PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kabur


__ADS_3

Empu Pelak sekarang terlihat khawatir, dia memang pandai menciptakan senjata tapi bukan berarti dia pandai bertarung. Sebenarnya tidak ada yang pandai bertarung di rombongan itu kecuali Guru Tiraka.


Namun meski kekuatan Guru Tiraka setingkat Pendekar Tanpa Tanding, tidak ada jaminan akan menang melawan pasukan yang jumlahnya hampir 400 orang itu. Selain itu, ada beberapa diantara musuhnya yang menunggang kuda ber-level pendekar pilih tanding, mungkin sekitar 20 orang.


10 orang pendekar pilih tanding sama dengan 1 pendekar tanpa tanding yang berhasil membuka 1 cakra dalam tubuhya. Guru Tiraka telah berhasil membuka 2 cakra, tapi bukan jaminan dia akan keluar sebagai pemenang jika berhadapan dengan 20 orang pendekar pilih tanding sekaligus.


Sekarang Jalur Hitam hanya tinggal 500 meter lagi, Guru Tiraka tidak yakin bisa menyelesaikan misi ini dengan baik. Tapi dalam keadaan kalut, terlihat ledakan besar yang menghantam musuh yang berkuda.


Guru Tiraka seketika bernapas lega mendapati musuh berkuda terhenti lajunya oleh seorang pria yang sangat dia kenal, Sabdo Jagat.


Meski kekuatan Sabdo Jagat sama dengan Guru Tiraka, tapi dengan tongkat pusaka penghancur gunung akan membuat pria itu 4 kali lebih kuat dari dirinya.


“Teruslah berlari!” Teriak Sabdo Jagat, “Aku akan menghadang mereka disini!”


Guru Tiraka mengangguk tanda setuju, dia memacu kudanya dengan cepat. Sekarang jalur hitam hanya tinggal 100 meter lagi, dan cahaya pada lorong yang dibangun Sungsang Geni sudah mulai terlihat.


Beberapa menit kemudian, mereka berhasil memasuki lorong itu. Di tengah lorong Guru Tirka melirik ke belakang, memastikan rombongan mayat hidup mengikuti mereka, dan ternyata mereka benar-benar mengikut, membuat lorong mulai bergetar.


Setelah cukup yakin bahwa rombongan itu telah memasuki lorong, Guru Tiraka mulai merobohkan tiang topangan yang berdiri sepanjang jalur. Membuat lorong Itu tiba-tiba bergetar dan batu yang berada di atasnya mulai berjatuhan.


Dan pada akhirnya seluruh lorong menjadi runtuh, mengubur mayat-mayat hidup yang tidak menyadari jebakan ini.


"Rencana yang menarik!" Gumam Guru Tiraka.


Di ujung lorong ,Guru Jelatang Biru telah menunggu kedatangan rombongan Empu Pelak. Dari pertama rencana ini dimulai, perasaan cemas selalu menyelimuti pikiran pria itu. bahkan sekarangpun masih terlihat kegundahan di wajahnya.


“Bagaimana dengan Sungsang Geni?” Jelatang Biru menoleh ke belakang kuda, tapi dia tidak melihat dua sosok yang bersama Guru Tiraka.


“Mereka masih bertarung disana!” wajah Guru Tiraka terlihat risau.

__ADS_1


“Aku yakin Pemuda itu akan melindungi Cempaka Ayu!” ucap Empu Pelak, “Dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.”


***


10 menit sebelumnya, sebuah jurus kuat hampir saja melukai Cempaka Ayu jika bukan Sungsang Geni berhasil menahan serangan wanita itu. Tapi sebagai imbalannya, pemuda itu terhempas di dinding Tembok dan menembus kebeberapa rumah di dalamnya.


Kali ini pemuda itu menyadari kekuatan wanita itu luar biasa besar, napasnya terasa sempit. Tapi bagi Banduwati dia baru mengeluarkan kekuatannya 50 % saja, dan itu mampu menjatuhkan Sungsang Geni dengan mudah.


Cempaka Ayu segera melayang mendekati Sungsang Geni, dilihatnya pemuda itu masih dapat berdiri dengan benar. Namun situasinya tidak berjalan baik, 6 wakil komandan telah tiba ditempat mereka.


“Cempaka, aku akan memberi jalan untukmu!” ucap Sungsang Geni, “aku yakin kau juga tahu, jarak kekuatan diantara kita.”


“Tidak Geni, kita akan pergi dari sini bersama-sama. Kita akan cari jalan keluarnya!”


Cempaka Ayu melepaskan seluruh tenaga dalamnya dari yang bisa ditahan segel di keningnya, membuat seluruh benda disekitarnya melayang membentuk cincin. Jika bukan karena segel di keningnya, dewi bulan pasti akan keluar dari dalam tubuh gadis itu.


Melihat kekuatan itu, 3 dari wakil komandan mundur beberapa langkah, 3 yang lainnya masih bertahan di tempat semula tapi wajah mereka mulai terlihat panik. Namun tidak demikian dengan Banduwati. Wanita itu semakin tertawa terbahak-bahak.


