PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Permintaan Maaf


__ADS_3

Setelah dua hari kemudian, keadaan Ki Alam Sakti benar-benar pulih seutuhnya. Dia sudah bisa melakukan kegiatan seperti hari biasanya, hanya saja masih butuh beberapa waktu bagi orang tua itu untuk mengembalikan seluruh tenaga dalamnya yang terkuras.


Tidak ada yang pernah menduga orang tua itu sehat sepenuhnya, bahkan pendekar medis yang paling handal di Perguruan Bukti Emas sudah mulai menyerah untuk memulihkan kondisinya.


Jadi ketika kabar Ki Alam Sakti pulih seutuhnya, menjadi berita baik pertama yang mereka dengar setelah sekian bulan berada di wilayah pengungsian.


Banyak Sesepuh pendekar yang datang menjenguk Ki Alam Sakti, beberapa orang datang untuk memastikan kebenaran atas pulihnya dirinya, tapi tak jarang orang juga menyinggung obat dan pemuda yang membawa obat.


Sungsang Geni dalam beberapa hari terakhir menjadi perbincangan dikalangan pendekar, kerajaan dan juga rakyat pengungsi.


Banyak tanggapan positif yang di lemparkan ke arah pemuda itu, meski memang ada beberapa pendekar yang merasa iri, seperti Sesepuh dari Perguruan Macan Putih, Ki Lodoro Sukmo.


Keirian Ki Lodro Sukmo sebenarnya sudah dimulai terhadap Ki Alam Sakti yang namanya jauh lebih dikenal. Meski belum pernah terjadi kontak pisik dengan Guru Sungsang Geni itu, tapi banyak orang mengakui bahwa Ki Alam Sakti lebih hebat dari Ki Lodro Sukmo. Tentu saja ini membuat iri hati yang teramat sangat.


Hingga selanjutnya, Ki Lodro Sukmo juga melampiaskan penyakit hatinya pada Sungsang Geni.


Ki Lodro Sukmo meski memiliki kemampuan yang sangat hebat, tapi nyatanya ilmu bela diri macan putih yang dia kuasai tidak menurun dengan baik pada murid-muridnya yang lain, setidaknya tidak ada generasi muda yang mempelajari seni bela diri itu.


Sungsang Geni mengetahui bahwa Ki Lodro Sukmo membenci dirinya. Tidak ada yang luput dari orang yang bisa membaca pikiran semua orang, karena itu Sungsang Geni tidak berniat menjalin hubungan serius dengan orang itu.


“Eyang Guru? Bagaimana menurutmu mengenai Ki Lodoro Sukmo?” Sungsang Geni bertanya ketika dia menemani Ki Alam Sakti duduk bersila di depan tenda pengungsi yang menghadap pada hamparan tenda-tenda.


Mendengar petanyaan itu, Ki Alam Sakti belum menjawab. Dia tidak ingin jawabannya malah menjadikan penyakit hati pada muridnya, hingga akhirnya orang tua itu terkekeh kecil.


“Apakah itu penting, Geni?” Ki Alam Sakti balik bertanya.

__ADS_1


“Entahlah, aku sedikit terganggu dengan sikapnya,” ucap Sungsang Geni. “Dia sekekali memuji Eyang Guru, tapi tak jarang dia mencelamu di belakang sana.”


Ki Alam Sakti tertawa kecil, dia sudah paham bahwa muridnya mempermasalahkan Ki Lodoro Sukmo yang kerap menggunjing dirinya.


“Tapi Geni dengarkan perkataanku. Tidak peduli semua orang tanpa terkecuali yang hidup di dunia ini mencela dirimu, tidak peduli! Yang penting sifat 'cela' itu tidak ada di dalam hatimu.” Ki Alam Sakti mengulangi ucapannya sebanyak tiga kali.


Sungsang Geni tidak berkata lebih lanjut, dia hanya tertunduk sayu mendengarkan perkataan Eyang Gurunya.


“Kau harus menanamkan kalimat itu di dalam hatimu, dengan demikian hatimu akan menjadi lebih tenang. Sebab gunjingan dapat membuat kotornya hati, dan itu hanya akan membuat hidupmu sengsara.” Ki Alam Sakti menepuk pelan pundak Sungsang Geni.


“Aku mengerti guru, aku akan menanamkan sifat itu didalam hatiku.”


***


Keesokan harinya Ki Alam Sakti menemui Darma Cokro di tenda kediamanya pada petang hari. Beberapa orang menunjukkan sikap buruk kepada orang tua itu semenjak kejadian yang melibatkan Sungsang Geni dan Benggala Cokro beberapa hari yang lalu.


