
Setelah kembali lagi ke tepi perperangan, Benggala Cokro melepaskan seluruh energinya pada pedang naga emas peninggalan sang ayah. Pedang itu melaju pelan, tapi semakin lama semakin cepat dan berenergi kuat. Menderu seperti bintang besar yang bersinar terang.
Benggala Cokro tidak peduli rupanya seluruh tenaga dalamnya sudah terkuras habis ketika berhadapan dengan Brangasan tadi. Ya, dia sebenarnya sudah tiba di batas terkuat tubuhnya.
Pedang itu jatuh tepat di tengah barisan musuh, kemudian dari mata pedang melepaskan gelombang energi yang kekuatannya bisa meratakan seribu musuh sekaligus. Gelombang itu mencapi daratan, menabur debu hingga menutupi pengelihatan.
Butuh beberapa lama agar debu bisa meyibak dari area pertempuran. Semua orang jelas terkena efek debu yang di ciptakan oleh senjata itu. Pedar cahaya terang dari pedang perlahan menyusut dan redup, ukurannya yang besar sekarang peralahan-lahan mengecil kembali seukuran pedang pada umumnya.
“Aku...aku...” Benggala Cokro tidak kuasa melanjutkan ucapannya, semua energi yang ada didalam tubuh telah terkuras habis. Dia jatuh dari ketinggian, dan melayang cepat ke arah reruntuhan pagar.
Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, Cawang Wulan bergegas berlari dan berhasil menangkap tubuh pemuda itu. Sudah tidak sadarkan diri. Jika terlambat ditangkap oleh Cawang Wulan, tubuh Benggala Cokro akan mendarat tepat di patahan ujung mata tombak yang mengarah ke langit.
Cawang Wulan membawanya ke tepi pertempuran. Nafas Benggala Cokro terdengar pelan, dan denyut nadi yang tidak beraturan. Tidak beberapa lama, tiga orang pendekar medis datang memberi pertolongan pertama.
“Bagaimana kondisi dirinya?” tanya Cawang Wulan terlihat khawatir.
Pendekar medis terdiam sejenak baru kemudian berkata pelan. “Seluruh jaringan ototnya mengalami kerusakan, ini mungkin karena terlalu memaksa aliran tenaga dalamnya, tapi...”
“Tapi apa?”
“Aku yakin hal yang paling parah adalah, Benggala Cokro terkena tekanan batin yang teramat keras. Itu adalah alasan dia memaksa tubuhnya.”
***
__ADS_1
Kembali lagi pada pertempuran yang terjadi antara Resi Irpanusa dan Mungkarna. Pak tua itu telah bertukar seribu serangan dalam waktu yang sangat lama. Bahkan untuk saat ini belum ada sarangan fatal yang mereka berdua terima.
Keberadaan Resi Irpanusa sudah melewati batas toleransi lelembut berada di alam manusia. Energi yang dia miliki jelas sudah banyak berkurang karena alam manusia menyerapnya, tapi sampai sekarang pak tua tetap bisa mengimbangi Mungkarna dalam setiap serangan.
“Kau masih bisa bertahan meski berada cukup lama di alam manusia? Luar biasa!” ucap Mungkarna disela-sela pertarungan mereka.
“Apa kau bodoh atau pura-pura tidak tahu?” Resi Irpanusa tersenyum kecil, kemudian memandangi langit yang tertutup awan gelap. Bumi memang gelap karena ditutupi awan hitam, tapi sekarang lebih gelap lagi karena akan segera tiba malam. Ya, itulah yang menyebabkan Resi Irpanusa bertahan, karena hari mulai beranjak malam.
“Kau sudah merencanakan semua ini...” Mungkarna menyerang Resi Irpanusa dengan ratusan anak panah yang turun dari langit. Pak tua itu, bergerak cepat dan berhasil menghindari semua serangan panah tanpa kesulitan.
Mungkarna jelas tahu, jika hari semakin malam maka lelembut bisa saja lebih kuat dari pada di siang hari. Dan ini gawat menurut dirinya.
Disiang hari saja, kekuatan Resi Irpanusa bisa mengimbangi Mungkarna, lalu bagaimana jika dimalam hari? Setidaknya Resi Irpanusa bisa bertarung serius tanpa memikirkan batasan waktu.
