
Satu jam setengah pertempuran telah dilakukan oleh bangsa lelembut, bantuan mereka benar-benar membuat medan pertempuran berubah drastis.
Surasena dan sekutunya berhasil menguasai medan pertempuran saat ini, bahkan dengan kekuatan racun ular dari bangsa laut dalam, tidak sulit membunuh pendekar yang telah berada pada puncak pilih tanding.
“Sekarang perlihatkan lukamu!” ucap Tabib Nurmanik.
Dia bergegas meraih tubuh Wira Mangkubumi yang hampir jatuh karena kehabisan darah. Pria itu tidak mengerti batas kemampuan tubuhnya dan tersu bertempur, sehingga luka-luka yang di deritanya tidak sempat menutup meski Dirga sudah memberikan obat.
Wira Mangkubumi membuka pakaian di pundaknya, sebuah lubang tipis menembus dari depan hingga ke belakang tubu kekarnya. Darah jelas tidak berhenti mengalir, bahkan darah pria itu sekarang bercampur dengan air bening, barangkali karena darah sudah mulai kering di dalam tubuhnya.
Bibir Wira pucat dan membiru, dengan tangan bergetar dia mencengkram gagang tombak ketika cairan beraroma aneh keluar dengan sendirinya dari dalam wah mirip bambu kuning. Seketika luka Wira menutup dengan cepat. Ini adalah ramuan luar biasa, bahkan pendekar medis dari perguruan Bukit Emas tidak memiliki keahlian setingkat itu.
Butuh waktu lima menit hingga kondisi Wira Mangkubumi benar-benar pulih seutuhnya. Waktu paling cepat yang pernah terjadi untuk mengobati luka.
“Sekarang kalian semua! Bersama dengan prajurit yang lain berikan ramuan ini untuk mengobati luka-luka mereka.” Nurmanik memerintah sekitar 30 muridnya menyelamatkan semua orang secepat mungkin. Selagi masih bernafas harapan untuk hidup masih terbuka lebar.
“Aku akan membantu kalian!” ucap Rerintih. Diantara empat temannya, Rerintih adalah orang yang mengalami cidera paling ringan, jadi sebagai balasan karena teman-temannya telah melindungi, kekasih Mahesa itu akan membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan.
Sekarang ribuan prajurit Surasena sedang dalam perawatan, sementara sisanya masih berjuang melawan prajurit Kelelawar Iblis dengan sekuat tenaga.
“Kami tidak memiliki banyak waktu di alam manusia...”
“Benar, jadi sekarang kita harus menghabisi mereka selagi sempat.”
__ADS_1
Yang dibawa Pramudhita dari padepokan Pedang bayangan sekitar 300 orang. Mereka semua memiliki tenaga dalam sebesar 3 jule hingga 4 jule. Itu artinya di alam manusia, mereka berada pada puncak pendekar tanpa tanding.
Ke tiga ratus orang itu -tidak termasuk Tabib Nurmanik, ketika menyadari waktu mereka tidak berlangsung lama lagi, semuanya sepakat untuk melepaskan serangan terkuat pedang bayangan.
“Apa itu...?” Mahesa hanya terpaku melihat 300 naga bayangan keluar dari pedang hitam para pendekar lelembut. Mahesa masih belum bisa mengendalikan diri setelah mengetahui ada ratusan ular datang dari tanah, dan dia melihat 5 naga besar.
Tapi kali ini, bukan hanya dia saja, semua prajurit Surasena sesaat tidak bisa bergerak karena melihat penampakan itu. Lima ekor Naga adalah hal yang sangat langka, tapi sekarang malah ada 300 naga bayangan berada di depan mereka.
“Murka Naga Bayangan, Pedang Bayangan!”
Dengan bersamaan, 300 naga bayangan menerjang semua lawan yang ada di depannya. Tidak terkecuali, yang kuat atau yang lemah. Penunggang kuda atau pula pejalan kaki, semuanya terbabat rata.
Gemuruh naga bayangan seperti badai laut yang menerjang daratan. Semuanya berwarna bening dengan mata merah dan gigi tajam. Naga-naga itu menciptakan teriakan-teriakan yang mencekam.
Ada lebih 2 ribu pasukan Kelelawar Iblis mati dengan serangan itu. Dan lebih dari 2 ribu musuh mengalami luka yang tidak ringan.
