PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siluman Kera 3


__ADS_3

Setelah tengah malam, mereka ber 4 tiba di depan markas siluman Kera, sebuah pohon tua yang besarnya laksana gedung bertingkat. Pohon itu berdaun kecil dengan buah berwarna kuning seukuran ibu jari.


Pohon itu dipenuhi dengan rongga, dimana setiap rongga terlihat memiliki 2 sampai tiga penghuninya. Diperkirakan Sungsang Geni, ada sekitar 15 atau 16 rongga yang berjejer rapi sepanjang batang hitam itu.


Pada salah satu rongga batang paling besar, terletak paling tinggi tepat di dahan yang bercabang, seorang siluman kera bertubuh kecil keluar di ikuti beberapa siluman yang lain.


Semua orang tahu, bahwa itu adalah raja siluman kera. Tidak berbeda memang dengan kera pada umumnya, hanya saja mata merah dan energi siluman pekat terpancar kuat dari tubuh mahluk itu.


“Astaga, apakah ini benar-benar sebuah batang?” Sungsang Geni bertanya, lebih mempermasalahkan pohon itu dibandingkan penghuninya.


“Terlihat seperti istana dari para siluman...” sambung Cempaka Ayu.


“Seperti yang kalian lihat, pohon itu adalah rumah bagi siluman kera.” Pramudhita lantas berjalan mengendap-ngendap di balik batu-batu besar yang terdapat di sekitar tempat itu. “Kita harus berhati-hati, jika tidak....”


Pramudhita menghentikan perkataannya, dia menoleh ke arah Cempaka Ayu penuh dengan tanda tanya. “Dimana Geni, kenapa dia....”


“Disana!” Cempaka Ayu menunjuk pemuda itu, yang sekarang telah menyerang pasukan kera lebih dahulu. Setelah tersenyum kecil, wanita itu juga mengikuti Sungsang Geni tanpa rencana.


“Mereka semua bodoh?” ucap Pramudhita, mengacak-acak rambutnya kemudian bergegas menyusul bersama dengan Panglima Ireng.


Sungsang Geni tidak ingin terlalu mengulur waktu saat ini, dia harus menghabisi mereka semua secepatnya. Ada banyak hal yang mungkin sedang terjadi ketika dirinya sedang menjalankan misi.


Pertarungan tak terelakkan, Sungsang Geni bergerak lebih gesit dari biasanya. Dia melayangkan pedang pada setiap siluman kera tanpa ampun. Mendapat serangan dadakan seperti itu, kelompok siluman menjadi sangat panik.


Di sisi lain, Cempaka Ayu melepaskan sebuah benda berbentuk seperti cakram kecil dengan motif sayap burung merpati berwarna putih dengan lingkaran hitam tepat berada di tengahnya.

__ADS_1


Cakram kecil itu, bergerak berdengung menghunjam tubuh siluman kera hingga tembus dan melaju pada siluman-siluman yang lain.


Itu adalah cakram yang di ciptakan Empu Pelak dari serpihan pedang batu bintang kemulung milik Sungsang Geni. Ada 15 cakram yang dimiliki Cempaka Ayu, dan ketika semua cakram di keluarkan suaranya seperti belasan lebah yang menderu.


Dengan senjata itu, cempaka ayu bisa mengirit tenaga dalamnya. Energi yang dimiliki cakram-cakram itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan sebuah bangunan menjadi kepingan-kepingan kecil.


Sungsang Geni bahkan sempat terpaku melihat benda kecil yang menikam musuh lebih cepat dari pedangnya. Yang dia kagumkan adalah, cakram itu dapat menjadi senjata rahasia paling mematikan yang pernah ada di dataran java.


"Senjata yang sangat cocok untuknya."


Salah satu siluman yang cukup kuat, tiba-tiba melepaskan pukulan energi mengarah pada gadis itu. Sungsang Geni berusaha untuk menghalau serangan itu, tapi usahanya tidak cukup cepat.


Namun alangkah terkejutnya pemuda itu, 9 cakram berputar cepat dan membentuk seperti sebuah tameng yang melindungi Cempaka Ayu dari serangan.


Wajah siluman kera sangat terkejut, tapi keterkejutannya tidak berlangsung lama setelah sebuah cakram kecil menembus jantungnya.


Di sisi lain, Pramudhita yang juga melihat kekuatan Cempaka Ayu menelan ludahnya beberapa kali. Dia tidak percaya gadis itu lebih kuat dari penampilannya yang terlihat sangat lemah.