Ki Alam Sakti tersenyum kecil kemudian duduk pada kursi kayu yang di siapkan Darma Cokro menghadap ke arah Benggala Cokro yang duduk dengan balutan perban di dadanya.


Di tempat itu pula, rupanya sudah ada orang tua lain yang duduk menemani Benggala Cokro, orang itu jelas dikenal Ki Alam Sakti. Mahapatih Surasena Darma Guru, ayah dari Darma Cokro.


Semenjak Serikat Pendekar berdiri, hubungan kedua orang tua dan anak tersebut mulai membaik. Darma Guru sudah terang-terangan meminta ma'af kepada anaknya, sebab pergi meninggalkan sang istri ketika Darma Cokro masih didalam kandungan.


Hubungan mereka menjadi benar-benar baik setelah terjadi pertempuran besar yang melibatkan Darma Cokro dan Darma Guru bersama-sama menghadapi salah satu dari Komandan Kelelawar Iblis. Rupanya perang juga membawa hal baik bagi keluarga mereka.


Karena pertempuran itu pula, sekarang Darma Guru kehilangan lengan kirinya ketika berusaha menyelamatkan nyawa Darma Cordless, membuat ilmu pedangnya berkurang drastis.

__ADS_1


Meski jabatannya di Surasena masih sebagai Mahapatih, tapi Darma Guru lebih banyak menghabiskan waktu di tenda Serikat Pendekar menemani cucunya, Benggala Cokro berlatih.


“Sahabatku Darma Guru, aku baru mendengar kabar mengenai kondisimu!” ucap Ki Alam Sakti ketika melihat tidak ada tangan pada lengan baju kiri Darma Guru.


“Ini hanya sebuah lengan dari orang tua untuk anaknya, ini belum setimpal dari dosa yang telah aku perbuat.” Darma Guru berkata datar, Ki Alam Sakti tentu tahu bahwa sahabatnya itu masih menyimpan dendam terhadap Sungsang Geni sebab telah melukai cucunya.


“Kedatanganku ke sini, untuk melihat kondisi Nakmas Benggala Cokro.” Ki Alam Sakti memalingkan tatapan ke arah Benggala Cokro yang terlihat tidak senang atas kedatangannya.


“Kondisinya sudah membaik, pendekar medis sudah berusaha keras mengobati luka dalam yang dideritanya.” Darma Cokro mejawab perkataan Ki Alam Sakti lebih ramah dari kedua keluarganya yang lain. “Hanya saja mungkin dia akan butuh waktu beberapa minggu untuk memulihkan kondisi seutuhnya.”


Tidak beberapa lama kemudian, Sungsang Geni datang menemui pula. Pemuda itu terkejut ketika melihat Eyang Gurunya lebih dahulu berada di dalam sana.


Diluar tenda puluhan pendekar bukit emas yang melihat kedatangan Sungsang Geni mulai menarik pedang, tapi pemuda itu tidak menanggapi gelagat tingkah mereka.


“Murid memberi hormat kepada Eyang Guru...” Sungsang Geni menundukkan kepala, kemudian memberi hormat kepada Darma Guru dan Darma Cokro secara bergantian.


“Geni? Kenapa kau datang ke sini?” Ki Alam Sakti bertanya.


“Kedatanganku ke sini untuk meminta ma'af kepada Benggala Cokro atas apa yang telah aku lakukan.” Sungsang Geni berjalan mendekati pemuda itu meski tatapan Benggala Cokro penuh dengan kemarahan. “Ma'afkan aku karena tidak bisa menahan diri, sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi jika saja aku bersikap lebih baik.”


“Apa kau sekarang mengasihaniku?” Benggala Cokro bertanya sinis.


“Tidak, aku yakin kau memiliki harga diri yang sangat besar tapi...” Sungsang Geni kemudian mengeluarkan botol kecil yang berisi ramuan yang didapat dari Tabib Nurmanik, “aku harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah aku lakukan. Ini adalah obat yang aku dapat dari tabib terhebat yang pernah ku temui. Aku harap bisa membantu pemulihanmu.”


“Aku tidak perlu hal itu!” ucap Benggala Cokro, nadanya lebih berat dari sebelumnya serta aura membunuh mulai keluar dari dalam tubuhnya. “Aku bisa pulih sendiri, dan ketika aku pulih aku akan membalas perbuatanmu ini.”

__ADS_1


“Kalau begitu kenapa tidak like dan koment sebelum melanjutkan capter berikutnya!” Author berkata pelan.


__ADS_2