
Sungsang Geni masih mematung di tengah pulau kecil, diatas bukit memandang ke ufuk timur dengan ratapan sedih. Ke arah sana, Dewi Bulan membawa tubuh Cempaka Ayu pergi. Pemuda itu hampir jatuh lunglai karena tekanan yang berasal dari dalam dadanya.
Bahkan rasa sakit di dalam dada, seolah lebih parah dari rasa sakit di tubuh fisik karena terlalu memaksakan diri menggunakan energi alam sejumlah banyak. Saat ini fajar mulai muncul, menampakkan cahaya merah kekuningan.
Malam tadi waktu terasa sangat panjang, lagi berat. Selarik sinar matahari menerpa wajah pemuda dengan tiga luka di mata, menunjukkan betapa berantakannya tubuh pemuda itu saat ini. Banyak luka menghiasi tubuhnya yang bidang, baju terkoyak cukup besar tepat di bagian dada, dan ada lebih banyak luka memar di sekujur tubuh.
Berangsur-angsur, suara kicau burung kecil di pulau itu mulai bernyanyi, seolah melupakan pertempuran sengit yang hampir menghancurkan setengah 'rumah-rumah mereka.'
Sungsang Geni masih memandang ke arah timur, melihat ada burung hitam putih terbang di depan matanya.
Kiranya itu adalah Cempaka Ayu, tentulah perasaan pemuda itu akan menjadi sedikit lega. Tapi rupanya, itu hanya harapan kosong, burung tetaplah burung dan manapula menjadi sosok Cempaka Ayu.
Sungsang Geni turun mendekati Nogo Sosro, kala itu kabut tipis masih bercampur debu dari hasil pertarungan mereka melawan musuh.
“Kakek Nogo, aku ingin kau membawa satu lagi peti untuk setengah bagian nyai Siwang Sari!” Meski perasaannya tidak menentu, pemuda itu tetap memikirkan Nyai Siwang Sari, dimana tubuhnya telah menjadi banyak bagian. “Aku juga meminta, agar setengah potongan tubuh wanita itu kau bawa ke dalam laut dalam, jika bisa kau kubur di dasar laut.”
“Haruskah kita melakukan hal sejauh itu?” Nogo Sosro bertanya ragu.
“Kita tidak bisa mengambil resiko, aku akan menguburkan setengah bagian di gunung manapun di tanah Java agar tidak ada orang yang bisa menyatukan potongan tubuh wanita itu lagi.”
Tampak mengerti, Nogo Sosro menjelma kembali menjadi seekor ular naga dan masuk ke dalam laut yang berwarna biru kehitaman karena hari masih sedikit gelap.
Beberapa saat kemudian, dia telah kembali dengan peti lain. Menyerahkan benda itu kepada Sungsang Geni, dan membantunya memasukkan potongan tubuh Nyai Siwang Sari kedalamannya.
__ADS_1
Peti itu terlihat sangat kuat, entah siapa orang yang berasal dari laut dalam pandai menciptakan benda itu. Tapi Sungsang Geni menyadari, ada sedikit energi dingin yang selalu memancar di seluruh permukaan peti.
Beberapa orang percaya, bahwa setiap benda yang berasal dari laut, dapat menetralisasi beberapa kekuatan.
“Tuan pendekar, sekarang tugas saya sudah selesai...” Nogo Sosro sudah terlihat gelisah, mungkin karena terlalu lama tinggal di daratan dengan mewujud menjadi manusia sehingga kekuatan mahluk itu menjadi lemah. “Ma'afkan aku, sebab tidak bisa ikut mencari temanmu...”
Nogo Sosro tidak berniat melanjutkan ucapannya, takut jika Sungsang Geni malah semakin terlihat lebih buruk lagi.
“Kakek Naga, tolong rawat Paman Pramudhita, dia sudah banyak membantuku.”
Nogo Sosro hanya mengagguk, lantas pergi lagi ke dalam laut dalam. Meninggalkan pemuda itu dengan ratapannya.
Ketika hari sudah benar-benar terang, pemuda itu dengan tenaga dalam yang tersisa pergi kembali ke tanah Java dengan membawa peti berwarna hijau dan bersisik. Sebelum dia kembali menemui teman-temannya, pemuda itu mengunjungi sebuah gunung gersang yang ada ditempat itu.
Mencari goa yang sunyi, membuat lubang cukup dalam baru kemudian menguburkan setengah bagian Nyai Siwang Sari.
