
Empu Pelak mulai merasa risau, suasana nampak sedikit berbeda dari rencananya.
Bubuk setan sekarang sudah mulai menipis, tapi kelompok Kelelawar Iblis masih banyak tersisa, mungkin masih 4 ribuan. Dan itu adalah sisa yang paling kuat di kelompok itu.
Serangan panah dengan bubuk setan, tidak bisa menjangkau sisi lain, artinya pasukan Kelelawar Iblis yang berada pada sisi berbeda, masih banyak yang selamat.
Dan itu menunjukkan, bahwa mereka baru menghancurkan setengah dari kelompok itu atau mungkin ¼ nya.
Kelompok elit mungkin masih menahan diri, bersembunyi dan menjauhi jangkauan panah bubuk setan.
Ini adalah situasi buruk, kereta iblis tidak bisa dibawa dengan mudah untuk mengelilingi reruntuhan lembah ular yang sangat luas.
Empu Pelak memandangi stock bubuk setan, tidak terlalu banyak mungkin hanya beberapa bungkus lagi. Jika senjata ini benar-benar habis, maka tidak ada cara selain langsung melancarkan serangan jarak dekat.
Empu Pelak lalu menyapu pandangan pada sisi lain dari reruntuhan yang masih terlihat tenang. “Jika dipikirkan lagi, disana ada Sabdo Jagat dan Gentar Bumi yang sedang bertarung, apa mereka baik-baik saja?”
“Berapa lagi sisa bubuk setan yang kita miliki?” tanya Empu Pelak pada bawahannya.
“Aku rasa cukup untuk sekali serang, untuk tiap kereta iblis,” jawab pria itu, terlihat sedang menghitung.
“Sekitar 160 bubuk setan? Hentikan penyerangan,” Perintah Empu Pelak, “Sekarang Gunakan busur panah, dan bergerak ke selatan, disana memang ada Sabdo Jagat, tapi kita harus memastikan bangunan itu terbakar!”
Semua orang menghentikan serangan, sekitar 250 orang bergerak ke selatan. Tapi sebelum mereka mulai meninggalkan posko mereka, tiba-tiba hampir 1000 orang menerobos api. Banyak yang terbakar, tapi ada lebih banyak yang selamat.
Empu Pelak tidak dapat memastikan siapa yang memimpin pasukan itu, matanya tidak begitu jelas menangkap orang pincang yang berjalan dengan tongkat.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan Empu Pelak, Guru Jelatang Biru mengenal orang yang memimpin pasukan itu, Mata Setan. Dan tentu saja, sebab dialah yang membuat Mata Setan kehilangan sebelah kakinya.
“Empu Pelak, sekarang bawa pasukanmu menuju selatan!” Jelatang Biru mendekati Empu Pelak, “Aku akan melawan mereka disini!”
“Bagaimana kau bisa melawan pasukan sebanyak itu?” Empu Pelak berpikir harusnya melawan musuh bersamaan.
“Sisakan 10 orang pemanah dengan bubuk setan disini!” Ucap Jelatang Biru, “Misimu adalah membumi hanguskan mereka, sekarang bawa seluruh pasukan pemanah menuju selatan, dan selesaikan misimu di sana!”
Empu Pelak tidak mengerti maksud Jelatang Biru, tapi setelah melihat hampir seribu bayangan bergerak ke arah selatan, dia menjadi paham tujuan pria itu. Untuk membantu Sabdo Jagat yang jumlahnya hanya 12 orang.
“Aku mengerti! Aku akan membantu Sabdo Jagat dan Gentar bumi di sana,” Empu Pelak lalu memberikan 20 bungkus bubuk Setan, “Guanakanlah dengan tepat, aku tidak memiliki banyak Bubuk Setan yang tersisa. Dan jika...”
Empu Pelak tidak melanjutkan ucapannya, dia hendak mengatakan jangan menggunakan 'jarum payung' istilah yang sering digunakan bagi leluhur Jelatang Biru untuk mengakhiri hidup mereka. Bunuh diri, adalah hal yang sering dilakukan aliran jarum beracun, biasanya untuk menutupi informasi yang diinginkan musuh.
Empu Pelak akhirnya menuju selatan reruntuhan, misi mereka adalah membumi hanguskan tempat itu tanpa tersisa. Jika mereka tidak bisa merebutnya, maka musuh juga tidak boleh mendapatkan keuntungan dari bangunan itu.
