
Ketika pedang semakin terasa panas, Sungsang Geni melawan tiga orang musuhnya bersamaan. Butuh usaha keras bagi Tiga Pendekar Iblis Dari Malaka untuk mengimbangi pergerakan pemuda itu.
Cepat, gesit dan mematikan. Setiap pedang energi yang berbenturan dengan senjata mereka, menciptakan gelombang kejut bertekanan sedang. Debu dan ranting berhamburan.
“Tunggu...tunggu!” teriak Malaka Lime. “Aku kehabisan nafas, biarkan aku minum sejenak.”
Sungsang Geni tersenyum kecil. “Apa yang kau maksud? Mengulur waktu. Persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan memperpanjang waktu.”
Malaka Lime menelan ludah pahit, wajahnya menjadi buruk setelah kelebatan cahaya terang melesat menuju ke arahnya.
“Minghindar bodoh!” teriak Malaka Tige, menarik tubuh Malaka Lime yang besar bak tong air ke samping, sehingga pedang cahaya kuning berhasil dihindari. “Apa kau mau cari mati? Kita harus menjadi waspada, pemuda ini bukan sembarangan.”
Malaka Lime yang dikatakan memiliki kemampuan meringankan tubuh sangat baik, rupanya tidak bisa menahan diri ketika melihat serangan Sungsang Geni barusan. Tubuhnya hampir mati kutu, jika satu detik saja Malaka Tige tidak menarik tubuhnya, genderang perang di perutnya pastilah terbelah menjadi dua.
“Kalian jangan lengah!”
“Malaka Tige?” ucap Malaka Lime sambil terengah-engah. “Apa kau tidak menyadari, setiap saat aura panas dan kekuatan pria itu semakin meningkat. Atau hanya perasaanku saja, mungkin dia memang memiliki tenaga dalam yang sangat besar, hanya saja menutupinya sejak tadi.”
Malaka Tigepun sebenarnya menyadari, tapi di saat seperti ini dia tidak mungkin merendahkan diri dan mengakui jika pemuda dengan pedang energi di depannya lebih kuat dari mereka bertiga. Harga diri mereka sebagai pendekar Iblis akan tercoreng.
“Kau ini bicara apa?” kilah Malaka Tige. “Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Tapi...aku tidak mungkin...”
Belumlah usai ucapan Malaka Lime, sekelebat cahaya terang bergerak lebih cepat dari sebelumnya, dan.
“Ahhkkkk!” kali ini Malaka Due yang menjadi sasaran Sungsang Geni.
Dua pedang miliknya patah menjadi serpihan kecil, tubuhnya terpental puluhan depa jauhnya dan mendarat tepa di tumpukan mayat. Luka besar terlihat jelas membelah dadanya yang kecil.
__ADS_1
“Jangan lengah, kalian masih berada dalam jangkauanku!” Sungsang Geni tersenyum sinis.
Menelan ludah sekali lagi Malaka Lime, kemudian dengan secepat kilat dia terbang ke arah Malaka Due. Nasip sahabatnya itu cukup buruk, mungkin butuh upaya besar untuk bisa menghentikan pendarahan yang ada di dadanya.
Malaka Due menyalurkan tenaga dalam cukup banyak, tapi entah kenapa darah tidak mau berhenti mengalir. Sementara itu ringisan Malaka Due mulai pelan terdengar, seolah rasa perih dan panas di dadanya tidak tertahan lagi.
Ini adalah balasan karena dia telah menusuk lengan kanan Sungsang Geni.
“Bertahan...bertahanlah teman...” Malaka Lime berusaha menjagakan Malaka Due, setiap bola mata pria itu hendak menutup.
Di sisi lain, Sungsang Geni sedang menghadapi Malaka Tige dengan kemampuan tombaknya. Dia mungkin berniat mengulur waktu bagi Malaka Lime untuk mengobati pendarahan Malaka Due.
Sungsang Geni memutar tubuhnya di udara, melepas dua pisau kecil dan turun menukik dengan pedang terhunus ke bawah. Malaka Tige menghindari dua mata pisau kecil, tapi dia terpaksa menangkis pedang Sungsang Geni dengan mata tombaknya.
“Apa...tidak mungkin?” Malaka Tige terkejut bukan kepalang, ini benar-benar mustahil pikirnya. Pedang bercahaya emas tidak dapat di halau, mata tombak miliknya tiba-tiba memuai. Semakin lama, mata tombak kebanggaan pria itu leleh seperti air hingga mata tombak lenyap dari gagangnya.
