PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perkumpulan Perguruan


__ADS_3

Seorang pria sepuh yang masih terlihat gagah dan tegap tubuhnya, menyunggingkan senyum kecil ke arah Sabdo Jagat. Dia di kenal sebagai pendekar Bangau Putih, sangat cocok dengan julukannya yang memiliki pakaian serba putih dan juga rambut putih yang panjang.


“Pendekar dari Perguruan Macan Putih, Guru Bangau Putih!” ucap Darma Cokro memberi salam.


Bangau Putih menyunggingkan senyum termanisnya ketika menatap Darma Cokro, berbanding terbalik ketika melihat Sabdo Jagat. Dia adalah 1 dari tiga guru yang memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi di Perguruan Macan Putih.


Jika saja Lembah Ular masih seperti 6 bulan yang lalu, ketika Suaraya masih hidup, pria tua itu akan sedikit memberi hormat kepada Sabdo Jagat saat ini.


Sekarang, mengingat Lembah Ular bisa dikatakan telah hancur, maka posisi nomor dua terkuat menjadi milik Macan Putih, artinya semua Perguruan selain Bukit Emas ada dibawah kakinya.


“Pimpinan Bukit Emas, Darma Cokro.” Ucap Bangau Putih, “Kedatangan kami ke sini memenuhi undangan yang engkau berikan tempo hari.”


“Baiklah, kalau begitu silahkan masuk, pendekar kami akan menunjukkan ruang istirahat kalian.” Darma Cokro meminta salah satu pendekar di dekatnya, untuk membawa Bangau Putih beserta hampir 30 pendekar yang mendampinginya.


Merasa paling dilayani, Bangau Putih kembali menyunggingkan senyum merendahkan ke arah Sabdo Jagat. Hal ini membuat Gentar Bumi menjadi sedikit geram.


Darma Cokro menangkap wajah kesal yang keluar dari Sabdo Jagat atas sikap Bangau Putih, jadi dia berusaha menenangkan, “Bagaimana sekarang, silahkan kalian masuk! ada ruangan tempat khusus yang telah kami sediakan untuk kalian!”


“Terima kasih atas tawarannya,” Sabdo Jagat tersenyum kecil, “Tapi seperti yang telah kita bicarakan, kami tidak akan tinggal di dalam tembok Bukit Emas.”


Darma Cokro menarik napas panjang, seperti yang dia duga, prinsip Sabdo Jagat tidak akan mudah untuk diluluhkan. “Baiklah, kami telah menyiapkan sebuah tempat, tidak terlalu bagus tapi aku harap bisa berguna untuk kalian.”


Sabdo Jagat meminta Siko Danur Jaya membawa sepeti koin emas, sebagai biaya sewa. Jumlahnya mungkin sepuluh ribu koin emas, memang terkesan sedikit bagi Bukit Emas yang memiliki kekayaan.


“Untuk sekarang, hanya ini yang bisa kami berikan...” ucap Sabdo Jagat.

__ADS_1


Darma Cokro kembali menarik napas panjang, sekarang suaranya terdengar berat, “Sebenarnya kami... sudahlah lupakan. Sekarang aku akan mengatar kalian,”


“Biarkan kami yang mengantar mereka Guru!” ucap salah satu pendekar di dekatnya.


“Tidak, dia adalah tamuku, aku sendiri yang akan mengantarnya.” Ucap Darma Cokro, “Lebih baik, kau bawa keluarga mereka dan temui kami di lembah Bukit Emas.”


Beberapa menit kemudian, mungkin sekitar 30 menit ditempuh berjalan kaki, mereka tiba di sebuah tempat dimana letaknya sangat nyaman karena menghadap pada danau kecil yang dipenuhi dengan bunga teratai.


“Bentuk bangunan sudah lumayan tua,” ucap Darma Cokro sambil sekekali menampar pelan pada dinding sebuah bangunan, “Tapi meski tua bangunan ini sangat kuat, ini adalah tempat pertama Bukit Emas sebelum akhirnya kami pindah di atas bukit.”


“Tempat ini lebih dari cukup, suasananya juga cocok dengan pribadi Lembah Ular.” Ucap Sabdo Jagat tersenyum kecil.


“Kalau begitu aku akan membiarkan kalian beristirahat, ada beberapa hal yang harus aku urus.” Darma Cokro berniat pergi dari tempat itu.


“Cokro, jika berkenan bawakan beberapa kendi arak, mungkin kita bisa sedikit menjadi akrab.” Ucap Sabdo Jagat.


