mereka akan melewati parit besar yang dipenuhi dengan minyak, jerami kering dan juga kayu bakar. Sekali lintas mereka tidak akan menyadari tempat itu dipenuhi dengan minyak.
Semua siasat digunakan dalam pertahanan kali ini, apapun jenis taktiknya. Sebelum terjadi bentrok besar, setidaknya ranjau dan panah bisa mengurangi jumlah musuh hingga setengahnya.
Namun...
Puluhan pohon besar tiba-tiba melayang ke arah Markas Petarangan, seperti puntung kayu yang dilemparkan dengan mudah.
Beberapa pohon tidak sampai mengenai tembok, tapi tidak jarang ada yang sampai melewati tembok. Batang-batang besar itu menghantam bangunan di dalam, menindih belasan prajurit hingga tewas.
“Jelas ada orang kuat yang melempar pohon-pohon ini!” Pekik Mahesa, mendaratkan pukulan kuat pada satu pohon yang mengarah padanya. Pukulan pria itu berhasil menghancurkan pohon menjadi serpihan-serpihan kecil.
“Cuih...” Benggala Cokro meludah ke tanah. “Mereka pikir bisa menghancurkan tempat ini dengan pohon-pohon kerdil? Tidak akan kubiarkan!”
__ADS_1
Pemuda itu menjentikan jari telunjuk, pedang miliknya bersinar terang kemudian terbelah menjadi tiga dan melaju cepat menuju pohon-pohon yang datang bertubi-tubi.
Setiap salah satu pedang miliknya mengenai batang pohon, batang itu terpotong menjadi beberapa bagian.
Setengah jam kemudian, para pasukan Kelelawar Iblis mulai muncul berlarian dari dalam hutan. Mereka mengibarkan bendera hitam dengan lambang kelelawar, sambil berseru, berteriak penuh semangat.
Ratusan penunggang kuda mengayunkan tombak dan pedang ke udara, seolah tebasan mereka yang membelah angin membuat semangat bertempur menjadi lebih tinggi. “Hancurkan Surasena! Hancurkan Surasena!”
Sungsang Geni tersenyum kecil, menoleh ke arah gadis cantik dengan busur panah yang telah ditarik. Diujung mata panahnya, bubuk setan terikat dengan rapi. “Beri mereka kejutan!” ucap Sungsang Geni.
Cawang Wulan mengangguk, matanya menyipit sebelah sambil menarik busur panah lebih kencang lagi. Gadis itu mengangkat sedikit busur panahnya, kemudian setelah aba-aba dari Sungsang Geni, panah itu melesat menembus udara.
Ratusan musuh melihat kedatangan panah itu ketika mereka melewati parit lebar. Hanya satu panah, pikir mereka. “ Surasena setidaknya butuh seribu panah untuk membuat kita mati!” Berkata sesumbar salah satu dari mereka, terlihat memiliki kemampuan di puncak pendekar pilih tanding.
Dengan mudah, pria itu menangkap panah hanya dengan tangan kosong. “Lihatlah panah ini tidak terlalu kuat!”
“Tapi, apa yang berasap di bumbung bambu kecil itu.” Salah satu temannya menunjuk bumbung bambu kecil di ujung mata panah, ada sumbu yang menyala dan hilang masuk ke dalam bumbung.
“Benda apa ini, mungkin...”
-DORRR- ledakan besar terjadi setelah pria itu menyipitkan matanya melihat benda di ujung panah. Jelas saja kepala pria itu yang pertama hancur menjadi serpihan kecil. Terkejut bukan main semua orang setelah melihat benda itu bisa meledak, dan menciptakan api.
Tubuh pria tanpa kepala dipenuhi dengan api, kemudian jatuh di jerami kering. Tidak butuh waktu lama, jerami kering dilahap si jago merah lalu kemudian menyambar pada ranting kering lainnya.
__ADS_1
“Bummm...” Sungsang Geni tersenyum kecil, bersama dengan ucapannya api berjalan dengan cepat melahap minyak di dalam parit. Sekarang diantara Surasena dan Kelelawar Iblis terpisah oleh api merah yang berkobar laksana dinding.