PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertarungan Di Pelabuhan


__ADS_3

Beberapa waktu lalu, Darma Guru memerintahkan beberapa prajurit untuk melepaskan Dewangga, Mahesa dan Gadhing. Dia mengetahui, mengurung Dewangga cukup lama hanya akan membuat hubungan Surasena dengan Majangkara menjadi buruk.


Dewangga yang masih terlihat geram akhirnya bertemu dengan pangeran Nala Setya, pangeran itu menceritakan kronologi kejadian yang sesungguhnya. Dia mengetahuinya sebab pengawalnya, Barakuna juga melihat kejadian itu.


Barakuna memutuskan untuk tidak terlibat masalah, jadi dia tidak berniat membantu pertarungan Durada dan yang lainnya. Bukan hanya itu, Barakuna merasa tidak akan sanggup mengalahkan Karang Dalo yang memiliki ilmu kanuragan lebih besar darinya.


Setelah mendatangi pusat Telik Sandi, dan mengatakan yang sebenarnya kepada Jawapri. Dewangga dan Nala Setya memutuskan untuk bekerja sama, meski tujuan kedua orang itu berbeda.


Nala Setya bertujuan untuk keluar dari Surasena dengan keadaan selamat, dia tampaknya tidak lagi menginginkan putri Rambut Emas menjadi istrinya. Tapi Dewangga, dia masih menyimpan dendam kepada Kerajaan Tombok Tebing, terutama pangera Warkudara, dalang dibaliknya kerusuhan ini.


“Dewangga!” ucap Sungsang Geni, “Apa kau baik-baik saja?”


“Keadaanku sangat baik Geni,” jawab Dewangga.


Kemudian Dewangga memberi hormat kepada Mahapatih Darma Guru, lalu berkata. “Karang Dalo dan Warkudara dalang dibalik hilangnya keris panca dewa, aku rasa Raja Cakra Mandala tewas juga karena ulah Karang Dalo.”


Semua orang yang mendengar ucapan Dewangga seketika langsung bergumam, mereka terdengar berbisik-bisik.


“Menurutmu mukinkah Senopati Karang Dalo yang mencuri keris itu?”


“Entahlah, bisa jadi. Diantara Senopati yang lain, dia lah yang paling hebat, mencuri keris panca dewa nampaknya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukannya.”


Rungan mewah Lakuning Banyu, seketika dipenuhi dengan gumaman beberapa orang yang berada disana. Sungsang Geni mengetahui, 80% terlihat ragu dengan keterangan Dewangga, tapi tidak ada yang berani mencela. Tidak, setelah mereka menyadari Mahapati Darma Guru mempercayai informasi itu.


Namun sebelum gumaman mereka mencapai puncak, mereka segera dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang berjalan terhuyung.


Jubah hitamnya menyapu lantai, dengan robek diberbagai sisi. Dia mencengkram bagian paha kanannya, setelah jubah hitamnya yang panjang tersibak, tampak sepotong anak panah menancap di bagian itu.

__ADS_1


Wajahnya meringis menahan sakit, tapi dia tetap menyampaikan tujuannya datang ke ruangan ini.


“Mahapatih, dia melarikan diri...” Suara orang itu terdengar serak dan terbata-bata, setiap kata yang keluar dari mulutnya menambah ringisan dari raut wajahnya.


“Telik Sandi, -dia-, siapa yang kau maksud dengan dia?” Darma Guru bertanya dengan heran.


“Karang-, Karang Dalo pergi dengan setengah pasukan Surasena beserta pangeran Warkudara. Tapi, Senopati Datu Wenda beserta Senopati Pancur Lara mengejar mereka dengan sejumlah pasukan yang tersisiah...” setelah mengatakan demikian, ucapan telik sandi segera berhenti, kemudian tubuhnya terhuyung kesamping. Sebelum sempat terhempas kelantai, Sungsang Geni telah menyambar tubuhnya itu.


Sungsang Geni menggelengkan kepala, “Paman ini sudah pergi...” dia berkata lirih setelah sebelumnya memeriksa denyut nadi telik sandi itu. “Panah ini mengandung racun, racun yang sama dengan yang melumpuhkan Nyai Bidara.”


Sekarang lebih banyak lagi orang-orang bergumam, semuanya terdengar percaya bahwa Karang Dalo adalah biangnya. Mereka terdengar mengumpat serapah, namun segera semuanya terdiam ketika hawa berat memenuhi seisi ruangan.


“Aku tidak akan membiarkan dia hidup,” Darma Guru terlihat sangat marah, “setelah melakukan semua ini kepada Surasena, dia pikir bisa pergi dengan mudah.”


