
Sungsang Geni menarik mundur semua pasukannya di sisi sebelah timur Markas kecil Kelelawar Iblis. Pada sebuah sungai yang membentang cukup luas, dalam dan tenang.
Mereka bersembunyi di rimba kecil di dekat Sungai. Dari tempat ini, sekitar 300 meter ada sebuah jalan utama yang menghubungkan Markas kecil dengan Markas kecil lainnya di seberang Sungai.
Sekarang Sungsang Geni tahu, markas yang sedang mereka incar merupakan markas yang letaknya paling jauh dari Markas Cabang Kelelawar Iblis.
Di jalan utama, ada beberapa persimpangan jalan yang menghubungkan desa-desa kecil di wilayah itu. 5 desa kecil tepatnya.
Setelah 2 hari berada di dalam rimba kecil, Sungsang Geni mendengar derap langkah kaki beberapa kuda melewati jalan utama.
“Aku akan melihat siapa mereka itu.” Sungsang Geni kemudian meninggalkan kelompoknya dan melayang sendiri menuju jalan utama.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Cawang Wulan bertanya.
"Dia akan baik-baik saja." Cempaka Ayu menjawab.
Rupanya benar, ada tiga orang berpakaian prajurit dengan lambang Kelelawar berada di jubah belakang mereka. Tanpa membuang waktu Sungsang Geni segera menghadang.
Kuda yang mereka tunggangi terkejut, membuat orang yang berada di atas punggungnya hampir saja jatuh, jika bukan mereka segera melompat dan melayang di udara beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan pukulan tenaga dalam.
Sungsang Geni menghindar dengan cepat, 3 buah cahaya melesat dan meledakkan permukaan tanah. Rupanya 3 orang prajurit itu cukup hebat, terbukti dari lubang sebesar kelapa berbekas di tanah.
“Siapa kau anak muda?” Salah satu dari mereka bertanya, tangannya masih merah afek dari melepaskan pukulan tenaga dalamnya. “Apa kau ingin mencari mati? Kau tidak tahu siapa kami?”
“Ma'afkan aku kisanak, aku adalah pendekar yang tersesat, aku baru saja keluar dari hutan rimba jadi kurang tahu mengenai kalian.” Sungsang Geni berkilah.
Salah satu dari orang itu berjalan mendekati Sungsang Geni dengan sedikit sombong. Cahaya matanya seakan penuh keangkuhan. “Berapa lama kau berada di dalam hutan anak muda? Hingga kau tidak mengenal jubah yang kami pakai?”
“Cukup lama tuan, aku banyak menghabiskan masa hidupku di dalam penyendirian, membuat aku jadi lupa caranya bergaul dengan orang-orang.” Sungsang Geni kembali berkilah. “Jika boleh aku tahu, itupun jika tuan tidak keberatan, siapa sebenarnya ketiga tuan ini? Dan hendak kemana tujuan kalian?”
“Kami adalah pengantar surat dari Markas Cabang Kelelawar Iblis, tujuan kami adalah markas kecil yang terletak di ujung jalan ini.” Tanpa sedikitpun curiga salah satu dari tiga orang itu menjawab.
__ADS_1
“Kenapa kau memberi tahu dirinya?” temannya berbisik kecil di telinga pria itu.
“Kenapa kita harus takut, Pemerintahan Kelelawar Iblis sudah begitu besar dan kuat. Semua orang harus mengetahui hal itu.” Pria itu kembali berkata angkuh sambil memainkan kumis yang sedikit lebih panjang dari kedua temannya.
Sungsang Geni kemudian bertingkah seperti orang bodoh, “Be-begini tuan, bagaimana hem...caranya agar aku bisa menjadi prajurit seperti kalian? Aku memiliki sedikit ilmu, hem...ilmu berpedang, tapi jika dibandingkan dengan kalian, pasti sangat jauh perbandingannya.”
Orang itu melangkah lebih dekat lagi, kemudian lebih dekat lagi dan lagi, hampir saja kedua hidung mereka bertemu. Dipandanginya tubuh pemuda itu dari bawah hingga ke atas.
“Serahkan tanganmu!” prajurit itu berucap.
“Apa tuan?”
Orang itu segera menarik tangan kiri Sungsang Geni, kemudian memeriksa denyut nadinya. Biasanya orang berbohong denyut nadinya akan terasa lebih cepat. Lagipula, dengan begitu dia bisa mengukur tenaga dalam yang dimiliki Sungsang Geni.
