PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni Vs Surjadi3


__ADS_3

Ruangan kamar yang memang luas, sekarang menjadi sempit sesak karena puluhan orang yang berkumpul di tempat itu.


Semua orang tanpa terkecuali mengeluarkan aura membunuh yang tertuju pada Pemuda Matahari itu, tapi niat mereka tertahan karena Surjadi mulai menunjukkan hasil kerja kerasnya beberapa bulan terakhir.


Setelah berhasil mengeluarkan kakinya dari dalam lantai, Surjadi kembali melancarkan serangan. Kali ini serangan pria itu lebih kuat dari sebelumnya, bahkan bukan hanya itu saja, tenaga dalam yang dimilikinya juga mengalami peningkatan.


“Sekarang kita bisa merasakan 4 jule tenaga dalam Surjadi.” Jambon Barat bergumam kepada Jambon Timur. “Dia telah menjadi orang terkuat setelah Guru Pendekar Pemabuk.”


“Pemuda keparat itu,” Jambon Timur menunjuk Sungsang Geni, “bukan tandingan Surjadi. Dia jadi sombong hanya karena menguasai beberapa ilmu, dan berniat pula menantang Guru kita.”


Semua orang tampak mengejek, tapi Pendekar Pemabuk menunjukkan sikap berbeda dari para bawahannya. Dia menyadari pemuda yang dilawan Surjadi belum mengeluarkan potensi kekuatan yang sesungguhnya.


Di mata Pendekar Pemabuk, Sungsang Geni nampaknya bukan pendekar dengan gaya tangan kosong. 'Dia masih belum mengeluarkan taringnya, ini bahaya! Surjadi bisa mati dengan mudah, meski tenaga dalamnya cukup besar.'


Sungsang Geni bertarung di situasi sempit, tidak banyak ruang gerak yang mereka miliki sebab puluhan orang seperti membentuk setengah lingkaran memperhatikan pertarungannya.


Sekekali Surjadi mendaratkan pukulan pada dinding ruangan, membuat lubang sebesar kepala gajah. Sekekali pula dia mendaratkan tendangan, nyaris saja melukai Saraswati jika bukan Sungsang Geni berhasil menahannya.


“Kita cari tempat yang sedikit lebih luas!” Sungsang Geni tertawa kecil, kemudian segera menjebol langit-langit markas, hingga sekarang dia berada tepat di atas atap.


Dari atas atap ini Sungsang Geni bisa melihat situasi di sekeliling Markas belum terlalu ricuh, kecuali memang beberapa pendekar Tanpa Tanding yang melihat dirinya. Beberapa waktu kemudian, Surjadi juga muncul di atas atap.


Tubuh pria itu penuh dengan debu, tangannya beberapa kali mengibaskan rambutnya yang awut-awutan.


“Tempat yang pantas untuk mati, anak muda.” Surjadi lantas tertawa terbahak-bahak. “Semua mata bisa melihat mayatmu dari sini.”

__ADS_1


“Aku datang membawa maut.” Sungsang Geni membalas gelak tawa pria itu dengan senyum kecil merendahkan. “Kalian petinggi di tempat ini, harus kembali ke neraka jahanam.”


“Selain kau tidak punya otak, rupanya kau juga memiliki mulut tajam.”


Belum kering suara Surjadi, Sungsang Geni segera melepaskan dua pisau kecil dari telapak tangannya. Lesatan dua pisau kecil itu membuat Surjadi sedikit terkejut, dia jelas belum pernah melihat teknik bertarung seperti itu.


Surjadi membalas pula dengan pukulan Mabuk Memutar Angkasa. Dua kilatan cahaya berbenturan diatas atap Markas yang berbentuk limas. Ledakan energi bertekanan besar terjadi menciptakan asap tipis.


Ketika asap tipis mulai hilang, Sungsang Geni mengambil langkah lebih dahulu menyerang Surjadi. Pedang bercahaya keluar dari telapak tangannya, dan ini membuat semua orang yang menyaksikan pertarungan itu terpukau.


Sungsang Geni mendaratkan tebasan tepat di tengah-tengah dada Surjadi. Pria itu tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar, jadi secara cepat dia menyalurkan seluruh tenaga dalamnya tepat di kedua lengan, kemudian menghentakan kaki dengan kuat hingga tertanam di atas atap, lalu menyilangkan kedua tangannya menahan tebasan pemuda matahari itu.


Bomm...ledakan sekali lagi terjadi, kali ini Surjadi meski sudah menancapkan kakinya di atap Markas, harus rela terpental sejauh puluhan meter. Nyaris saja dia jatuh dari atas atap, jika bukan Jambon Timur dan Jambon Barat menendang pantatnya.


