
Setelah sekitar 50 meter Branjang Musti meninggalkan teman-temannya, tiba-tiba tubuhnya terhenti oleh sebuah telapak tangan. Dia tidak bisa melanjutkan pelariannya.
“Kau, sejak kapan....” Branjang Musti melihat Sungsang Geni telah berada di depannya dengan posisi jongkok dan telapak tangan tepat di tengah dada orang itu.
“Tombak Menusuk Macan.” Sungsang Geni berkata pelan.
“Apa?” Branjang Musti bertanya tapi kemudian matanya melotot merah dengan mulut terbuka lebar. “AHHHKKKK!”
Dia berteriak kesakitan setelah sebuah energi bertekanan kuat menerobos dadanya dan berhasil membuat 3 atau mungkin 4 tulang rusuknya patah. Energi itu berwarna bening menembus tubuh pria itu hingga terus melaju dan membuat dinding bangunan berlubang seukuran kepalan tinju.
Sungsang Geni menarik telapak tanganya, Jurus paling kuat dari jarak dekat Tekik Pedang Bayangan berhasil mengenai sasaran dengan sangat sempurna. Pemuda itu kemudian berputar dengan cepat, mendaratkan sebuah tendangan keras hingga tubuh Branjang Musti kembali lagi ke posisi sebelumnya.
Mendarat keras tepat di hadapan teman-temannya.
“AHKKK...” Suara pekikan masih keluar dari mulut Branjang Musti, dia meraba bagian dadanya yang sekarang terasa seperti terbakar, kemudian disusul dengan muntah darah.
Pria itu tersungkur tanpa ada yang membantunya, dia tidak mati tapi mungkin juga tidak lagi merasakan kehidupan. Pandangan matanya kelam dan hitam, napasnya mulai berat tapi mati juga tidak kunjung datang. Sebuah siksaan yang sangat mengerikan.
Sungsang Geni terbang dengan cepat lalu hinggap tepat di pinggir tubuh Branjang Musti. Pemuda itu mengeluarkan sebilah pedang.
“Aku akan mengakhiri penderitaanmu,” ucap Pemuda itu, lalu dia menusukan pedang bercahaya kuning itu tepat di bagian jantung Branjang Musti.
Branjang Musti mati dengan mudah, bahkan pria itu tidak sempat mengeluarkan jurus terkuat yang dia miliki. Sungsang Geni mencabut pedangnya, lalu menghunuskan kepada 7 orang yang masih berdiri terpaku di hadapan pemuda itu.
3 diantara orang itu berniat menyerang langsung Sungsang Geni, tapi kemudian mereka menghentikan niatnya setelah merasakan tekanan aura panas yang keluar dari tubuh Sungsang Geni.
“Aura apa ini?” salah satu dari mereka terlihat sangat panik. “Sangat panas.”
“Lindungi tubuh kalian dengan tenaga dalam,” ucap temannya yang lain. “Itu tadi pasti serangan terkuat miliknya, dia mungkin sudah kehilangan cukup banyak tenaga dalam pada serangan tersebut, ini kesempatan kita membunuhnya!”
__ADS_1
Sungsang Geni menggelengkan kepala, memang sedikit tipis perbedaannya antara orang bodoh dengan orang nekat. Dan orang-orang di depannya tentu saja termasuk dalam kategori orang bodoh.
“Serangan terkuat?” Sungsang Geni menatap musuhnya dengan tajam. “ Bukan, bukan , itu hanya serangan biasa.”
Mereka bertujuh masih tidak percaya, jadi mereka mulai kembali menyerang bayangan Sungsang Geni. Pemuda itu lantas menarik semua bayangannya, menggunakan bayangan dalam waktu lama akan berpengaruh pada tenaga dalamnya.
Tapi sebagai gantinya, dia mengganti pola serangan dengan menggunakan teknik Awan Berarak. Serangan jarak dekat yang paling baik diantara 3 teknik yang dimilikinya. Merasa Sungsang Geni sudah kehilangan tenaga dalam, tujuh orang lawannya menjadi sangat bersemangat.
Mereka melancarkan serangan demi serangan secara bergantian, tapi tujuh orang itu dapat dihalau Sungsang Geni dengan sangat mudah. Gerakan pemuda itu menjadi lebih cepat setiap waktunya, hingga tujuh orang lawannya menyadari bahwa pemuda di depan mereka sedang mempermainkan.
Pemuda matahari itu mengeluarkan jurus murka dewa angin, membuat tujuh orang itu menjadi kalang kabut. Hanya dalam beberapa menit saja, sayatan demi sayatan mulai menggores tubuh mereka.