“Komandan!” Pekik wakil komandan yang bermata buta, “Kekuatan yang keluar dari tubuhnya baru 25% saja, jika kau memancingnya marah, bukan mustahil kita akan celaka!”


“Bodoh, dasar tidak punya otak! Mati saja!” Banduwati mengupat serapah pada bawahannya itu, terlihat tidak senang. “Prabu Topeng Beracun, menginginkan kekuatan gadis ini. Dia menginginkan kekuatan yang lahir diwaktu gelap, dewi bulan. Kekuatan itu adalah yang paling cocok dengan kegelapan yang dia miliki. Menurutmu, kenapa kita mengincar lembah Ular lebih dahulu? Sampai sini sebaiknya kau paham, atau aku akan membuatmu menjadi mayat hidup.”


Pria buta itu tidak berani lagi mencela, dia hanya tertunduk saking takutnya. Sebenarnya Banduwati selalu berusaha memancing kemarahan Cempaka Ayu pada setiap kesempatan, agar gadis itu marah dan tanpa sadar akan mengeluarkan kekuatan tersembunyi, dewi bulan.


Banduwati memiliki sebuah susuk yang diberikan oleh Topeng Beracun untuk menyerap seluruh kekuatan Cempaka Ayu setelah dewi bulan keluar sepenuhnya. Dikatakan oleh topeng beracun, bahwa dewi bulan adalah serpihan setengah dari kekuatan kegelapannya. Dengan memiliki dewi bulan, maka dia akan menjadi mahluk terkuat di dunia bahkan mungkin mengalahkan iblis sekalipun.


Sekarang Sungsang Geni telah menyadari kebenaranya, bukan sesuatu yang ringan. “Cempaka, kendalikan pikiranmu!”


“Aku masih bisa mengendalikan pikiranku!” ucap Cempaka Ayu, “Mungkin karena segel yang kau pasangkan, selalu membuat pikiranku tetap terjaga.”

__ADS_1


Sungsang Geni menghela napas berat, dia berdiri di dekat Cempaka Ayu lalu menghunuskan pedang kedepan. “Cempaka, dengan sekali serangan!”


Cempaka Ayu mengangguk dia meraih telapak tangan sebelah kiri Sungsang Geni. Lalu tanpa diduga pemuda itu, energi sangat besar mengalir keseluruh tubuhnya. Benar, Cempaka Ayu memberikan seluruh tenaga dalammnya kepada Sungsang Geni.


“Dalam sekali serangan!” ucap Cempaka Ayu.


Sungsang Geni mengeluarkan seluruh kemampuan dirinya pada serangan ini, tenaga dalam, energi matahari dan pedang watu kencana menjadi satu,menyelimuti pedang hitam itu.


Sekarang pedang watu kencana menjadi pedang yang sangat besar karena energi yang menyelimutinya, berwarna merah dan bermotif putih dari tenaga dalam mereka berdua.


“Celaka!” ucap Komandan Banduwati, “Aku tidak bisa menahan serangan sebesar itu, aku harus menggunakan benda ini!”


Wanita itu mengeluarkan sebuah batu hitam berbentuk wajik yang diberikan Topeng Beracun untuk mengisap dewi bulan. Tapi saat ini, dewi bulan tidak akan keluar tapi sebaliknya, malah pedang energi besar yang keluar dari gabungan manusia di depannya. Jadi dia akan menggunakan batu itu, untuk menghisap kekuatan mereka.


Ke enam wakil komandan segera menjauh dari sana, tekanan angin bahkan membuat mereka tidak bisa berpijak dengan benar.


Sungsang Geni mengangkat pedang watu kencana, terasa berat dengan perasaan bercampur aduk. Dengan sekuat tenaga pemuda itu mengayunkan pedang kearah Banduwati, dan energi besar berbentuk pedang seketika melenyapkan segalanya.


Dari bukit tinggi, Sabdo Jagat bisa melihat pancaran cahaya terang dari reruntuhan Lembah Ular. Dia menjadi khawatir melihatnya, sesuatu jelas sedang terjadi pada Sungsang Geni dan Cempaka ayu.


Setelah besarnya getaran mereda energi terang berangsur hilang dari sana, menyisakan siring besar pada tanah.


Banduwati terlihat memutahkan darah segar berkali-kali. Batu yang digunakan untuk menghisap energi dewi bulan, tidak berjalan sesuai harapannya. Sekarang batu itu pecah berkeping-keping.


“Aku akan membalas kalian!” tapi kalian yang dimaksud dengan Banduwati sudah hilang dari pandangannya hanya menyisakan siring besar yang dipenuhi debu di beberapa sisi.


Dengan wajah geram,wanita itu pergi seorang diri mengejar dua orang yang berhasil memberi luka dalam pada dirinya.


Jangan lupa vote ya...

__ADS_1


Ok, ok lah... Bentar lagi rank 20 lo. Biar author makin semangat.


__ADS_2