“Aku rasa tenaga dalamnya setara dengan Guru kita.” Jambon Timur menduga-duga. “Kenapa tidak pernah terdengar namanya.”


“Nama bukanlah hal penting, satu orang bisa memiliki 10 nama dalam dirinya.” Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian memandangi sisi kirinya dimana Pendekar Pemabuk berada di atas lesung batu yang mengambang seperti layangan. “Lebih dari pada nama, orang bisa mengenal dari jati dirinya.”


Setelah mengatakan hal itu Sungsang Geni kembali menyerang tiga murid Pendekar Pemabuk dengan teknik yang pasti dikenali, Teknik Awan Berarak. Permainan pedang yang ditujukan Sungsang Geni berhasil menarik kilas balik ingatan Pendekar Pemabuk kepada sosok Ki Alam Sakti.


“Anak muda ini, dia murid dari kakek tua jahanam itu.” Kepala Pendekar Pemabuk terasa mau pecah memikirkan hal itu. “Aku bisa tahu seni bela dirinya menggunakan pedang sedikit berada diatas Tua bangka jahanam Ki Alam Sakti. Tapi kenapa dia bisa menciptakan pedang seperti yang dilakukan....”


Pendekar Pemabuk tersentak tidak percaya, dia baru ingat sosok orang yang bisa menciptakan pedang energi. Salah satu wakil komandan Banduwati, Yunirda. Teknik pedang bayangan, pikir Pendekar pemabuk.


"Dua aliran pedang sekaligus?" Kepala Pendekar Pemabuk diliputi tanda tanya. "Siapa orang ini?"

__ADS_1


Baru saja dia memikirkan hal itu, Sungsang Geni berhasil mendaratkan tebasan tepat di bagian perut Surjadi. Pria itu meringis kesakitan, tapi derita yang dialami pria itu belum berakhir hingga satu tendangan keras mendarat tepat di bagian lukanya.


Tubuh Surjadi melayang beberapa saat di udara, kemudian jatuh dari atap markas. Melihat hal itu, Jambon Barat berniat menolongnya tapi sayang hal itu tidak kesampaian. Sungsang Geni sudah berada tepat di hadapannya. Dua pukulan bertenaga dalam di dapatkan wanit itu, buah dari kelengahan.


“Jambon Timur!!!” Jambon Barat melepaskan tusuk konde ke arah Sungsang Geni sebelum pemuda itu melanjutkan tindakannya.


Mendapati serangan itu, Sungsang Geni mundur dua langkah untuk menghindari. Namun pada waktu bersamaan, Jambon Barat berhasil menangkap tubuh Jambon Timur yang terhuyung-huyung tak karuan.


Bluk, suara benda terjatuh terdengar, Surjadi terlentang di permukaan tanah tanpa sempat ada orang yang menangkapnya. Ketinggian Markas Utama mungkin dua kali pohon kelapa, cukup tinggi.


Tubuh Surjadi mengeluarkan darah segera pada setiap liang lubang di dalam tubuhnya. Ada 3 tulang rusuk yang patah, dan lebih banyak lagi urat tubuh yang putus. Belum lagi luka di bagian perut yang menganga besar, memburai mengeluarkan jeroan.


Pendekar Pemabuk melayang dengan cepat menemui muridnya itu, dia berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi.


“Tenanglah....tenanglah!” Kepanikan di wajah Pendekar Pemabuk tergambar jelas.


“A...aa...aa....” Suara Surjadi terdengar putus-putus. Hanya butuh waktu 2 menit, atau mungkin kurang, Surjadi menghembuskan napasnya dengan mata terbelit dan lidah menjulur.


Pendekar Pemabuk meremas tubuh Surjadi dengan emosi yang meluap-luap. Dia menoleh kearah atas, menemukan Sungsang Geni sedang menatapnya dengan mata tajam dan senyum merendahkan.


Segera orang tua itu melepaskan pukulan Mabuk Memutar Angkasa. 5 kilatan cahaya melesat dengan cepat menuju Sungsang Geni, dan berhasil meluluh lantakan ¼ atap Markas hingga menjadi reruntuhan.


Suara ledakan yang terjadi terdengar hingga keluar Markas.


“Aku tidak akan membiarkan kau selamat, bocah jahanam. Jika kau tidak mati di tanganku hari ini, maka tidak ada lagi tempat di bumi untukku hidup.”

__ADS_1


__ADS_2