Salah satu pendekar pedang bayangan datang mendekati Darma Cokro. “Kami tidak bisa lagi bertarung setelah ini, ini adalah kekuatan terkuat yang kami miliki. Jadi saat ini, kami akan kembali lagi ke alam lelembut.”
“I...iya...terima kasih...” Darma Cokro hanya terbata-bata menjawab perkataan pria itu. Sementara itu si pria menatap sekilas ke arah Lakuning Banyu yang di dalamnya ada ruh keris panca dewa.
Pria pedang bayangan itu mengernyitkan kening, jelas tahu bahwa di dalam tubuh pria itu ada bangsa lelembut pula seperti mereka. Hanya saja bedanya bangsa lelembut penunggu keris panca dewa dengan mereka adalah; ruh panca dewa sudah di sumpah akan terus berada pada sebuah benda.
“ Tapi tenang saja, Pemimpin kami bisa bertahan untuk beberapa waktu lagi di sini...” sambung pria pedang bayangan itu, yang dimaksud dengan dirinya adalah Resi Irpanusa.
__ADS_1
Bagi mereka yang memiliki kemampuan sangat kuat, bertahan di alam manusia bisa lebih lama dua kali lipat daripada lelembut yang memiliki kemampuan sedang. Sementara jika bangsa lelembut benar-benar lemah, meski malam hari mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali merubah dirinya menjadi seekor hewan.
Setelah mengatakan hal itu, 300 bangsa lelembut lenyap seperti debu yang terbang diterpa angin.
“Hanya tiga ratus orang, mereka bisa membunuh dua ribu lawan dan melukai sisanya.” Mahesa bergumam kecil, suaranya antara kedengaran dengan tidak. “Bangsa lelembut benar-benar lebih kuat dibanding manusia.”
“Pendekar dari Padepokan Pedang Bayangan sudah kembali...” Nogo Sosro berkata pada anak-anaknya. “Kita juga harus menyelesaikan tugas, kemudian kembali lagi ke dasar laut dalam. Waktu kita tidak terlalu banyak di tempat ini, aku bisa merasakan setiap saat alam manusia menyerap energi lelembut.”
“Kami mengerti Ayah.” Salah satu naga menjawab, kemudian meliuk tepat di hadapan ratusan ular berwarna hitam yang berbisa. “Kita harus menyerang sekali lagi, kemudian kembali lagi ke alam lelembut, waktu kita tidak banyak.”
Ratusan ular itu terlihat mengerti, jadi sekarang gerakan mereka lebih liar dari sebelumnya. Meliuk-liuk di tanah kemudian masuk di dalam baju lawan, menggigit dan pergi lagi ke tubuh yang lain.
“Kenapa tengkukku semakin terasa dingin?” Benggala Cokro meremas tengkuknya, bahkan bulu kuduk pemuda itu berdiri karena melihat pemandangan aneh di depan matanya. “Apa kau tidak merasakannya, manusia berkulit keras?”
“Tentu saja aku merasakannya pula...” ucap Mahesa.
Lima Naga kemudian bergerak sedikit ke tengah barisan musuh yang berteriak-teriak karena ular mengejar mereka. Setelah melepaskan racun bisa yang keras, dari mulut lima siluman naga memancar cahaya berwarna putih kehijauan seperti air laut.
Energi dipadatkan tepat di dalam mulut mereka, kemudian semburan cahaya keluar sepanas api. Membunuh hampir seribu pasukan lawan dan juga melukai lebih dari 3 ribu musuh karena racun mereka.
Serangga itu berlangsung lebih lama dari padepokan pedang bayangan. Meski yang terbunuh bukan prajurit kelas tinggi, tapi mereka sudah berhasil menyingkirkan semua prajurit kelas rendah.
Kelompok Kelelawar Iblis sekarang berkurang lebih dari setengah, sekitar 14 ribu orang.
__ADS_1
Setelah serangan itu, Lima naga bergerak ke sisi lain, sementara ratusan ular berbisa kembali masuk ke dalam tanah. Prajurit Surasena sudah paham, bahwa pasukan dari bangsa lelembut akan kembali lagi ke alamnya.
“Sekarang jumlah kita sepadan dengan mereka...” ucap Darma Cokro.