Jarak pasukan Kelelawar Iblis yang dipimpin Mata Setan hampir 90 meter lagi dari mereka. Jelatang Biru memberikan aba-aba untuk melepaskan panah. Setelah jaraknya tinggal 50 meter, pria itu memberi perintah.
“Kirim paket kepada mereka!”
20 paket bubuk setan melayang beberapa saat di udara lalu mulai menancap pada Kelompok Kelelawar Iblis kemudian meledak. Tapi serangan itu tidak akan cukup menghabisi mereka, mungkin hanya 200 orang yang mati.
“Sekarang bersiap berperang, anak-anak!” Empu Pelak berteriak, dia menarik belasan jarum dari balik jubahnya, “sekarang jumlah mereka mungkin 600 orang! itu artinya setiap dari kita harus membunuh dua orang.”
Jarak sekarang tinggal 20 meter lagi, semua pasukan sudah besiap dengan seluruh senjata yang terhunus ke depan. Jika diperhatikan ada sekitar 50 manusia yang setingkat pilih tanding diantara banyak mayat hidup. Membunuh manusia lebih sulit dari pada mayat hidup, itu karena mereka memiliki akal.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian pertempuran terjadi dengan sengit, pasukan 300 Lembah Ular melawan 600 pasukan Kelelawar Iblis.
Jelatang Biru mengeluarkan belasan jarum dalam sekali serangan, beberapa mengenai jantung mereka, tapi ketika jarum meleset dari jantung, maka serangan Jelatang Biru hanya sia-sia.
Mayat hidup tidak akan terkena efek racun, itu artinya Jelatang Biru harus merubah cara dia bertarung. Pria itu terlihat berpikir keras, tapi menemukan cara lain untuk bertarung selain menggunakan jarum. Sekarang pria itu sedikit kesal dengan teknik yang dia pelajari.
“JELATANG BIRU...!” Mata Setan berteriak, dia berjalan pincang, tapi nyalinya tidak sedikitpun padam, “Kita lanjutkan pertarungan kita, hari ini diantara kita berdua tidak akan ada yang bisa melihat mentari besok pagi.”
Mata Setan Melepas pisau kecilnya ke arah Jelatag Biru, kali ini pisau itu berwarna biru karena tenaga dalam yang menyelimutinya.
Jelatang Biru berputar ke samping, sembari melepas 5 jarum kearah musuhnya. Mendapat serangan balasan, Mata Setan menangkis semua jarum dengan tongkat kayu yang membantunya untuk berjalan.
Lima jarum tertancap pada tongkat kayu, Mata Setan tersenyum bangga. Lalu dia mengeluarkan 3 buah pisau kecil, serangan 3 pisau kecil lebih cepat dari sebelumnya. Bukan hanya kuat pisau itu bisa kembali lagi kepada wakil komandan kelelawar iblis itu.
“Aku tidak akan kehabisan senjata, karena pisauku akan kembali lagi padaku.” Mata Setan berkata berat, “Aku ingin melihat berapa banyak jarum yang ada didalam jubah lusuhmu itu?”
Guru Jelatang Biru tidak menyukai kebenaran pisau Mata Setan bisa kembali padanya. Benar yang pria itu katakan, jarum beracun milik Jelatang Biru akan semakin berkurang. Ditambah lagi jika dipikirkan, harga untuk membuat jarum cukup mahal, setidaknya butuh 100 keping perak agar bisa membuat 1 jarum.
Semakin kecil ukuran jarum, maka semakin mahal harga membuatnya. Jelatang Biru menggunakan gading gajah sebagai bahan pembuatannya, direndam pada botol racun yang dibuat dengan bahan-bahan khusus.
Namun untuk jarum berukuran kecil, bukanlah menggunakan gading gajah, tapi sesuatu yang lain. Yaitu taring ular tiung yang berusia 100 tahun, sangat sulit menemukan ular itu. Dan lagi pula, taring ular itu hanya sebesar lidi aren.
Guru Jelatang Biru harus rela pergi ke Jalur Kelabang, untuk mencari taring ular tiung. Dan tentu saja biaya yang dikeluarkan sangatlah mahal. Jika dipikirkan lagi Jelatang Biru mungkin telah menggunakan seratus ribu keping emas untuk membuat jarum di dalam jubahnya.
Namun pada saat genting itu, tiba-tiba saja tanah di sekitar mereka terbelah, menenggelamkan belasan kelompok kelelawar Iblis.
__ADS_1