
Meski masih dalam keadaan sakit kaki, tapi Panglima Item sanggup mengoyak-ngoyak puluhan pendekar level kelas tanding seorang diri. Seolah gigi taringnya tidak akan terhalang oleh kaki depannya yang sakit.
Srigala itu mengendus sekali lagi, dia menundukkan kepalanya menatap mangsa yang cukup kuat. Dua kali dia mendaratkan cakar, tapi lawannya berhasil menangkis serangan binatang itu dengan sebuah tameng perang.
Panglima Ireng melompat beberapa tingginya, untuk ukuran srigala biasa tinggi lompatan Panglima Ireng termasuk kategori langka.
Dia menendangkan kaki depannya, membuat orang bertameng yang dilawannya terjatuh ke permukaan tanah.
Pada saat yang sama, Panglima Ireng berhasil mencengkram tangan kanan pria itu. Nyaris putus.
Di dekat Panglima Ireng, gadis cantik dengan kapak besar mulai membuat liang-liang dan menguburkan musuhnya. Dia tidak mengetahui jika gurunya, Gentar Bumi dalam keadaan terluka parah, sebab tempat mereka saat ini berada sedikit lebih ujung dari titik medan perang.
“Gerr...” Panglima Ireng menyunggingkan senyum menyeramkan, gadis itu yang tak lain adalah Ratih Perindu segera saja memutar tubuh ke belakang, mengangkat kapak sangat tinggi.
Dua orang terlihat begitu pucat, rupanya Panglima Ireng melihat ada musuh mencuri kelengahan Ratih Perindu. Kapak besar mendarat ke tanah, Ratih Perindu bisa saja membelah mereka berdua tapi tidak dilakukannya.
Dari serangan itu rekahan tanah sedalam dua depa terbuka lebar,memasukkan dua orang prajurit Kelelawar Iblis beserta beberapa temannya yang lain.
“Kau baru saja menyelamatkan aku.” Ratih Perindu menepuk moncong Panglima Ireng. “ Aku sangat berterima kasih, kelak akan kuberi satu ekor bebek panggang.”
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng sekali lagi menyunggingkan senyum manisnya, yah meski tetap menyeramkan.
Ratih Perindu beserta Panglima Ireng menyapu semua musuh dengan cukup mudah. Memang mereka berada di pinggiran pertempuran sehingga musuh yang dihadapi tidak terlalu kuat. Beberapa pasukan Bayangkara juga berada di dekat mereka berdua.
Empu Pelak duduk di atas kereta yang ditarik dengan 6 ekor kuda besar dan satu kusir gagah. Kuda miliknya di lengkapi dengan pakaian perang, sehingga apapun yang mencoba menghalangi kereta kuda akan terjatuh dan terinjak.
__ADS_1
Berdiri di atas kereta kuda, satu gadis cantik dengan busur panah bertugas menghujani musuh dengan kematian. Cawang Wulan nampaknya pendekar paling cocok menggunakan bubuk setan.
“Disana!” Empu Pelak menunjuk satu kerumunan musuh.
“Serahkan padaku!” Cawang Wulan melepaskan busur panah yang dilengkapi dengan bubuk setan.
Beberapa menit kemudian, ledakan terjadi menciptakan kepulan asap. Entah sudah berapa banyak musuh yang mati karena senjata yang dibuat Empu Pelak, tapi yang jelas senjata itu sudah membunuh seribu pasukan saat ini.
“Bubuk setan sudah habis!” Cawang Wulan berteriak.
“Apa?”
“Bubuk setan sudah kosong!” Cawang Wulan mengangkat tong hitam dari kayu, membaliknya di hadapan Empu Pelak untuk membuktikan bahwa tidak ada apapun di dalam tong itu.
Empu Pelak mendesah kesal, padahal dia sudah menciptakan banyak sekali bubuk setan tapi rupanya itu tidak cukup untuk membumi hanguskan musuh-musuhnya. “Lain kali kita harus membawa seratus tong bubuk setan, astaga berapa banyak bahan yang harus disiapkan.”
“HAHAHA!” Empu Pelak tertawa lepas, dia menyodorkan satu tombak pada lawan yang ada di samping kereta. “Gadis cantik, aku menyukaimu..hahaha...jika putraku masih hidup kau harus menikah dengannya.”
Cawang Wulan tersenyum simpul. Jelas saja perkataan dari pria tua hanya dianggap angin lalu bagi gadis itu.
