
Beberapa bayangan Resi Irapanusa hilang karena tekanan gelombang energi itu, sekitar 7 bayangan masih bertahan. Sementara itu, karena kelakuannya langit yang tertutup awan hitam, terbuka sedikit. Untuk waktu beberapa menit, semua orang bisa melihat langit biru mulai berubah gelap. Waktunya memasuki malam.
Ujung-ujung bangunan Markas Petarangan runtuh seketika karena tekanan. Jika saja Mungkarna berada di permukaan tanah, maka bukan hanya ujung-ujung bangunan yang hancur tapi juga seluruh prajurit Surasena dan Kelelawar Iblis akan bertebaran seperti kapas.
'Dia menguatkan tubuhnya.' Lakuning Banyu segera menyadari jika Mungkarna sekarang berada pada pase terkuatnya.
Jika yang dimaksud Mungkarna kegelapan di dalam tubuhnya terdapat 60 bagian, maka saat ini tubuh itu telah berada pada puncak 60 bagiannya. Bintik mata merah di tengah mata hitamnya sekarang berubah seperti mata ular atau mungkin mata kucing yang berwarna merah darah.
Ada urat merah keluar menjalar dari biji matanya, hingga mirip akar yang menutup setengah bagian wajah. 60 bagian energi kegelapan, rupanya bukan omong belaka. Semua orang jelas sependapat, bahwa Mungkarna lebih kuat dari komandan manapun yang pernah mereka temui sebelumnya.
'Tapi...' Lakuning Banyu kembali memperhatikan dengan seksama. 'energi lelembut bocah itu juga meningkat, mungkin karena sudah memasuki malam.'
Yang dimaksud bocah oleh Lakuning Banyu adalah Resi Irpanusa. Kenapa demikian? Karena yang berbicara itu adalah ruh keris panca dewa yang umurnya jauh lebih tua dari pada Resi Irpanusa. Boleh jadi umur Resi Irpanusa 2,5 abad atau 3 abad, tapi Ruh panca dewa telah berumur lebih dari 5 abad. Wajar saja dia menamai Resi Irpanusa dengan sebutan bocah.
Kita tinggalkan pertarungan antara Resi Irpanusa dan Mungkarna yang masih teramat panjang. Sekarang Mahesa sedang terluka parah karena bertarung menghadapi pria kekar yang hampir memiliki ilmu kanuragan sama seperti dirinya. Pengeras tubuh.
Dua jam yang lalu, musuh itu hampir membunuh Rerintih yang merupakan kekasih Mahesa. Melihat sang kekasih dalam bahaya, Mahesa berlari mirip badak dari tempat Benggala Cokro dan menabrak tubuh lawannya hingga berjungkir balik di permukaan tanah.
Hampir saja kepala Rerintih remuk legam terkena pukulan pria itu, jika Mahesa tidak datang tepat waktu.
__ADS_1
Tapi bukan hanya Mahesa, lawannya juga mengalami luka yang tidak kalah parah. Matanya lebam dan menghitam, bibir pria itu sudah pecah dengan gigi tanggal. Sebaliknya Mahesa mengalami cidera yang cukup mengkhawatirkan, satu tulang rusuknya barangkali patah saat ini.
Tinju iblis milik lawannya berhasil menerobos dinding dewa perang milik Mahesa. Sekarang dia kesulitan untuk berdiri, karena tulang rusuk bagian bawahnya terasa menekan kulit saat bergerak. Sementara itu, lawannya kesulitan melihat karena dua kelopak matanya bengkak sebesar kepalan tinju. Terlihat cukup seimbang.
“Aku tidak menyangka ada orang yang memiliki tubuh keras selain dirinya...” Rerintih berkata lirih di tepi zona perang, tubuhnya hampir mati rasa karena mendapat satu pukulan yang sangat keras. Wajahnya jelas khawatir, karena Mahesa tidak pernah mengalami patah tulang sebelumnya, kecuali hari ini.
Mahesa berjalan dengan tangan menekan tulang rusuknya. Kemudian mendaratkan satu pukulan. Pukulan pria itu ditangkis dengan pukulan pula, membuat jari keduanya terasa mati rasa untuk sesaat.
Gelombang kejut akibat pukulan menyapu debu serta benda-benda yang ada di sekitar. Sejujurnya, Mahesa sudah tidak sanggup lagi bertarung, karena menahan sakit yang teramat sangat di bagian tulang rusuknya. Tapi dia tidak bisa terima pria lawannya telah menyakiti Rerintih.
