PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perpisahan


__ADS_3

Ya, perut Malaka Lime nyaris terburai, keluar dari bajunya yang sempit menunjukkan pusar yang dalam berwarna hitam gelap. Ah, sudah berapa lama pria itu tidak mandi, tapi mereka bertiga memang tidak menyukai air.


Ada dua orang Malaka yang lain, tapi kedua orang itu sudah lama mati sebelum gelar Tiga Pendekar Iblis Dari Malaka bertengger di nama belakang mereka.


“Aku tidak memiliki makanan lain.” Malaka Due menjawab pertanyaan pria itu, kemudian dia menepuk punggungnya dengan keras. “Cari saja bokong siluman yang ada di hutan ini untuk mengganjal perutmu yang buncit.”


“Jahanam, mati saja kau!” teriak Malaka Lime, kemudian dia menyumpah serapah dan ada lebih banyak umpatan keluar dari mulutnya yang bau.


Malaka Due tertawa terbahak-bahak, kemudian dia melemparkan satu benda berwarna merah kepada Malaka Lime. “Itu adalah makanan terakhirku, kau boleh menghabiskannya.”


Dengan sigap, Malaka Lime menangkap sepotong daging yang baru saja di lemparkan temannya, tanpa rasa curiga dia menggigit daging itu dengan rakus lalu. “Sialan mati saja kau, kenapa daging ini terasa masin, pahit dan sedikit kecut?”


“Ahahah...aku sudah mengencingi daging itu.” Malaka Due tertawa terbahak-bahak, nyaris saja jatuh dari atas punggung kudanya. “Bagaimana rasanya, sari pati yang keluar dari dalam perutku ini? enak, Ahaha...”


Malaka Lime berniat memuntahkan seisi perutnya, tapi tidak berhasil. Dia hanya mampu menatap wajah temannya dengan kesal bukan kepalang, lalu umpat panjang pendek terdengar dari bibirnya yang hitam.


***


Sementara itu Sungsang Geni sudah meninggalkan Markas Negri Sembilan. Mereka menunggang kuda, dan memacu binatang itu tanpa sempat berpamitan pada siapapun yang mencoba menghadang di depan pintu gerbang markas.


Jika yang dikatakan telik sandi benar, maka tidak akan lama lagi perang akan terjadi.


Setelah beberapa hari, mereka akhirnya kembali bertemu dengan Pramudhita dan Panglima Ireng. Nasip srigala besar hitam sudah membaik, tapi cara berjalan hewan itu tidak sebaik sebelumnya. Dia masih sedikit pincang.

__ADS_1


“Ireng, kau sudah bisa berjalan rupanya?” Sungsang Geni membelai-belai bulu-bulu tebal srigala itu kemudian menepuk moncong hitam dengan pelan. “Apa lolonganmu sudah kembali? Paman Pramudhita merawatmu dengan baik bukan?”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menggeram pelan lalu tersungging senyum menakutkan di bibirnya.


“Ya...ya...aku baik-baik saja, kita akan kembali menemui teman-teman kita di Markas Petarangan.” Sungsang Geni sekali lagi menepuk moncong hitam mahluk itu.


“Geni, keadaan Ireng mungkin sudah lebih baik dari sebelumnya tapi dia tidak bisa membawa beban berat seperti mengangkutmu.”


“Aku mengerti paman, terima kasih karena telah membantu penyembuhan Ireng.”


Pramudhita tersenyum kecil, kemudian pria itu segera pamit untuk kembali ke alam lelembut. Dia sudah lama berada di alam manusia, energi yang dimilikinya banyak terkuras. Jadi mungkin Sungsang Geni tidak harus memanggil pria itu untuk sementara waktu.


Tapi senyum bahagia di wajah Sungsang Geni berbalik lurus dengan Wulandari. Gadis itu tidak berniat mengikuti pemuda itu kembali ke Markas Petarangan, tiada gunanya. Semua pasukannya sudah tewas dan tentu saja keberadaannya tidak akan di terima di sana.


'Tidak, kau mungkin akan menerimaku tapi tidak dengan orang lain...” Wulandari berkata lirih nadanya terdengar serak dengan mata merah karena menahan air mata yang sedetik lagi akan jatuh membasahi pipinya.


