PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni VS Pendekar Pemabuk


__ADS_3

Sungsang Geni turun dari atap markas tanpa satu goresan yang terjadi ditubuhnya. Tapi jika dia tidak menghindar tepat waktu, pukulan maut milik Pendekar Pemabuk bisa membuat nyawanya melayang dengan seketika.


“Apa yang kau katakan barusan?” Sungsang Geni mengernyitkan keningnya. “Kau berpikir bahwa saat ini, kau adalah korban dari tirani kehidupan ini. Jangan omong kosong pak tua, kau pikir dari mana datangnya api jika bukan dari sumbunya? Setelah kematian satu muridmu yang berharga, kau merasa kehilangan bukan kepalang. Alangkah tingginya derajatmu? Bagaimana dengan nasip rakyat Surasena yang kau habisi?”


“Kunyuk iblis, tahu apa kau dengan Surasena? Sebagai penguasa tanah Java, mereka tidak memiliki aturan yang berkeadilan. Kami hanya akan melenyapkan semua orang seperti junjunganmu itu, kemudian menggantinya dengan yang baru, dengan tatanan baru.”


Sungsang Geni hampir muntah darah mendengar perkataan kakek tua di depannya. “Karena kau terlalu banyak meminum arak, lantas otakmu dungu seperti udang, pak tua. Kalian menegakkan hukum diatas mata pedang.”


“Jangan banyak bicara kunyuk iblis, aku akan menuntut balas atas kematian muridku.”


“Ya, aku juga akan menuntut balas atas kematian kakak seperguruanku. Luka yang kau buat pada Eyang Guruku, Ki Alam Sakti.” Sungsang Geni mengeluarkan aura panas yang luar biasa, aura yang menepiskan semua aura kegelapan yang bersarang di markas ini.


“Kau!” Pendekar Pemabuk tersentak, jelas dia pernah merasakan aura seperti ini sebelumnya, di kedai minuman beberapa bulan lalu ketika dia kehabisan arak. “Pemuda, rupanya pertemuan kita kali ini akan menjadi ironi. Tapi belum terlambat, kau pemuda yang memiliki bakat melimpah, jadilah bagian dari kami!”


“Bagian dari iblis seperti kalian?' Sungsang Geni tersenyum kecil. “Aku akan bertarung adil melawanmu dengan berdiri di atas tanah ini, tanpa menggunakan ilmu meringankan tubuh. Itu baru keadilan yang kutawarkan untukmu, Kakek Tua Pemabuk.”


Pendekar Pemabuk akhirnya tertawa pahit, dia mengernyitkan keningnya beberapa saat. “Tidak berubah ya, kau masih seperti dahulu meski wajahmu berubah?”


Sungsang Geni masih sempat memberi hormat sekali lalu melompat 5 langkah ke belakang. Mereka berdua saling tatap untuk beberapa lama, masih menunggu siapa gerangan yang akan menyerang lebih dahulu.


Di sisi lain, Jambon Barat turun dari atap Markas dengan keadaan sedih luar biasa. Tampaknya Jambon Timur telah berpulang ke alam baka. Dia berniat melawan Sungsang Geni saat ini juga, tapi tatapan Pendekar Pemabuk memberi isyarat untuk tidak mencampuri pertarungannya.


100 orang pendekar tanpa tanding membuka ruang untuk pertarungan dua orang pemilik tenaga dalam level pendekar iblis itu. Tidak ada yang cukup bodoh untuk terlibat dalam pertarungan itu.


“Bersiaplah!” Pendekar Pemabuk mengeluarkan kendi labu berukuran kecil yang di simpan di dalam jubahnya, itu adalah arak terbaik berusia 20 tahun. Dia menghabiskan semua arak itu, lalu melempar kendi itu ke arah Sungsang Geni.

__ADS_1


Pemuda itu berputar dua kali untuk menghindarinya, kendi arak melesat cepat dan tertancap di tiang Markas tanpa pecah sedikitpun. 'Tenaga dalam yang luar biasa hebat.' Sungsang Geni bergumam pelan.


2 menit setelah menegak arak, wajah tua Pendekar Pemabuk menjadi merah seperti bara api. Tidak lama setelah itu, dia mulai memasang jurus dewa mabuk. Tubuhnya mulai bergerak seperti tidak terkendali, tatapannya tajam seperti binatang buas.


Sungsang Geni mengeluarkan bilahan pedang energinya. Sejujurnya saat ini, dadanya berdegub kencang, bukan karena takut tapi pancaran tenaga dalam 6 jule yang keluar dari Pendekar Pemabuk membangkitkan instingnya untuk berhati-hati.


Pendekar Pemabuk berjalan terhuyung, kemudian melepaskan pukulan dengan kuat kearah Sungsang Geni. Satu pukulan bisa dihindari dengan mudah, berbalas dengan satu tebasan pula.