Dua tiga pukulan bergantian saling menghujani tubuh. Suara benda keras selalu terdengar. Tidak ada yang sempat menghindar, tidak pula ada yang mau bermain curang. Ini seperti mereka sedang mengadu tubuh siapa yang paling keras atau pukulan siapa yang paling ganas.
“He..heheheh...jangan omong besar...” Pramudhita mendaratkan satu pukulan dengan aliran tenaga dalam yang cukup mumpuni, lawannya terpukul sekitar 5 depa jauhnya, dan tetap berdiri tegak. “Sepertinya aku baru saja memukul tumpukan jerami...hahaha...”
Guntur Sewu, julukan wakil komandan terkuat nomor urut lima itu. Setelah mendapat serangan yang cukup keras, wajahnya menjadi sedikit buruk. Dia tidak percaya, Mahesa masih memiliki sisa-sisa tenaga dalam.
“Terima ini, pukulan guntur sewu...” ucap pria itu, lima larik energi mirip kepalan tinju berwarna gelap datang menghujani tubuh Mahesa. Pria itu tidak bergeming, entah kenapa sepertinya dia merasa gengsi untuk menghindar.
“Tubuh Dewa Perang.” Mahesa menahan lima larik serangan mirip kepalan tinju, tubuhnya dihujani dengan sangat kuat. Mehesa terpukul mundur tiga depa dan masih tetap berdiri, meski tulang rusuknya kembali sakit.
__ADS_1
“Tidak lebih kuat...” Mahesa tertawa kecil, dia sadar pukulan yang diberikannya kepada Guntur Sewu masih jauh lebih kuat.
Mereka berdua kembali berjalan dengan susah dan kembali adu pukulan jarak dekat. Mata Guntur Sewu tidak berbentuk lagi setelah lebih dari 9 kali terkena pukulan. Tapi di sisi lain, dari tubuh bagian kiri Mahesa mulai mengeluarkan darah, barangkali tulang rusuknya yang patah menancap keluar.
Bom...bomm...bomm...pertukaran serangan sudah berlangsung hampir 100 kali,dan tidak ada satu orangpun yang menghindarinya.
“Sampai kapan mereka bertarung dengan cara seperti itu?” tanya seorang pendekar medis yang sedang mengobati Rerintih. “Apa tidak ada orang yang membantunya? Luka yang diderita tuan Mahesa cukup berbahaya.” Jelas wajah pendekar medis itu risau dan khwatir.
Rerintih juga sependapat dengan pendekar medis itu, tapi untuk sekarang siapa yang bisa membantu Mehesa? Semua orang memiliki lawannya masing-masing, sementara prajurit Surasena masih berjibaku dengan prajurit Kelelawar Iblis di tengah zona perang. Sementara pertarungan Mehesa berlangsung di sudut zona perang.
“Lagipula, Mehesa tidak suka pertarungannya dicampuri oleh orang lain...” Rerintih paham betul watak kekasihnya, jika sudah menemukan lawan yang tangguh, Mahesa akan bertarung habis-habisan.
“Tapak Dewa Perang!” Ini adalah serangan terkuat yang dimiliki Mahesa dengan segenap kemampuan yang ada. Sejauh ini tapak dewa perang miliknya hanya kalah sekali saat menghadapi lawan yang selevel, yaitu kalah dengan tarian dewa angin milik Sungsang Geni.
Sebuah tapak berwarna emas menderu, tapi lawannya tidak akan bertahan saja untuk kali ini. Dia juga melepaskan serangan terkuat yang dia miliki. “Guntur Sewu, Ledakan Gemuruh Langit.”
Sebuah energi berbentuk kepalan tinju menderu dengan cepat menahan tapak dewa perang milik Mahesa. Dentuman energi menggema di sudut zona perang. Mayat dan benda-benda lain berhamburan karena tekanan yang terjadi.
Tubuh Mahesa terpukul mundur hampir 10 depa jauhnya, dan memuntahkan darah segar, sementara itu tubuh lawannya masih tepat berdiri dengan tegap.
__ADS_1
“Kekuatan yang luar biasa...” ucap Guntur Sewu, kemudian dia memuntahkan darah tiga kali lebih banyak dari Mahesa. Tubuhnya terhuyung dan jatuh terkapar, selang beberapa detik nyawanya pergi ke alam baka.