Dan setelah itu, rombongan rakyat Lembah Ular akhirnya bisa berkumpul kembali. Cempaka Ayu merangkul tubuh kecil Sekar Arum dengan isak tangis bahagia. Bertemu kembali dengan gadis kecil itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai baginya.


“Bibi Cempaka, kau tidak boleh menangis atau bintang di langit akan membencimu.” Ucap Sekar Arum menghela air mata di pipi Cempaka Ayu.


Setelah kembalinya Cempaka Ayu dari sakitnya beberapa hari yang lalu, Sekar Arum tidak sempat berkata banyak mengingat situasinya tidak begitu baik. Jika saja bukan Sungsang Geni yang mengobatinya, mungkin gadis itu telah pergi untuk selamanya.


“Bibi Cempaka, dimana paman Geni?” ucap Sekar Arum, “Apa dia baik-baik saja, kenapa aku tidak melihatnya?”


Cempaka Ayu belum menjawab pertanyaan itu untuk beberapa saat, dia masih terlihat mengatur napasnya yang berat, “Tentu saja dia baik-baik saja, tapi dia harus melakukan sesuatu, ada banyak tugas yang harus dia selesaikan.”

__ADS_1


***


Keesokan harinya, di aula besar Bukit Emas. Beberapa utusan perguruan besar dan kecil berkumpul jadi satu, ini adalah pemandangan langka yang jarang terjadi. Ada sekitar 15 perguruan yang diwakili oleh jagoan-jagoan terbaik mereka.


Tidak ketinggalan, termasuk perguruan Lembah Ular yang sekarang statusnya menjadi perguruan kecil.


Sedangkan satu perguruan besar yang namanya baru beberapa bulan terdengar karena berhasil mengembangkan sayapnya melalui sektor perdagangan, Perguruan Merak hijau.


Perguruan Merak hijau berhasil menjadi salah satu perguruan besar, sebab kepiawaian mereka dalam mengembangkan bisnis perdagangan.


Tapi meski perguruan ini lebih cendrung ke dunia bisnis, nyatanya mereka juga memiliki jagoan hebat, salah satunya adalah gadis berbaju hijau yang duduk di dekat Sabdo jagat sekarang, Saradah.


Pada dasarnya Merak Hijau merupakan besutan dari 10 orang saudagar kaya, yang kemudian membentuk sebuah perguruan yang tujuannya untuk melindungi aset berharga mereka.


Dengan datangnya Saradah sebagai perwakilan Merak Hijau, menunjukkan bahwa mereka juga mengkhawatirkan pergerakan Kelelawar Iblis kedepannya.


“Aku dengar perguruan Lembah Ular dihancurkan oleh Kelelawar Iblis hanya dalam hitungan hari saja.” Ucap Bangau Putih, kembali mengejek Sabdo Jagat, “Jika itu adalah perguruan Macan Putih, pasti bisa menghalau mereka dengan mudah!”


Ucapan Bangau Putih membuat suasana mendadak tegang, tapi Sabdo Jagat menimpali perkataan pria tua itu dengan sindiran sederhana, “Aku tidak meragukan perkataanmu, Guru Bangau Putih, tapi kenapa kau juga datang ke sini, jika memang perguruan kalian sehebat yang kau katakan?”


Mendadak wajah pria tua itu menjadi merah mendengar perkataan Sabdo Jagat, rahangnya mengeras dengan jari membentuk kepalan tinju. “Apa kau punya cukup nyali untuk bertarung denganku?!”


“Guru Bangau Putih!” Darma Cokro sebagai pimpinan rapat, tidak bisa membiarkan pria tua itu bertindak semaunya di wilayah Bukit Emas, “Aku harap kalian semua menjaga sikap, berkumpulnya kita hari ini jelas membahas mengenai pergerakan Kelelawar Iblis, dan langkah apa yang akan kita tempuh selanjutnya. Aku tidak mengundang kalian untuk bertarung, tapi jika kalian memaksa ada lebih dari 100 pendekar Bukit Emas yang siap melayani kalian. Kalian bisa pilih yang mana saja!"


Semua orang mendadak diam dan tegang, Darma Cokro menyadari tidak mudah mengumpulkan semua orang dari latar belakang yang berbeda-beda. Jadi dia memilih bersikap sedikit lebih tegas sebelum salah seorang dari mereka membuat kerusuhan.

__ADS_1


“Tidak ada yang mau bertarung?” lanjut pria itu lagi, menunggu beberapa saat jika saja ada orang yang berdiri untuk mengambil tawarannya tapi rupanya tidak ada. “Baiklah sekarang kembali pada agenda kita.”


__ADS_2