
Kematian Cakra Mandala, rupanya berakibat buruk pada mental Lakuning Banyu. Ini adalah hari kedua Surasena Berkabung, tapi Lakuning Banyu tidak mengizinkan siapapun untuk melakukan pemakaman terhadap Ayahhandanya.
Kedua adiknya Putri Rambut Emas dan putri Lalatah Sari hanya menangis dipangkuan ibundanya, Ratu Sedap Sari. Putri Rambut Emas yang awalnya akan diperebutkan oleh 10 Putra Mahkota, terlihat tidak berdaya. Matanya yang bulat, sekarang menyipit dan bengkak oleh karena selalu menangis.
Sedangkan Putri Lalatah Sari, dia nampak paling tegar menghadapi kematian ayahhandanya. Dialah satu-satunya yang selalu berusaha menghibur kedua kakak dan ibundanya, meski niat baiknya itu tidak membuahkan hasil.
Putri Lalatah Sari, adalah orang pertama yang menemukan Raja Cakra Mandala meregang nyawa di kamarnya dengan darah membanjiri lehernya.
Waktu kejadian itu, Putri Lalatah Sari yang umurnya baru 16 tahun, berniat mengantarkan makanan kepada Ayah handanya. Memang gadis kecil itu yang paling manja, jadi Cakra Mandala tidak melarang putrinya itu untuk membawa makanan setiap hari, menggantikan pelayan Isatana.
Namun alangkah terkejutnya, dia mendapati Ayahhandanya telah terbaring di lantai dengan luka tusukan dilehernya. Lalatah Sari tidak melihat siapa pelakunya, dia hanya menemukan jendela kamar yang terbuka. Sepertinya pembunuh itu juga telah berhasil mencuri keris panca dewa.
“Pangeran, ini sudah dua hari, sebaiknya kita makamkan Raja Cakra Mandala dengan layak.” Seorang pendeta menghampiri Lakuning Banyu yang masih meratapi jenzah Cakra Mandala.
“Aku tidak akan membiarkan kau melakukannya!” ucap Lakuning Banyu.
“Tapi pangeran...”
“Tutup mulutmu Pendeta, harus berapa kali aku mengatakannya, Ayahandaku tidak akan kemana-mana, dia harus tetap disini!” Lakuning Banyu membentak pendeta itu, membuat orang tua yang kastanya lebih tinggi dari Lakuning Banyu, menjadi tersinggung.
“Baiklah pangeran, jika itu yang anda inginkan aku tidak dapat memaksa.” Ucapan Pendeta bernada datar, nampaknya dia tidak akan ambil peduli dengan sikap Lakuning Banyu. “Tapi Pangeran harus tahu, tidak ada yang bisa menghentikan lapuknya kehidupan ini, waktu yang kejam akan terus berjalan, siap tidak siap kita pasti kehilangan orang yang paling kita cintai suatu saat nanti.”
“Apa yang dikatakan pendeta agama benar Nanda Pangeran!” Darma Guru memasuki ruang berkabung diikuti oleh Sungsang Geni dan Muksir.
__ADS_1
“Eang Mahapati...” Lakuning Banyu berkata lirih, matanya tidak mampu menatap Darma Guru.
“Semua disini merasakan kehilangan yang sama nak, kau, adikmu, ibumu, Eangmu ini, dan seluruh rakyat Surasena.” Darma Guru menghampiri Lakuning Banyu, dia menepuk cucunya itu dengan tangan bergetar. “Setelah kematian Darma Sena, akulah yang merawat Cakra Mandala seorang diri, membesarkanya, melatihnya bertarung. Apa kau pikir Eangmu ini tidak merasa kehilangan?”
“Eang, bagaimana aku tidak merasakan derita? Aku tidak pandai bertarung, Ayahandalah yang selalu menjagaku, sekarang setelah kepergian dirinya siapa lagi yang akan menjagaku?” ratap Lakuning Banyu, “Keris Panca Dewa juga hilang, jadi keberadaanku di Surasena saat ini sedang terancam.”
“Tidak ada yang bisa mengancam statusmu di Surasean anakku, tidak ada!” Darma Guru menatap jenazah Cakra Mandala yang sekarang berwara biru saking pucatanya. “Eangmu akan menjaga statusmu di Surasena.”
“Kami akan menjagamu Yang Mulia!”
“Ya, aku juga!”
“Dan Kami semua!”
“Sebaiknya kita lakukan ritual pemakamannya Nak. Kita ikhlaskan kepergian Ayahandamu, ibu juga telah ikhlas begitu juga dengan adik-adikmu.” Ratu Sedap Sari, mendekati Lakuning Banyu, dia memeluk putranya erat-erat berusuha meredam kesedihan.