“Senjata itu!” Pramudhita bergumam pelan. “Butuh pikiran kuat untuk mengendalikan beberapa senjata sekaligus, dia gadis yang berbahaya.”


Tampak tidak mau kalah, Panglima Ireng bertarung lebih beringas dari biasanya. Dia tidak mengizinkan satu siluman kera untuk naik keatas pohon, itu tidak boleh terjadi. Jadi hal pertama yang diserangnya adalah bagian tangan dan kaki.


“Gerrr...!” Srigala itu menatap 5 siluman kera yang terluka parah di depannya.


Sungsang Geni terbang ke atas, pada siluman kera kecil yang menjadi rajanya. Pemuda itu melepaskan pedang energi, dua tiga kali serangan tapi siluman itu lebih kuat dan lebih cepat dari siluman kera yang lain.

__ADS_1


“Jadi kalian manusia yang telah membunuh Mambang?” dia berkata sinis, berdiri diatas dahan kayu sambil menatap Sungsang Geni di bawah sana. “Aku menyukai caramu bertarung, tapi kalian datang pada tempat yang salah.”


“Kalian membunuh semua orang yang melintasi pegunungan ini, menyiksa mereka lalu memakan dagingnya hidup-hidup.” Sungsang Geni sangat geram, dia lantas melesat lebih dahulu.


“Kalian manusia adalah makanan bagi kau siluman!” Kera itu berkata seraya menghadapi tebasan pedang Sungsang Geni dengan sebilah pedang melengkung yang mirip seperti cakar seekor burung atau kucing. “Seharusnya kalian sadar diri, hidup kalian ditakdirkan untuk dimakan bagi mahluk lelembut.”


“Tidak ada peraturan semacam itu di dunia ini! Kau hanya mencari alasan untuk membenarkan perbuatan kalian saja.”


Siluman kera itu mulai menjadi serius, serangan-serangannya lebih cepat dan pada pola yang sulit untuk ditebak. Sekekali dia melepaskan tebasan energi yang memaksa Sungsang Geni mundur beberapa langkah.


Mereka berdua bertarung sangat sengit, ratusan gerak telah bertukar sejak dari 5 menit yang lalu, tapi belum ada yang terlihat kalah ataupun terluka. Sungsang Geni yakin, gerakan monyet ini lebih lihai dari setiap lawan yang telah dihadapinya.


'Aku telah menggabungkan semua teknik yang ku miliki, tapi dia bisa mengimbanginya.' Batin Sungsang Geni bergumam. 'Bertarung diatas pohon sangat menguntungkan dirinya.'


Namun tanpa diketahui , Siluman itu juga memikirkan hal yang sama. Ini adalah orang pertama yang bisa mengimbangi kemampuannya dalam setiap teknik. Atau mungkin bukan, dia baru ingat ini adalah orang kedua yang memiliki kemampuan bela diri sangat hebat.


'Ratusan tahun yang lalu, orang itu juga bisa mengalahkan diriku.' Kera itu bergumam pula dalam batinnya. 'Aji Saka, dia meramalkan kematianku berada di tangan seorang manusia. Apakah orang ini adalah dewa kematianku, menyedihkan sekali.'


Siluman itu menatap kebawah, pada seluruh pasukannya yang sudah kalah. Hanya ada 3 orang siluman kera yang tersisa, dua diantaranya sedang menghadapi Pramudhita, tapi sepertinya pertarungan itu juga akan segera berakhir.


Sementara siluman kera yang menghadapi Cempaka Ayu sudah mendapatkan luka yang tidak terhitung jumlahnya dari cakram gadis itu.


Tapi yang paling membuat raja kera itu marah adalah, ketika melihat aura yang terpancar dari tubuh Pramudhita sama seperti aura yang dia miliki. Aura lelembut terasa lebih dingin daripada aura tubuh manusia.


“Lelembut yang berteman dengan manusia?” Raja Kera itu bergumam. “Sangat menjijikkan berteman dengan mahluk rendah seperti kalian.”

__ADS_1


Lantas Siluman itu melakukan serangan brutal, dia mengerahkan semua kemampuan yang dia miliki. Serangan pedang, pukulan energi, melompat dan menyerang, semua tipu daya dalam pertempuran, tapi tidak ada satupun serangannya yang berhasil melukai Sungsang Geni. Tidak ada! kecuali hanya terpundur beberapa langkah.


“Sekarang giliranku!” ucap Sungsang Geni.


__ADS_2