“Pemuda ini, dia bergerak lebih cepat dari sebelumnya!” Mereka mulai kembali panik. “Ada berapa banyak teknik yang dikuasai dirinya? Kita bahkan tidak memiliki kesempatan untuk melancarkan serangan.”
“Ahk...!”
“Ahkk...”
5 menit kemudian, dua orang serentak terpenggal kepalanya, kemudian beberapa menit lagi pedang energi sudah menusuk jantung 2 orang lagi secara bergantian, dan sangat cepat.
Hingga akhirnya tertinggal 3 orang lagi dengan wajah pucat pasai dan keringat dingin yang berjatuhan membasahi seluruh pakaian mereka.
Sungsang Geni memandang ke tiga orang itu begitu tajam, mengoyak keberanian mereka.
Tapi beberapa sebelum Sungsang Geni kembali melakukan serangan, mereka bertiga serentak menjatuhkan senjata dan menyembah dan sujud di tanah.
“Ampuni kami, ampuni kami, ampuni kami...” Suara mereka terdengar bergetar, memohon belas kasihan dari pendekar hebat itu. “Tolong Tuan berbelas kasih, kami mengaku salah.”
Dalam kitab strategi perang sebenarnya tertulis untuk tidak mempercayai musuh yang menyerahkan diri, karena 80% dari mereka sebenarnya adalah pengkhianat. Mereka akan menunggu kesempatan untuk kembali membunuh.
__ADS_1
Tapi Sungsang Geni tidak bisa berpaku dengan kitab itu, sebagai manusia dia memiliki prinsip kesatria tersendiri, tidak akan membunuh lawan yang sudah menjatuhkan senjata atau mengangkat bendera putih karena menyerah.
Dia tentu saja bukan budak kitab, prinsip hidup harus tegak karena itulah bedanya manusia bijak dengan iblis. Lagipula orang terkuat dari 9 orang itu sudah mati, sementara 3 orang ini juga tidak memiliki niat lagi untuk bertarung.
“Aku akan mebiarkan kalian bertiga hidup, tapi dosa yang kalian lakukan harus ditebus, aku ingin kalian semua menjadi budak.” Sungsang Geni mengambil semua senjata mereka. “Apa kalian menolaknya, jika kalian tidak suka aku akan membiarkan kalian bertiga melakukan bunuh diri.”
“Tentu saja, kami bersedia.” Ketiga orang itu kembali membungkukkan badan. “Kami akan menebus dosa, biarlah menjadi budak.”
Sungsang Geni lantas meminta mereka semua berdiri, lalu dengan beberapa totokan semua tenaga dalam yang mereka miliki tidak bisa lagi digunakan.
“Sekarang kalian tidak ubahnya seperti rakyat biasa. Tentu saja kalian masih bisa bertarung dengan mengandalkan teknik bela diri yang kalian miliki, tapi aku sarankan kalian bertiga mulailah berbenah diri.”
Ada sedikit kecewa di wajah mereka bertiga, ketika menyadari seluruh tenaga dalam yang mereka miliki dan perjuangkan selama ini tidak bisa digunakan lagi.
“Tuanku, karena sekarang kami tidak memiliki lagi kemampuan untuk bertarung bagaimana kami bisa melindungi diri dari orang-orang yang mungkin akan mengincar kami?” Salah satu dari ketiga orang itu berkata pelan.
“Tidak perlu khawatir akan masalah itu, aku akan melindungi siapapun dari serangan orang-orang jahat. Saat ini mulailah berpikir untuk menjalani hidup yang lebih baik, aku akan membebaskan kalian pada saatnya nanti. Lagipula, jika tenaga dalam kalian hanya digunakan untuk berbuat nista, untuk apa dimiliki lagi?”
“Terimakasih, karena tuanku begitu bijak.” Mereka bertiga kembali bersujud di kaki Sungsang Geni.
Setelah beberapa menit kemudian, puluhan pendekar yang selama ini terpenjara di sel tahanan datang mendekati Sungsang Geni. Mendapati tiga orang prajurit Kelelawar Iblis sudah tidak memiliki daya lagi, mereka semua berniat mengeroyok.
“Siapa yang menyuruh kalian?” Sungsang Geni menekan suaranya menahan marah. “Mereka bertiga adalah budak, aku membiarkan mereka hidup untuk menebus kesalahannya. Tidak akan kubiarkan kalian menyakiti mereka.”
“Tapi....”
Sungsang Geni menatap salah satu dari mereka dengan dingin.
“Kami mengerti, ma'afkan kami.”
__ADS_1
Bantu Author dalam berkariya dengan menyumbangkan poin kalian.