Berada di sisi paling barat pertempuran, berdekatan dengan puing-puing markas Surasena yang luluh lantak karena Darma Guru, Mahesa dan para Hulubalang berjibaku dengan salah satu wakil komandan.
Wakil komandan itu memiliki seribu pasukan saat pertama mereka bertempur, dan saat ini tertinggal 500 orang lagi. Tapi untuk membunuh separuh pasukan itu, Wira Mangkubumi harus mengorbankan hampir 600 orang pula, bahkan lebih banyak dari pihak musuh.
Wira Mangkubumi tidak sempat memperhitungkan kekuatan Wakil Komandan Kelelawar Iblis yang ternyata melebihi dirinya. Jika bukan karena 5 Hulubalang yang selalu setia di samping pria itu, tentulah saat ini dia sudah mati, paling ringan mungkin sekarat.
__ADS_1
“Logat dan bahasa yang kalian gunakan, menunjukkan bahwa kau bukan dari tanah Java.” Seorang pria kecil botak bertanya, tak lain adalah Wakil Komandan Kelelawar Iblis yang tunduk pada Nyai Siwang Sari.
“Apakah penting membicarakan asal muasal dalam pertarungan ini?” Wira Mangkubumi mengeraskan pegangan tombaknya. “Kalian para mahluk berhati iblis, tidak layak berpijak di tanah manapun di bumi ini.”
“Mulutmu tajam sekali anak muda.” Pria kecil berkepala botak memasang raut wajah kesal. “Tapi apakah tombakmu setajam mulutmu? Mari kita buktikan.”
Hulu Maut Berdarah, adalah julukan pria itu. Serangan dia bukan dengan senjata atau pula kepalan tinju, tapi dengan sundulan kepala. Sasaran pria tua itu adalah hulu hati, karena hal itulah dia dijuluki dengan Hulu Maut Berdarah.
Saat ini pria tua botak alias Hulu Maut Berdarah menghentakan kakinya, beberapa saat kemudian tubuhnya terbang melesat dengan kepala mengarah kedepan. Sundulan pria itu teramat sangat kuat.Seperti tidak ada benda yang bisa menghentikan kepala botak licinnya.
Wira Mangkubumi menghujani kepala itu dengan mata tombak, tapi serangan semacam itu tidak dapat membendunnya. Wira Mangkubumi terpaksa melentikan tubuh, membuat serangan itu melewati tubuhnya dan melesat mengenai tiga pohon besar.
Seperti baru saja terkena pukulan maha dahsyat, tiga pohon itu tumbang. Selang beberapa menit kemudian, orang tua itu kembali muncul dari semak-semak gelap dan berhasil mengenai salah satu hulubalang hingga tewas seketika.
Ketika dia berhasil membunuh satu hulubalang, barulah dia berhenti. Dia duduk tepat di tubuh hulubalang yang telah tewas, kemudian tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk kepala pejuang itu.
“Alah, aku pikir sekuat apa kalian berlima, tak tahunya mati dengan satu kali serangan.”Hulu Maut Berdarah semakin tertawa kegirangan ketika melihat wajah-wajah Hulubalang di belakang Wira Mangkubumi menjadi pucat, kemudian dia menunjuk tepat ke arah Wira Mangkubumi. “Kau! Setelah ini giliranmu.”
Wira Mangkubumi menelan ludah beberapa kali. Tengkuknya terasa dingin, tapi tidak ada pilihan lain, tampaknya mundur dan maju akan sama saja, yaitu kematian.
Wusst...serangan pria botak itu baru saja melewati tubuhnya. Kemudian menghantam sepuluh orang prajurit Swarnadwipa hingga tewas, belum selesai disana kepala botak itu kembali meluncur ke arahnya.
“AHK!” Wira Mangkubumi terpekik, kepala botak itu menghantam tepat di perutnya.
Tubuh pria itu melayang puluhan meter, kemudian berjungkir balik di tanah sejauh 10 depa dan menghantam 5 orang prajurit lainnya. Pandangan Wira Mangkubumi menjadi gelap seketika, tubuhnya terasa panas dan nyeri teramat sangat.
__ADS_1
Dia hanya mendengar beberapa orang menyebut-nyebut namanya, tapi pria itu tidak dapat melihat dengan jelas siapa gerangan orang yang sekarang berada di hadapannya.
“Bertahanlah, bertahanlah!”