PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Musuh Yang Tepat


__ADS_3

Rupanya itu adalah Dewangga dan juga Gadhing. Kemampuan Gading saat ini sudah berada di puncak pendekar Pilih Tanding, tapi Dewangga sudah berada di level Pendekar Tanpa Tanding dengan dua cakra yang terbuka.


Memang tenaga dalam Dewangga tidak sekuat adik seperguruannya, Sungsang Geni. Tapi beberapa hari yang lalu pemuda itu berhasil mempelajari jurus tarian dewa angin setelah hampir berbulan-bulan berlatih dengan keras.


Terkadang dia menyesalkan kebodohannya. Jika saja dia berlatih dengan keras sejak menjadi murid Ki Alam Sakti, mungkin saja kemampuan pangeran Majangkara itu tidak terpaut jauh dengan Benggala Cokro.


Satu orang pendekar medis dari perguruan Bukit Emas segera memberikan pertolongan pertama. Dalam beberapa menit kemudian, Wira Mangkubumi sudah mulai terlihat membaik, meski saat ini dia masih kesulitan untuk berdiri.


“Apa kau baik-baik saja?” Gadhing mengarahkan lima jari di depan mata Wira Mangkubumi.


“Hentikan perbuatan bodohmu!” Dewangga menarik lima jari Gadhing.


“Terima kasih sudah membantuku!” Wira Mangkubumi terbatuk-batuk kecil, tatapan pria itu jatuh pada sosok pria botak kecil yang jaraknya sekitar 50 depa. “Dia teramat sangat kuat, aku bahkan tidak sempat memukul dirinya.”


Gadhing melirik ke arah yang sama, kemudian tengkuk pemuda itu menjadi dingin. “Tentu saja kau dibuat babak belur, dia adalah wakil komandan Kelelawar Iblis.”


“Kita harus menghadapi orang itu.” Dewangga bergumam kecil, dia berkata seperti orang yang kehilangan akal, tentu saja wakil komandan bukanlah lawan yang cocok untuk mereka.


“Kau mau cari ******?”


“Tentu saja tidak.” Dewangga melirik ke arah Gadhing dan Wira Mangkubumi bergantian kemudian menyapukan pandangan ke arah medan pertempuran. “Jika diperhatikan, orang ini tidak sekuat wakil komandan yang lain. Aku bisa menjamin itu. Kita memiliki peluang menang, jika bersama-sama menghadapinya.”


“AWAS!” Wira Mangkubumi menarik tubuh Dewangga dan Gadhing, sehingga jatuh ke tanah. Serangan Hulu Maut Berdarah hampir saja menghantam Dewangga dan Gdhing.


20 depa dari mereka berdua, dua pohon meledak terkena kepala botak nan keras.


“Meski lemah, tapi dia tetaplah kuat.”Mata Gading Terbelalak melihat kemampuan orang tua itu. “Apa kita yakin bisa mengalahkannya?”

__ADS_1


“Semua orang menghadapi lawan-lawan yang hebat.” Dewangga bergumam kecil sambil mencengkram pedang. “Toh kita tidak mungkin bisa lari, jadi yang harus kau lakukan tentu saja melawan dia.”


Setelah mengatakan hal itu, Dewangga melakukan sebuah kuda-kuda dan gerakan jurus. Jurus ke dua puluh lima dari teknik awan berarak, tarian dewa angin.


Wuss...Dewangga berhasil mendaratkan satu tebasan di tubuh Hulu Maut Berdarah, tepat di bagian pundaknya. Alhasil, bagian itu terluka meski tidak terlalu dalam. “Sudah kuduga, bagian itu tidak terlalu keras.”


Wira Mangkubumi menjadi terpana, teknik yang baru saja di gunakan Dewangga memang sangat cepat dan penuh dengan energi. Lebih terpana lagi setelah mendapati lawan dapat dilukai.


Andaikata tenaga dalam Dewangga sebesar 4 atau 3 jule, tentulah luka yang didapatkan Hulu Maut Berdarah lebih parah dari itu.


“Lumayan...lumayan!” Hulu Maut Berdarah bergeram keras, dia menahan sakit dan perih.


Di sisi lain lagi, Benggala Cokro akhirnya bertemu dengan lawan sepadan setelah berhasil memporakporandakan pasukan musuh dengan teknik pedang emasnya. Lawan pemuda itu juga berwajah rupawan, seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun tapi masih seperti umur 30 tahunan.


Tiga bilah pedang Benggala Cokro bisa dihentikan oleh pria itu dengan cukup mudah. Dialah Wakil Komandan terkuat di bawah Nyai Siwang Sari, Singo Gurung. Dia memiliki sebuah pedang bermata tunggal berwarna kuning kehijauan.