Semua orang disana belum pernah merasakan aura membunuh sepekat Darma Guru, selaras dengan tenaga dalamnya yang berkobar, kakek tua itu tanpa sadar membuat semua orang di sana kesulitan bernapas.


Setelah melepaskan aura sebegitu besar, Darma Guru menerobos jendela kaca, kemudian terbang menuju arah Pelabuhan.


Instingnya mengatakan, dua Senopatinya untuk sekarang mungkin bisa memperlambat langkah Karang Dalo, tapi tidak untuk waktu yang lama. Jadi dia terbang secepat mungkin.


Sekali lagi Sungsang Geni dan teman-temannya dikejutkan dengan penampakan dua bilah pedang yang tanpa sarung, terbang mengikuti Darma Guru.


“Ilmu pedang emas...” Mahesa terpukau melihatnya.


“Mahesa dengarkan aku!” ucap Sungsang Geni, menatap sahabatnya itu dengan serius, “Aku akan menyusul, tapi tidak dengan dirimu.”


“Kenapa?” tanya Mahesa heran, “Padahal aku ingin sekali menghajar mantan senopati keparat itu.”

__ADS_1


“Mereka ada disini,” Ucap Sungsang Geni, dia mendekati Mahesa kemudian membisikan sesuatu, Mahesa menjadi terkejut mendengarnya, hampir-hampir tidak percaya. Kemudian dia mengangguk tanda setuju.


“Dewangga,” ucap Sungsang Geni, “Tunggulah disini, jangan menjauh dari Mahesa.”


Dewangga tidak mengerti apa yang dimaksud Sungsang Geni, tapi dia tidak berusaha membantah. Ucapan pemuda matahari itu membuat dirinya bingung, tentu saja, bahkan semua orang disana merasakan hal yang sama.


Setelah mengatakan hal demikian, Sungsang Geni mengikuti jejak Darma Guru, menerobos jendela kaca dan terbang cepat menuju Pelabuhan.


Tidak butuh waktu lama, Sungsang Geni telah berada didekat Darma Guru. Kakek tua itu menjadi terkejut, tidak banyak orang yang mampu mengikuti gerakannya dalam hal terbang, tapi Sungsang Geni menjadi salah satu dari sedikit orang itu.


Setelah beberapa menit, mereka berdua dapat melihat asap membumbung tinggi kelangit. Beberapa menit kemudian mereka melihat penampakan pertempuran antara kedua belah pihak, yang tidak seimbang.


Senopati Datu Wenda terlihat sedang berhadapan dengan Karang Dalo, sedangkah Senopati Pancur Lara nampak sedang kesulitan menghadapi beberapa orang berbaju putih dengan warna topeng yang sama dengan bajunya. Tidak, bukan hanya beberapa tapi ada banyak pendekar berbaju putih dan bertopeng. Mereka jelas bukan prajurit Surasena yang berkhianat.


Sungsang Geni mencepatkan lajunya, meninggalkan Darma Guru yang menjadi kesal. Dia mendarat tepat di antara Pancur Lara dan 3 lawannya.


“Pemuda apa yang kau lakukan?” Pancur Lara terkejut mendapati Sungsang Geni didepanya tiba-tiba datang dari langit seperti seekor elang.


Sungsang Geni tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum kecil. Setelah memperhatikan Pancur Lara dan memastikan senopati itu tidak terluka, Sungsang Geni lalu balik menatap 3 orang lawan didekatnya.


Aura membunuh dari 3 orang itu cukup pekat, mungkin level mereka setidaknya berada pada pendekar pilih tanding. Bagi Pancur Lara, menghadapi 3 pendekar pilih tanding bersamaan bukanlah perkara yang mudah.


“Siapa kau?” tanya salah satu dari tiga pendekar itu, “Apa kau berniat mengantarkan nyawa....”


Sungsang Geni segera menghentikan perkataan pendekar yang berbicara, dengan menembuskan ujung pedang tepat pada kerongkongan. kedua temannya tidak melihat pergerakan Sungsang Geni, segera menjauh beberapa langkah. Mereka menjadi waspada.


Pancur Lara hampir tersedak melihatnya, dia bahkan belum sempat menggoreskan pedangnya kepada 3 orang pendekar itu. Keterkejutannya semakin bertambah, ketika pemuda itu menebas dua orang pendekar yang tersisah. Dua kepala menggelinding.

__ADS_1


“Bibi Lara,” ucap Sungsang Geni, “Kau hadapilah prajurit yang telah berkhianat, kaulah yang paling layak membunuh mereka, sedangkan para pendekar berbaju putih adalah bagianku.”


__ADS_2