Akhirnya Lakuning Banyu menyetujui ritual pemakaman Cakra Mandala. Meski jalan pikirannya masih terbentur, namun saat ini tidak ada pilihan lain yang dia punya.
Hari itu, seluruh rakyat berkabung, Surasena diterpa hujan lebat seakan langit turut menggiring kepergian raja yang bijaksana menuju alam baka. Ditengah altar suci, api membumbung tinggi meski hujan deras membasahi. Api suci itu, terasa enggan untuk kalah dari basah, atau mungkin menunjukan bahwa semangat seseorang tidak pernah padam selagi ada kemauan.
Sungsang Geni paham betul yang dirasakan Lakuning Banyu, mestinya sakit yang dirasakan dirinya lebih parah dari Lakuning Banyu. Tapi, sebuah pristiwa merupakan anak tangga menuju pristiwa yang lain, itulah konsep kehidupan. Dan Sungsang Geni memahami, konsep kehidupan terletak ditangan Sangheang widhi.
Setelah beberapa hari setelah hari pemakaman, Mahapati mengumpulkan beberapa orang yang paling dipercayainya diruangannya sendiri. orang-orang itu adalah, Senopati Pancur Lara, seorang wanita yang usianya terlihat 30 tahun, tapi nyatanya telah berusia 50 tahun. Kemudian ketua telik sandi, Jawapri dan seorang lagi, Senopati Datu Wenda yang merupakan suami dari Senopati Pancur Lara.
__ADS_1
“Terima kasih, kalian telah berkenan memenuhi undangan saya!” ucap Mahapati Darma Guru, mempersilahkan tetamunya duduk pada kursi yang telah dia siapkan sebelumnya.
“Tidak usah berkata begitu Yang Mulia Mahapati, tentu saja kami akan datang memenuhi undanganmu.” Senopati Datu Wenda memberi hormat, diikuti yang lainnya.
Darma Guru mengangguk pelan, kemudian dia kembali berucap, “Tujuan saya mengundang kalian yaitu, membicarakan mengenai masalah yang telah terjadi beberapa hari ini, kematian Raja Cakra Mandala, hilangnya keris Panca Dewa, kerusuhan yang melibatakan kerjaan Majangkara.”
“Kerajaan Majangkara?” ucap Jawapri, “Aku merasakan kejanggalan mengenai mereka, menurutku tidak mungkin mereka berniat mencuri sesuatu di kediaman pangeran Warkudara?”
“Entahlah, kita belum bisa memastikan hal itu lebih jauh, tapi aku berharap aggotamu bisa menggali informasi sebanyak mungkin mengenai hal itu!” Dantu Wenda terliat berpikir keras.
Datu Wenda merupakan Senopati yang ditugaskan menyelidiki kasus pembunuhan terhadap 5 putra mahkota, tapi hingga hari ini dia bahkan belum menadapatkan satu petunjuk berarti. Nampaknya para pembunuh itu, sangat lihai menyembunyikan jejak.
“Hal ini masih menjadi misteri besar!” ucap Senopati Pancur Lara.
“Karena itulah aku mengundang kalian kesini, aku membawa seorang pemuda bersamaku!” Darma Guru kemudian memanggil pemuda yang ia maksud, “Perkenalkan dia Sungsang Geni, pengawal Pangeran Majangkara.”
Tatapan ketiga orang itu segera tertuju kepada Sungsang Geni, mereka memperhatikan pemuda itu dari kepalanya hingga ujung kaki. Keterpukauan segera tampak dari wajah Pancur Lara, dari pada suaminya Danur Wenda, Pancur Lara telah berhasil membangkitkan cakra ajna, jadi dia bisa melihat tenaga dalam Sungsang Geni yang berputar di pusarnya, dalam jumlah besar.
“Geni!” ucap Darma Guru, “ Sekarang jelaskan kepada mereka, apa yang telah kau ketahui!”
Sungsang Geni mengangguk, lalu menjelaskan secara garis besar informasi yang dia ketahui. Mulai dari penyerangan bandit terhadap Nyai Bidara, hingga informasi yang dijelaskan oleh Muksir ketika berada dipenjara.
“Anak muda, ucapanmu itu sulit diterima? Apa kau bisa membuktikannya!” Senopati Danu Wenda bertanya, keningnya sedari tadi mengernyit mendengarkan ucapan Sungsang Geni.
__ADS_1
“Itulah kenapa aku memanggil kalian kesini!” sela Darma Guru, “Aku ingin kalian menyelidiki kebenaran informasi ini. Jika ternyata kalian mendapatkan bukti , Aku sendiri yang akan memasang tiang pancang dikepala Karang Dalo.”