Benggala Cokro mengerahkan pedang miliknya, satu sisi dari arah depan dan dua lainnya dari kiri dan kanan. Tapi sekali lagi, wakil komandan itu bisa menangkis semua serangan tanpa kesulitan berarti.


“Kau memiliki teknik yang unik, apa namanya? Pedang emas?” Pria itu tersenyum kecil kemudian menghunuskan pedang ke arah Benggala Cokro. “Tapi jika kemampuanmu hanya seperti itu, kau tidak bisa mebunuhku.”


Dia kemudian berlari cepat, Benggala Cokro nyaris tidak bisa mengikuti pergerakan pria itu di gelap malam. Tahu-tahu sudah berada di depan matanya, menunduk setengah badan dan menebaskan pedang.


Benggala Cokro hanya mampu mundur satu langkah ketika serangan itu terjadi, tapi pedang kutukan berhasil merobek baju di bagian perutnya. Belum selesai dengan serangan itu, pria itu menusukan pedangnya dan sekali lagi hampir menikam Benggala Cokro jika sedetik saja pemuda itu tidak berkerlit ke samping.


Tapi pada saat yang sama, Benggala Cokro masih sempat menggerakkan jari telunjuknya sehingga satu dari tiga pedang miliknya melesat ke arah musuh, dan berhasil menggores tipis wajah lawan tepat di bagian kening.


Wajah Singo Gurung terlihat merah bara menahan marah. Darah keluar dari keningnya dan mengalir membelah pipi. Pria itu menjadi geram luar biasa, mulutnya bergerak-gerak menyumpah serapah.

__ADS_1


“Aku pasti membunuhmu!”


Bergerak cepat Singo Gurung menyerang Benggala Cokro. Pertarungan dua pendekar pedang berlangsung lebih sengit dari pertarungan wakil komandan yang lain. Hanya baru beberapa menit saja mereka berdua saling tebas menebas dan saling tikam.


Benggala Cokro sebisa mungkin untuk menjauhi jangkauan seranga Singo Gurung. Teknik pedang emas miliknya tidak cocok untuk bertarung jarak dekat, tapi apa boleh dikata. Seharusnya, ini adalah kesempatan terbaik bagi pemuda itu untuk mengembangkan teknik bertarungnya.


Ada beberapa pendekar yang tidak terlalu berfokus pada teknik yang mereka pelajari. Bahkan pendekar-pendekar di masa lampau, menjadi lebih hebat lagi setelah berhasil menemukan kelemahan teknik bela dirinya, kemudian menutupi dengan teknik lain.


Benggala Cokro memainkan pedang, dia hampir tidak pernah bertarung pada jarak sedekat ini. Biasanya sebelum musuh berhasil mendekati dia, sudah tewas tertikam pedangnya lebih dahulu. Tapi kali ini berbeda, Singo Gurung memiliki teknik bertarung jarak dekat yang benar-benar mumpuni.


Harus diakui, Benggala Cokro yakin hanya teknik pedang awan berarak yang sebanding dengan kemampuan Singo Gurung.


Beberapa menit kemudian, ketika pedang Singo Gurung hampir saja menebas kepalanya. Tubuh Pemuda itu terpental cukup jauh oleh sesuatu yang cukup berat.


“Tingg...” Pedang Singo Gurung mendarat pada batang leher seorang pria kekar tanpa pakaian.


“Apa yang kau lakukan?” Benggala Cokro berteriak di kejauhan, wajahnya terlihat kesal. “Kenapa kau mengganggu, dasar pria berkulit keras.”


“Semua orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.” Mahesa berkata sedikit mengejek. “Tapi dengarlah, kemampuanmu akan berguna jika menghadapi musuh yang tepat.”


“Apa maksudmu?”


“Carilah lawan yang tepat, pria ini akan kuhadapi sendiri, kau bisa menghadapi orang itu, dia sangat-sangat lemah!” Mahesa menunjuk Gerahang Jegar, wajah pria itu menjadi masam setelah mendapat dua kali serangan Mahesa.


Di sisi lain pertarungan, Sungsang Geni berhasil melompat ke atas pada Jaka Balabala yang mengambang di awang-awang dan berhasil meletakkan telapak tangan di dada pria itu. Teknik pedang bayangan akhirnya muncul, ledakan energi dari telapak tangan pemuda itu berhasil menembus tubuh sang banci.


“Jaka Balabala!” Nyai Siwang Sari berteriak.

__ADS_1


Tampaknya Noveltoon sedang dalam masalah, beberapa pembaca tidak bisa membaca capter, atau ada yang hilang. padahal author sudab up, harap bersabar.


__ADS_2