Sebelum tebasan itu berhasil mengenai batang lehernya, Pendekar Pemabuk menghempaskan dirinya sendiri dengan kuat, bahkan terdengar suara 'buk' di permukaan tanah. Pada saat yang sama, dengan tangan berada di tanah dan kaki berada di atas, orang tua itu mendaratkan tendangan tepat di dada Sungsang Geni.


Pemuda itu terpundur 3 langkah ke belakang, secara bersamaan melepaskan pedangnya tepat di bagian tengah dada orang tua itu. Sial sekali, orang tua itu bisa menghindarinya dengan sangat mudah, bahkan pedang energi berhasil dikembalikan lagi ke arah Sungsang Geni dengan dua kali lebih kuat.


Sungsang Geni memutar tubuhnya di udara, pedang energi miliknya melesat hingga meledakkan dinding markas.


“Jadi seperti itu?” Sungsang Geni bergumam. “Teknik itu bisa mengembalikan serangan lawan, dan menambah tenaganya hingga serangan itu menjadi lebih kuat dari pemiliknya.”


Sungsang Geni tersenyum pahit, dia kembali mengeluarkan pedang bermata pendek. Menurutnya akan lebih efektip jika berhadapan dengan orang mabuk seperti lawan di depannya.


Pertarungan kembali terjadi dengan sengit, baru beberapa menit saja sudah terjadi pertukaran puluhan serangan.


Sungsang Geni masih berada di situasi bertahan, dia belum bisa menemukan titik lemah dari teknik mabuk lawannya. Tap...tap...tap, Pendekar Pemabuk melompat dengan pola tidak menentu, kemudian melepaskan pukulan kosong di tubuh Sungsang Geni.


Pukulan itu sangat mudah dihindari, tapi rupanya ada serangan susulan dengan sundulan kepala yang tanpa diduga menyerang dadanya.


Sungsang Geni tidak sempat menghindar, sehingga tubuhnya melayang beberapa belas meter dan mendarat dengan kasar di tembok beton.

__ADS_1


“Hebat, tenaga dalam yang hebat.” Sungsang Geni merasakan dadanya sempit bukan alang kepalang.


Belum sempat dia beranjak dari tempat itu, Pendekar Pemabuk Sudah menyerangnya dengan pukulan lain.


Kali ini hampir 20 meter tubuh pemuda itu menyasar di pinggir tembok, membuat dinding tersebut hancur ¼ bagian dari tebalnya.


“Teknik ini tidak akan tertandingi jika kau tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh.” Pendekar Pemabuk tertawa terpingkal-pingkal. “Salahmu sendiri tidak ingin menggunakan ilmu meringankan tubuh. Ah, kau mungkin bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi tentu saja kau akan mengingkari janji. Hahaha...kau mau jadi pemuda pecundang?”


Sungsang Geni mengeluarkan darah merah dari ujung bibirnya.


Di satu sisi, Saraswati yang melihat hal itu berniat membantu Sungsang Geni tapi niatnya segera di cegah oleh Jambon Barat. “Kematian adikku akan ku lampiaskan kepada dirimu.”


“Sialahkan saja, aku akan meladeni wanita keji seperti dirimu. Akan aku pastikan kau akan menemani adikmu di neraka,” jawab Saraswati kesal.


Pertarungan kedua orang wanita itu terjadi pula di tempat itu, menjadi tontonan lain yang yang menegangkan.


Sungsang Geni berdiri, berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang terasa ngilu. Dia menyalurkan tenaga dalam pada bagian luka, untuk menghentikan pendarahan.


“Pak tua, aku mengakui kau memiliki teknik yang hebat.” Sungsang Geni tersenyum pahit. “Tapi aku juga memiliki sesuatu yang tak kalah menarik dari jurus milikmu.”


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni lenyap dari pandangan Pendekar Pemabuk. Tau-tau sudah berada tepat di hadapan orang tua itu, dengan teknik yang sedikit menghawatirkan.


“Teknik Pedang Bayangan.” Pendekar Pemabuk terkejut. “Yunirda pernah memperlihatkan teknik itu sebelumnya, tapi tidak kusangka pemuda ini lebih baik 10 kali dari pria itu.”


Baru saja dia selesai berpikir, Sungsang Geni berhasil meletakkan telapak tangannya tepat di bagian dada. Dor...gelombang kejut bertekanan tinggi menembus tubuh kakek tua itu, hingga mulutnya terpekik.

__ADS_1


Sungsang Geni menyudahi serangan dengan tebasan pedang, meski kakek tua itu bisa menahannya dengan tenaga dalam tapi tetap berhasil menggores tangannya. Tubuh orang tua itu melayang beberapa saat di udara lalu terhempas pula di tembok markas hingga 4 lapis. Andaikan orang tua itu tidak menahannya dengan tenaga dalam, serangan itu mungkin akan melemparkan tubuhnya hingga ujung terjauh tembok ini.


__ADS_2