Insting pria itu mengatakan untuk mundur, pemuda ini bukan tandingan. Sementara itu Sungsang Geni malah tersenyum sinis, setingkat Komandan Pertama? Jelas tidak, mereka bertiga mungkin lebih tinggi dari wakil komandan tapi jelas tidak setingkat dengan Komandan Kelelawar Iblis.
Pemuda itu melanjutkan kembali aksinya, lengannya yang sudah terlanjur panas tidak akan berhenti bertindak sampai bisa menanggalkan kepala lawannya. Pemuda itu baru menyadari, rupanya Energi alam sejak tadi mengalir deras dan menyatu dengan lengan kanannya. Mungkin inilah yang membuat energi panas pada pedangnya meningkat drastis.
Hendak melarikan diri, Malaka Tige mulai melirik celah untuk kabur. Tapi niat itu terbaca oleh Sungsang Geni, jadi tanpa pernah pria itu duga sebelumnya dan mungkin baru kali ini dia melihat ada Empat Tubuh Sungsang Geni berdiri di pinggir dataran ilalang.
“Apakah ini ilusi?”tanya Malaka Tige, mengetahui bahwa tidak ada lagi celah untuk melarikan diri.
“Kau boleh mencoba kabur, dan membuktikan apakah mereka itu adalah ilusi!” ucap Sungsang Geni.
“Iblis keparat, apakah dari tadi kau hanya menganggap kami mainan? Jadi ini adalah kekuatan dirimu yang sesungguhnya?”
“Tentu saja bukan...” Sungsang Geni memasang ekspresi datar. “Kau akan tewas ketakutan jika semua kekuatanku keluar.”
__ADS_1
“Jangan sombong...”
“Ah, obrolan ini tidak ada gunanya, bukan? Sebaiknya kita akhiri ini.” Sungsang Geni memasang kuda-kuda, bersiap melakukan satu serangan. “Aku rasa, kau layak menerima serangan ini.”
Malaka Tige menoleh ke arah temannya di belakang, tampaknya pria gendut sedang menangis histeris karena Malaka Due sudah pergi ke alam baka. Ketika dia menoleh ke arah Sungsang Geni, cahaya terang berwarna emas sudah menyelimuti sebagian tubuhnya.
Dua pedang tercipta setelah cahaya terang itu, berada tepat di pinggir pundak berwarna hijau keemasan. Ini adalah jurus terkuat dari pedang emas, jurus ini pernah ditunjukan oleh Benggala Cokro.
Tiga pedang lantas melesat secepat kilat.
Malaka Tige tidak bergeming, bukan hanya cepat pedang itu semakin terasa panas. Dia mungkin berniat menghindar, melompat jauh atau pula berlari sekencang-kencangnya, tapi tidak bisa. Tiga pedang sudah berada tepat dihadapan.
“Pedang Cahaya Dari Surga...” Sungsang Geni membuka telapak tangannya ke arah Malaka Tige, kemudian dengan cepat mengepalkan tinju. Seketika, tiga pedang menusuk ke tubuh pria itu, menjadi satu tepat di dalam tubuhnya.
Ketika tiga pedang bersatu padu, energi dari pedang akan meledak. Dan itu akan menjadi akhir dari kehidupan Malaka Tige. Tubuhnya meletup dengan keras, seperti baru saja tertimpa batu meteor.
Tubuhnya seketika menjadi serpihan-serpihan kecil, darah muncrat dan membasahi bunga-bunga rumput ilalang.
Semua orang memandang ke atas, tanpa terkecuali. Prajamansara membuka tirai jendela, mendongakkan kepala, dua detik setelahnya seluruh tubuhnya gemetar dan sendi terasa lepas.
Sementara Patih Siruyu Citro tersenyum pahit. Jelas pula dia mengenal jurus terkuat dari Perguruan Bukit emas. Puluhan tahun yang lalu Sesepuh Bukit Emas menjadi satu dari tiga pendekar tidak tertandingi karena menguasai jurus itu. Tak disangkanya akan melihat jurus itu lagi, setelah sekian lama.
Di sisi lain, malaka Lime hanya duduk dengan wajah lesu, memandangi darah bercecer di rumput. Tiada harapan lagi akan memenangkan pertrungan ini, melarikan diripun tampaknya percuma.
Dua temannya sudah mati, tinggal dia yang utuh dan mungkin akan pergi pula ke alam baka.
Pada saat yang sama, empat bayangan Sungsang Geni bergerak cepat, melakukan serangan terakhir untuk menghabisi sisa-sia musuh yang sedang panik.
Kemudian terdengar teriakan dari mulut Siruyu Citro. “Prajamansara! Hari ini kau akan di adili.”
__ADS_1