“Kau...”Sungsang Geni hendak mengatakan sesuatu tapi Wulandari segera menggeleng-gelengkan kepala, memberi isyarat agar pemuda itu tidak banyak bicara. Semakin Sungsang Geni berniat membawa dirinya, semakin perasaannya terhadap pemuda itu bertambah besar. Dan itu menyakitkan.


“Aku tidak akan kembali lagi ke Markas Negri Sembilan.” Wulandari membuang muka, mengedipkan mata beberapa kali menahan tangis kemudian pandangannya segera tertuju pada Saraswati. “Guru, kau lebih memahami kehidupanku lebih dari siapapun. Apa kau akan menemaniku?”


Saraswati terdiam sejenak, tentu saja dia tidak akan menolak permintaan murid sekaligus tuannya, tapi pertanyaannya adalah; hendak kemana gadis itu saat ini? Kemana tujuannya, dan akan tinggal dimana mereka kelak?


“Wulandari, meski awalnya aku sangat membencimu, tapi saat ini aku tahu kau ternyata adalah gadis berhati baik,” ucap Sungsang Geni. “Aku yakin teman-temanku akan melindungi dan menerima kehadiranmu.”

__ADS_1


“Aku tidak bodoh...” Kali ini menetes pula air mata membasahi pipi Wulandari yang bulat, Sungsang Geni berniat menyekanya tapi Wulandari menjauh dua langkah. “Mana mungkin wanita iblis akan diterima di kehidupan manusia. Aku sudah banyak membunuh, dan kau hanya mengenalku sedikit saja. Tahu apa kau mengenai diriku?”


Sungsang Geni bingung setengah mati. Harus diakui, pemuda itu tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Apakah dia menyukai Wulandari atau pula hanya sekedar simpati. Namun yang jelas, gadis itu sudah banyak membantunya dan dia merasakan kesedihan Wulandari lebih dari siapapun.


“Aku akan pergi, dimana tempat tidak lagi mengenaliku sebagai wanita iblis.” Wulandari menyeka air matanya, berusaha tersenyum manis. “Aku harap menemukan tempat dimana ada banyak bunga dengan angin semilir.”


Setelah mengatakan hal itu, gadis itu menaiki kudanya di ikuti Saraswati. Sungsang Geni masih memegangi tali kuda gadis itu, sementara Panglima Ireng menggeram menghadang.


“Ireng, pertemuan denganmu cukup buruk antara kita berdua...” Wulandari mengekspresikan raut wajah srigala itu dengan menunjukkan gigi-gigi putih yang rapi, menggeram seperti Panglima Ireng untuk beberapa kali setelah kemudian tertawa kecil dengan air mata berurai. “Aku akan merindukan dirimu, jaga Geni baik-baik.”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menggeram kecil, dia kemudian menepi memberikan ruang jalan untuk kuda gadis itu. “Gerr...gerr...”


Sekali lagi Wulandari tersenyum kecil dengan air mata berurai, lalu 5 detik kemudian memacu kudanya meninggalkan Sungsang Geni dan Panglima Ireng.


Pemuda matahari itu tampak terpukul atas kepergian gadis itu.


Dia melambaikan tangannya pelan, menatap Wulandari dan Saraswati hingga lenyap di balik pohon-pohon di persimpangan jalan. Tanpa sadar air mata pemuda itupun jatuh membasahi pipinya.


“Ireng, ini adalah masalah yang tidak bisa di selesaikan dengan pertarungan.” Sungsang Geni masih berdiri terpaku di tempatnya. “Tapi kenapa rasanya lebih sakit dari ketika aku berada di ujung kematian?”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng mungkin mencoba menghibur temannya itu, dia menyodorkan kepala hitamnya ke tubuh Sungsang Geni. “Gerr...gerr...”


“Tidak Ireng, seharusnya kita bisa membawanya bukan?” Sungsang Geni berjalan dengan gontai mendekati kudanya yang selalu gelisah ketika melihat Panglima Ireng. “Dia tidak memiliki siapapun saat ini, tentu saja aku mengetahui apa yang dipikirkannya. Semoga kelak suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dengannya, benarkan Ireng?”

__ADS_1


Serigala hitam mengendus hidung beberapa kali, wajahnya terlihat murung bahkan binatang itupun sempat meneteskan air mata. “Gerr...gerr...” dia berucap. 'Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, begitupula sebaliknya.'


__ADS_2