Darma Cokro tidak tinggal diam, begitu pula seluruh pasukan Surasena, jadi semua orang berusaha payah untuk membunuh musuh sebanyak mungkin. Tidak ada yang berniat mengampuni nyawa mereka.
“Buru mereka hingga ke dalam hutan!” Darma Cokro memberi perintah. “Jangan biarkan satu mahluk ini hidup di muka bumi!”
Benggala Cokro melayang cepat di antara pohon-pohon besar. Memainkan tiga pedang berwarna emas, dan berhasil menikam puluhan orang. Andaikata tenaga dalamnya masih tersisa cukup banyak, tentulah dia tidak akan kesulitan untuk membunuh ratusan prajurit Kelelawar Iblis itu.
Ki Alam Sakti adalah satu dari beberapa orang yang tidak melakukan tindakan. Pria tua itu tidak akan menuruti nafsu untuk membunuh lawannya yang tidak berdaya, tapi pak tua itu juga menyadari membiarkan mereka juga bukan hal yang baik.
__ADS_1
Bersama dengan dia, Lakuning Banyu menunjukkan gelagat sikap yang aneh. Membuat Ki Alam Sakti dan juga Ki Lodro Sukmo menjadi sedikit terkejut. Untuk beberapa waktu, raja dari Surasena itu mengalami kejang-kejang dengan mata mendelik ke arah langit.
“Paduka Raja...” Ki Alam Sakti menegur Lakuning Banyu setelah tubuh pria itu menjadi tenang. “Apa kau baik-baik saja?”
Belum menjawab untuk beberapa waktu, barulah kemudian mata pemimpin negri itu kembali seperti manusia pada umumnya. Sisik-sisik di tubuhnya juga hilang, serta aura dingin lenyap seketika.
“Aku baik-baik saja, Ki Alam Sakti, Ki Lodro Sukmo.” Mendesah pelan Lakuning Banyu. “Roh panca dewa sudah kembali lagi kedalam keris.” Memang tadi terlihat ada pancaran bening dari keris panca dewa yang terselip di pinggang belakang Lakuning Banyu.
Saat ini juga, masih terdengar pertarungan di dalam hutan, jerit rintih para musuh yang dibantai oleh pasukan Surasena.
Ketika matahari benar-benar menyinari tempat itu, barulah semua orang sadar akan pemandangan mengerikan terpampang di depan mata. Ribuan mayat bergelimpangan, menebar bau anyir luar biasa.
“Inilah akibat dari setiap perperangan yang terjadi...” Ki Alam Sakti hampir tidak kuasa melihat mayat-mayat antar kedua belah pihak.
“Adakah harga dari ini semua?” Lakuning Banyu tertunduk pilu. “Mereka memiliki keluarga, bukan? Semua ini terlihat tiada berarti...”
“Jangan berkata demikian, Paduka Raja.” Ki Lodro Sukmo mencoba untuk menenangkan. “Setiap pejuang kebaikan, gugurnya mereka adalah kehormatan. Darah mereka mungkin anyir, tapi pada sejatinya harum semerbak. Mereka akan ditempatkan di alam nirwana, dengan perasaan tenang.”
“Aku akan memberi ritual pemakaman terbaik untuk pejuang-pejuang kita.” Lakuning Menutup ucapannya.
Tidak jauh dari mereka, puing-puing bangunan tembok Surasena masih berasap putih. Beberapa bagian masih dilalap api, dan beberapa bagian lain sudah hancur lebur menjadi abu.
Ki Lodro Sukmo berjalan mendekati puing-puing tembok pengungsian itu. Baginya itu adalah pemakaman paling besar untuk seorang pria sejati, Darma Guru. Entah kapan perang ini akan berakhir, tapi jika dia masih hidup akan dibuatnya batu nisan di sana sebagai penghormatan terakhir bagi Mahapatih Surasena itu.
__ADS_1
“Kawan, kita mungkin tidak terlalu berteman baik.” Berkata lirih Ki Lodro Sukmo. “Tapi demikian, ketika kau telah tiada, kenapa aku merasakan kehilangan?”
“Perasaan kita disatukan dalam perjuangan.” Ki Alam Sakti mendekati Ki Lodro Sukmo. “ Darma Guru, dia adalah satu dari sekian banyak orang yang akan berada di istana nirwana, dia pria hebat, bukan?”