Arah mata tombak tepat di tubuh Resi Irpanusa, tapi pemuka Pedang Bayangan bisa menghindarinya dengan mudah. Bahkan, seraya menghindar dia bisa melepaskan satu sarangan dengan cepat. Serangan sang resi mirip bulan sabit, melaju dan kali ini berhasil menggores tips tubuh Mungkarna.
Laju mata tombak dari langit, jatuh ke tanah membuat rekahan dan goncangan seperti gempa hingga radius beberapa ratus depa. Serangan sedahsyat itu tidak mengenai sasaran sama sekali, bahkan lari mata tombak jatuh pada kelompok Kelelawar Iblis sendiri.
“Kau meringankan beban kami...” Resi Irpanusa berkata datar, sedangkan Mungkarna menjadi geram karena pak tua itu jelas menyindirnya.
Sekarang di hutan bagian barat, meski tertutup awan hitam tapi kondisinya masih sangat hijau. Topeng Beracun belum menjamah hutan itu, jadi tidak layu dan gersang. Saat ini, di dalam hutan suara jangkrik mulai sahut menyahut, suara katak terdengar 'kangkung-kangkung.'
Raut wajah Mungkarna semakin buruk, jelas malam akan datang dan pak tua di depannya tidak dapat dihentikan lagi. Bukan hanya itu, bisa jadi Resi Irpanusa bertarung sampai menjelang pagi.
__ADS_1
“Aku tidak mempunyai banyak waktu...” ucap Mungkarna.
Ketika dia memalingkan wajah dari hutan di arah barat, Resi Irpanusa sudah tida ada lagi di tempatnya semula. “Kemana pak tua itu?”
Dua tebasan energi bening menderu dengan cepat dari dua sisi. Mungkarna bisa menghindari serangan tersebut dengan mudah, tapi ketika dia baru saja menguasai diri satu tebasan lagi datang dari arah atas.
Plak... kali ini tepat mengenai pundaknya. Mungkarna tidak terluka, tapi tubuhnya masih terpukul dan melesat jatuh ke bumi, lima depa lagi sebelum tubuhnya terhempas satu lagi serangan melangsang dengan cepat.
Sekali lagi, tubuh Mungkarna terkena tebasan dan terangkat lagi ke atas angin. Belum juga berhasil menguasai diri, 13 serangan datang dari segala arah, berbentuk bening seperti air dan dan menyerupai bulan sabit.
“AHKKK!” pekik Mungkarna menggema di angkasa raya. Kali ini tubuhnya tidak kuasa menahan serangan itu. Ada lima tebasan yang berhasil melukai kulitnya yang kuat. Sementara itu tidak ada lagi pakaian yang terpasang di tubuhnya, kecuali celana sepotong yang menutupi aurat.
Suara dari Mungkarna bergetar hebat, membuat semua orang menutup telinga dengan tenaga dalam atau dengan dua jari telunjuk. Mengandung energi yang sangat menekan, jika pendekar kelas tanding mendengarnya secara langsung, barangkali akan pecah gendang telinga, karena tidak tahan.
Tubuh Mungkarna telanjang saat ini, menampakkan otot-otot keras yang dipenuhi dengan urat halus berwarna hitam hampir di setiap sisi tubuhnya. Mata hitam dengan bintik merah di tengah, tebelalak membesar.
“Apa itu tadi?” ucap Mungkarna, dia merasakan sedang di kepung oleh pendekar-pendekar dari berbagai sisi, dan menghujani dengan serangan bertubi-tubi.
Resi Irpanusa melayang di depan matanya dengan tatapan dingin.
Tadi itu dia melepaskan 13 bayangan untuk memberi serangan beruntun. Dan itu benar, sekarang Mungkarna bisa melihat 14 orang pak tua sudah berada di sekeliling dirinya. Membentuk cincin.
“Sebuah ilusi? Atau bayangan saja...” Mungkarna meludah ke tanah. “Datanglah pak tua, aku tidak akan kalah hanya dengan bayanganmu saja.”
__ADS_1
Mungkarna menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan energi dan melepaskan dengan kejutan. Gelombang energi seperti ledakan gunung kecil, menyapu benda apapun yang ada di dekatnya.