Sangat sedikit sekali tenaga dalamnya, pikir orang itu. Tentu saja, Sungsang Geni sudah menekan tenaga dalamnya agar tidak dapat dirasakan oleh pendekar lemah seperti mereka.
“Kenapa kau menggunakan sarung di lengan kananmu?” Dia berniat menarik sarung tangan Sungsang Geni.
Buru-buru orang itu melepaskan tangan Sungsang Geni. “Aku tidak ingin tertular penyakit aneh seperti itu.”
“Jika kau bisa berlari mengiringi kuda kami, aku akan mempromosikan dirimu menjadi prajurit!” kemudian ketiga orang tersebut segera melayang dan duduk di punggung kuda.
Sungsang Geni tersenyum kecil, dia tidak keberatan dengan hal itu. Mereka lantas pergi melanjutkan perjalanan.
30 menit kemudian Sungsang Geni sudah berada tepat di gerbang Markas Kecil. Dia tidak kelelahan sedikitpun, dan ini membuat tiga orang pengantar pesan menjadi sedikit terpukau.
Tapi wajah terpukau mereka segera disembunyikan, agar tidak terlihat rendah hadapan beberapa prajurit yang sedang membuka gerbang markas.
“Siapa orang yang kau bawa?” tanya penjaga gerbang. “Apa dia tawanan?”
“Bukan, dia adalah bagian dari kami.” Pengirim pesan kemudian melirik ke arah Sungsang Geni, seolah ingin mendapatkan pujian kemudian kembali menatap para penjaga. “Dimana pimpinan kalian? Ada surat yang harus kami berikan?”
__ADS_1
Segera penjaga itu meminta seorang prajurit muda membawa tiga orang pengantar pesan beserta Sungsang Geni.
Ratusan prajurit tampak tidak menghiraukan kedatangan orang itu, hal biasa nampaknya. Dari yang diketahui Sungsang Geni, 400 prajurit sudah pergi meninggalkan markas sejak kemarin untuk mencari biang kerusuhan di desa kecil.
Ketika berada di ruangan sepi, Sungsang Genial menjatuhkan dirinya ke lantai.
“Ada apa?” Pengantar Surat menoleh ke arah Sungsang Geni. “Apa kau lelah?”
“Tentu saja tuan, aku berlari sedangkan tuan menunggang kuda.” Sungsang Geni memasang wajah iba, salah satu dari mereka kemudian mencoba mengangkat tubuh pemuda itu.
Namun pada saat yang sama, Sungsang Geni berhasil mengambil satu lencana mereka dan sebuah surat tanpa orang itu sadari. “Aku bisa berjalan sendiri tuan, terima kasih sudah membantuku. Tuan begitu baik.”
5 menit kemudian mereka sudah berada di depan Buyung Upiak, pria tua yang menjadi pemimpin Markas kecil ini. Wajahnya memang seperti yang dikatakan Pramudhita.
“Kedatangan kami, untuk mengantarkan sebuah surat!” orang yang bersama Sungsang Geni berkata, sambil mencari sepucuk surat tapi wajahnya menjadi tegang menyadari tidak ada lagi surat di dalam saku bajunya. “Kemana aku meletakkan suratku tadi? Tidak mungkin jatuh di jalan, atau mungkin...”
Dia teringat pernah hampir jatuh dari kuda ketika Sungsang Geni menghadangnya. Pria itu lantas melirik ke arah pemuda itu dengan wajah kurang senang.
“Tuan aku menemukan surat ini, mungkin terjatuh ketika kau sedang menunggangi kuda...” Sungsang Geni lantas memberikan surat itu. “Maafkan aku jika terlambat memberi tahumu.”
"Kau benar-benar berguna, anak muda. Aku menyukaimu," timpal orang itu.
“Siapa dia?” Buyung Upiak menjadi waspada.
Kepada 4 orang bawahannya saja dia tidak percaya apalagi dengan orang baru seperti Sungsang Geni.
“Aku adalah prajurit baru tuan.” Sungsang Geni segera memberi hormat.
Mereka hanya melirik sesaat kepada Sungsang Geni, kemudian pandangan mereka segera teralihkan ketika melihat wajah berbunga-bunga Buyung Upiak.
“Ini surat panggilan jabatan?” dia terkekeh kecil, “Akan dibentuk 1 markas cabang dan aku menjadi kandidat yang cocok untuk mengisi pimpinannya.”
__ADS_1